Aku sendiri disini.
Sedang mencoba untuk memahami lalu-lalang dan kehidupan orang Paris yang berkulit putih dan berbicara sengau.
Aku seperti berada di planet lain.
Biasanya aku tertekur dan mengamati lalu-lalang orang dari trotoar jalanan Jogjakarta yang terik. Motor mas-mbak yang mungkin sedang sibuk dengan kerjaan kuliahnya, atau mbah-mbah yang memikul bakulan – mungkin ingin kembali ke rumah setelah sepagian bekerja.
Itu di depan Vredeburg.
Dahulu jadi perlindungan para koloni, sekarang jadi tempat favorit studi wisata anak-anak SD.
Tempat dimana terkadang aku iseng nongkrong, terus memikirkan hal-hal acak yang mungkin akan menghasilkan inspirasi untuk karya akademikku. Tapi, terkadang juga dalam masalah hidup dan cinta.
Sekarang aku di Champs-Elysees.
Salah satu jalanan terkenal di dunia.
Jalanan para pemenang sejarah dunia. Mulai dari Charlemagne, Napoleon, Hitler sampai Charles De Gaulle sempat menapakkan kakinya disini
Champs-Elysees berbeda dengan Malioboro.
Jalanan Malioboro dipenuhi Toyota Avanza, Honda Astrea Supra X, piet, fixie, dan sejenisnya
Champs-Elysees beda tipe. Siap takjub dengan Lamborghini yang melejit dengan cepat, Alfa Romeo, Peugeot dan sesekali ada sepeda numpang lewat.
Di Champs-Elysees, tak ada mbok-mbok yang menawarkan sate. Mungkin ada Parisienne yang baru pulang dari boulangerie membawa sepak baguette buat makan di rumah.
Di Champs-Elysees, mungkin ada pengamen dan pengemis. Pengamennya biasa bawa biola dan main note-note dari Vivaldi, Bach, atau komponis terkenal lainnya. Pengemis? Biasa, imigran terlantar yang tak tahu mau makan apa, sama dengan anak-ibu dari desa terpencil di ujung sana yang ingin mencari perbaikan hidup di Jogja, tapi berakhir minta-minta dengan modal kecrekan.
Aku coba berjalan terus.
Sekali bertemu dengan dua pasang yang melakukan french kiss dengan mesranya. Ah, ku palingkan mukaku. Di depanku, ada Arc de Triomphe, simbol kemenangan warga Paris dan Perancis atas penyerang.
Tunggu, ini kan sama seperti di Km 0 kan?
Teringat Monumen Serangan Umum 1 Maret yang menjadi pengingat kemenangan warga Jogja atas KNIL dan pasukan Londo yang bengis.
Aku mulai mbatin, ternyata Jogja dan Paris ada samanya juga ya.
Waktu masih lama sebelum maghrib di Paris, sekitar 4-5 jam lagi. Kuhabiskan waktuku mengelilingi Paris, menuju Tour de Eiffel.
Simbol Perancis yang paling mendunia, Eiffel. Mungkin sama dengan Tugu Jogja yang mengIndonesia, dan sering jadi tempat untuk foto-foto narsis.
Aku berdiri memandang Eiffel untuk pertama kalinya, dan aku berkata,
“Akhirnya..”
Mimpi entah berapa tahun lalu untuk mengagumi Eiffel setelah sebelumnya hanya lihat teman yang foto-foto disana. Aku takjub untuk beberapa menit.
Kemudian, aku mencoba melihat ke sekitar. Ramai. Ada banyak orang dengan berbagai jenis, mulai dari ibu-ibu gembrot dari sebuah negara di Asia yang sedang berlibur ke Paris sampai dengan wajah seram imigran Afrika yang tiba-tiba saja menatapku.
Aku mencoba memikirkan apa yang telah membawaku kesini.
Sebuah asa, tentunya.
Aku terpikir orangtuaku, teman-temanku, dan semua mereka yang menjadi inspirasi dan cintaku.
Mereka yang membawaku terbang dengan sayap harapan serta dukungan dari Jogja ke Paris.
Tapi, aku bilang ke diriku sendiri,
“Paris bukan tujuan terakhir za, ini yang pertama. Selanjutnya? Moskwa, Johannesburg, Brazilia. Berkeliling dunia layaknya IbnBatutta, belajar dan membawa hikmah dari banyak negara!”
Diam dan berpikir.
Ah, satu harap lagi,
“Suatu saat, akan kubawa istriku kesini. Mungkin kalau bisa dengan bapak-ibu.”
Entah kapan.

Wujudkan mimpi mimpi-mu Mas, bi-idznillah
tapi jalanan di Paris agak mirip di Roma, sempit dan ber-paving
semoga mimpinya terwujud