Kecenderungan aku untuk nulis seperti di blog sangatlah susah. Sebelumnya aku kira, dengan duduknya aku di kursi kuliah, tulis menulis akan menjadi kerjaan rutinku, apalagi di blog. Nah, memang tulis menulis tetap jalan dengan gampang, tanpa hambatan, malah jadi kerjaan mingguan yang seolah tak berhenti. Tapi…
Ya, tapi itu tugas akademik. Sebagai seorang mahasiswa. Untuk mengejar IPK.
Aku tidak menyadari menulis sebagai sebuah hobi lagi. Sebagai sebuah curahan rasa. Sebagai sebuah sarana untuk mengungkapkan ide. Tapi merupakan sebuah tekanan. Sebuah kewajiban yang cenderung dipaksakan, atau diarahkan untuk kepentingan tertentu.
AKU MASIH INGIN MENULIS DENGAN HATI.
Setiap aku ingin menulis, entah itu curhat atau apa, otakku mampet. Selain karena otakku terlalu penuh dengan kata-kata akademik yang baku dan kaku, aku juga terbatasi oleh figur 140 karakter bernama twitter. Ya, mikroblogging memang menyenangkan, tapi sangat menyebalkan ketika kamu memang cinta menulis dan ide kamu hanya terbatasi oleh 140 karakter.
AKU INGIN MENULIS DENGAN HATI. LAGI.
Aku ingin mencairkan idealisme ku yang beku dan diam di otak, yang tertutup oleh mulutku yang introvert. Aku, bukan siapa lagi, aku ingin merubah dunia dengan tulisanku.
KAPAN LAGI KALAU BUKAN SEKARANG.

baku.. dan kaku
*salam kenal* -Hanif Mumtaz
ini semua salah twitter… *apdet status twitter*
[...] Di awal tahun ini, dengan cuaca yang labil, tapi moodku tetap terjaga, meskipun agak sedikit galau. Malah menemukan sebuah semangat baru, semangat nulis yang dulu sempat kumiliki. Syukurlah. Kukira otakku akan beku, tanganku tak meliuk-liuk dengan liar lagi di keyboard laptop, atau mulutku akan bisu.. seperti di postingan kemarin . [...]