Refleksi Tulisan “Sang Raksasa Muda”

P

ada edisi bulan Agustus 2008 di Majalah National Geographic, gue ngeliat tulisan yang berjudul “Sang Raksasa Muda, Indonesia” yang ditulis oleh Beverley M Bowie. Tulisan itu diangkat lagi dari NG edisi 1955, buat menyambut 17-an. Gue coba baca tulisan ini. Tulisan ini menggambarkan kondisi Indonesia 10 tahun setelah merdeka dari Belanda, dan 6 tahun setelah kedaulatannya diakui oleh Belanda. Gue pengen nyoba buat ngerefleskiin tulisan ini dengan keadaan kita sekarang, 53 tahun setelah tulisan itu ditulis dan 63 tahun setelah Indonesia Merdeka . Gue ambil satu paragraf dari tulisan itu, dan gue refleksiin kenyataannya dengan zaman sekarang.

“…bocah-bocah itu berkumpul setiap akhir pekan selama dua bulan terakhir untuk membangun sekolah mereka dan akan terus melanjutkannya selama satu tahun hingga selesai. “Di Indonesia, kami menyebutnya gotong royong”, kata salah seorang guru mereka, “bahu membantu untuk menolong sesama””.

Ironi sekali. Sekarang jarang banget terdengar kata gotong royong di telinga kita. Sekarang udah ada cleaning service, tukang bangunan, dan lain-lain. Nilai gotong royong itu masih ada sebenarnya, Cuma mulai memudar dari hati bangsa Indonesia yang maunya gampangan aja dan ketularan sifat invidualis terutama mereka yang tinggal di kota-kota. Sekarang gue jarang ngedenger yang namanya, “Gotong Royong Membersihkan Sekolah”. Gue pengen ada acara itu. Mulut setiap pembina upacara di sekolah gue menggaung-gaungkan masalah kebersihan, tapi kalau yang gerak cuma cleaning service nya doang gak bakal bersih tuh sekolah. Harusnya OSIS ngadain acara gotong royong begituan. Tapi, kalaupun acara ini diadain, pasti anak-anak sekolahan ngikutinnya dengan setengah hati. Percaya deh! Kalaupun niat alhamdulillah.

“..harga beras dipatok pada batas yang wajar dan tanah sempit manapun akan menghasilkan pisang, singkong, kelapa, sukun dan sejenisnya. Di negara yang masyarakatnya selalu mengumbar senyum ini dan mengalami panen sebanyak dua hingga tiga kali setahun, penduduknya tidak terlalu dipusingkan dengan masalah keuangan.”

Yak. Masalah ekonomi kerakyatan bung. Sekarang orang udah susah nyari beras, sampe ada namanya nasi aking, nasi yang dibuat dari nasi bekas. Saking mahalnya beras itu. Kok beras sekarang mahal, padahal dulu kita dikenal sebagai negara swasembada pangan ampe digelari sama FAO? Masalah iklim utamanya. Iklim sekarang bener-bener kacau. Sampe ada yang namanya hujan ditengah kemarau. Kemarau ditengah hujan. Panen jadi tak menentu. Adanya Cuma setengah jadi, bahkan ga jadi sama sekali, dan Cuma bisa dibakar atau yang setengah jadi dijual jadi pakan ternak. Kedua penimbunan beras. Ada beberapa oknum yang mencari berlian di genangan darah. Mencari keuntungan di tengah penderitaan. Teganya mereka nimbun beras, sedangkan yang lainnya belum makan. Gak ada empati! Tanah? Mau dimana emangnya? Tanah sekarang harganya udah melangit-langit, sampe 1 Miliaran lebih. Tanah sempit juga belum tentu bisa ditanemin, soalnya bekas penebangan pohon. Tau sendiri kan, kalo tanah bekas tebang pohon itu udah gak bagus lagi.

“..di luar pertumbuhan masif yang membentuk sebuah metropolis dengan lebih dari 2,5 juta penduduk, Jakarta masih memiliki suasana pedesaan yang mencolok. Dengan segelintir gedung bertingkat dan berbagai jalan dengan bungalo berpohon rindang..”

Jakarta. Udah 481 tahun kota ini berdiri. Masalah yang dateng masih sama. Banjir, polusi, kepadatan penduduk dan kesempatan kerja. Masalah Banjir udah ada sejak senor-senor dari Portugal mampir ke Batavia. Sampai akhirnya, saat jabatan Gubernur Jenderal berada ditangan Jan Pieterzoon Coen, dibangunlah yang namanya Kanal Timur dan Kanal Barat, yang sekarang fungsinya gak kerasa, malah bikin banjir. Polusi mulai jadi masalah sejak Jakarta kedatangan banyak mobil dan pohon-pohon mulai ditebangin. Ini ngebikin gak ada ruang segar di Jakarta, paling Cuma di beberapa spot doang, itupun udah bener-bener terancam. Oksigen yang murni oksigen udah gak kerasa lagi di kota ini. Entah kenapa, banyak orang yang obsesi tinggal di Jakarta, kebanyakan dari mereka adalah orang kampung. Mereka nganggep Jakarta sebuah kota yang penuh dengan harapan, padahal gak begitu. Jakarta udah terlalu penuh untuk nampung penduduk lagi. Cari kerja pun susah, paling kalo nemu kerja yang itu-itu aja, jadi bawahan, jadi cleaning service, jadi buruh, jadi pembokat, dan jadi yang lain-lain. Jakarta, oh, Jakarta.

“..produksi minyak didukung oleh investasi sebesar 70 juta dolar AS itu melaju kencang, kini produksinya mencapai 50.000 barel per hari..”

Indonesia dulunya dikenal sebagai produser minyak. Kenapa sekarang rakyat-rakyatnya malah susah nyari minyak? Apa langka? Atau boros? Atau ada hal-hal lain dibalik itu? Indonesia dulu diincar oleh banyak perusahan minyak dari luar, kaya Shell, Caltex, Total dan lain-lain. Sampe Indonesia akhirnya masuk OPEC. Dulu, harga minyak bener-bener murah pas jaman Orba, setelah pada tahun 1960-an mengalami kenaikan harga yang nggak wajar. Tiba-tiba, pada sewindu 2000-an ini, kenapa Indonesia dihadapkan pada kenyataan yang berbeda? Orang susah mencari minyak, cari alternatif dengan kayu bakar dan gas. Tapi, ada sesuatu dibalik fakta ini. Lagi-lagi oknum. Oknum yang menyelundupkan minyak ke luar dengan innocentnya. Sebenarnya Indonesia nggak langka minyak, masih banyak ladang minyak yang belum dieksplorasi atau mungkin udah ada, tapi sengaja ditutup-tutupi sama perusahaan minyak asing yang bersangkutan.

“..sebagian besar perencanaan dan pembangunan Indonesia telah tertulis di atas kertas dan merupakan rencana yang baik. Masalahnya, siapa yang akan mengimplementasikannya dan kapan?”

Inilah buruknya sistem birokrasi di Indonesia yang harus kita perbaiki. Di atas kertas bagus, di praktek gak jalan sama sekali. Ingat, Allah nggak suka sama orang yang Cuma bisa ngomong doang tapi gak jalan dengan omongannya. Baru aja tanggal 15 Agustus kemarin, Presiden SBY pidato tentang betapa suksesnya kita menghadapi masa-masa berat pada saat harga minyak dunia naik. Tingkat kemiskinan turun dan inflasi turun, nilai tukar rupiah menguat dan lain lain. Meskipun begitu, masa kita udah santai aja pas tingkat kemiskinan masih 15,5 persen? Jumlah ini bisa naik kapan saja. Masa kita masih bisa bangga kalo harga BBM masih diatas Rp 6000? Di Berita Harian, koran Malaysia, pemerintah pimpinan PM Abdullah Badawi udah menjanjikan harga minyak akan turun beberapa bulan lagi! Gimana Indonesia? Udah terlalu banyak proyek-proyek perekonomian di Indonesia yang gak jalan. Mulai dari dijaman Soekarno, ampe SBY sekarang. Walaupun PELITA jalan banget di Orba, eh ternyata, Presiden Soeharto diam-diam ngorupsi anggarannya. Sama aja bleh.

“..mereka paham, bahwa kemerdekaan saja tak cukup sebagai solusi.”

Memang. Bener apa yang tertulis di Janji Siswa, berjanji untuk mengisi kemerdekaan dengan prestasi. Kalau merdeka, tapi ekonomi-pendidikan-sosial gak jalan, itu namanya bukan negara. Cuma lahan yang ditinggali ama sekelompok orang doang.

“..bersediakah dunia memberikan kami waktu barang lima tahun saja?”

Seorang pedagang menanyakan seperti itu kepada sang penulis, Beverley M Bowie. Sayang sekali, lima tahun kemudian, keadaan perekonomian menjadi tidak stabil karena kondisi politik, dimana PKI mulai bercokol dengan bantuan Soekarno. PMA dipersulit sampai sekarang, yang namanya bikin usaha di Indonesia ga gampang, meskipun udah ada oneway. Inflasi berada di rate 5-10%, tingkat inflasi rendah pada tahun 2000-an ini. Bisa jadi, kalau kondisi dunia dalam perang, tingkat inflasi kita bisa mencapai >15%. Berbahaya teman.

“..semoga nasib baik menyertaimu di sini! Saya berharap mereka akan memperolehnya”

Kata sang penulis mengakhiri tulisannya. Nasib baik itu selalu ada. Secercah cahaya pasti hadir setelah hujan deras penuh kabut. Kita bisa kalau berusaha untuk berbuat yang terbaik demi Indonesia tercinta.

Dirgahayu Indonesia ke-63 !

7 thoughts on “Refleksi Tulisan “Sang Raksasa Muda”

  1. Negeri tercinta, negeri indah yang kaya sumber daya alam, yang kaya folra dan fauna, yang berpenduduk ramah (semoga benar!), dan suka gotong royong, “bersatu kita teguh bercerai kita rubuh”, jaman ini sungguh tidak laku lagi.
    Negeri tercinta kekayaannya sudah terkuras, dan dikuras untuk apa, tidak jelas. Saat ini mulai dikenakan berbagai macam pajak, hasilnya pun entah kemana, toh layanan publik brengseknya bukan main.
    Buku komik jaman dulu tahun 60 an, kalau ada cerita mengenai kerajaan atau raja yang zalim, selalu dimulai dengan pengenaan pajak kepada rakyatnya.

  2. artikel sang raksasa muda di NG memang bagus, foto fotonya juga ciamik, tajam tajam. rasanya seperti baru di foto kemarin sore…
    Melihat bung Hatta keluar dari mobil, rasanya seperti beliau masih hidup.

    Memang saat ini diperlukan pemimpin yang visioner, tangguh, kuat, tegas, berani membolak balik tatanan yang sudah berjalan lama. Terbukti bahwa sistem yang berjalan sudah parah. Contoh langkah perbaikan salah satunya :
    cari bupati/kepala daerah yang hebat. Karena mereka yang langsung berhadapan dengan rakyat. Sayangnya presiden sekarang seperti tidak punya gigi ke bupati. padahal mereka ini ujung tombak. Jadi pemilihan bupati tetap dihandle dari pusat. atau tetap otonomi daerah tapi audit harus dari pusat sehingga kinerja kepala daerah benar benar bagus.

  3. kita punya minyak, dikelola asing.
    Kita dapet bayaran dari pajak

    minyaknya buat asing!

    kita di-drill belajar terus buat UAN
    kita disempitkan waktu untuk membaca
    melihat perkembangan
    hanya soal2 saja yang sering kita lihat

    Siapa yang membuat itu? Pasti bukan ahli strategi sembarangan. N E O-K O L O N I A L I S M E
    penjajahan model baru!

    hati-hati…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s