
Sudah berapa kali mungkin aku bertualang, menjejakkan kaki di museum-museum serta tempat bersejarah di Indonesia… Mulai dari Kherkoff di Banda Aceh Lubang Buaya sampai daerah pembantaian PKI di Gorang-gareng, Madiun sana..
Ada suatu hal yang general darisemua tempat itu. Tempat-tempat itu, memiliki nilai sejarah yang tinggi dan tak ternilai, tapi seolah terbuang begitu saja. Sebuah kesepian bakal kalian temuin, dan udah menjadi semacam kelaziman bagi semua museum di Indonesia (ya, terkecuali pas ada rombongan anak-anak kecil sampai anak SMA yang lagi studi wisata).
Pernah aku mengunjungi sebuah museum. Kalau kalian jalan di seputar daerah Menteng, melewati daerah Kebon Sirih, pasti tahu bangunan yang satu ini. Yap, gedung ini adalah Gedung Joang 45. Dulu ini sering jadi sentra tongkrongan pejuang angkatan 45, macam Wikana, Chairul Saleh dan kawan-kawan. Pergerakan kemerdekaan agresif dimulai disini.
Waktu aku ngunjungin tempat ini, seperti biasa, sepi menyapa.
Aku ke loket, yang melayani semacam pak satpam, dan karcis masuknya lumayan lah – Rp1000, udah naik kalo gak salah pas itu, ah aku juga agak lupa.
Pas aku masuk museum itu, yak. Aku cukup terkesan dengan desainnya yang semi kontemporer. Di beberapa museum di Jakarta memang sedang ada upaya buat mengkontemporerkan desain museum supaya jadi lebih chic dan terkesan trendy, dan gak abal-abalan. Bagus sih, upaya untuk menarik anak-anak gahoel Jakarta yang sekarang lebih demen duduk-duduk di 7/11 padahal belinya cuma Slurpee dan itu yang ukurannya small pula..
Eits, oke, malah menyimpang dari topik.
Overall, meskipun desain museum yang cukup trendy dan terkini lah, tapi ga begitu dengan sistem keamanan yang buruk. Duh, ini menyedihkan banget deh. Ya, ceritanya gini lah. Aku liat di museum ini sama sekali nggak ada CCTV kamera, padahal koleksinya lumayan bagus dan langka. Aku masuk ke ruangan koleksi Van Den Bos, disana asik deh. Udah kaya bukan museum, tapi kaya ruangan distro gitu. Desainnya apik, tata letaknya bagus. Aku jadi tertarik menyelidiki sesuatu.

Aku penasaran sama case pelindung barang-barang kepunyaan abang Van Den Bos. Aku iseng-isengin angkat casenya, eh casenya kebuka. Duh, rentan banget buat pencurian ini. Dengan gampang, kalau ada niat, orang bisa ambil koleksi berharga yang cukup langka dari museum Joang 45 ini. Sama sekali gak ada alarm dan CCTV yang bisa ngindikasikan aku buat nyuri barang itu. Setelah sempat tergoda sesaat jadi seorang maling, hehe, akhirnya aku mutusin buat pergi ke bagian lain museum.
Duh, sedih ya, ngeliat gak seriusnya museum menggarap keamanan secara baik.
Beberapa hal, yakni museum yang suram dan membosankan sempat aku temui juga pas berkunjung ke Museum Kebangkitan Nasional, tempat awal berdirinya pergerakan di Indonesia. Sedih, tempatnya terlalu seram dan membosankan kalau dikunjungi oleh anak-anak SD. Tata pencahayaannya gak terlalu bagus, dan tidak semua ruang secara efektif dijadikan sebagai ruang koleksi. Ada beberapa ruang dengan maket dan proyeksi yang terbengkalai. Entah sekarang bagaimana kondisinya.
Satu lagi juga. Soal konsep Kota Tua yang masih belum jelas. Aku berharap Kota Tua bisa jadi kaya Latin Quartier di Paris (ngimpi!). Tapi, mantep deh kalo bener-bener bisa kaya gitu. Aku ngeliat emang nuansa budaya hidup banget di Kota Tua, tapi disekitarnya masih belom ada pengelolaan yang jelas, terutama soal lalu lintas, pengunjung, dan bangunan-bangunan tua yang gak keurus sampe sekarang.
Kalau aku bandingin sama museum di Singapur, ya Singapur aja deh, jauh beda lah. Pas di Singapur, aku sempet masuk ke Asia Civilization Museum. Itu luar biasa. Mulai dari audio narrator, pengamanan pake body guard di expo hall, dan estetika yang luar biasa. Tiketnya emang mahal sih, tapi aku jadi gak nyesel setelah dipuaskan dengan apiknya museum itu.
Sekarang ini sih, memang gerakan untuk ke museum mulai menggejala. Dimulai oleh bang Adep (Ade Purnama) dari Batmus, danĀ Kartum Setiawan, dan orang-orang lainnya, mereka mencoba untuk membuat museum sebagai sebuah tempat rekreasi baru dibanding sekedar window shopping di GI, atau makan di Duck King. Aku pernah ikut tour museum ala mereka beberapa kali, memang menarik. Jelajah Kota Tua, sebuah bagian tour dari Plesieran Tempo Dulu, yang digagas oleh bang Adep, pernah ngebawa aku ke bentengnya JP Coen – sebagai benteng pertama VOC di Batavia. Sekarang bentuknya udah gak keruan. Gak terawat. Tapi, dengan ikut eksplorasi ala mereka, aku ngerasa jadi siapa tuh, iya, si Indiana Jones, hehe.
Museum itu bagian integral dari pembangunan karakter bangsa, lho.
Tahu kan, perkataannya bung Karno, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.
Terus, inti kunjungan ke museum juga berarti kembalilah ke masa lalu untuk melihat kedepan. Kata Eyang Churchil nih ya, “The farther you look bike, the further you will look in the future”.Mungkin saja kejayaan Majapahit akan kembali suatu saat nanti bagi RI, siapa tahu?
Jadi apa salahnya sih pemerintah untuk mengalokasikan dananya untuk museum? Meskipun sudah ada program Ayo Ke Museum, bahkan ampe di support Starbucks Coffee segala, tapi aku belum melihat perkembangan yang berarti.
Cintai museum, dari saat ini. Niscaya kau akan cinta bangsamu!
