<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catetanlaen</title>
	<atom:link href="http://catetanlaen.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://catetanlaen.wordpress.com</link>
	<description>Other notes of mine</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 04:51:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='catetanlaen.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catetanlaen</title>
		<link>http://catetanlaen.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://catetanlaen.wordpress.com/osd.xml" title="Catetanlaen" />
	<atom:link rel='hub' href='http://catetanlaen.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Paris. Juli 2012.</title>
		<link>http://catetanlaen.wordpress.com/2012/01/10/paris-juli-2012/</link>
		<comments>http://catetanlaen.wordpress.com/2012/01/10/paris-juli-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 13:35:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neorhazes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catetanlaen.wordpress.com/?p=886</guid>
		<description><![CDATA[Aku sendiri disini. Sedang mencoba untuk memahami lalu-lalang dan kehidupan orang Paris yang berkulit putih dan berbicara sengau. Aku seperti berada di planet lain. Biasanya aku tertekur dan mengamati lalu-lalang orang dari trotoar jalanan Jogjakarta yang terik. Motor mas-mbak yang mungkin sedang sibuk dengan kerjaan kuliahnya, atau mbah-mbah yang memikul bakulan &#8211; mungkin ingin kembali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=886&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku sendiri disini.</p>
<p><span id="more-886"></span></p>
<p>Sedang mencoba untuk memahami lalu-lalang dan kehidupan orang Paris yang berkulit putih dan berbicara sengau.</p>
<p>Aku seperti berada di planet lain.</p>
<p>Biasanya aku tertekur dan mengamati lalu-lalang orang dari trotoar jalanan Jogjakarta yang terik. Motor mas-mbak yang mungkin sedang sibuk dengan kerjaan kuliahnya, atau mbah-mbah yang memikul bakulan &#8211; mungkin ingin kembali ke rumah setelah sepagian bekerja.</p>
<p>Itu di depan Vredeburg.</p>
<p>Dahulu jadi perlindungan para koloni, sekarang jadi tempat favorit studi wisata anak-anak SD.</p>
<p>Tempat dimana terkadang aku iseng nongkrong, terus memikirkan hal-hal acak yang mungkin akan menghasilkan inspirasi untuk karya akademikku. Tapi, terkadang juga dalam masalah hidup dan cinta.</p>
<p>Sekarang aku di Champs-Elysees.</p>
<p>Salah satu jalanan terkenal di dunia.</p>
<p>Jalanan para pemenang sejarah dunia. Mulai dari Charlemagne, Napoleon, Hitler sampai Charles De Gaulle sempat menapakkan kakinya disini</p>
<p>Champs-Elysees berbeda dengan Malioboro.</p>
<p>Jalanan Malioboro dipenuhi Toyota Avanza, Honda Astrea Supra X, piet, fixie, dan sejenisnya</p>
<p>Champs-Elysees beda tipe. Siap takjub dengan Lamborghini yang melejit dengan cepat, Alfa Romeo, Peugeot dan sesekali ada sepeda numpang lewat.</p>
<p>Di Champs-Elysees, tak ada mbok-mbok yang menawarkan sate. Mungkin ada Parisienne yang baru pulang dari boulangerie membawa sepak baguette buat makan di rumah.</p>
<p>Di Champs-Elysees, mungkin ada pengamen dan pengemis. Pengamennya biasa bawa biola dan main note-note dari Vivaldi, Bach, atau komponis terkenal lainnya. Pengemis? Biasa, imigran terlantar yang tak tahu mau makan apa, sama dengan anak-ibu dari desa terpencil di ujung sana yang ingin mencari perbaikan hidup di Jogja, tapi berakhir minta-minta dengan modal kecrekan.</p>
<p>Aku coba berjalan terus.</p>
<p>Sekali bertemu dengan dua pasang yang melakukan french kiss dengan mesranya. Ah, ku palingkan mukaku. Di depanku, ada Arc de Triomphe, simbol kemenangan warga Paris dan Perancis atas penyerang.</p>
<p>Tunggu, ini kan sama seperti di Km 0 kan?</p>
<p>Teringat Monumen Serangan Umum 1 Maret yang menjadi pengingat kemenangan warga Jogja atas KNIL dan pasukan Londo yang bengis.</p>
<p>Aku mulai mbatin, ternyata Jogja dan Paris ada samanya juga ya.</p>
<p>Waktu masih lama sebelum maghrib di Paris, sekitar 4-5 jam lagi. Kuhabiskan waktuku mengelilingi Paris, menuju Tour de Eiffel.</p>
<p>Simbol Perancis yang paling mendunia, Eiffel. Mungkin sama dengan Tugu Jogja yang mengIndonesia, dan sering jadi tempat untuk foto-foto narsis.</p>
<p>Aku berdiri memandang Eiffel untuk pertama kalinya, dan aku berkata,</p>
<p>&#8220;Akhirnya..&#8221;</p>
<p>Mimpi entah berapa tahun lalu untuk mengagumi Eiffel setelah sebelumnya hanya lihat teman yang foto-foto disana. Aku takjub untuk beberapa menit.</p>
<p>Kemudian, aku mencoba melihat ke sekitar. Ramai. Ada banyak orang dengan berbagai jenis, mulai dari ibu-ibu gembrot dari sebuah negara di Asia yang sedang berlibur ke Paris sampai dengan wajah seram imigran Afrika yang tiba-tiba saja menatapku.</p>
<p>Aku mencoba memikirkan apa yang telah membawaku kesini.</p>
<p>Sebuah asa, tentunya.</p>
<p>Aku terpikir orangtuaku, teman-temanku, dan semua mereka yang menjadi inspirasi dan cintaku.</p>
<p>Mereka yang membawaku terbang dengan sayap harapan serta dukungan dari Jogja ke Paris.</p>
<p>Tapi, aku bilang ke diriku sendiri,</p>
<p>&#8220;Paris bukan tujuan terakhir za, ini yang pertama. Selanjutnya? Moskwa, Johannesburg, Brazilia. Berkeliling dunia layaknya IbnBatutta, belajar dan membawa hikmah dari banyak negara!&#8221;</p>
<p>Diam dan berpikir.</p>
<p>Ah, satu harap lagi,</p>
<p>&#8220;Suatu saat, akan kubawa istriku kesini. Mungkin kalau bisa dengan bapak-ibu.&#8221;</p>
<p>Entah kapan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catetanlaen.wordpress.com/886/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catetanlaen.wordpress.com/886/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catetanlaen.wordpress.com/886/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catetanlaen.wordpress.com/886/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catetanlaen.wordpress.com/886/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catetanlaen.wordpress.com/886/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catetanlaen.wordpress.com/886/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catetanlaen.wordpress.com/886/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catetanlaen.wordpress.com/886/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catetanlaen.wordpress.com/886/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catetanlaen.wordpress.com/886/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catetanlaen.wordpress.com/886/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catetanlaen.wordpress.com/886/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catetanlaen.wordpress.com/886/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=886&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catetanlaen.wordpress.com/2012/01/10/paris-juli-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd90be3826bee41d972322bb02be4618?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">neorhazes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seven Samurai (Klasik Lagi)</title>
		<link>http://catetanlaen.wordpress.com/2012/01/10/seven-samurai-klasik-lagi/</link>
		<comments>http://catetanlaen.wordpress.com/2012/01/10/seven-samurai-klasik-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 12:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neorhazes</dc:creator>
				<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[akira kurosawa]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[samurai]]></category>
		<category><![CDATA[seven samurai]]></category>
		<category><![CDATA[tujuh samurai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catetanlaen.wordpress.com/?p=879</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini memang aku lagi gandrung dengan film klasik. Baru kemarin, sekitar seminggu sebelum UAS, aku menyempatkan waktu untuk nonton salah satu film terbaik yang pernah dibuat di Jepang. Film ini dibikin oleh sutradara beken dan legendaris asal Jepang, Akira Kurosawa. Bukan sekedar film jadul, film ini merupakan salah satu film yang menjadi pioner dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=879&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini memang aku lagi gandrung dengan film klasik.</p>
<p><span id="more-879"></span></p>
<p>Baru kemarin, sekitar seminggu sebelum UAS, aku menyempatkan waktu untuk nonton salah satu film terbaik yang pernah dibuat di Jepang.</p>
<p>Film ini dibikin oleh sutradara beken dan legendaris asal Jepang, Akira Kurosawa. Bukan sekedar film jadul, film ini merupakan salah satu film yang menjadi pioner dan standar buat film-film laga yang sering muncul sekarang.</p>
<p>Cerita Seven Samurai sebenarnya sederhana, mirip-mirip gabungan antara The Three Musketeers dan Robin Hood.</p>
<p>Ada sebuah desa di belantara Jepang yang sering diancam oleh segerombol penyamun. Penyamun-penyamun ini senang sekali mengambil hasil tani para warga di desa itu. Tentu saja, penduduk desa ketakutan. Setelah bermusyawarah, akhirnya mereka memutuskan mencari samurai yang dapat melindungi desa mereka dari ancaman penyamun itu. Bukan pekerjaan yang mudah, karena toh samurai dan petani saja derajatnya sudah jauh berbeda dalam masyarakat Jepang.</p>
<p>Untungnya dalam pencarian, orang desa pun menemukan seorang ronin yang bernama Kambei. Kambei ini kemudian menjadi orang pertama, dan seterusnya dia bersama perwakilan orang desa mencari enam samurai lagi. Setelah ketemu tujuh samurai dengan masing-masing karakternya yang unik, akhirnya bersama orang desa, mereka berangkat untuk melindungi desa itu.</p>
<p>Seterusnya? Mending nonton sendiri deh!</p>
<p>Kenapa harus ditonton?</p>
<p>Pertama, film ini merupakan salah satu film yang menginspirasi film Hollywood lainnya. Alur dalam film ini, dimana seorang tokoh protagonis utama kemudian mencari teman-teman lainnya untuk bergabung dan menyelesaikan sebuah misi, bisa kita lihat juga di film Hollywood, semacam Navarone dan The Magnificient Seven. Selain itu, alurnya juga nggak membosankan. Campur aduk antara humor, love stories, dan lain-lainnya kelihatan banget dalam film ini.</p>
<p>Kedua, film ini sarat makna. Yah, cukup membuka mata. Aslinya, samurai dalam masyarakat Jepang itu dikenal dengan arogansinya dan gengsinya yang luar biasa. Tapi, dalam film ini, samurai ditunjukkan dengan perspektif yang lebih humanis dan perhatian kepada rakyat kecil. Walaupun hanya dibayar dengan beras hasil panen, samurai ini rela untuk membela sebuah desa yang tidak lebih penting daripada sebuah tanah yang dikuasai daimyo.</p>
<p>Ketiga, film ini akan sangat menyenangkan bagi mereka yang menyenangi Jepang. Terlihat jelas deh seputar sistem masyarakat Jepang yang village-based. Mungkin konten sejarahnya nggak akan terlalu terlihat, karena film ini toh fiksi.</p>
<p>Ada sebuah quote yang cukup memorable dari film ini,</p>
<p>&#8220;This is the nature of war. By protecting others, you safe yourself.&#8221;</p>
<p>Yah, walaupun masih menggunakan rol hitam-putih, tapi cerita film disini bahkan lebih keren dari film-film aksi modern sekarang, yang banyak dar der dor dan ciumannya.</p>
<p>Last but not least, dalam film yang dibuat dengan budget USD 500ribu ini aku menemukan bahwa,</p>
<p>Kesederhanaan membuat sebuah karya menjadi luar biasa.</p>
<p>Never forget the classics!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catetanlaen.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catetanlaen.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catetanlaen.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catetanlaen.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catetanlaen.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catetanlaen.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catetanlaen.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catetanlaen.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catetanlaen.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catetanlaen.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catetanlaen.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catetanlaen.wordpress.com/879/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catetanlaen.wordpress.com/879/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catetanlaen.wordpress.com/879/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=879&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catetanlaen.wordpress.com/2012/01/10/seven-samurai-klasik-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd90be3826bee41d972322bb02be4618?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">neorhazes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>62</title>
		<link>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/12/19/62/</link>
		<comments>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/12/19/62/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 04:37:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neorhazes</dc:creator>
				<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[dies natalis]]></category>
		<category><![CDATA[insaf]]></category>
		<category><![CDATA[kampus kerakyatan]]></category>
		<category><![CDATA[kampus perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[note to myself]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[ugm]]></category>
		<category><![CDATA[universitas gadjah mada]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catetanlaen.wordpress.com/?p=873</guid>
		<description><![CDATA[62 tahun, untuk ukuran sebuah universitas, masih bisa dikatakan sebagai usia yang muda. Lihat Al-Azhar, yang telah berdiri lebih dari 1 milenium lamanya. Institusi perguruan tinggi tertua di dunia, yang memberlakukan sistem college (kuliyyah)  dan menjadi awal dari sistem universitas modern. Telah membangun peradaban dan pengetahuan di Delta Nil, mencetak insan-insan yang telah mengukir sejarah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=873&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>62 tahun, untuk ukuran sebuah universitas, masih bisa dikatakan sebagai usia yang muda.</p>
<p><span id="more-873"></span></p>
<p>Lihat Al-Azhar, yang telah berdiri lebih dari 1 milenium lamanya. Institusi perguruan tinggi tertua di dunia, yang memberlakukan sistem <em>college (kuliyyah)  </em>dan menjadi awal dari sistem universitas modern. Telah membangun peradaban dan pengetahuan di Delta Nil, mencetak insan-insan yang telah mengukir sejarah dunia, dan bertahan dari badai sejarah &#8211; mulai dari Perang Salib sampai Perang Dunia ke-2.</p>
<p>Sekitar seabad setelah Al-Azhar diresmikan di Kairo, baru muncul sebuah universitas di Bologna, Italia, disusul dengan kehadiran Universitas Paris (sekarang dikenal sebagai Sorbonne), dan berbagai universitas lainnya yang muncul diseantero benua Eropa, termasuk Cambridge University yang lahir pada tahun 1208.</p>
<p>Universitas-universitas Eropa ini lahir ditengah gelapnya abad pertengahan. Mereka kemudian mengembangkan konsep kampus modern, dengan istilah <em>almamater</em> yang menyatakan independensi kampus dari pengaruh pemerintah dan institusi keagamaan. Mulai muncul konsepsi kebebasan akademik, seperti yang pernah digelorakan pada masa filsuf Yunani.</p>
<p>Pada zaman Renaissance, universitas-universitas di Eropa mulai berkembang dan menggantikan dominasi dunia Timur atas ilmu pengetahuan. Kurikulum serta materi-materi kuliah mengalami perubahan, terutama pengaruh besar pandangan humanis serta ideologi-ideologi modern mulai berkembang secara pesat pada abad ke-16 dan abad ke-17. Universitas-universitas ternama di Amerika, seperti Harvard, mulai lahir pula pada abad tersebut.</p>
<p>Pada abad ke-20, seiring dengan kebangkitan Asia, mulai muncul beberapa universitas di Asia. Dalam waktu kurang dari seabad, universitas-universitas di Asia  ini, semisal Universitas Tokyo dan Universitas New Delhi berhasil mengejar kejayaan mereka dari universitas Barat dalam pencapaian ilmiah dan akademis, meraih penghargaan Nobel dan mengembangkan ilmu pengetahuan hingga ke taraf setinggi-setingginya.</p>
<p>Bagaimana dengan Indonesia?</p>
<p>Pada tahun 1849, cikal bakal Universitas Indonesia berdiri dengan nama Sekolah Dokter Jawa oleh pemerintahan kolonial Belanda. Disusul pula dengan kelahiran Institut Teknologi Bandung pada tahun 1920, pun didirikan pula oleh pemerintahan kolonial. Universitas-universitas ini kemudian melahirkan pengagas-pengagas besar dalam sejarah Indonesia, seperti Ir. Soekarno dan Dr. Wahidin Sudirohusodo.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://catetanlaen.files.wordpress.com/2011/12/ugmold2.jpg?w=375&#038;h=281" alt="" width="375" height="281" /></p>
<p>Namun, tepat seabad setelah berdirinya Sekolah Dokter Jawa, lahirlah sebuah perguruan tinggi yang didirikan oleh pemikir serta ilmuwan Indonesia pada tahun 1949. Tepatnya pada 19 Desember, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23/1949, diresmikanlah Universitas Gadjah Mada yang terdiri dari 6 fakultas dan dipimpin oleh Prof. Dr. Sardjito sebagai rektor pertama UGM.</p>
<p>Kehadiran UGM pada saat itu menjawab tantangan zaman, kebutuhan akan ilmuwan-ilmuwan Indonesia untuk memajukan ilmu pengetahuan yang akan didayagunakan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. UGM berdiri pada masa-masa sulit, dimana saat itu Indonesia sedang menghadapi agresi dari Belanda.  UGM menjadi tempat dimana ilmu serta gagasan-gagasan asli Indonesia dipertahankan dari pengaruh-pengaruh kolonial. Kuliah-kuliah pada masa itu diselenggarakan dengan penuh kesederhanaan, meminjam ruang-ruang terbuka di Sitihinggil Kraton Jogjakarta.</p>
<p>Dari UGM, muncul pula pergerakan mahasiswa, yang diinisiasi oleh (Alm.) Prof. Koesnadi pada tahun 1950-an, seiring pula dengan berdirinya Dewan Mahasiswa di UI oleh Prof. Emil Salim. Pergerakan mahasiswa ini yang nantinya akan menjadi salah satu faktor penentu dalam perubahan yang terjadi di sejarah Indonesia.</p>
<p>Tahun 1970-an, dari UGM pula muncul gagasan Kuliah Kerja Nyata yang dipelopori oleh Prof. Koesnadi. Gagasan KKN ini, yang pada akhirnya diadaptasi oleh universitas-universitas di Indonesia, merupakan sebuah tindak nyata dari idealisme yang tercatut dalam statuta UGM, yang menyatakan bahwa UGM &#8220;membentuk manusia susila yang cakap dan mempunyai keinsyafan bertanggungjawab tentang masyarakat Indonesia khususnya..&#8221;</p>
<p>Tahun 1990-an, ide-ide reformasi Indonesia juga bangkit dari kampung Bulaksumur, kampung yang telah dihibahkan Sultan Hamengkubuwono IX untuk dijadikan kampus UGM. Senat Mahasiswa yang dihidupkan kembali oleh Prof. Koesnadi pada tahun 1986 mengambil peran besar dalam menyalakan motor pergerakan mahasiswa Indonesia masa itu. Dibantu oleh dosen-dosen berpemikiran reformis, seperti Prof. Amien Rais dan Prof. Ichlasul Amal yang juga dikenal sebagai Rektor Reformasi, UGM menjadi tempat awal disemaikannya gagasan untuk mengubah kondisi Indonesia yang telah terpuruk oleh rezim 30 tahun Soeharto.</p>
<p>Pergerakan di UGM kemudian menginspirasi gerak mahasiswa di universitas lainnya, dan menghasilkan sebuah gelombang besar yang meruntuhkan tembok kokoh rezim Orde Baru.</p>
<p>Pada akhirnya, Indonesia memasuki gerbang reformasi.</p>
<p>Dan, dimana UGM saat ini?</p>
<p>62 tahun setelah UGM lahir dari zaman-zaman kesengsaraan dan serba keterbatasan, sekarang UGM mulai mengubah dirinya. Bangunan-bangunan megah dan serba modern mulai melingkup kampus Bulaksumur. UGM sedang mencitrakan dirinya untuk menjadi sebuah Universitas Riset Kelas Dunia yang nantinya diharapkan melahirkan insan-insan Indonesia yang memenangkan Hadiah Nobel dan pencapaian akademis tertinggi lainnya.</p>
<p>Namun, sebenarnya UGM sedang mengalami krisis. Bukan krisis material, karena pada tahun-tahun ini, seolah UGM sedang bertransformasi menjadi sebuah kompleks akademik termegah di Jawa. UGM sedang dalam ancaman kehilangan identitas dan kehilangan arah. Identitas &#8220;kampus kerakyatan&#8221; yang dimiliki oleh UGM sekarang seolah hanya menjadi simbol dan pencitraan belaka.</p>
<p>Seharusnya, seluruh civitas akademika UGM menginsyafi perannya sebagai insan Indonesia yang progresif, yang tidak terlena oleh buaian zaman modern yang identik dengan sikap-sikap apatis dan individualis. Saat ini, gagasan-gagasan hebat dari pemikir semacam Prof. Teuku Jacob, Prof. Sardjito, Prof. Sartono dan Prof. Moebyarto hanya dijadikan arsip dan bagian dari sejarah UGM tanpa dibangkitkan kembali.</p>
<p>Padahal, gagasan profesor-profesor ini penting, terutama tentang bagaimana peran UGM untuk menjadi sebuah kampus yang benar-benar membaktikan dirinya pada rakyat, bukan pada institusi internasional demi mendapatkan akreditasi. Untuk meraih pencapaian akademis yang tinggi, meraih Nobel dan menciptakan inovasi,  sebenarnya civitas akademika UGM hanya perlu kembali ke <em>khittah-</em>nya yang sebenar, yakni jalan pengabdian kepada rakyat.</p>
<p>&#8220;Janganlah pencitraan itu membuat Anda melupakan substansi serta tujuan Anda yang sebenarnya&#8221; &#8211; kata Dubes Iwan Wiranataatmadja</p>
<p>Bolehlah UGM mempunyai fasilitas riset yang luar biasa, kampus yang megah, dan pencapaian internasional yang tinggi, tapi satu hal yang tidak boleh dilupakan, civitas almamater UGM yang katanya kampus kerakyatan dan kampus perjuangan ini, tidak membuat batas antara dirinya dengan rakyat. Rakyat dan UGM adalah satu kesatuan utuh yang nantinya, dalam satu abad kemudian, semoga, akan melahirkan pemikir-pemikir yang progresif, bermoral, sadar akan cita-cita bangsa Indonesia dan memberikan hidupnya untuk kemajuan Indonesia dan dunia pada umumnya. Bukan tidak mungkin, UGM akan menjadi poros pemikiran utama di Asia Tenggara dan Dunia nantinya.</p>
<p>Maka dari itu, marilah insaf demi kebaikan dan kejayaan UGM dan Indonesia!</p>
<p>Selamat ulang tahun yang ke-62, UGM.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catetanlaen.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catetanlaen.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catetanlaen.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catetanlaen.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catetanlaen.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catetanlaen.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catetanlaen.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catetanlaen.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catetanlaen.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catetanlaen.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catetanlaen.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catetanlaen.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catetanlaen.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catetanlaen.wordpress.com/873/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=873&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/12/19/62/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd90be3826bee41d972322bb02be4618?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">neorhazes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://catetanlaen.files.wordpress.com/2011/12/ugmold2.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Merapi, Setahun yang Lalu</title>
		<link>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/10/27/merapi-setahun-yang-lalu/</link>
		<comments>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/10/27/merapi-setahun-yang-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 14:51:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neorhazes</dc:creator>
				<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[act for humanity]]></category>
		<category><![CDATA[jogjakarta]]></category>
		<category><![CDATA[mbah maridjan]]></category>
		<category><![CDATA[merapi]]></category>
		<category><![CDATA[relawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catetanlaen.wordpress.com/?p=854</guid>
		<description><![CDATA[Selasa Malam, tanggal 26 Oktober Aku masih ingat malam itu. Aku masih di Jakarta, dan sedang mengikuti acara IndonesiaMUN 2010. Sebenarnya malam itu aku harus datang ke Social Night. Tapi, entahlah, karena aku benar-benar kelelahan dengan semua council proceeding seharian itu, akhirnya aku memutuskan buat istirahat di tempat inapku di Pusat Studi Jepang. Sambil membawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=854&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Selasa Malam, tanggal 26 Oktober</strong></p>
<p>Aku masih ingat malam itu. Aku masih di Jakarta, dan sedang mengikuti acara IndonesiaMUN 2010.</p>
<p><span id="more-854"></span></p>
<p>Sebenarnya malam itu aku harus datang ke Social Night. Tapi, entahlah, karena aku benar-benar kelelahan dengan semua <em>council proceeding </em>seharian itu, akhirnya aku memutuskan buat istirahat di tempat inapku di Pusat Studi Jepang.</p>
<p>Sambil membawa mie ayam yang baru aku beli di seberang Gedung Komunikasi FISIP UI, aku berjalan gontai ke Wisma Pusat Studi Jepang. Masuk kamar, dan langsung kujulurkan kaki yang pegal. TV pun dinyalakan.</p>
<p>Agak tidak jelas memang, tapi aku melihat sekilas berita tentang Merapi yang sedang bergejolak. Ratusan orang dievakuasi dari lereng, dan belasan telah tewas terkena asap panas. Perasaanku tak enak. Aku cek linimasa di jejaring sosial, dan benar saja, Merapi mulai memasuki siklusnya dan tentu saja Jogja terganggu karenanya.</p>
<p><strong>Esok, tanggal 27 Oktober.</strong></p>
<p>Hari terakhir dari IndonesiaMUN 2010.</p>
<p>Awal sidang terakhir, pimpinan meminta seluruh peserta untuk mengheningkan cipta untuk  Jogjakarta. Banyak yang langsung kaget dan tanya sana-sini, &#8220;Eh ada apa sih Jogja?&#8221;</p>
<p>Kami yang dari Jogja cuma bisa jawab seadanya, &#8220;Merapi meletus&#8221;</p>
<p>Tentu saja dengan perasaan yang kalut dan bingung. Bingung sekali. Aku yakin situasi di Jogja saat itu sedang tidak menentu</p>
<p><strong>28 Oktober.</strong></p>
<p>Aku kembali ke Jogjakarta dengan pesawat paling pagi, jam 6 dari Jakarta.</p>
<p>Penerbangan berjalan dengan baik, syukurlah, tanpa terhadang polusi atau hujan abu dari Merapi. Aku langsung balik ke kosan.</p>
<p>Situasi Jogja saat itu cukup tegang, tapi secara umum masih normal. Aku tidak bisa menduga apa yang akan terjadi pada Jogja esok hari.</p>
<p>Malamnya, aku diajak Abie Zaidannas  bersama teman lainnya ke Posko ACT di Km 16. Posko ini baru sekitar seminggu kurang lebih didirikan, tapi waktu aku sampai di Posko itu, situasinya benar-benar penuh dan padat dengan orang.</p>
<p>Bantuan tertumpuk di posko itu. Penuh sekali. Berkardus-kardus mie instan, suplemen makanan, dan alat-alat kebersihan.</p>
<p>Di Posko itu, aku bertemu dengan Mas Bayu Gawtama, relawan aktif di ACT.Mas Gaw, sebutan akrabnya, banyak cerita seputar pengalaman kerelawanannya, soal Merapi dan terutama, Mbah Maridjan. mas Gaw ini sempat bertemu Maridjan entah sekali atau beberapa kali. Yang jelas, mas Gaw membuka beberapa hal-hal menarik terkait mbah Maridjan yang dibilang orang banyak punya kultus, atau tentang mbah Maridjan yang dikomersialisasikan lewat iklan Kuku Bima Energi. Mas Gaw meluruskan segala fakta salah yang disampaikan oleh media.</p>
<p>&#8220;Kalian tahu&#8221;, kata mas Gaw, &#8220;mbah Marijan itu orang yang zuhud dan tawadhu&#8221;.Walaupun mbah Maridjan bisa dibilang populer, apalagi pasca iklan &#8216;Roso&#8217;nya di TV, mbah Maridjan tetap low-profile dan taat beragama.</p>
<p>Mbah Mairjdan mendapat untung yang besar dari Kukubima. Sebagai imbalannya, beliau justru meminta pihak Kukubima untuk membangun sebuah masjid di desa Kinahrejo dari penghasilannya di iklan, dan beliau minta masjid itu dibangun sebagus mungkin. Setelah masjid itu dibangun, beliau benar-benar memakmurkan masjid itu dengan segenap kemampuan dan keikhlasan beliau. Luar biasa.</p>
<p>Selain itu, banyak yang mengasosiasikan diri Mbah Maridjan sebagai figur yang kultus dan berhubungan dengan hal-hal ghaib, toh nyatanya mbah Maridjan masih memegang teguh ajaran Islam yang benar, dengan terus membaca Qur&#8217;an dan rajin tahajud. Tidak pernah ada tirakatan aneh-aneh yang dilakukan mbah Maridjan. Kalaupun mbah Maridjan melakukan perjalanan ke arah hutan Merapi yang dianggap angker, itu memang sudah tanggungjawab Mbah Maridjan sebagai pekuncen Gungung Merapi. Beliau benar-benar profesional dengan tugas beliau. Beliau hanya ingin memastikan semuanya aman.</p>
<p>Dan hal ini terlihat sampai beliau wafat. Kecintaan, ketaatan terhadap perintah Sultan, profesionalitas dan dedikasi beliau terhadap gunung Merapi terbukti sudah. Beliau meninggal dengan terhormat di lereng Merapi terkena awan panas, menjadi orang-orang terakhir yang setia menjaga Jogjakarta.</p>
<p>Semoga segala amal Mbah Maridjan diterima Allah dan arwah Mbah Maridjan berada dalam ketenangan dan lindungan di sisiNya. Amin.</p>
<p><strong>29 Oktober.</strong></p>
<p><strong></strong>Ini mungkin menjadi hari yang paling melelahkan buatku.</p>
<p>Jujur saja, sebelumnya aku belum pernah punya pengalaman menangani posko pengungsian.</p>
<p>Hari itu, aku ditugaskan untuk jadi kru pembantu di dapur umum shelter Kel. Umbulharjo, sekitar 10 KM jauhnya dari lereng Merapi.</p>
<p>Ketika aku masuk shelter itu bersama Dewantara Arief Rahman, aku terhenyak. Kondisi shelter benar-benar padat dan penuh dengan kepanikan. Relawan mondar-mandir sana sini untuk menangani pengungsi dan mengurusi distribusi bantuan. Relawan hampir datang dari semua golongan, entah dari manapun itu. Biarawati, aktivis dakwah, pekerja BUMN, relawan profesional, ibu-ibu arisan, aktivis LSM mancanegara (dari Korea), sampai wartawan dari berbagai biro di seluruh dunia<em>. </em>Penuh sekali.</p>
<p>Di satu sisi aku lihat seorang reporter sedang sibuk menghubungi kantor pusatnya untuk laporan live, di sisi lain aku melihat seorang mahasiswa sedang bermain-main dengan anak pengungsi.</p>
<p>Aku sendiri saat itu bekerja di dapur umum, entah mengaduk nasi, menggoreng ayam, mengupas kulit telur, dan segala macamnya. Ternyata tidak sesimpel itu, karena aku bersama tim dapur umum harus memasak untuk sekitar ratusan orang di shelter itu. Jatahnya harus pas, dan tidak boleh kurang.</p>
<p>Sempat ditengah bekerja, sekitar jam setengah 10, Merapi meletus. Perhatian semua orang tertuju pada letusan itu. Semua wartawan mengarahkan kameranya ke asap tinggi yang mengepul dari kawah Merapi. Asapnya tinggi sekali. Polisi dan tentara langsung bersiap siaga untuk segala kemungkinan evakuasi. Aku dan Dewan hanya takjub, dan Dewan kemudian bilang,</p>
<p>&#8220;Kalau ada apa-apa yang terjadi sama kita, gimana nih za? Gak papa kan?&#8221;</p>
<p>Aku cuma bisa pasrah dan menghela nafas.</p>
<p>Ternyata letusan ini tidak begitu serius, meskipun terbilang besar. Namun, relawan TAGANA memperingatkan kami untuk terus waspada dengan segala kemungkinan.</p>
<p>Bantuan terus datang silih berganti tanpa kenal waktu. Mulai dari dinihari sampai dinihari esoknya, truk-truk dengan stok makanan dan alat-alat mandi terus datang ke shelter Umbulharjo.</p>
<p>Jujur, ditengah hari aku cukup kelelahan. Dewan-pun juga. Kami baru sempat istirahat waktu solat Jum&#8217;at datang. Itupun sebentar, dan dilanjut kerja rodi lagi di shelter. Sampai sore datang, dan kami naik truk ACT diantar pulang ke Posko.</p>
<p>Hari yang melelahkan memang.</p>
<p>Tapi aku tersentuh.</p>
<p>Aku, yang selama ini belum berbuat apa-apa untuk mereka yang menderita, akhirnya bergerak juga. Pengalaman aku di dapur umum kemarin hari benar-benar berbekas di memori.</p>
<p><strong>30 Oktober &#8211; 4 November</strong></p>
<p>Aku tidak begitu ingat apa yang aku lakukan ditanggal ini.</p>
<p>Yang jelas,aku berkunjung sekali ke shelter di daerah 15 Km dari wilayah Merapi. Aku lupa persis nama daerahnya.</p>
<p>Pada tanggal 30  Oktober, aku ingat, itu pagi yang cukup berbeda buatku. Waktu aku buka pintu kamar, sekelilingku sudah benar-benar penuh dengan debu. Seperti salju.</p>
<p>Tanggal 1-4 November, aku sebenarnya masih memiliki beberapa jadwal UTS. UTS saat itu benar-benar chaos karena dibarengi dengan gejolak Merapi. Tanggal 4 November, akhirnya aku pulang dari Jogjakarta. Pertimbanganku untuk pulang sebenarnya simple, untuk ketemu sebentar dengan keluarga, dan setelah itu balik lagi tanggal 7 November.</p>
<p>Ternyata, tanggal 7 November, UGM mengumumkan bahwa kegiatan akademik diliburkan selama 1 bulan. Merapi sudah benar-benar mencapai klimaksnya waktu itu, jarak aman langsung beralih sampai 20-25 km. Hampir menyentuh Jakal Bawah, domilisi mahasiswa pada umumnya.</p>
<p>Keputusan ini kemudian membuat mahasiswa rantau langsung memenuhi semua stasiun dan orangtua mahasiswa rantau mulai panik menelpon anak-anaknya. Memaksa mereka segera keluar Jogja demi alasan keselamatan.</p>
<p>Sedangkan, mahasiswa asal Jogjapun bertahan. Aku bisa bilang, mereka HEBAT. Dalam situasi serba kacau, mereka menjadi relawan, mengabdikan diri di shelter membantu pengungsi.</p>
<p>Aku malu sebenarnya. Karena sebulan itu aku dirumah tidak berbuat hal-hal yang cukup berarti.</p>
<p>Aku baru kembali ke Jogja sekitar 1 minggu setelah Idul Adha waktu itu. Jogja sedang memulihkan dirinya.</p>
<p>Dan sekarang,</p>
<p>sudah setahun lewat setelah Merapi bergejolak.</p>
<p>Posko ACT sudah menjadi laundry.</p>
<p>Shelter Umbulharjo kembali ke fungsi semula sebagai Kantor Kelurahan Umbulharjo.</p>
<p>Masih banyak pengungsi yang tinggal di barak pengungsian terutama di Plosorejo, shelter resmi pemerintah.</p>
<p>Museum Merapi telah selesai dibangun, dan menampilkan koleksi serta bukti keganasan letusan tahun kemarin di gedungnya.</p>
<p><em>Merapi telah menjadi sebagian dari episode perjalanan hidupku di Jogja,</em></p>
<p><em>kisah yang luar biasa dan tak kan pernah terlupakan,</em></p>
<p><em>sebuah proses dan batu loncatan bagi diriku untuk terus berubah dan berkembang,</em></p>
<p><em>memberi energi bagiku untuk terus melakukan sesuatu,</em></p>
<p><em>demi kebaikan sesama bagi Jogja dan Indonesia.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catetanlaen.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catetanlaen.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catetanlaen.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catetanlaen.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catetanlaen.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catetanlaen.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catetanlaen.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catetanlaen.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catetanlaen.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catetanlaen.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catetanlaen.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catetanlaen.wordpress.com/854/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catetanlaen.wordpress.com/854/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catetanlaen.wordpress.com/854/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=854&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/10/27/merapi-setahun-yang-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd90be3826bee41d972322bb02be4618?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">neorhazes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Le Grand Voyage: 3000 Mil Menuju Pencerahan</title>
		<link>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/09/13/le-grand-voyage-3000-mil-menuju-pencerahan/</link>
		<comments>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/09/13/le-grand-voyage-3000-mil-menuju-pencerahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 18:02:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neorhazes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antarbangsa]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[haji backpacking]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[le grand voyage]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman haji]]></category>
		<category><![CDATA[prancis]]></category>
		<category><![CDATA[review film]]></category>
		<category><![CDATA[umrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catetanlaen.wordpress.com/?p=849</guid>
		<description><![CDATA[1 mobil. Satu supir. Satu penumpang. Belasan negara. Ratusan teman. Ribuan mil. Dan, pengalaman yang tak terhitung. Sudah sekitar 3 kali lebih aku menonton film ini, dan entah kenapa, aku tak pernah bosan. Film Le Grand Voyage buatan produser asal Maroko, Ismael Ferroukhi yang dirilis pada tahun 2004 ini tidak terlalu populer di pasaran. Sekali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=849&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1 mobil. Satu supir. Satu penumpang. Belasan negara. Ratusan teman. Ribuan mil.</p>
<p>Dan, pengalaman yang tak terhitung.</p>
<p><span id="more-849"></span>Sudah sekitar 3 kali lebih aku menonton film ini, dan entah kenapa, aku tak pernah bosan.</p>
<p>Film Le Grand Voyage buatan produser asal Maroko, Ismael Ferroukhi yang dirilis pada tahun 2004 ini tidak terlalu populer di pasaran. Sekali pernah, MetroTV menayangkan film ini waktu segmen &#8216;World Cinema&#8217; sabtu malam pada saat bulan Haji tiba. Waktu itu, sekitar 2 tahun yang lalu, pada kesan pertama, aku tergugah menonton film ini. Film yang sangat jarang ditemui pada masa ini, dengan alur cerita yang sederhana, namun sarat makna.</p>
<p>Le Grand Voyage &#8211; bahasa Prancis yang berarti Perjalanan Akbar &#8211; mengambil setting waktu pada tahun 1990-an dengan sentral tokoh yakni seorang pemuda bernama Reda, yang akan lulus bakalaureat (setingkat diploma) pada tahun itu ditempat tinggalnya di selatan Prancis. Ayahnya, seorang imigran tua, berkehendak untuk menunaikan haji pada tahun itu.</p>
<p>Ayah Reda sangat ingin untuk menggunakan mobil dalam perjalanannya menuju Mekkah. Awalnya, kakak Reda yang diminta ayahnya untuk mendampingi dalam perjalanan tersebut, tapi karena kakak Reda tersandung masalah soal obat-obatan dan narkotik, akhirnya Reda-lah yang menemani ayahnya dalam perjalanan besar menuju Baitullah, walaupun dengan sedikit terpaksa karena harus meninggalkan pacarnya dan studinya di Prancis.</p>
<p>Perjalanan sejauh ribuan mil inipun akhirnya dimulai.</p>
<p>Dengan menggunakan sebuah mobil Peugeot seri 306 yang dipinjam dari tukang bengkel kenalan, ayah dan anak ini kemudian menjelajahi puluhan negara di Eropa dan Timur Tengah. Selama perjalanan, ayah dan anak yang sangat jarang menjalin interaksi ini kemudian perlahan-lahan mulai menjalin rasa satu sama lain. Awalnya, hubungan mereka memang terlihat sangat kaku, sang anak sangat cuek dan bersikap mau enaknya sendiri, sedangkan si ayah meminta anaknya untuk tidak berbuat seperti itu.</p>
<p>Dibesarkan dalam zaman yang berbeda membuat hubungan antara mereka berdua juga renggang dan berbeda. Reda yang sudah lazim dengan budaya sekuler dan hedon ala Prancis sangat kontra dengan sikap ayahnya yang sangat taat agama dan hidup sesederhana mungkin. Terjadilah debat dan pertentangan atas sikap mereka masing-masing. Tapi toh, Reda perlahan-lahan belajar dan disadarkan oleh sikap ayahnya.</p>
<p>Perjalanan mereka berdua menuju Mekkah menemui banyak sekali rintangan yang aneh dan tak terduga. Saat di Kroasia, mereka dihampiri oleh seorang wanita tua misterius yang meminta tumpangan menuju ke sebuah kota yang namanya tak ada di peta. Wanita ini benar-benar aneh, bahkan dia bisa melewati pos perbatasan tanpa diperiksa. Karena Reda merasa ketakutan, dia sempat beberapa kali meminta ayahnya untuk menurunkan saja wanita misterius ini.</p>
<p>Selain itu, mereka juga menemui hadangan lain yang cukup menyebalkan, seperti misalnya ditahan berjam-jam di pos imigrasi Turki karena dokumen perjalanan Reda yang tidak valid. Sampai akhirnya Reda bertemu dengan seorang Turki bernama Mustapha yang pada awalnya baik hati, namun akhirnya menjebak Reda dengan mencuri uang perjalanannya ke Mekkah. Semua ini membuat Reda berpikir tentang apa sebenarnya tujuan dari perjalanan yang cukup merepotkan ini.</p>
<p>Di tengah perjalanan, Reda sempat bertanya pada ayahnya.</p>
<p>&#8220;Ayah, kenapa kau tidak terbang saja ke Mekkah? Sunguh perjalanan seperti ini amat merepotkan..&#8221;</p>
<p>Ayah Reda, dengan suaranya yang tenang dan bijaksana, menjawab pertanyaan anaknya dalam bahasa Arab yang indah dan sarat makna yang dalam,</p>
<p>&#8220;Ketika air samudera menguap menuju langit, air-air tersebut akan kehilangan rasa asinnya dan kembali murni kembali. Air samudera kan menguap seiring naiknya mereka ke kawanan awan dan ketika mereka menguap, mereka akan menjadi murni kembali. Itulah sebabnya lebih baik berangkat haji dengan berjalan kaki daripada menaiki kuda, lebih baik menaiki kuda daripada menggunakan mobil, lebih baik menggunakan mobil daripada menaiki kapal, dan lebih baik menaiki kapal daripada berkendara dengan pesawat..&#8221;</p>
<p>Jawaban ayah Reda mungkin agak susah dicerna, tapi sangat indah dan luar biasa. Inti dari jawaban ayah Reda sebenarnya adalah: &#8220;Ini semua soal kemurnian niat, dan lebih baik menempuh perjalanan panjang selama berbulan-bulan, karena setiap langkah dalam perjalanan menuju Baitullah akan dihitung sebagai sebuah pahala yang akan mengurangi dosa dan memurnikan jiwa&#8221;</p>
<p>Reda pun hanya tersenyum dan terpukau mendengar jawaban ayahnya.</p>
<p>Tapi, rintangan dan konflik dalam perjalanan orangtua-anak ini tak berhenti sampai disini. Perjalanan mereka baru sampai setengahnya ketika mereka beranjak dari Turki menuju Damaskus.</p>
<p>Di Damaskus, godaan setan tampaknya berhasil menghasut hati Reda. Saat ayahnya sedang tidur, Reda yang kebosanan beranjak dari tempatnya dan berangkat ke sebuah klub tari perut. Disana dia hanya bersenang-senang sambil mabuk dengan arak dan menari bersama penari-penari yang cantik.</p>
<p>Sebelum ini pun, Reda juga sempat tergoda bujukan bulus Mustapha untuk minum bir di Turki. Ada sebuah percakapan menarik antara mereka sebelum Reda meminum bir.</p>
<p>&#8220;Reda, apa yang hendak kau minum, bir, teh atau kopi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, coba kupikir dulu.. Tunggu, bukankah bir haram? Dan aku pasti tidak diperbolehkan ayahku untuk meminumnya..&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengar cerita ini nak, dulu ada seorang mursyid Sufi yang ditanyai oleh muridnya,</p>
<p>&#8216;Mursyidku, apakah arak itu haram dalam Islam?&#8217;</p>
<p>&#8216;Ah, muridku tercinta, itu bergantung pada seberapa besar jiwamu. Coba kau tuangkan sebotol anggur pada segelas air murni, niscaya air murni itu akan berubah warna. Namun, bila kau tuangkan sebotol anggur itu pada samudera, niscaya tak kan berubah warna dan rasa samudera itu&#8217;</p>
<p>Nah, Reda, apakah kau punya jiwa yang cukup besar untuk tidak meminum bir ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, aku rasa aku akan minum bir saja&#8221;</p>
<p>Dari percakapan ini sangat tergambar jiwa Reda yang masih dalam pencarian jatidiri dan belum punya sikap sampai akhirnya ayahnya menasehati Reda untuk tidak mempercayai Mustapha lagi.</p>
<p>Untuk kedua kalinya, di Damaskus, ayah Reda benar-benar kecewa dengan sikap anaknya yang bermain-main dengan wanita. Sampai ayah Reda memutuskan untuk berangkat sendiri ke Mekkah. Tapi dengan bujuk rayu serta sendu Reda, akhirnya ayah Reda pun berusaha untuk sabar dan memaafkan tindakan anaknya yang sudah sangat keterlaluan ini.</p>
<p>Konflik belum berakhir, dan akhirnya justru kembali. Reda yang kebosanan makan-makanan yang murahan, meminta ayahnya untuk membeli daging. Karena Reda terlalu memaksa, akhirnya ayahnya menjual kamera miliik Reda untuk ditukarkan dengan seekor kambing. Reda terang marah dengan ayahnya yang menukarkan kamera dengan kambing, dan ayah Reda hanya menjawab, &#8220;Loh, kan kamu yang ingin makan daging?&#8221;</p>
<p>Saat mereka berhenti untuk menyembelih kambing itu, ternyata kambing itu lepas dan hanya membuat Reda semakin kesal. Puncak kekesalan Reda adalah pada saat Reda melihat ayahnya memberikan uang kepada pengemis jalanan padahal pada saat itu uang mereka juga ingi menipis.</p>
<p>Reda jengkel, dan akhirnya kabur.</p>
<p>Tapi toh, Reda tak benar-benar kabur, dan hanya sekedar mangkel sambil duduk-duduk diatas bukit. Ayahnya kemudian menghampiri.</p>
<p>Saat itulah, Reda kembali bertanya lagi kepada ayahnya,</p>
<p>&#8220;Ayah, kenapa ayah sangat ingin ke Mekkah? Kenapa Mekkah sangat berarti banyak bagi ayah sehingga ayah mengusahakan untuk mengendarai mobil sejauh ini bersamaku untuk sampai kesana?&#8221;</p>
<p>Ayah Reda menjawab pertanyaan anaknya itu dengan suaranya yang khas dan menenangkan,</p>
<p>&#8220;Mekkah adalah tempat suci bagi seluruh umat Islam dari seluruh dunia. Tempat ini adalah peninggalan Ibrahim, nabi yang diberkati Allah. Semua orang Islam yang masih mampu secara fisik, mental dan materi harus menyanggupkan diri berangkat ke Mekkah sebelum dia meninggal dunia untuk menyucikan jiwanya disana. Kita semua pasti meninggal di dunia ini karena kita hanyalah tetamu sementara. Ketakutanku satu-satunya dalam perjalanan ini adalah aku akan meninggal sebelum benar-benar sampai di Mekkah. Untunglah, kau menemaniku sepanjang perjalanan, nak. Allah memberkatimu. Aku juga mempelajari banyak hal selama perjalanan ini&#8221;</p>
<p>&#8220;Begitupun aku, yah&#8221;</p>
<p>Setelahnya, mereka berdua saling memandang dan tersenyum. Lalu ayah Reda beranjak menunaikan salat, dan Reda hanya terdiam memandang langit.</p>
<p>Perjalanan mereka akhirnya mencapai titik miqat, sebuah titik dimana jamaah haji mulai mengenakan ihramnya dan bersiap untuk menunaikan ibadah haji secara penuh dengan niat yang tulus dan ikhlas karena Allah ta&#8217;ala.</p>
<p>Di titik miqat ini, Reda dan ayahnya bertemu dengan segerombol jamaah haji dari penjuru negeri Arab. Disinilah Reda akhirnya ditinggalkan oleh ayahnya ke Mekkah, dan Reda mengatakan kepada ayahnya untuk memberi tahu jika ayahnya sudah selesai dengan ibadah haji esok hari.</p>
<p>Tapi, sampai esok, ayahnya tak kunjung datang dengan bus charter para jamaah. Reda mulai khawatir.</p>
<p>Reda dengan jiwanya yang cemas mulai mengejar dan mencari ayahnya hingga menaiki bus ke Mekkah. Ditengah kerumunan jemaah haji yang berjuta jumlahnya, dia berusaha untuk mencari wajah ayahnya yang bersahaja. Tapi, tetap dia tidak bisa menemukan ayahnya. Dia hanya bisa berteriak, &#8220;Ayahku dimana? Dimana? Dimana?&#8221;</p>
<p>Sampai karena teriakannya, dia ditangkap oleh polisi Mekkah.</p>
<p>Dia akhirnya dibawa kesebuah lorong gelap oleh polisi Mekkah setelah diinterogasi.</p>
<p>Dia memasuki sebuah ruangan dengan cahaya redup, dan melihat jenazah-jenazah yang bergeletak. Perasaan Reda mulai tak tentu, dan kemudian dia dibimbing oleh penjaga tempat tersebut untuk mencari ayahnya.</p>
<p>Benar saja, ketika membuka kain penutup terakhir dari jenazah tersebut, dia menemukan ayahnya.</p>
<p>Pucat. Kaku. Tak bergerak lagi.</p>
<p>Reda hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Menyesali segala tindakannya.</p>
<p>Dia kemudian memandikan jenazah ayahnya dan membungkus jenazah ayahnya dengan kafan untuk disolatkan kemudian di Masjidil Haram.</p>
<p>Ayah Reda telah berhasil menunaikan hajinya, Allah menyempatkan beliau untuk melakukannya. Tapi, Allah sangat sayang kepada ayah Reda sehingga ayah Reda dipanggil seketika setelah ayah Reda menyelesaikan tugas tersebut. Sungguh mulia.</p>
<p>Subahanallah.</p>
<p>Reda, dengan hanya membawa koper dan uang sisa penjualan mobilnya, akhirnya beranjak pergi dari Mekkah untuk berangkat dari Saudi Arabia kembali ke Prancis. Jiwa Reda yang sebelumnya tak berarah akhirnya menemukan arahnya, dan dia menemukan cahaya hidayah dari Allah yang berkenan menunjukkannya dalam perjalanan ini.</p>
<p>Sebelum pulang dari Mekkah, Reda menyempatkan diri untuk menginfakkan sebagian uangnya kepada pengemis, sebelum akhirnya dia beranjak dan pergi ke bandara dengan menggunakan taksi.</p>
<p>Film ini luar biasa menyentuh hati, walaupun tidak mendapatkan penghargaan.</p>
<p>Aku sangat menyarankan film ini untuk ditonton oleh mereka yang ingin berangkat ke Mekkah, entah untuk umrah atau haji, supaya esensi perjalanan mereka tak sia-sia.</p>
<p>Dan didampingi juga dengan buku Ali Syari&#8217;ati yang bertema tentang haji, berisi esei penggugah jiwa yang patut dijadikan kawan selama berada di dua kota suci.</p>
<p>Sungguh, dalam perjalanan hidup, banyak pelajaran yang bisa didapatkan, terutama untuk mereka yang mau menyadarinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catetanlaen.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catetanlaen.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catetanlaen.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catetanlaen.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catetanlaen.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catetanlaen.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catetanlaen.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catetanlaen.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catetanlaen.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catetanlaen.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catetanlaen.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catetanlaen.wordpress.com/849/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catetanlaen.wordpress.com/849/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catetanlaen.wordpress.com/849/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=849&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/09/13/le-grand-voyage-3000-mil-menuju-pencerahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd90be3826bee41d972322bb02be4618?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">neorhazes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Everything Seems Alright?</title>
		<link>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/15/everything-seems-alright/</link>
		<comments>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/15/everything-seems-alright/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 20:14:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neorhazes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antarbangsa]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[diversity]]></category>
		<category><![CDATA[europe]]></category>
		<category><![CDATA[european assumption]]></category>
		<category><![CDATA[european governance]]></category>
		<category><![CDATA[european politics]]></category>
		<category><![CDATA[european question]]></category>
		<category><![CDATA[kohesi sosial]]></category>
		<category><![CDATA[multiculturalism]]></category>
		<category><![CDATA[opinion on europe]]></category>
		<category><![CDATA[politik eropa]]></category>
		<category><![CDATA[regionalism]]></category>
		<category><![CDATA[social cohesion]]></category>
		<category><![CDATA[wonderful]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catetanlaen.wordpress.com/?p=840</guid>
		<description><![CDATA[Feeling secure already? Everything&#8217;s seems alright? Isn&#8217;t it? At least, several turmoil has just hit the core of Europe these months. Madrid, Oslo, Athena and even London has become the victim of unexpectedly horizontal conflict and crisis. Most of these countries are members of OECD, the well-known organizations for developed countries, but yet, these recent [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=840&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Feeling secure already? Everything&#8217;s seems alright? Isn&#8217;t it?</p>
<p><span id="more-840"></span>At least, several turmoil has just hit the core of Europe these months. Madrid, Oslo, Athena and even London has become the victim of unexpectedly horizontal conflict and crisis. Most of these countries are members of OECD, the well-known organizations for developed countries, but yet, these recent trends showing us that, no matter how developed their economy, how advanced their education and technology, and how sustainable their social condition, there&#8217;s some hidden flaws in the so-called marvelous and prosperous Europe.</p>
<p><strong>European Dream</strong></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 302px"><img src="http://www.molon.de/galleries/Hungary/Budapest/Views/images01/08%20Danube%20river%20with%20Szabadsag%20bridge.jpg" alt="" width="292" height="217" /><p class="wp-caption-text">The beauty of Danube River (courtesy: molon.de)</p></div>
<p>There&#8217;s should be something wrong with Europe with all of these recent instabilities that happened sporadically.</p>
<p>Europe has been a really attractive continent. It is stable, enjoyed the best economy development, joyous, progressive and seems, there&#8217;s no serious problem occurred there. This make people (esp. immigrants) think that it might be better to go to Europe rather than America as the best place to start and find jobs to have a better living rather than going to America.</p>
<p>And it did proved. Around 1960-1980s, millions of immigrants are leaving their origins, from the uphill of Kabul to the desert of Abuja, seeking for refuge and wonderful life ahead in beautiful and wondrous cities such as Madrid and Paris. They&#8217;re trying to leave out miseries of war and endless conflicts, and finding a way for continue living without being an innocent victim in political crisis happening in their countries, which become the active belligerents of Cold War.</p>
<p>Even though the journey is hard for an immigrant to go to Europe, they won&#8217;t care. Their strife will be soon paid as they reach Europe, no matter how they will be. Most of them were successful, and some of them were getting an enough accomplishment, no more and no less. Working as a blue-collar workers seems to be enough, as long as money keeping them sustained and they can feel an ultimate security and peace that they have seek.</p>
<p>Not only the immigrants, but also the European citizen themselves feel grateful to be the citizen of Europe. They feel blessed to born on the land of the free. They get everything here &#8211; free education, good bureaucracy, awesome places, good prices, and happiness &#8211; and nothing seems to bother them to live in Europe. Europe is everything.</p>
<p>But in recent decades? All of those good picture of Europe seems to be torn apart. Image of Europe as a whole unity that shows its inexplicable beauty, now turns into a ripping images of hidden wounds and diseases.</p>
<p><strong>Financial Instability</strong></p>
<p>Whose investor doesn&#8217;t want to invest their money in Europe? Of course, many wants to. Although for nowadays, Asia seems to have a better prospect for those investors, Europe is still becoming one of the favorite place to play with some money and doing some business. It&#8217;s easy to start a business, although the market is already filled and you have to prepare a lot sum of money, but if you can make one, you would gain money quickly to cover up your initial asset.</p>
<p>Doing business in Europe is also an efficient way, because they have one single currency, so investors doesn&#8217;t have to be worried about the fluctuating exchange rates or some kind of it. And yes, Euro is one of the most stable and secured currency in the world.</p>
<p>At least, until 2008, when the global economy is walking to the road of malaise. The bad management of  sub-prime mortgage issues, credit failures by financial institutions and currently the threat of debt-paying failure in the US economy starts a trigger for rattles of deadly bullets to shot down the business in many countries, and Europe is also wounded by this bullet.</p>
<p>In the past, European banks is one of the most trusted financial institutions because of its transparency and its stability. But, it&#8217;s not applied anymore. Some of the national and private banks in certain European countries, ranging from Iceland to Greece, has been failed to survive the tidal wave of crisis, and this failure has led to economic instabilities in the government. People feels something&#8217;s wrong with daily prices that suddenly hikes, and investors suddenly found their balances to be positioned more negatively than before. When people starts demonstrating and the fire of rage sets up everywhere, like that one in Athens, government starts to panicked and when they also lose investors, the government got everything left. What&#8217;s left in front of them is a pile of debt that is need to be paid.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 343px"><img src="http://www.hurriyet.com.tr/_np/1655/6941655.jpg" alt="" width="333" height="235" /><p class="wp-caption-text">Riot in Athens (courtesy: hurriyet.tr)</p></div>
<p>With all of these instabilities, and also the fluctuation of domestic and global market, the government couldn&#8217;t simply paid the debt and stabilize the market. At least, they have EU. European Union is the last place for these European countries to ask help and solidarity from its fellow members.</p>
<p>If the instability were only occurred on Greece, there will be no problem. But how about Ireland, Italy, Spain and Portugal? These EU members also asks for kind assistance, and it couldn&#8217;t be given easily. On Greece&#8217;s case, it&#8217;s quite difficult to convince all members to help their poor fellow. It ain&#8217;t easy, because the bailout which is supposed to be given is coming from the tax of European citizen, and they can&#8217;t easily giving it freely without condition.</p>
<p>In Greece&#8217;s case, it&#8217;s not really done enough, but they starting to be healed with bailout packages given. But it&#8217;s an unpleasant conditions for Spain and Italy, who must endure a painful fact that their demand for bailout request is not fulfilled by EU.</p>
<p>Euro is not among one of the most secured currency, and yes, people today might think twice before they actually invest in Europe.</p>
<p><strong>Social structure: Is it that cohesive?</strong></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 360px"><img src="http://blogs.reuters.com/faithworld/files/2010/11/multiculti-europe-350x216-custom.jpg" alt="" width="350" height="216" /><p class="wp-caption-text">We are all Europeans (courtesy: reuters.com)</p></div>
<p><strong></strong>We might be amazed by the diversities of European cultures.</p>
<p>Many said that Europe&#8217;s is blessed with multiculturalism. Imagine, all kind of different European-based race (Germans, British, Scandinavian, Dutch, Spanish, Polish, Slavs) coexisted in peaceful condition with various immigrants coming from Africa and Asia. The multiculturalism is maintained really well and there&#8217;s no suspicions among these groups (except for several far-right group who considers immigrant as the bad group that should be removed away).</p>
<p>With good management, government could keep the cohesion among this diverse society. There&#8217;s also no breaking gap between the poor and the rich, since the social security is assured from the government budget, and this could help more in minimizing disparities that could result in horizontal friction.</p>
<p>European Union works really hard to keep the practical value of social cohesion keep applied in all of the EU members.</p>
<p>After 2000s, these efforts seemingly in a turning down point. 9/11 makes everybody suspicious for everything &#8216;Islamic&#8217; and &#8216;Arabic&#8217;, even though European Muslim and Arabs suffer less discrimination rather than their fellows in USA.</p>
<p>Multiculturalism is at its stake when Sarkozy ridden out thousands of Romans from France because they don&#8217;t have right to stay and living there. African and Caribbean immigrants living in the suburb of London for once might enjoy a superb life, until they feel something is unfair. Uneasily seeking for job, widening gap, and exclusion from society makes these community living in Tottenham create gangs as their way to be existed and easily gaining power.</p>
<p>Voila, when Mark Duggan, a cocaine dealer shot, the anger culminate and expressed in a way of anarchism by these suppressed and excluded people.</p>
<p>How UK government face this? Up until now, the government still unable to heal the deep wound that has been keep under the heart of these excluded society. It&#8217;s gonna take some time to ensure the social cohesion in UK restored back.</p>
<p><strong>Secure enough?</strong></p>
<p>Oslo is an easy-going city, filled with usual magnificence of Scandinavian city with priceless heritages and post-mo architecture set so beautifully in the heart of it. Surrounded by fjord and forest, the city gives a real peace for its citizen.</p>
<p>Until a mobster suddenly shock the world with his explosion in the peaceful and enjoyable Oslo, and also the Utoeya Island.</p>
<p>Recent riots in big cities of Europe also tells the same story.</p>
<p>When these countries calls another country in Asia and Africa are in danger of terrorism and instability, when they face it directly in front of their eyes, they just paused for a while, thinking how possible is an impossible chance of turmoil could be happened, amidst their fine living.</p>
<p><strong>Political clashes</strong></p>
<p>It&#8217;s not a secret that European countries are still having a few frictions that is originated from centuries before. Remember, France-Germany? The vengeance between these two neighbor seems to have a never ending story until the end of World War II. In the case of Greek bailout, France has several difficulties in approaching Germany to give their money for the bailout. The Germans always unclear about their answer, but it&#8217;s rather &#8220;Nein&#8221; than &#8220;Ja&#8221;, and makes France frustrates.</p>
<p>France implied a strong pressure for Germany to answer &#8220;Oui&#8221;. But, German sees this as challenge, and therefore? German threaten to get out from the EU.</p>
<p>Other political differences in EU can be seen also when Germany considers that attacking Libya is not an option, and they are not obliging toward the Common Political and Foreign Policy of the EU.</p>
<p>Another thing, people start to lose their faith for EU. Economy&#8217;s began to crumble, since their currency is only one, and if it&#8217;s rotten, which currency they have to take? This is where far-right comes in. The trends of far-right politicians (which emphasize strongly on national interest and doesn&#8217;t give a damn on supranational entity) that recently ruling several governments in Europe shows that the effort of regionalism to unite all of Europe seems to facing the darkest moment.</p>
<p><strong></strong><strong>One of the main uncertainties </strong></p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 410px"><img src="http://t2.ftcdn.net/jpg/00/06/22/49/400_F_6224915_SyFVTLbvGcSpxBANcCXmwgcPc1ZW1U1J.jpg" alt="" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">A big question to be answered by everyone</p></div>
<p><strong></strong>Europe is a big question mark for most of people right now. Uncertainty began to arise as Europe&#8217;s is facing up into the dangerous tsunami that is ready to destroy anything in front of them.</p>
<p>Could European countries handle these problems? As I saw yesterday in <a href="http://walt.foreignpolicy.com/posts/2011/08/12/five_big_uncertainties" target="_blank">Stephen Waltz article in FP</a>, that he&#8217;s among the pessimistic when he&#8217;s looking at Europe now (esp. the EU). Is it gonna ripped apart, or pulling themselves together? He answers, &#8220;the Europe might be not disintegrated easily, but perhaps they gonna face a bleaker future..&#8221;</p>
<p>When it will take some time for EU to answer the question, yes,  starting from now some people might be looking Europe in a different way.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catetanlaen.wordpress.com/840/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catetanlaen.wordpress.com/840/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catetanlaen.wordpress.com/840/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catetanlaen.wordpress.com/840/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catetanlaen.wordpress.com/840/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catetanlaen.wordpress.com/840/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catetanlaen.wordpress.com/840/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catetanlaen.wordpress.com/840/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catetanlaen.wordpress.com/840/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catetanlaen.wordpress.com/840/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catetanlaen.wordpress.com/840/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catetanlaen.wordpress.com/840/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catetanlaen.wordpress.com/840/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catetanlaen.wordpress.com/840/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=840&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/15/everything-seems-alright/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd90be3826bee41d972322bb02be4618?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">neorhazes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.molon.de/galleries/Hungary/Budapest/Views/images01/08%20Danube%20river%20with%20Szabadsag%20bridge.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.hurriyet.com.tr/_np/1655/6941655.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://blogs.reuters.com/faithworld/files/2010/11/multiculti-europe-350x216-custom.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://t2.ftcdn.net/jpg/00/06/22/49/400_F_6224915_SyFVTLbvGcSpxBANcCXmwgcPc1ZW1U1J.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Holiday Notes: Hibah Riset 2011</title>
		<link>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/11/holiday-notes-hibah-riset-2011/</link>
		<comments>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/11/holiday-notes-hibah-riset-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 17:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neorhazes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antarbangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Holiday]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[ayatollah]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi islam]]></category>
		<category><![CDATA[fisipol ugm]]></category>
		<category><![CDATA[hibah riset ugm]]></category>
		<category><![CDATA[iran]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>
		<category><![CDATA[sosiologi]]></category>
		<category><![CDATA[wilayatul faqih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catetanlaen.wordpress.com/?p=832</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Makanya, saya kira kalian jadi kaget seperti ini karena kalian tidak punya sumber yang valid.. dan menurut saya itu menjadi tidak intelektual, tidak ilmiah&#8230;&#8221; Selama liburan ini, selain ikut program musim panas-nya OSU, aku juga ikutan dalam sebuah proyek tahunan fakultas &#8211; hibah riset. Awalnya, aku pengen bikin kelompok hibah riset sendiri bareng temen-temen 2010, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=832&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Makanya, saya kira kalian jadi kaget seperti ini karena kalian tidak punya sumber yang valid.. dan menurut saya itu menjadi tidak intelektual, tidak ilmiah&#8230;&#8221;</p>
<p><span id="more-832"></span></p>
<p>Selama liburan ini, selain ikut program musim panas-nya OSU, aku juga ikutan dalam sebuah proyek tahunan fakultas &#8211; hibah riset. Awalnya, aku pengen bikin kelompok hibah riset sendiri bareng temen-temen 2010, tapi karena kita mentok soal tema, dan ternyata terbentur juga masalah tugas-tugas paper yang menumpuk waktu itu, akhirnya aku sempat mutusin untuk mundur aja dari proyek hibah riset ini, sebelum ada 2 orang senior, Mbak Ulya dan Mbak Lintang, yang ternyata melamar aku buat jadi anggota dari tim mereka. Ya, akhirnya setelah ditimbang dan dipikir-pikir ulang, boleh juga lah aku ikut salah satu dari kelompok senior ini.</p>
<p>Tema hibah riset tahun ini seru banget dan sesuai sama minatku, yaitu ngebahas tentang demokratisasi di Timur Tengah. Kelompokku milih isu di Iran, tentang wewenang Wilayatul Faqih dan hubungannya dengan konteks demokrasi.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 319px"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/0b/Grand_Ayatollah_Ali_Khamenei%2C.jpg/754px-Grand_Ayatollah_Ali_Khamenei%2C.jpg" alt="" width="309" height="242" /><p class="wp-caption-text">Ayatollah Khamenei, the Rahbar</p></div>
<p>Nah, supaya pembaca sekalian mengerti tulisan ini dengan lebih seksama, mungkin aku akan jelaskan dikit tentang tema risetku ini. Wilayatul Faqih itu adalah semacam badan yang terdiri dari 12 ulama dan dipimpin sama satu orang yaitu yang kita sering kenal sebagai Ayatollah (Supreme Leader/Pemimpin Utama), dan orang Iran juga sering menyebutnya sebagai Rahbar. Kewenangan Wilayatul Faqih ini cukup besar, soalnya mereka punya kontrol dalam masalah konstitusi dan menjaga garis besar haluan negara supaya tidak keluar dari garis Islam. Nah, yang jadi masalah adalah dengan kewenangan yang besar dan <em>absolut</em> (prejudice awal kelompok kami, yang nantinya bakal dikoreksi) ini, apakah Wilayatul Faqih justru menggangu serta menyalahi makna demokrasi?</p>
<p>Perjalanan riset akhirnya dimulai dengan pembuatan proposal riset, yang sebenarnya aku nggak terlalu terlibat. Tapi, selanjutnya, aku bener-bener bisa menikmati pencarian ilmu selama riset ini, dan memang, ilmu yang kudapat selama quest for truth ini sangat melegakan, istilah kerennya &#8211; quenching my thirst of knowledge.</p>
<p>Setelah aku tau judul hibah risetnya dari Mbak Ulya, aku langsung muter otak, kira-kira kemana nyari sumber yang valid buat penelitian soal Iran dan Syi&#8217;ah seperti ini. Akhirnya, aku ingat lagi sebuah lembaga think-tank/LSM yang basis serta pegiatnya adalah orang Syi&#8217;ah, namanya Rausyanfikr Institute. Dulu mereka pernah ngadain seminar di UC UGM tentang doa dan rintihan umat beragama.Rausyanfikr Institute ini fokusnya di mistisisme dan filosofi Islam, diskusi mereka bagus-bagus dan yang seminar kemarin, mereka ngundang beragam tokoh lintas agama dari Iran sampai ke Amerika.</p>
<p>Dalam riset ini, kelompokku ngadain beberapa macam interview ke beberapa orang, 2 orang dosen, 1 orang pakar Timur Tengah dan 1 orang dari Rausyanfikr Institute. Dari dosen-dosen sama pakar Timteng (Pak Hamdan), kami dapat gambaran cukup tentang kondisi Iran sama konsep tentang Wilayatul Faqih, tapi emang gak begitu dalam. Narasumber awal kami, misalnya, Mas Faris memang cukup knowledgeable dalam masalah Iran, tapi akhir-akhirnya Mas Faris ngasih rekomendasi bahan bacaan (Vali Nasr sama Naim Qassem), ditambah ngasih saran untuk datang ke Rausyanfikr Institute. Bener deh, akhirnya tempat ini yang jadi target utama kelompok kami.</p>
<p>Sebelum bener-bener ke Rausyanfikr Institute buat interview, pertama aku pengen lihat tempatnya dan survei bentar, sekalian janjian sama pegiat yang standby disana. Ternyata, tempatnya lebih kecil daripada dugaanku. Kantor Yayasan Rausyanfikr Institute ini letaknya di posisi cul-de-sac dan tampilannya sederhana banget. Sampai disana, aku bareng sama Swas (yang hari itu jadi partner jalan-jalanku) akhirnya ketemuan sama Mas Edi, sekretaris Rausyanfikr. Setelah tanya-tanya sebentar, akhirnya aku bikin janji untuk interview buat minggu depannya, untuk tanggal  sekitar 14-18 Juli waktu itu.</p>
<p>Nah, selama sekitar seminggu sebelum interview, aku dapet tugas dari Mbak Ulya untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kondisi Iran sekarang-sekarang ini, yang sempet panas karena ada demo dari Barisan Hijau, kelompok oposisi yang dipimpin oleh Mousavi dan rekan-rekannya. Padahal waktu itu, tugas-tugas lainnya macam tugas OSU masih lumayan numpuk (terutama tugas paper). Toh, finally, aku bisa menyelesaikan semuanya (dengan dorongan luar biasa dari banyak hal, terutama Jogja).</p>
<p>Seminggu kemudian, sekitar tanggal 18, kelompokku interview dengan Kepala Yayasan Rausyanfikr, Pak AM Safwan. Dari awal interview, waktu beliau ngeliat paper dan penjelasan kami, beliau udah banyak mengkritisi konten dari paper kami yang beliau anggap &#8220;tidak ilmiah&#8221; awalnya. Misalnya aja waktu kami menganggap kalau Wilayatul Faqih itu adalah entitas yang besar sehingga memiliki kekuasaan yang absolut. Pak AM Safwan tidak terima dengan prejudice kami ini, dan akhirnya beliau langsung menjelaskan kalau besar itu beda sekali dengan absolut. Contoh, kekuasaan SBY besar kan di Indonesia, tapi tentu saja tidak absolut, karena diatur dalam kerangka demokrasi.</p>
<p>Terus, lanjut lagi kritik beliau tentang sumber yang kami kutip, yaitu bukunya Pak Bambang Cipto, dosen HI UMY (setahuku). Nah, prejudice kami tentang absolut itu sebenarnya berasal dari buknya Pak Cipto ini, dan beliau bilang, &#8220;Sayang sekali peneliti seperti Pak Cipto hanya bisa menggunakan data-data literatur sekunder dari Amerika, tanpa membandingkan dengan data primer dari Iran&#8221;.</p>
<p>Selama interview, kami lumayan banyak diberi pencerahan soal Iran, demokrasi dan Wilayatul Faqih. Pak AM Safwan juga bilang kalau,<br />
&#8220;Jangan kira orang Iran itu tidak menggunakan dasar pemikiran yang baik, ulama-ulama di Iran banyak belajar tentang filsafat Barat! Plato, Aristoteles mereka sudah khatam kok, dan di Iran itu dalam setahun bisa ada 200 ribu buku lebih yang diproduksi baik dalam bentuk cetak atau ebook, tidak seperti Indonesia yang cuma 80 ribu, itupun dalam bentuk terjemahan&#8221;. Memang sih seperti agak memuji Iran, tapi ya faktanya memang seperti itu, orang Iran memang terkenal pintar &#8211; peradaban mereka sudah bertahan lebih dari 3000 tahun di dunia ini.</p>
<p>Pak AM Safwan juga cerita tentang Pak Supardja, dosen Sosiologi UGM yang pernah melakukan Sabbatical Research di Iran sekitar 3 bulan. Sabbatical Research itu semacam cuti akademik dari kegiatan belajar-mengajar, tapi tujuannya justru untuk melakukan penelitian lebih dalam dan menghasilkan karya akademik setelahnya. Ternyata yang Pak Supardja temui di Iran toh bener-bener beda dengan pandangannya tentang Iran sebelum beliau datang kesana. Yes, sekali lagi, it&#8217;s all about our prejudice, our narrow mind of thinking &#8211; yang akhirnya hanya bisa diselesaikan dengan melihat langsung apa sih yang sebenarnya terjadi dan apa yang ada disana.</p>
<p>Pak AM Safwan juga titip pesan, &#8220;Mbok ya sekali-kali UGM ngundang native dari Iran untuk ngobrol soal Iran langsung, jangan melulu dari Amerika, atau adalah sekali-kali mahasiswa yang kesana juga&#8221;. Hm, menderngar kata pak Safwan ini entah kenapa aku jadi tertarik untuk ke Iran.</p>
<p>Ke Iran? Negara otoriter? Mayoritas Syiah?</p>
<p>Sepertinya menarik, tapi akan ada banyak tantangan. Ngomong-ngomong, aku udah punya satu kontak disana, seorang programmer dari kantor berita online di Iran, namanya Mojtaba Mousavi. Setahuku juga, sebenarnya ada program beasiswa 6 bulan yang dibuka setiap semester dari Kedubes Iran, tapi ya untuk ini, aku harus rela mengorbankan waktuku di UGM. Selain itu, Syi&#8217;ah? Mungkin bisa jadi big deal buat aku yang Sunni ini, tapi katanya mereka juga nggak terlalu masalah, asal kita bisa saling menghormati.Satu hal lagi, mungkin aku bakal sedikit susah koneksi ke Indonesia, karena seperti yang udah kita tahu, koneksi ke FB dan twitter di Iran itu diblokir (tapi untungnya Y!M masih bisa). Yah, bakal banyak kangen sama Indonesia kalau begini ceritanya.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 335px"><img src="http://farm1.static.flickr.com/113/287958025_e8d1ef9ab9.jpg" alt="" width="325" height="220" /><p class="wp-caption-text">Isfahan is Nisf-Jahan - Half of the Heaven</p></div>
<p>Lagipula tantangan-tantangan itu seakan tidak ada apa-apanya dibanding apa yang bakal aku dapat di Iran. Di Iran banyak sekali tempat-tempat seru yang bisa dikunjungi. Misal saja, Persepolis, tempat dulu Kekaisaran Agung Persia pernah bertahta. Ada lagi Isfahan, bagian kecil surga langit yang jatuh ke bumi. Atau mungkin ke Tabriz, sebuah kota yang menjadi inspirasi bagi sufi Jalaluddin Rumi?</p>
<p>Iran yang kulihat dari film Children of Heaven, dokumenter Diego Bunuel &#8220;Don&#8217;t Tell My Mother&#8221; atau dari serial-serial sinetronnya di channel IRIB3 selama ini kuanggap sebenarnya Iran itu keren dan bagus-bagus aja, bahkan eksotik.</p>
<p>Ya, pertanyaannya, apa aku rela untuk mengorbankan waktuku untuk menjelajahi Iran?</p>
<p>Entahlah, sepertinya jalannya sudah ada, tapi tinggal aku yang memilih.</p>
<p>By the way, sekarang makalah hibah risetnya udah kelar, dan aku tinggal menunggu dengan penuh harap dana dari fakultas. Entah keluar atau tidak? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oh ya, satu lagi, untuk ngeliat transkrip wawancaranya ke<a href="http://www.scribd.com/doc/62021575" target="_blank">sini</a>, dan untuk makalahnya bisa request via emailku <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Yap, sekian aja untuk holiday notes kali ini. But, this is not the end. There&#8217;s still some more from me!</p>
<p>Oke then, cheerio!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catetanlaen.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catetanlaen.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catetanlaen.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catetanlaen.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catetanlaen.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catetanlaen.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catetanlaen.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catetanlaen.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catetanlaen.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catetanlaen.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catetanlaen.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catetanlaen.wordpress.com/832/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catetanlaen.wordpress.com/832/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catetanlaen.wordpress.com/832/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=832&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/11/holiday-notes-hibah-riset-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd90be3826bee41d972322bb02be4618?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">neorhazes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/0b/Grand_Ayatollah_Ali_Khamenei%2C.jpg/754px-Grand_Ayatollah_Ali_Khamenei%2C.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://farm1.static.flickr.com/113/287958025_e8d1ef9ab9.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Holiday Notes: OSU-UGM Summer Program</title>
		<link>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/09/holiday-notes-osu-ugm-summer-program/</link>
		<comments>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/09/holiday-notes-osu-ugm-summer-program/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 17:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neorhazes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antarbangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Holiday]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[beasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[exchange]]></category>
		<category><![CDATA[hi ugm]]></category>
		<category><![CDATA[hi ugm 2010]]></category>
		<category><![CDATA[ohio state university]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman exchange]]></category>
		<category><![CDATA[pertukaran pelajar]]></category>
		<category><![CDATA[student exchange]]></category>
		<category><![CDATA[ugm]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catetanlaen.wordpress.com/?p=786</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Saya patut bangga dengan anda semua, mahasiswa Ohio, yang telah berani memilih untuk pergi melakukan riset ke Indonesia&#8221; &#8211; Prof. Mohtar Mas&#8217;ud 1 bulan yang luar biasa, menurutku. Bersama teman-teman baru yang datang dari negeri Paman Sam sana, aku belajar dan mengamati banyak hal. Bertukar pikiran. Bersenang-senang. Membuka wawasan. Sebelumnya, aku hanya tahu OSU-UGM Summer [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=786&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Saya patut bangga dengan anda semua, mahasiswa Ohio, yang telah berani memilih untuk pergi melakukan riset ke Indonesia&#8221; &#8211; Prof. Mohtar Mas&#8217;ud</p>
<p><span id="more-786"></span></p>
<p>1 bulan yang luar biasa, menurutku.</p>
<p>Bersama teman-teman baru yang datang dari negeri Paman Sam sana, aku belajar dan mengamati banyak hal. Bertukar pikiran. Bersenang-senang. Membuka wawasan.</p>
<p>Sebelumnya, aku hanya tahu OSU-UGM Summer Program ini dari selebaran yang ditempel di papan pengumuman jurusan. Aku pikir, karena aku masih semester 2 dan apalagi temanya tidak jauh dari ekonomi, lebih baik aku tidak ikut. Tapi, setelah Mas Dedi, dosenku, mengumumkan bahwa program ini available untuk semua angkatan &#8211; ya, pada akhirnya, aku ambil keputusan untuk mengorbankan liburanku demi Summer Program ini.</p>
<p>Berhubung gratis dan bisa mengcover 3 SKS untuk matakuliah PED, aku semakin rela untuk ikut program ini (yah, walaupun akhirnya dibayar dengan mengerjakan paper akhir yang harus berkualitas standar jurnal).</p>
<p>Pertama, aku bakal ngejelasin gimana jalannya kelas secara umum dalam 4 minggu ini.</p>
<p>Summer Program ini dimulai tanggal 20 Juni. Waktu itu, jadwal UAS masih jalan, dan beberapa diantaranya memang bertabrakan dengan jadwal kelas Summer Program. Ya, tapi itupun bukan masalah karena sebenarnya kami, peserta Indonesia yang berjumlah 10 orang ini, diberikan banyak kemudahan untuk bisa mengundurkan jadwal UAS. Hehe.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/269153_10150247761971598_825116597_7211231_1865787_n.jpg" alt="" width="313" height="233" /></p>
<p>Tema umum dari Summer Program ini adalah tentang pembangunan, dan masih dibagi lagi jadi 4 tema spesifik, yang pertama tentang pariwisata, yang kedua tentang demokrasi, yang ketiga tentang ekonomi, dan yang keempat tentang agama dan gender. Setiap minggunya, bakal ada satu proyek field trip dan peserta Indonesia wajib pilih salah satu dari tema itu untuk digarap jadi paper akhir.</p>
<p>Peserta kelas program ini kurang lebih ada sekitar 20 orang, 10 dari Indonesia, 10 dari AS. Seperti pada awal-awal kelas biasanya, pastinya kikuk dulu. Apalagi dengan mahasiswa bule seperti anak-anak Ohio ini. Tapi ternyata, saat diskusi dimulai, waktu itu tema pertamanya adalah tentang demokrasi Indonesia secara umum, toh kualitas anak Indonesia dan anak AS juga nggak jauh beda. Ya, as time passed, akhirnya kami saling interaksi. Mulai dari obrol-obrolan ringan macam makanan favorit apa, keadaan di OSU gimana, sampai yang agak serius macam politik mahasiswa disana seperti apa.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/285533_10150247762231598_825116597_7211235_6015993_n.jpg" alt="" width="358" height="267" /></p>
<p style="text-align:center;">Our Classroom</p>
<p>Rombongan OSU (Ohio State University) ini dikomandoi oleh seorang Indonesianis terkemuka, bapak William Liddle yang lebih senang dipanggil Pak Bill daripada dipanggil <em>Mister</em> atau <em>Professor</em>. Menurutku, Pak Bill ini adalah salah satu profesor yang paling ramah yang pernah aku temui (ya, walaupun beberapa pemikirannya ada yang aku tidak setujui). Pak Bill sendiri mahir banget untuk bicara-bicara Indonesia, beliau lebih senang untuk bicara bahasa Indonesia dengan kita-kita mahasiswa UGM dan panitia, dibanding bicara bahasa Inggris (kecuali waktu diskusi kelas).</p>
<p>Oke, dimulai dari minggu pertama. Temanya adalah tentang pariwisata dan pembangunan. Tema ini tema yang menurutku cukup ringan dibanding tema-tema lainnya. Cukup banyak diskusi, tapi nggak begitu intensif. Kelas yang paling seru selama program ini juga ada waktu minggu ini berlangsung, waktu kelas tourism branding dihandle sama Mr. David Sanders dari Pusat Kajian Pariwisata UGM. Penjelasan Mr. David bener-bener substantif, dan inspiring. Terutama waktu Mr. David membandingkan pencapaian pariwisata kita (dengan segala potensinya yang luar biasa) dengan negara-negara tetangga. Hasilnya? Indonesia gagal. Dan, salah satu faktor kegagalan Indonesia adalah tidak adanya branding yang bagus yang bisa memikat turis luar negeri, ditambah lagi infrastruktur yang seadanya dan nggak ada kualitasnya.</p>
<p>Nah, sisanya, semacam penjelasan tentang tourism village yang jadi fokus untuk filedtrip. Kelas lebih banyak dihandle sama Pak Usmar (dibantu Pak Mohtar) yang memang udah ahli untuk masalah tourism development.</p>
<p>Untuk minggu pertama ini, sebenarnya ada field trip ke Candirejo, desa wisata yang ada di dekat Borobudur. Tapi, entah kenapa, nggak ada satupun peserta Indonesia yang tertarik buat ikut program ini. Temenku, Nuri, bilang, &#8220;Za, kalo aku jadi peserta, aku bakal ambil yang Candirejo kali.. &#8220;</p>
<p>Ya, aku sebenarnya males untuk ke Candirejo, karena harus packing dan bermalem disana (plus bikin papernya mungkin agak susah). Jadi, mending ambil program yang field tripnya masih di sekitar Jogja aja.</p>
<p>Yah, minggu pertama memang kami belum begitu get along, masih agak kaku, tapi minggu kedua suasana udah mulai agak cair.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/271071_10150247762311598_825116597_7211237_7296489_n.jpg" alt="" width="329" height="245" /></p>
<p style="text-align:center;">Mas Nico Warouw</p>
<p>Minggu kedua, temanya tentang demokrasi dan pembangunan. Menurutku, di minggu ini diskusinya mulai panas dan cukup intens. Karena isu demokrasi di Indonesia ini adalah suatu isu yang masih bikin orang-orang luar penasaran karena gejolaknya yang luar biasa. Banyak penjelasan, terutama dari Pak Mohtar yang membuka wawasan. Materinya kurang lebih sama kaya materi kelas KPI (Kekuatan Politik Indonesia) dan PSDem (Pengantar Studi Demokrasi) yang  baru aku mau ambil semester depan. Plus, ada juga dosen dari Antropologi, Mas Nico Warouw, ikut ngisi kelas di minggu kedua ini. Mas Nico Warouw, eks-aktifis PRD dan kamerad Mas Eric Hiariej (dosen tercinta), memberi banyak penjelasan seputar fenomena sosial yang terjadi di antara buruh, juga penjelasan tentang hubungan kapital dan masyarakat. Penjelasan Mas Nico cukup menarik, tentang observasinya di pabrik di wilayah Banten. Banyak fenomena sosial seputar hubungan antara pemerintah Banten dengan jawara sebagai praetorian force-nya, yang berkolaborasi dengan tangan-tangan pemilik modal untuk membuat kawasan industri di Tangerang dan Banten.</p>
<p>Field tripnya untuk minggu kedua ini adalah ke dua kantor kabupaten di Sleman dan Bantul. Aku nggak begitu tertarik untuk ikut, jadi, waktu disuruh nulis response paper, akhirnya aku nulis tentang pembangunan di Kota Bekasi. (All hail Bekasi!) dan ternyata direspon cukup baik sama Pak Bill.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/268570_10150247762621598_825116597_7211243_5030083_n.jpg" alt="" width="334" height="249" /></p>
<p style="text-align:center;">Pak Anggito</p>
<p>Minggu ketiga adalah tentang ekonomi. Aku nggak begitu tertarik dengan ekonomi, terutama kalau udah ngeliat grafik dan indikator dalam tabel, plus harus ketemu rumus. Dosen pertama yang ngisi kelas ini adalah Prof. Mudrajad, seorang profesor muda (udah 45-46 tahun) yang sedikit narsis tapi substansi waktu beliau ngajar cukup oke. Penjelasannya tentang kondisi ekonomi Indonesia secara umum, dan lebih spesifik ke beberapa measure tentang peran pemerintah dalam pembangunan. Kelas berlanjut dengan datangnya Pak Anggito, mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu. Pak Anggito fokus untuk menjelaskan masalah masa depan pembangunan Indonesia, lagi-lagi ketemu statistik dan beberapa analisis. Pak Anggito nyoba untuk membuat peserta kelas engage dalam diskusi, tapi entah kenapa nggak begitu ditanggapi.</p>
<p>Nah, setelah bosan ketemu dengan figur-figur grafik dan statistik, kelas minggu ketiga akhirnya diakhiri oleh Pak Revrison, ekonom-sosiolog. Cukup seru sih, karena penjelasannya cukup beda dengan Pak Anggito dan Pak Mudrajad yang berorientasi kanan. Pak Revrison fokus melihat ke sejarah pembangunan ekonomi Indonesia yang ternyata merupakan jebakan permainan dari Barat. Pak Bill ternyata gak begitu menerima pendapat Pak Revrison, dengan bilang ke aku, &#8220;Kondisi ekonomi di Indonesia yang terjadi saat ini bukan hanya disebabkan oleh keterlibatan perusahaan asing saja, tapi memang karena pemerintah Indonesia tidak ada kemauan untuk memperbaikinya&#8221;.</p>
<p>Hmm, bisa diterima sih, tapi alangkah lebih baik kalau perusahaan asing tidak memperkeruh suasana bukan?</p>
<p>Untuk minggu ketiga ini fieldtripnya lumayan seru dan unik, berkunjung ke TEMBI dan pusat-pusat wirausaha macam Coklat Roso dan Bakpia Djava. Tapi, karena temanya ekonomi, aku lebih milih nggak ikut. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, minggu terakhir &#8211; minggu keempat adalah minggu yang cukup seru, soalnya minggu ini banyak membahas soal kaitan antara agama, gender dan pembangunan. Kelas pertama di minggu ini diisi oleh ibu Ruhaini, aktivis gender, pengurus PP Aisiyah, dan pemikirannya cukup liberal (setaraf ibu Musdah Mulia kalau mau dibandingkan). Ibu Ruhaini ini alumni PP Pabelan dan sekarang jadi dosen di UIN sekaligus pegiat di PSW-nya. Ibu Ruhaini banyak buka fakta soal domestic violence, tapi juga menyinggung masalah agama dan perempuan yang cukup sensitif. Kalau menurutku, Ibu Ruhaini ini lebih ke tipe feminis radikal (CMIIW).</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/268830_10150247762996598_825116597_7211256_5870786_n.jpg" alt="" width="237" height="247" /></p>
<p style="text-align:center;">Bu Ruhaini</p>
<p>Lanjut sesi selanjutnya ada dosen tercinta, Mas Eric Hiariej. Sayangnya, waktu Mas Eric menjelaskan soal gender, ada yang beda dalam cara penyampaiannya. Entah karena kurang persiapan atau kurang menguasai teori (nggak mungkin juga kali ya), tapi&#8230; Mas Eric jadi keliatan beda dari biasanya.</p>
<p>Besoknya, ada Pak Zainal Abidin Bagir, direktur CRCS UGM yang mengisi soal agama dan politik di Indonesia. Wah, seru banget. Dan emang, presentasi pak Zainal ini cukup komprehensif, tapi sempat agak menyinggung masalah tentang Hindu Dharma yang agak membuat temenku, Pras, jadi protes. Setelah kelas Pak Zainal, masih ada kelas lagi yang dipandu sama Mr. Ted dari Kedubes AS tentang hubungan AS-Indonesia selama ini.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/270671_10150247763386598_825116597_7211262_4656744_n.jpg" alt="" width="227" height="262" /></p>
<p style="text-align:center;">Mr. Ted Lyng &#8211; Staf Atase Politik Kedubes AS Jakarta</p>
<p>Untuk minggu keempat ini, fieldtripnya bener-bener seru dan aku nggak nyesel ngambil proyek agama dan gender. Nah, untuk cerita selengkapnya, nanti aku ceritakan di bagian belakang artikel ini.</p>
<p>Oke, sekarang tentang orang-orangnya.</p>
<p>Ya, aku deket dengan beberapa anak-anak OSU, macam Stuart dan Josh. Ada lagi 2 cowok, David dan Chris, tapi aku cuma ngomong sesekali ke mereka. Sisanya, ada 6 orang cewek, dan entah kenapa.. aku jarang bahkan gak pernah ngomong sama mereka. Sedih ya, tapi diantara mereka nggak ada yang begitu cakep juga.</p>
<p>Selama 4 minggu ini, kami sering main bareng. Entah futsal bareng, entah makan bareng, sampe  main XBox larut malam.</p>
<p>Nah, diantara 4 cowok OSU ini, yang paling deket sama anak-anak Indonesia adalah Josh aka J-Hood aka Joshua Hudspeth. Ya, gak cuma peserta aja yang ngerasa, tapi juga panitia sendiri. Diantara semua peserta, dia yang paling nggak banyak complain dan cukup adaptable dengan kondisi Indonesia.</p>
<p>Waktu Josh ditinggal temen-temennya berangkat ke Bali dan dia harus tinggal di Jogja, akhirnya kami, panitia dan peserta udah berkonspirasi untuk membuat acara biar Josh gak bosen di Jogja. Yah, akhirnya hari Sabtu dia motoran bareng aku, Bara, plus Oot (temennya Bara) ke lereng Merapi (sampai daerah Kali Gendol yang jalannya terkenal ekstrim itu) dilanjutin nonton Festival Gamelan Yogya yang keren banget malam itu (minus Bara sama Oot yang lanjut mengembara ke selatan mencari pantai).</p>
<p>Minggunya, aku ngajak Josh ke pantai bareng Swas, Nuri, sama Fara. Karena mobil sewanya nggak bisa dipake waktu itu, akhirnya Swas dengan sukarela minjamkan mobilnya untuk dibawa ke Pantai Glagah yang ternyata hari itu rame banget. Waktu Josh dibawa ke Pantai Glagah, orang-orang cuma bisa ngeliat dia doang, karena cuma dia satu-satunya bule yang ada disana, haha.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/269573_10150247785756598_825116597_7211567_3958677_n.jpg" alt="" width="374" height="279" /></p>
<p style="text-align:center;">Chris wears grey, Stuart wears blue (beside Pak Bill), Josh wears blue too (beside Stuart), and David is on the front one</p>
<p>Anyway, Josh adalah orang yang asik dan enak buat diajak ngobrol (selain Stuart yang gaul juga, ditambah penampilannya yang kece). David juga, tapi David orangnya bener-bener comel, dan sekali kita ngobrol sama dia (apalagi kalo masalah bodybuilding, kata kak Ray), yeah, siap2 mendengar runtutan omongannya yang panjang banget. Aku pernah ngobrol random bareng David sama Josh tentang greetings in languages waktu break lunch dan itu seru banget. Kalo Chris, aku nggak begitu deket, dan sekali ngobrol pun, itu cuma ngobrolin soal hotspot internet di kampus.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/284189_10150247784456598_825116597_7211544_1477880_n.jpg" alt="" width="332" height="248" /></p>
<p style="text-align:center;">Professor Bill Liddle</p>
<p>Sekarang, tentang Pak Bill. Yes, as I said, he&#8217;s one of the most friendly profesor that I&#8217;ve ever met. Pak Bill sering banget tiba2 duduk di sebelah mahasiswa Indonesia atau ngajak ngomong soal apa aja. Aku pernah ditanyain, &#8220;Kalian disini sering makan apa saja sehari-hari?&#8221;. Maklum, karena mahasiswa kosan jawabannya, &#8220;Yang ada aja Pak Bill, indomie, nasi goreng, dsb..&#8221;. Pak Bill jawab, &#8220;Wah sayang sekali kalo setiap hari makanan kalian itu saja, padahal makanan Indonesia itu salah satu yang paling kaya di dunia soal rasa..&#8221;. Dengan melasnya, aku cuma bilang, &#8220;Uangnya gak cukup pak Bill untuk beli makanan yang enak-enak..maklum anak kosan&#8221;. Pak Bill terkekeh-kekeh sambil bilang, &#8220;Oooh, iya, anak kos-kosan..&#8221;</p>
<p>Satu part lagi dari notes ini yang nggak boleh dilewatkan adalah cerita tentang field trip yang sempat aku skip.</p>
<p>Jadi, seperti yang udah aku jelasin diatas, ada 4 proyek riset dalam summer program ini, dimana anak Indonesia diminta untuk ngambil 1 dari 4 proyek yang tersedia. Nah, aku milih tema ke-4, tentang &#8220;Religious, Gender Issues and Development&#8221;. Aku sempet dicibir sama Mas Ivan, seniorku yang juga ikut program ini, &#8220;Yakin za ambil isu ini? Emang kamu bisa nge-counter argumen-argumen liberal mereka?&#8221;.</p>
<p>Ya, jujur aja, aku nggak begitu bisa meng-counter beberapa argumen-argumen liberal dan sinis mereka terhadap Islam dan perempuan di era kontemporer Indonesia. Tapi, aku pikir, ini jadi pelajaran supaya kedepannya aku siap untuk menajamkan lagi daya pikirku supaya bisa memberikan counter-argument yang tepat, nggak hanya didasari oleh rasa atau feeling, tapi juga basis pemikiran yang kuat. That is important, how to debate and discuss on an issue not only based on our emotional perspective, but also to find its theoretical ground.</p>
<p>Untuk field trip ini, aku ngunjungin beberapa tempat, pertama ke Pesantren Mualimin Muhamadiyyah, kedua ke NGO Interfidei, ketiga ke Seminari St. Paulus, dan keempat ke LSM Rifka Annisa WCC (Women Crisis Center).</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/283201_10150247767511598_825116597_7211313_2047313_n.jpg" alt="" width="233" height="259" /></p>
<p>Pesantren Mualimin ini dipilih karena cukup representatif untuk menggambarkan pendidikan Islam, terutama fokus untuk Kota Jogja dan sekitarnya yang mainstream pemikiran agamanya itu dari Muhammadiyah. Selain itu Pesantren Mualimin juga cukup modern. Di pesantren ini, secara umum dijelaskan banyak hal tentang Kemuhamadiyyahan dan pendidikan Islam. Waktu diskusi, ada beberapa anak juga yang didatangkan dari MTs dan MA untuk membaur bareng bule-bule OSU ini, dan yang dari MA ini adalah anak-anak EDS yang mukanya udah aku kenal banget karena aku udah dua kali ketemu mereka pas aku jadi LO di HI Green Week + HIPhoria.</p>
<p>Paling seru waktu di Muallimin ini adalah pas Q&amp;A Session, dimana ada beberapa pertanyaan yang cukup &#8216;panas&#8217; dari peserta OSU. Salah satunya adalah masalah gender dan juga soal posisi Muhamadiyyah dalam memandang Islam secara konservatif. Karena kemarin Bu Ruhayatin menyampaikan kuliahnya dalam perspektif yang liberal, ketika dikonfrontir ke para ustad di Mualimin, jadilah pertanyaan itu agak nyelekit dan sensitif. Ada ustadz yang jawabnya dengan nada yang agak tinggi (mungkin karena agak emosi), sampai Josh bilang ke aku, &#8220;I don&#8217;t know why, but this man is really annoying to me&#8221;.</p>
<p>Ada juga ustadz yang jawabnya sangat bagus, ketika menghadapi pertanyaan Muhamadiyah yang makin bergerak ke arah konservatif. Ustadznya jawab, Muhamadiyah berkhidmat untuk umat, dan akan selalu berada di jalan tengah tanpa terpengaruh arus politik dan sebagainya. Memang, ada beberapa tokoh Muhamadiyah yang memiliki pola pikir liberal atau konservatif, tapi itu pola pikir pribadi, bukan doktrin atau ideologi organisasi, sehingga tidak boleh dijudge ketika seorang Muhamadiyyah berkata A maka Muhamadiyyah secara organisasi pasti berkata A. Muhamadiyyah respect kepada semua elemen yang ada didalamnya dengan prinsip saling mengingatkan pada yang benar atau yang salah.</p>
<p>Selesai sesi Q&amp;A, peserta summer program diajak sedikit ngeliat kehidupan pesantren. Waktu itu, Mualimin masih rame karena baru aja tahun ajaran baru mereka dimulai dan suasananya benar-benar semarak. Bule-bule diajak ngeliat kamar-kamar santri yang bertipe barak (dan ini membuat aku kangen sama pesantrenku di Anyer sana) juga lab-lab Mualimin yang notabene masih baru dan apik.</p>
<p>Lepas azan Zuhur, perjalanan di Mualimin selesai. Sebelum naik mobil, ada seorang pegawai pesantren yang menghampiri aku dan bilang, &#8220;Mas, terima kasih ya kunjungannya. Kami sangat mengapresiasi sekali nih, dan ini penting sekali supaya mereka (mahasiswa OSU) ini tahu tentang Islam dan kita bisa tahu tentang mereka juga&#8221;.</p>
<p>Setelah break Ishoma, perjalanan field trip lanjut agak jauh ke Benteng, Sleman. Di LSM Interfidei, akhirnya kami diskusi lagi banyak hal seputar religious situation in Yogyakarta and Indonesia. Lebih fokus membahas ke soal diskusi antar-agama sih, karena kepala LSM ini adalah Pdt. Elga yang udah senior dan berkecimpung banyak di bidang interfaith. Beliau cerita banyak pengalaman diskusi interfaith. Fakta menarik dalam diskusi interfaith adalah terkadang mereka yang memiliki pola pemikiran radikal dan fundamen seperti Ust. Abu Bakar Baasyir dan MMI lebih mudah untuk diundang diskusi daripada yang pola pikirnya lebih moderat. Wow. Waktu diskusi, mereka juga diskusi secara benar dan ini cukup diapresiasi oleh LSM Interfidei.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/281683_10150247768046598_825116597_7211319_7342691_n.jpg" alt="" width="323" height="241" /></p>
<p>Selain itu, pendeta Elga juga banyak cerita tentang masalah agama di Jogja, yang tetap adem-ayem dan rukun, dan bisa dikatakan nggak ada konflik horizontal antar pengikutnya. Ini yang jadi rahasia utama kesuksesan itu &#8211; Sultan as unifying force. Sultan itu sebegitu wibawanya, sehingga rakyat Jogja benar-benar bertumpu pada tangan Sultan sebagai penjaga keguyuban rakyat Jogja seberapa besarpun perbedaan yang ada di antara mereka. Masyarakat Jogja sendiri punya awareness multikultur yang cukup kuat (bukan hanya berasal dari pengawalan Sultan, tapi juga pola pendidikan yang baik di Jogja), dengan komposisi diversitas yang luar biasa. Islam, Katolik, LGBT, Hindu, Ahmadiyah dan sebagainya melebur jadi satu di Jogja, tanpa ada friksi yang benar-benar mengancam keutuhan itu.</p>
<p>Tapi, aku nggak begitu mengikuti diskusi di Interfidei ini secara komplit, karena udah bener-bener ngantuk.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/281289_10150247770216598_825116597_7211363_3474016_n.jpg" alt="" width="184" height="197" /></p>
<p>Lanjut dari Interfidei, rombongan fieldtrip akhirnya sampai ke Seminari St. Paul di Kentungan (daerah Jakal km 7-8). Jujur, aku cukup excited kali ini karena akhirnya bisa masuk ke daerah monastery yang selama ini jadi misteri juga rasa penasaran buat aku. Sampai disana, kami disambut dengan luar biasa oleh kru Seminari, dari pendeta senior sampai murid-murid Seminari disana. Mereka sangat niat, sampai nyiapin afternoon tea di gazebo seminari mereka.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/284423_10150247772621598_825116597_7211397_6556360_n.jpg" alt="" width="329" height="246" /></p>
<p style="text-align:center;">YEAH!</p>
<p>Di Seminar ini sendiri, rombongan lebih banyak jalan-jalan keliling Seminari-nya dibanding diskusi. Tapi emang, banyak banget fakta menarik dari seminari tinggi tertua di Indonesia ini. Aku keliling ngeliatin kapel tempat pastor dan muridnya ibadah sehari-hari, foto-foto santo, koleksi buku tua tentang ajaran Gereja, goa Maria, anjing penjaga biara, sampe akhirnya juga nemu koran La Observatore Romano yang langsung dikirim dari Vatikan (aku bener-bener excited ngeliat koran ini, karena termasuk koran yang cukup langka untuk ditemui).</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/284934_10150247774341598_825116597_7211420_3851793_n.jpg" alt="" width="226" height="227" /></p>
<p>Sampai akhirnya, keliling-keliling ini berakhir di tempat peristirahatan terakhir para pastor dan murid-murid seminari yang udah berkhidmat untuk seminari dan masyarakat Jogja sekitar. Nah, tiba-tiba, ada sesuatu di tempat ini yang jadi spesial. Ternyata, ada kuburan Rm. Mangun, yang dikenal sebagai filsuf juga aktivis sosial di Jogja. Waktu Pak Bill tahu di tempat itu ada kuburan Rm. Mangun, beliau langsung excited, dan banyak cerita soal Rm. Mangun. Pak Bill sempat deket sekali dengan Rm. Mangun, sampai mereka pernah debat beberapa kali. Setelah Pak Bill menjelaskan panjang lebar seputar Rm. Mangun, tiba-tiba Pak Bill diam. Ya, diam. Berdiri agak lama di depan kuburan itu, sambil memejamkan mata. Agaknya banyak memori yang Pak Bill lewatkan dengan Rm. Mangun. Sampai akhirnya Pak Bill bilang, &#8220;Saya sampai tidak  percaya sahabat yang dulu sebegitu dekat dengan saya sudah ada dibawah sini..Saya benar-benar merasa kehilangan..&#8221;. Mood Pak Bill langsung berubah jadi sangat melankolis, beliau termenung begitu lama. Aku jadi bisa membayangkan keakraban Pak Bill dan Romo Mangun yang mungkin begitu luar biasa, sehingga rasa kehilangan seorang sahabat itu menjadi sangat.. menyedihkan dan memilukan.</p>
<p>Aku melihat ekspresi Pak Bill yang beda dari biasanya, dan aku cukup tersentuh.</p>
<p>Sore itu, mungkin berakhir dengan agak biru buat Pak Bill, dan aku juga jadi ikut simpati.</p>
<p>Tapi, nggak untuk yang satu ini. Tiba-tiba, waktu peserta udah balik ke Gazebo, Josh ngebawa satu buah timun yang gede banget dan masih seger, dan itu langsung dipetik dari kebun seminari. Waktu sesi Q&amp;A, sementara yang lain makan gorengan dan minum teh, si Josh dengan lahapnya ngemil timun itu, sampai kunyahannya terdengar ke semua orang. Hahaha.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/283327_10150247783006598_825116597_7211519_195970_n.jpg" alt="" width="223" height="257" /></p>
<p>Nah, perjalanan akhirnya lanjut besok di LSM Rifka Annisa Women Crisis Center. Disini kurang lebih membahas seputar masalah gender, dan lebih fokus ke masalah domestic violence yang memang jadi konsentrasi utama Rifka Annisa. Banyak pengalaman yang diceritakan, tapi yang seru adalah ketika seorang pegiat ini cerita kalau sebenernya banyak pria yang juga sering bikin laporan ke Rifka Annisa karena &#8220;takut istri&#8221; atau &#8220;disiksa istri&#8221;. Tapi toh, ternyata laporan ini cuma dalih, karena sebenarnya dari crosscheck dengan istri korban, ternyata suaminya yang pertama mulai menyiksa, terus dibalas istri dengan cukup keras dan kemudian si suami ini merasa dianiaya istrinya.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/283423_10150247762471598_825116597_7211239_7737508_n.jpg" alt="" width="297" height="221" /></p>
<p style="text-align:center;">The Krapyak</p>
<p>Setelah melewati berbagai fase kelas dan fieldtrip, aku kemudian disibukkan untuk ngerjain paper akhir. Paper akhir yang penuh dengan perjuangan karena aku juga harus fokus buat hibah riset fakultas yang sama-sama butuh perhatian. Paper akhirku ini bertema tentang peran pesantren dalam pengembangan masyarakat di era globalisasi. Untuk objeknya, aku milih pesantren Krapyak (dan ya, ditengah riset, aku agak sedikit misunderstood antara PP Al-Munawwir dan PP Ali Maksum yang sama-sama di Krapyak). Aku sempet ke PP  Al-Munawwir sekitar 2-3 kali, terus wawancara juga sama mas divisi humas Pesantren Munawwir. Selain itu juga banyak studi literatur, terutama literatur yang bagus dari KH Sahal Mahfudz tentang fiqih sosial yang cukup inspiring.</p>
<p>Kalau mau tahu lebih lanjut, lihat aja ke: http://www.scribd.com/doc/61305855/Transformation-of-the-Role-of-Pesantren-for-the-Indonesian-Development-in-the-Globalization-Era<br />
<img class="aligncenter" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/270706_10150247787526598_825116597_7211591_879322_n.jpg" alt="" width="318" height="237" /></p>
<p style="text-align:center;">The Last Dinner <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Akhirnya, semua rangkaian acara selama sebulan ini berakhir di dua tempat, restoran Suharti dan lapangan futsal. Di Restoran Suharti, perpisahannya memang agak formal, aku juga agak nggak nyangka. Di Suharti, kami bener-bener having fun dengan nyanyi-nyanyi, joget, dan makan-makan sampe mblenger. Nah, paginya, setelah puas di Suharti, kami main futsal dengan beberapa cowok dari OSU (Josh, Stuart, Chris), plus satu cewek (Aarti).</p>
<p>Yah, setelah sekitar sebulan, aku benar-benar merasa bersyukur ikut program yang difasilitasi oleh IIS UGM ini. Luar biasa.</p>
<p>Dan aku benar-benar mengharap kalau suatu saat mungkin aku bisa ke Kampus OSU di Columbus, Ohio sana. Mudah-mudahan. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Makasih banget untuk semua orang yang ada di program ini, mulai dari dosen-dosen, tim panitia, temen-temen sejurusan, and Ohio guys &#8211; thanks for the wonderful experience!</p>
<p>Yep, this is all for OSU-UGM Summer Program, and I still got many more holiday experience to be share with all of you guys <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Cheerio!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catetanlaen.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catetanlaen.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catetanlaen.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catetanlaen.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catetanlaen.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catetanlaen.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catetanlaen.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catetanlaen.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catetanlaen.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catetanlaen.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catetanlaen.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catetanlaen.wordpress.com/786/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catetanlaen.wordpress.com/786/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catetanlaen.wordpress.com/786/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=786&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/09/holiday-notes-osu-ugm-summer-program/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd90be3826bee41d972322bb02be4618?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">neorhazes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/269153_10150247761971598_825116597_7211231_1865787_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/285533_10150247762231598_825116597_7211235_6015993_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/271071_10150247762311598_825116597_7211237_7296489_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/268570_10150247762621598_825116597_7211243_5030083_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/268830_10150247762996598_825116597_7211256_5870786_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/270671_10150247763386598_825116597_7211262_4656744_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/269573_10150247785756598_825116597_7211567_3958677_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/284189_10150247784456598_825116597_7211544_1477880_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/283201_10150247767511598_825116597_7211313_2047313_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/281683_10150247768046598_825116597_7211319_7342691_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/281289_10150247770216598_825116597_7211363_3474016_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/284423_10150247772621598_825116597_7211397_6556360_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/284934_10150247774341598_825116597_7211420_3851793_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/283327_10150247783006598_825116597_7211519_195970_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/283423_10150247762471598_825116597_7211239_7737508_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/270706_10150247787526598_825116597_7211591_879322_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Holiday Notes: International Conference on Futurology</title>
		<link>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/04/holiday-notes-international-conference-on-futurology/</link>
		<comments>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/04/holiday-notes-international-conference-on-futurology/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 20:41:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neorhazes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antarbangsa]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[anies baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[futurologi]]></category>
		<category><![CDATA[futurology]]></category>
		<category><![CDATA[international conference on futurology]]></category>
		<category><![CDATA[modernisator]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catetanlaen.wordpress.com/?p=779</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;The greatest danger in understanding future is reasonable people&#8221; &#8211; George L. Friedman Kamis kemarin, tanggal 28, aku diajak seorang teman dari HI UI &#8211; Robie, buat ikutan acara International Conference on Futurology. Undangannya agak dadakan memang, karena aku baru di-SMS malam sebelum acaranya. Pertamanya sih, pengen nggak ikut aja, tapi toh karena aku bosan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=779&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;The greatest danger in understanding future is reasonable people&#8221; &#8211; George L. Friedman</p>
<p><span id="more-779"></span></p>
<p>Kamis kemarin, tanggal 28, aku diajak seorang teman dari HI UI &#8211; Robie, buat ikutan acara International Conference on Futurology. Undangannya agak dadakan memang, karena aku baru di-SMS malam sebelum acaranya. Pertamanya sih, pengen nggak ikut aja, tapi toh karena aku bosan juga ngendok di rumah terus, akhirnya aku mutusin buat ikut Robie ke acara ini.</p>
<p>Dan ternyata, pilihanku gak salah.</p>
<p>Acara ini, yang diadain di Shangri-La Hotel Jakarta, emang acara yang keren dan sayang banget buat dilewatkan. Pembicaranya juga nggak nanggung-nanggung, dan bener-bener orang yang kompeten untuk ngomong masalah &#8216;forecasting the future&#8217;. George L. Friedman, misalnya. Dia udah terkenal sebagai pakar futorolog ternama di dunia. Futorolog kasarnya, memang mirip peramal. Tapi, mereka meramal dengan mempertimbangkan dan melihat banyak indikator, situasi, dan statistik yang ada. Selain futurolog, ada juga tokoh-tokoh semacam Pak Anies, Pak Gita Wirjawan(pemrakarsa acara ini), Pak Dino (pemrakarsa juga), Desi Anwar, dll.</p>
<p>Menariknya juga, konferensi ini benar-benar mencerminkan future of Indonesia. Karena pesertanya memang kebanyakan terdiri dari anak-anak muda, dari berbagai kampus. Ada dari Pusgerak UI, anak-anak Modernisator, anak-anak SPEAK, anak-anak IYC (ada Alanda Kariza juga), anak-anak Sampoerna, Bakrie, dsb. Rame. Hal inilah yang diapresiasi oleh Pak Gita, sampai waktu opening remarks  beliau bilang, &#8220;Mungkin saya harus keliatan lebih trendi dikit supaya mirip dengan Justin Bieber, karena banyak anak muda disini&#8221; [red. in English]. Memang, dandanan Pak Gita jadi agak gimana gitu, yang tadinya pake Tuxedo, sekarang cuma pake kemeja + dasi dengan lengan tangan yang digulung.</p>
<p>Oke..</p>
<p>Selanjutnya, Pak Dino yang maju ke podium untuk memberikan opening remarks. Dalam opening remark-nya, Pak Dino mencoba untuk memberikan gambaran bahwa masa depan Indonesia akan sangat brilian. Ya, setidaknya diantara banyaknya tantangan yang dihadapi bangsa pada saat ini, kita masih akan mampu untuk bergerak maju. Pak Dino juga mengatakan kalau sekarang sudah bukan saatnya lagi untuk sejajar dengan bangsa lain, tapi untuk menjadi maju dan memimpin bangsa lain.</p>
<p>Sesi pertama pun akhirnya dimulai. Pembicara pertamanya, Mr. James Canton, juga ikut-ikutan jadi Bieber-like segala. Diawal-awal speechnya, entah kenapa dia tiba-tiba bilang, &#8220;Oh baby baby..&#8221;</p>
<p>Oke. Speechless. Aku cuma bisa nyengir.</p>
<p>Tapi, selanjutnya, speech Mr. James di konferensi ini bener-bener keren. Dia lebih banyak menjelaskan tren masa depan secara general di segala bidang, dan banyak sekali membahas soal kemajuan teknologi. Mulai dari teknologi 3D dan hologram yang akan mendominasi visual media, &#8220;Internet Needs You&#8221;, robotic works, artificial life geoengineering, bahkan sampai investasi saham di luar angkasa.</p>
<p>Waktu Mr. James Canton menjelaskan soal geoengineering, dan dia menceritakan bahwa sangat mungkin untuk manusia di masa depan memprogram kondisi alam di bumi. Sekilas, aku jadi terpikir lagi dengan film yang pernah aku tonton dulu waktu SD, Syukur21. Film dari Malaysia yang dibintangi kelompok nasyid Raihan ini menceritakan tentang teknologi rekayasa cuaca. Aku jadi benar-benar terbayang kalau di masa depan, ketika pemanasan global sudah dipuncaknya, manusia bisa membuat program untuk mengendalikan cuaca. Aku cuma bisa takjub mendengar proyeksi Mr. James ini.</p>
<p>Selanjutnya, penjelasan Mr. James Canton yang benar-benar mantap adalah tentang investasi di luar angkasa. Ya! Mungkin karena kompetisi di bumi sudah begitu padat dan membosankan, membuka pasar di luar angkasa merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Ya, akan banyak investor yang terbang dan membuka CBD di orbit bumi sampai Planet Mars! Kompetisinya akan sangat luar biasa!</p>
<p>Khayalan liarku adalah&#8230; Adakah orang Indonesia yang mau buka franchise warteg/burjo sampai di CBD dekat Planet Mars? LOL!</p>
<p>Setelah Mr. James Canton merasuki otakku dengan proyeksi-proyeksi gilanya, sekarang Mr. George L. Friedman maju ke podium. Ya, aku merupakan salah satu peminatnya. Salah satu buku George L. Friedman, &#8220;The Next 100 Years&#8221;, dipenuhi dengan analisis yang unpredictable soal konstelasi politik dunia dalam 1 abad mendatang. Dia meramalkan naiknya kekuatan baru di dunia, semisal Turki dan poros Eropa Timur. Di awal ceramahnya, George Friedman menyampaikan bahwa orang yang logis dan berpikir linier tidak akan bisa memprediksi masa depan dengan baik. (Perkataannya aku kutip di awal tulisan ini). Hal itu terbukti, banyak orang &#8216;logis&#8217; di pertengahan 1970-an yang menyangka kalau rezim Uni Soviet akan tetap bertahan sampai tahun 2000-an, banyak yang menyangka kalau Cina akan tetap terperosok di jurang kemiskinan karena Revolusi Kebudayaan di awal 1970-an, ternyata?</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/262901_10150258132576598_825116597_7309224_6220982_n.jpg" alt="" width="298" height="223" /></p>
<p>Dalam waktu satu dekade, semua pernyataan ini terbantahkan begitu saja. Banyak orang, yang awam sampai yang pintar sekalipun cuma bisa melongo melihat Cina kemudian bangkit perlahan dan maju setelah kehadiran Deng Xiaoping dengan New Economy Policy-nya atau Uni Soviet yang ternyata runtuh begitu saja.</p>
<p>Hal ini, kemudian ditanggapi oleh Pak Chairil Anwar, atau Mr. David [aku agak lupa], bahwa bukan sesuatu yang tidak mungkin kalau Indonesia masuk sebagai negara G8 nantinya! Dan, memang dari proyeksi makro oleh pembicara ke-3, Mr. Zubaid, bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh secara eksponensial dan tidak terhenti kedepannya.</p>
<p>Mr. George Friedman, yang merupakan CEO Stratfor ini, juga menjelaskan fenomena politik dunia kedepannya. Dia memprediksi kalau Cina masih akan mendominasi dengan mengatakan, &#8220;Yes, China would still dominate, but also, don&#8217;t overestimate them&#8221;. Mr. Friedman juga menjelaskan kalau rivalitas hubungan bilateral antara Jerman-Rusia akan kembali memanas, serta kemungkinan gesekan antara trio East Asia (Jepang, Cina, Korea) akan terus berlanjut dan tidak berhenti.</p>
<p>Sesi pertama akhirnya selesai sekitar Ashar. Pertamanya kukira nggak ada break antara sesi I dan sesi II, makanya sebelum mulai konferensi aku langsung jama Zuhur-Ashar. Eh ternyata, dibreak sesi ini malah disediakan waktu untuk break sholat, plus afternoon tea yang langsung dikerubungi peserta conference. Ya, break ini akhirnya jadi ngeganggu acara juga, karena waktu Sesi II sudah dimulai, masih banyak peserta yang ada diluar.</p>
<p>Sesi II membahas tentang ekonomi, dimoderatori oleh Stephanie Vaessen, reporter Al-Jazeera di Jakarta. Pembicara pertamanya adalah Pak Gita. Dari penjelasannnya, yang aku tangkap adalah bahwa beliau sangat optimis, bahkan bisa dikatakan terlalu optimis dalam memandang masa depan Indonesia kedepan. Beliau terlalu banyak melihat ke aspek makro dengan segala macam grafik dan contoh-contoh yang menggeneralisir, misal saja beliau mengibaratkan bahwa anak Papua saat ini sudah bisa mengakses kurikulum Stanford dari HP-nya. Logikanya ya, kalau pendidikan di Papua saja masih tidak dibangun dengan benar, mana mungkin mereka berpikir sampai Stanford? Di Jawa saja, masih banyak sekolah rusak.</p>
<p>Sama saja dengan pembicara kedua, Pak Zubaid. Sepanjang ceramahnya, aku memang tidak terlalu memperhatikan. Terlalu penuh dengan analisis grafik! Bosan sekali! Aku hanya perhatian dengan aksen India-nya yang khas, yang sering kutemui di Singapura. Untung saja kebosananku dengan pemaparan Pak Zubaid ini terbayar dengan kehadiran Pak Anies yang maju ke podium setelahnya. Banyak poin-poin penting dalam pemaparan Pak Anies, terutama dalam soal menguatkan masyarakat dengan penyuluhan dan pendidikan (tentu saja, ini fokusnya Pak Anies). Lebih lanjut lagi, aku melihat bahwa Pak Anies adalah orang yang optimis juga dalam melihat Indonesia, tapi tidak seperti Pak Gita, Pak Anies menyatakan kalau menjadi orang yang optimis tidak harus selalu menjadi orang yang pro-pemerintah.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/262901_10150258132566598_825116597_7309222_5835889_n.jpg" alt="" width="298" height="223" /></p>
<p>Pidato Pak Anies, walaupun singkat (kurang lebih 15-20 menit), menurutku benar-benar memukau, sampai Robie sendiri bilang ke aku kalau, &#8220;Kayanya semua kata-katanya di dalam pidato ini pantas dijadikan kutipan&#8221;.</p>
<p>Sesi II pun selesai, dan lanjut ke Sesi III. Masih dimoderatori oleh Stephanie Vaessen, tapi kali ini membahas masalah Geopolitik. Ada Robert Kaplan, seorang ahli geopolitik yang banyak membahas masalah posisi strategis negara-negara Asia di lautan. Beliau memakai teori tradisional Alfred Thayer Mahan tentang &#8216;sea power&#8217;, dan sampai sekarang, jika dikorelasikan dengan konteks kasus &#8216;Laut Cina Selatan&#8217; dan &#8216;Samudera Hindia&#8217;, memang akan nyambung. Beliau banyak menggambarkan tentang bagaimana kekuatan-kekuatan dominan seperti AS dan Cina akan tarik-menarik pengaruh dengan negara-negara di kawasan laut tersebut, karena sejak dulu bahkan sampai sekarang, dua laut ini benar-benar memiliki pengaruh yang sangat dominan untuk international trade passageway dan memiliki security position yang strategis.</p>
<p>Lalu ada juga Prof. Thomas yang menjelaskan soal &#8216;food in the future&#8217;. Awalnya kukira Prof. Thomas akan banyak menjelaskan inovasi-inovasi dalam pangan (seperti penjelasan Dr. James Canton), tapi ternyata Dr. Roger lebih banyak menjelaskan ke strategi bagaimana menjaga jumlah pangan dan populasi agar tetap tercukupi kedepannya. Kemudian, sesi ini dilanjutkan oleh Dr.Roger, ahli geopolitik juga. Sebenarnya secara substansi beliau menarik, seperti memperjelas penjelasan Friedman dan Kaplan sebelumnya, tapi karena cara penyampaian beliau yang sangat monoton, akhirnya aku malah tidak bisa memperhatikan dengan lebih baik penjelasannya.</p>
<p><img class="aligncenter" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/284811_10150258129586598_825116597_7309194_5692955_n.jpg" alt="" width="298" height="223" /></p>
<p>Sebagai pelengkap sesi III, kemudian muncul Kapten (Inf.) Agus Harimurti Yudhoyono sebagai discussant. Waktu Kapten Agus muncul ke panggung, banyak orang (terutama cewek-cewek) yang berkomentar di social media kalau dia benar-benar charming. Presentasi Kapten Agus sendiri  juga luar biasa, tidak dibuat dengan asal-asalan. Materinya padat dan sudah benar-benar disiapkan dengan metode presentasi yang memikat. Materi yang disampaikan adalah tentang posisi strategis hankam Indonesia dalam geopolitik dunia kedepan. Hankam Indonesia, menurutnya, akan lebih banyak menjalin kerjasama strategis dengan negara lain, terutama meningkatkan kerjasama antara negara-negara di ASEAN untuk menghadapi isu keamanan nontradisional yang saat ini sangat marak terjadi. Kapten Agus juga menambahkan pentingnya menguatkan sea power Indonesia untuk mencegah adanya ancaman-ancaman eksternal yang suatu saat dapat merongrong wilayah Nusantara yang luas ini.</p>
<p>Setelah sekitar 5 jam, akhirnya 3 sesi konferensi ini selesai, dan kemudian ditandai dengan closing remarks. Sayangnya, waktu closing remarks sudah mulai, aku nggak ada di ruangan. Tapi, alasanku memang untuk sholat magrhib yang nggak bisa ditinggalkan juga. Nah, untungnya, aku masih bisa mendengarkan closing remark dari Pak Dino dan Mr. Donald Emmerson (Direktur Southeast Asia Forum, Stanford Uni.). Aku nggak terlalu ingat apa yang dikatakan oleh Mr. Don, tapi secara umum beliau mengomentari pemaparan di semua sesi. Yang aku benar-benar ingat adalah speech Pak Dino. Pak Dino punya pesan khusus buat pemuda Indonesia. Beliau bilang, jangan terlalu terjebak dalam idealisme dan dogma yang membuat kita sinis untuk melakukan upaya kemajuan serta perubahan di Indonesia. Pak Dino menekankan makna penting optimisme, dan dengan usaha serta partisipasi bersama pasti semua bisa dikerjakan.</p>
<p>Tugas utama seluruh rakyat Indonesia, saat ini, menurut Pak Dino, adalah menduniakan Indonesia. Bukan saatnya untuk diam dan termangu melihat kemajuan negara Barat, saatnya bagi kita untuk mengejar mereka.</p>
<p>Dan seiring dengan berakhirnya pidato Pak Dino</p>
<p>Ada beberapa catatan dariku tentang konferensi ini. Pertama, konferensi ini berorientasi kanan dan makroskopik. Optimisme dijadikan semangat utama diadakannya konferensi ini, dan tidak sekadar statement-statement kosong, pemapar di konferensi ini menyampaikan bukti-bukti serta indikator yang akan menunjukkan bahwa suatu saat nanti Indonesia akan ada di puncak ekonomi dunia. Dalam konferensi ini, seolah aku menemukan bahwa Indonesia masih kuat untuk berlari maju ketika badannya masih terluka oleh banyak masalah internal. Kedua, karena pandangannya yang terlalu makroskopik inilah, akhirnya yang mikro-mikro seolah tidak terlihat.Ya, memang, di awal konferensi ada video dari Modernisator dimana aktivisnya akan berjanji untuk menanggulangi kemisikinan, kebodohan dan masalah sosial lainnya. Tapi, di konferensi ini, hal-hal tersebut tidak dibahas dan dilihat dengan lebih mendetil dan justru ditutupi dengan setumpuk grafik  dan data-data yang sangat&#8230; melenakan. Orang miskin, lower-middle class tidak akan terlalu peduli dengan indikator. Boro-boro mengerti indikator, sekolah saja mereka masih susah. Beli beras dan memenuhi kebutuhan sehari-hari sudah menjadi tantangan. Yang sadar soal indikator hanya orang-orang upper middle class yang beruntung (termasuk saya ini, dan mungkin anda juga).</p>
<p>Indikator-indikator yang disampaikan memang begitu melenakan, seolah fakta-fakta dilapangan seperti pengemis kolong jembatan terlewatkan begitu saja. Memang, punya ambisi untuk maju itu penting, tapi mudah-mudahan ambisi ini, untuk membuat Indonesia maju (secara makro) diantara bangsa lain tidak membuat kita melupakan mereka. Aspek mikro, kesejahteraan sosial, juga sangat penting untuk dilihat kedepannya, supaya tidak ada ketimpangan yang besar yang pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi kita sendiri.</p>
<p>Memang tugas kita, tugas para terdidik, intelektual, untuk bangkit, mengalahkan ego kita ditengah era yang serba kompetitif ini untuk merangkul mereka yang ada dibawah, mendidik dan mengayomi mereka supaya turut mencapai tingkat yang setara.</p>
<p>Meskipun perjuangan ini akan menemui jalan yang berliku dan panjang, tapi sekali lagi dengan semangat optimisme, pasti kita bisa.</p>
<p>Serial Holiday Notes ini masih belum berakhir, masih banyak pengalaman liburanku yang seru dan menarik untuk diceritakan. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Cheerio!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catetanlaen.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catetanlaen.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catetanlaen.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catetanlaen.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catetanlaen.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catetanlaen.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catetanlaen.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catetanlaen.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catetanlaen.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catetanlaen.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catetanlaen.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catetanlaen.wordpress.com/779/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catetanlaen.wordpress.com/779/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catetanlaen.wordpress.com/779/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=779&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/08/04/holiday-notes-international-conference-on-futurology/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd90be3826bee41d972322bb02be4618?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">neorhazes</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/262901_10150258132576598_825116597_7309224_6220982_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/262901_10150258132566598_825116597_7309222_5835889_n.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/284811_10150258129586598_825116597_7309194_5692955_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Holiday Notes: CASABLANCA</title>
		<link>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/07/29/holiday-notes-casablanca/</link>
		<comments>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/07/29/holiday-notes-casablanca/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 17:55:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>neorhazes</dc:creator>
				<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[casablanca]]></category>
		<category><![CDATA[review film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://catetanlaen.wordpress.com/?p=775</guid>
		<description><![CDATA[&#8221; Play it Sam, for old times&#8217; sake &#8220; &#8221; I don&#8217;t know what you mean, Miss Ilsa &#8220; &#8221; Play it Sam, play&#8230; &#8216;As Time Goes By&#8217; &#8220; Mungkin ada yang familiar dengan movie line itu, terutama buat mereka yang suka film-film atau lagu klasik. Atau mungkin malah nggak tahu sama sekali? Yap, movie [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=775&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221; Play it Sam, for old times&#8217; sake &#8220;</p>
<p>&#8221; I don&#8217;t know what you mean, Miss Ilsa &#8220;</p>
<p>&#8221; Play it Sam, play&#8230; &#8216;As Time Goes By&#8217; &#8220;</p>
<p><span id="more-775"></span></p>
<p>Mungkin ada yang familiar dengan movie line itu, terutama buat mereka yang suka film-film atau lagu klasik. Atau mungkin malah nggak tahu sama sekali?</p>
<p>Yap, movie line itu dari film Casablanca, sebuah film klasik yang diproduksi oleh Warner Bros. Corp., dan dirilis waktu perang dunia lagi seru-serunya, tahun 1941. Baru kemarin malam, aku mengunduh film ini dari site torrent. Entah kenapa tiba-tiba terpikir untuk mengunduh film-film klasik, padahal sorenya aku ngunduh Insidious.</p>
<p>Dan ternyata, kesan awalku sama film ini jauh sama apa yang aku lihat di filmnya. Aku kira alur ceritanya bakal bikin ngantuk, dan memang, aku nonton film Casablanca ini lewat tengah malam. Sengaja sih, buat ngobatin insomnia. Tapi, ternyata hal itu nggak berlaku sama sekali.</p>
<p>Casablanca emang dinisbatkan sama penggemar film sebagai salah satu film yang patut ditonton oleh semua generasi. Pesan moralnya bagus banget. Alurnya juga mantap dan pas, nggak ada cerita yang berlebihan atau alur yang kira-kira nggak nyambung. Semuanya pas. Walaupun dibuat waktu PD II, tapi film ini secara kualitas sangat mumpuni dan karenanya mendulang banyak penghargaan Academy Awards, termasuk Best Picture.</p>
<p>Oke, sebelum terlalu banyak basa-basi, mungkin aku bakal cerita tentang alur film ini.</p>
<p>[WARNING: SPOILER]</p>
<p>Film ini dimulai dengan <em>overview </em>tentang kondisi Eropa waktu PD II. Karena invasi Nazi yang masif di wilayah Eropa, terutama setelah Prancis dicaplok, banyak orang Eropa akhirnya mencari pengungsian untuk berlindung diri dari penjajahan Nazi. Tujuan favorit dan utama waktu itu adalah Lisbon, karena Portugal waktu itu posisinya netral dan cukup aman untuk ditinggali, tapi karena wilayah itu susah diakses, akhirnya banyak dari pengungsi ini beralih ke kota Casablanca di wilayah Afrika Utara. Casablanca, pada waktu itu, masih ada dibawah yurisdiksi Prancis. Ya, Prancis memang udah dijajah Nazi, dan waktu itu nama pemerintahannya jadi Vichy France, dibawah komando Philippe Petain. Tapi, di Casablanca, dominansi Nazi nggak begitu kuat. Makanya, waktu ada perwira Nazi datang ke Casablanca, Captain Louis Renault [komandan kota Casablanca] bilang, &#8220;Unoccupied France welcomes you to Casablanca&#8221;.</p>
<p>Nah, tokoh utama sekaligus protagonis dalam film ini adalah seorang Amerika, <em>un Americain</em>, Richard &#8220;Rick&#8221; Blaine. Rick Blaine sendiri adalah orang yang cukup terkenal di Casablanca, karena usaha cafe-nya yang jadi atraksi utama dan tempat hiburan buat para pengungsi &#8216;berkelas&#8217; di Casablanca. Di tengah perjalanan cerita, dia ketemu sama seorang Italia, Ugarte. Ugarte ini semacam calo, jadi dia nyimpen 2 stok visa keluar yang ditandatangani sama De Gaulle langsung. Visa keluar ini bisa digunakan buat keluar dari Casablanca ke tujuan manapun, jadi semacam surat sakti, dan untuk para pengungsi di Casablanca, dapet surat itu serasa keajaiban. Nah, malam itu harusnya Ugarte transaksi sama seseorang yang udah mau ngebeli  visa keluar dengan harga tertinggi, tapi malam itu, polisi udah mencium transaksinya, dan Ugarte akhirnya ditembak mati. Tapi, visa keluarnya itu akhirnya disimpan oleh Rick, dan gak ada yang benar-benar tahu tentang itu.</p>
<p>Cerita film semakin seru sewaktu Rick ternyata menemukan cinta lamanya datang di Casablanca. Ilsa Lund, yang dulu dia kenal di Paris, ternyata udah bawa pasangan, seorang aktivis bawah tanah penentang Nazi, Viktor Laszlo. Ilsa, yang waktu itu datang ke cafe-nya Rick, ketemu juga sama pianis cafe itu, yang juga karyawannya Rick, Sam. Tiba-tiba, Ilsa kepikiran untuk mengenang masa lalunya di Paris dengan minta Sam untuk memainkan lagu As Time Goes By. Awalnya, Sam pura-pura nggak tau tentang lagu itu, tapi akhirnya dia mainkan juga. Rick dari kejauhan datang, karena mendengar lagu itu, dan akhirnya.. dia ketemu dengan Ilsa disitu. Nggak berapa lama, Laszlo juga datang didampingi Captain Renault dan Major Strasser.</p>
<p>Kehadiran Laszlo di Casablanca ini sebenarnya nggak lain karena dia jadi buronan Nazi. Laszlo udah sukses keluar dari salah satu kamp konsentrasi dan akhirnya dia jadi kutu loncat, main kucing-kucingan dengan tentara Nazi sampai akhirnya dia selamat di Casablanca. Major Strasser kaget dan takjub dengan Laszlo ini. Sebenarnya di Casablanca, Laszlo masih punya tujuan lain, yaitu buat nyari visa keluar untuk ke Amerika, dan melanjutkan misinya untuk melawan Nazi disana.</p>
<p>Pertama, dia mampir ke cafe Blue Parott punya Signore Ferrari untuk beli visa keluar, tapi ternyata dari Signore Ferrari ini dia dapat info kalau visa keluar yang benar-benar valid ada di Rick. Nah, dari sinilah akhirnya Laszlo ketemu Rick lagi. Waktu ditanya Laszlo tentang visa itu, Rick memang jawab dengan jujur, tapi Rick nggak  akan jual tiket itu walaupun ditawar dengan harga semahal apapun. Rick apatis dengan kepentingan politis Laszlo, karena Rick udah cukup trauma untuk terlibat di kegiatan politik semacam yang Laszlo lakukan. Rick memang pernah punya pengalaman jadi penyelundup senjata di Ethiopia dan jadi aktivis anti-Fasis di Spanyol, tapi akhirnya dia merasa hidupnya nggak tenang dan akhirnya dia buat usaha cafe di Paris.</p>
<p>Tapi ditengah percakapan itu, mereka terganggu dengan beberapa tentara Nazi yang lagi asik nyanyi lagu &#8220;Die Wacht am Rhein&#8221;. Lagu ini, menggugah hati Laszlo untuk melakukan perlawanan. Laszlo akhirnya minta pemain-pemain musik cafe yang cuma bisa termangu untuk memainkan lagu &#8220;La Marsellaise&#8221; yang liriknya tentang perlawanan tiran.</p>
<p>&#8220;Play La Marsellaise! Play it!&#8221;</p>
<p>Sekejap, akhirnya La Marsellaise pun berkumandang di penjuru ruangan cafe, dan sontak, semua pengunjung cafe -mayoritas WN Prancis- yang awalnya diam takut, langsung berdiri dengan berani dan bernyanyi dalam satu nada dikomandoi oleh Laszlo.</p>
<p>&#8220;Allons enfants della Patrie, le jour de gloire est arrive!&#8221;</p>
<p>Tentara Nazi pun akhirnya meredup dan cuma bisa diam karena kalah suara. [Ini salah satu adegan yang paling aku suka di film ini]</p>
<p>Tak mujur, ternyata Major Strasse tidak senang dengan hal ini, dan akhirnya atas perintah Captain Renault, cafe Rick harus ditutup untuk beberapa minggu.</p>
<p>Malamnya, setelah cafe Rick ditutup, Ilsa tiba2 datang ke cafe itu, dan ketemu Rick. Dia minta Rick untuk ngasih visa keluar itu, dan dengan agak paksa, sampai Ilsa harus ngeluarin pistol. Tapi, entah kenapa, Ilsa akhirnya takluk didepan Rick. Ilsa bener-bener kangen sama Rick dan, dia nggak tahu lagi harus berbuat apa karena Laszlo udah tau tentang ini semua. Setelah sempet cium-ciuman sebentar, Ilsa akhirnya cerita semua hal tentang Laszlo, yang ternyata udah jadi suaminya, dan&#8230; pas Rick ketemu Ilsa di Paris, Ilsa nganggep kalau Laszlo udah meninggal di kamp konsentrasi.</p>
<p>Nah, nggak untungnya bagi Rick, ternyata.. waktu Ilsa dan Rick udah sepakat buat ninggalin Paris sehari sebelum Jerman masuk ke kota itu, Ilsa baru dapat kabar dari temannya kalau Laszlo berhasil masuk kota Paris. Rick, yang udah beli 3 tiket kereta [termasuk buat Sam] buat ke Marseille, nunggu Ilsa dengan gelisah di stasiun kereta yang sedang hujan deras. Nah, ternyata Sam bawa surat dari Ilsa yang isinya Ilsa nggak bisa ikut Rick karena ada suatu hal. Rick langsung galau seketika dan karena kereta udah last call, akhirnya Rick cuma bisa masang muka muram, dan&#8230; mencoba melupakan segalanya seiring kereta menjauhi kota Paris.</p>
<p>Waktu Rick dan Ilsa lagi ngobrol, tiba-tiba Laszlo datang dari persembunyiannya. Akhirnya, setelah nego satu sama lain, dan Rick yang dengan sepenuh hati mencoba untuk melupakan cintanya sama Ilsa, Laszlo pun mendapatkan apa yang dia mau, dua visa keluar dari Casablanca untuk ke Amerika.</p>
<p>Laszlo-pun mengapresiasi Rick dengan bilang, &#8220;Welcome back to the fight. This time I sure we&#8217;ll win.&#8221;</p>
<p>Sebelum berangkat, ternyata Laszlo sempat ditangkap karena ngelakuin sebuah kesalahan. Waktu Laszlo diinterogasi di kantor polisi sama Captain Renault, Rick kemudian menggunakan kesempatan ini untuk meminta bantuan Captain Renault untuk membantu upaya Laszlo dan Ilsa supaya bisa kabur dari Casablanca tanpa ketahuan Strasse. Renault sempat diancam Rick pakai pistol dan Rick akan membuka semua kartu truf tentang Renault yang korup dan menyimpan banyak skandal di Casablanca. Akhirnya, Renault manut untuk bantu-bantu Laszlo, sampai akhirnya diantarkan ke bandara. Di bandara, Ilsa sempat hampir nggak mau ikut sama Laszlo, tapi Rick akhirnya membujuk dengan bilang, &#8220;Mungkin bukan sekarang, mungkin bukan besok, tapi nanti pasti kamu bakal menyesal&#8221;.</p>
<p>Celakanya, ternyata, Strasse sudah mencium rencana ini, dan dia langsung gerak ke bandara. Dan, waktu Strasse sampai di bandara, Ilsa dan Laszlo udah ada di pesawat. Strasse mencoba untuk mencegah pesawat itu untuk terbang, dan.. Rick melarang. Sampai akhirnya, karena Strasse maksa untuk menelpon radar station, Rick dan Renault terpaksa menembak Strasse. Beberapa pasukan polisi datang ke TKP, dan Renault cuma bilang, &#8220;Strasse has just been shot. Just find the usual suspect&#8221;. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Film ini berakhir dengan Renault dan Rick yang berjalan akrab, dan Rick kemudian bilang, &#8220;Louis, I think this is the beginning of our beautiful friendship&#8221;.</p>
<p>[END OF SPOILER]</p>
<p>Aku sebenernya merasa kalau film ini musti ada sekuelnya, Casablanca 2. Mungkin bisa cerita tentang persahabatan Rick dan Renault ini, atau mungkin tentang perjuangan Laszlo di Amerika, yang mungkin pada akhirnya mereka akan ketemuan setelah PD II.</p>
<p>Satu hal yang aku apresiasi dari film ini, walaupun bertema romance, tapi romancenya nggak diekspresikan dalam bentuk yang berlebihan, ya, mungkin cuma ciuman. (Biasanya bisa lebih parah.. apalagi kalau film jaman perang), dan mixing up those themes -politics, history, friendship, romance- into one movie is really&#8230; outstanding. Aku belum pernah ngeliat film yang benar2 bisa dibandingkan sejajar dengan film ini.. (Apa temen yang lain pernah ngeliat?)</p>
<p>Moral of the story dari cerita ini, menurutku:</p>
<p>Pada akhirnya, kita harus memilih untuk berkorban. Ini juga jadi bagian dari lirik lagu &#8220;As Time Goes By&#8221;:</p>
<p><em>It&#8217;s still the same old story, a fight for love and glory.. a case of do or die..</em></p>
<p>Memang sih pada awalnya, kita cemburu, kita kesal, dan kita sangat ingin mendapatkan cinta itu..</p>
<p><em>Moonlight and love songs, never out of date, heart full of passion, jealousy and hate, women needs man, and man must have his mate&#8230; that no one can deny..</em></p>
<p>Tapi bagaimanapun, ketika pada akhirnya kita ditinggalkan cinta, atau diabaikan cinta, sebenarnya,</p>
<p><em>The world will always welcome lovers, as time goes by.. </em></p>
<p>Poin lainnya, ketika kita cuek, seperti sikap Rick pada awalnya, padahal lingkungan kita sedang berada ditengah kondisi yang sulit, mungkin yang terjadi adalah situasi akan makin runyam..</p>
<p>Karena sebetulnya lingkungan butuh kita, dan pada akhirnya, toh Rick mendukung dan kembali terlibat dalam upaya politik ini..</p>
<p>Satu hal, yang jadi poin juga, ketika ditinggalkan seseorang yang kita cinta, atau ketika kita sedang sedih, selalu ada teman. Ya, selalu ada teman yang akan mendampingi supaya kita tetap bertahan dan berjuang di jalan yang sama. Seperti Rick yang akhirnya menjadi sahabat baik Renault.</p>
<p>Yah, dengan film ini, aku bisa introspeksi. Somehow, beberapa karakternya Rick sedikit banyak terefleksikan ke aku.</p>
<p>Oke, mungkin itu aja holiday notes untuk kali ini.</p>
<p>Later, I&#8217;ll write something more about my <strong>interesting</strong> holiday.</p>
<p>Au revoir!</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/catetanlaen.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/catetanlaen.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/catetanlaen.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/catetanlaen.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/catetanlaen.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/catetanlaen.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/catetanlaen.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/catetanlaen.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/catetanlaen.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/catetanlaen.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/catetanlaen.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/catetanlaen.wordpress.com/775/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/catetanlaen.wordpress.com/775/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/catetanlaen.wordpress.com/775/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=catetanlaen.wordpress.com&amp;blog=2472284&amp;post=775&amp;subd=catetanlaen&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://catetanlaen.wordpress.com/2011/07/29/holiday-notes-casablanca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd90be3826bee41d972322bb02be4618?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">neorhazes</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
