Menggilai Sastra Modern Klasik Indonesia

Beberapa minggu yang lalu, guru Bahasa Indonesia saya memberikan sebuah tugas. Sebuah tugas yang ada enak dan enggaknya. Membaca buku sastra klasik Indonesia. Sastra klasik, ngedenger namanya aja udah pusing tujuh keliling. Guru BI saya juga udah ngingetin, buku ini memang bakal memBOSANkan untuk dibaca oleh kalangan remaja, dimana remaja sekarang hobinya baca teenlit, paling banter novel-novel Luar Negeri. (isinya cuma cerita horor, lawak, cinta murahan). Sengaja banget Guru BI saya ngasih tugas ini, supaya kita bisa lebih mengenal sastra klasik Indonesia periode 30-40 aka Angkatan ’40. Tuh udah saya kasih clue, pasti tau doang siapa yang ngarang.

Karya-karya Angkatan ’40 merupakan sebuah titik awal perkembangan sastra modern klasik Indonesia. Dimulai dari Sutan Takdir Alisyahbana, yang mengarang roman Layar Terkembang. Atau HAMKA, dengan roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.  Bahasa didalamnya benar-benar klasik, melayu abis, penuh majas, dan wah- kalo gak nahan bisa muntah, eneg, dan gak bakal bisa nerusin baca roman itu. Tapi, meskipun bahasa yang digunakan sangat-amat klasik, berhubung pada tahun 1930, kita masih memakai bahasa Indonesia-tapi kemelayu-melayuan, amanat dari novel itu mengusung tentang emansipasi, kebebasan dan semangat kebangsaan.

Saya baru selesai baca satu buku, Tenggelamnya Kapal VD Wijck, karya Buya Hamka. Pada awal menulis roman ini yang diterbitkan secara serial terlebih dahulu di koran, romannya menerima banyak hujatan. Banyak orang menganggap, dia ulama mesum karena berani menulis tentang masalah percintaan. Justru didalamnya bukan masalah cinta murahan! Tapi bagaimana cara kita mencari sebuah cinta yang hakiki, yang tidak hanya berlandaskan materi. Dari roman HAMKA saya juga mendapat banyak pelajaran. Misal, sewaktu HAMKA menulis novel ini, budaya “kebendaan” aka materialisme udah dikenal oleh orang-orang bumiputera pada waktu itu. Selalu tampak ingin lebih.

Bahkan keadatan di Minang pun terpengaruh dengan ideologi materialistik ini. Saat ada dua orang tokoh, satu berpunya, satu tak punya, melamar seorang gadis di kampung, yang diterima si berpunya. Padahal si gadis ini sudah lama berkenalan dengan si tak punya ini. Juga HAMKA menggambarkan bagaimana seorang Zainudin, yang putus cinta hampir bunuh diri, tiba-tiba dengan motivasi dan semangat yang tinggi, memakai keahliannya dalam bersastra, menjadi seorang pengarang terkenal. Grafiknya langsung melesat, sayang diakhir cerita, sangat tragis. Gak mau spoiler ah, gak seru. ^^

Intinya, baca sastra lama memang membosankan, tapi mengandung banyak makna. Jarang-jarang ada karya yang seperti Van Der Wijck pada zaman ini, bahkan kalau mau diakui, Ayat-Ayat Cinta harus kalah dibandingkan roman yang sudah eksis 70 tahunan ini-yang pernah dicerca-cerca, sekarang jadi magnum opusnya HAMKA.

Sekarang saya lagi mencoba membaca Sutan Takdir Alisjahbana, Anak Perawan di Sarang Penyamun. Beh, kalo dilihat, pengarang menyampaikan maksudnya secara tersirat. Pake gaya-gaya pujangga menyampaikan syairnya.

last word, HIDUP SASTRA INDONESIA! CINTAI DAN GILAI!

8 thoughts on “Menggilai Sastra Modern Klasik Indonesia

  1. Saya suka bahasa Indonesia tapi tidak begitu suka baca novel-novel Indonesia (males baca yg panjang-panjang).
    Ya, paling banter baca kumpulan cerpen KOMPAS..
    Mantep tuh!
    Wuih…😉

    Hidup sastra Indonesia..!

  2. umm sebenernya ceritanya bagus dan mengharukan (bikin nangis!! TT_TT) , cuma bahasa yg dipake gga bagus soalnya gga ngerti >.<; harus diulang kadang sampe mengerutkan kening, gga ngerti itu artinya apa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s