Anak Pesantren Tidak Seperti Itu Lagi…

Pernah survei ke pesantren? Apa impresi anda saat berkunjung ke sebuah pesantren? Kumuh? Anak-anak dengan baju putih bawahan sarung memakai peci hitam kumal dan membawa sebuah kitab kuning? Bangunan-bangunan yang sudah dimakan usia? Pak kiai yang memakai sorban berjenggot? Tembok pembatas antara santri lelaki dan perempuan? Semua impresi ini memang masih ada di pesantren-pesantren Indonesia, tapi tidak halnya dengan beberapa pesantren “modern”.

Lihat saja Insan Cendekia. Sebuah MAN yang kalau dilihat sekilas memang seperti sebuah boarding school tapi ada beberapa yang menyebutnya sebagai sebuah pesantren. MAN Insan Cendekia tidaklah sekumuh yang anda pikirkan, justru MAN Insan Cendekia sangat modern dan terkesan gaul. Lihat saja. Mereka sering mengadakan acara mengundang sekolah-sekolah se-Jadebotabek. Hal lain lagi, antara santri cowok dan cewek ngga dipisah. Kadang-kadang terlihat beriringan, tapi tidak berpegangan. Maklum MAN masih menjaga akhlak antar muhrim. Seperti itu kira2.

Ambil contoh lain Pesantren Nurul Fikri. Pesantren ini tidak menggunakan kiai sebagai otoritas pimpinan secara langsung. Pesantren NF yang baru berumur 9 tahun ini malah telah mengirimkan santrinya ke Korea Selatan tahun ini, untuk mewakili Indonesia di IJSO, walaupun secara lokasi, Pesantren NF ini sangatlah remote. Tapi, dengan kondisi area yang remote itu, di sebuah hutan, membuat suasana belajar menjadi sangat nyaman. Pesantren ini juga telah dilirik untuk menjadi pesantren bertaraf Internasional, bahkan ada 1-2 pelajar dari Malaysia bersekolah di Pesantren NF dan seorang native speaker dari Kanada beragama Islam, namanya Ibrahim Justin.

Banyak pesantren-pesantren lama juga mulai keluar dari cangkang konservatifnya untuk menjadi semakin modern. Pesantren-pesantren di Jawa Timur seperti Gontor mulai menghapus sistem kekerasan “ala rotan” nya dan sekarang hukumannya lebih mendidik [seperti contohnya membaca Qur’an, menyapu masjid, membersihkan toilet, dll. Kecuali kalau tingkat kebandelannya udah kronis]. Atau mungkin Pesantren as-Salam Solo yang punya Club Astronomi sendiri. Di Jakarta mungkin anda tahu ada pesantren Darun Najah. Pesantren ini pernah dikunjungi oleh PM Tony Blair dan banyak dari santrinya sering mengikuti program student exchange! Luar biasa kan?

Btw, Ma’had Az-Zaytun gak masuk hitungan yah… [udah tau dong alasannya apa..]

Lulusan pesantren bukan main. Ketua MPR kita, Pak Hidayat, itu lulusan dari Gontor. Dan masih banyak contoh lain lulusan pesantren, mulai dari Wahid Hasyim sampai Din Syamsudin.

Sayangnya pesantren juga terkena imbas globalisasi. Bukan pesantrennya, tapi santri-santrinya dan sedikit dari gurunya. Kebetulan saya alumnus sebuah pesantren [yang tau gak usah bilang-bilang yah]. Kondisi yang kami alami mungkin sama dengan beberapa pesantren lain. Santri sudah terinfeksi dengan virus video porno. Bahkan buku komik hentai dan mengakses situs porno pun pernah dilakukan di pesantren. Kebetulan lab komputer saat itu sedang tidak diawasi. Akhirnya beberapa “suspect” diperiksa dan dihukum, tapi tidak sampai dikeluarkan.

Pacaran di pesantren, pada angkatan saya, bukanlah hal yang sulit-sulit amat. Bahkan saya ingat sewaktu ujian praktik KTK, teman saya ada yang lagi pengen mengonfirmasi HTSnya. Sayang, ditolak. Saya tidak bisa membeberkan semua tentunya, karena akan memperburuk citra almamater saya. Tapi sekarang teman-teman saya sudah memencar. Ada beberapa di antara mereka menjadi sangat eksis, menjadi ketua OSIS di SMA nya, atau hanya menjadi siswa biasa-biasa saja, seperti saya ini. Hehehe.

Oh ya satu pesan nih buat teman-teman pesantren :
“Anak Pesantren walaupun qanaah makan apa adanya tapi dari situlah bekal kita akan menyongsong masa depan baru.. dimana kita bersama-sama merubah Indonesia Raya .. tanpa ada rasa degradasi nasionalisme yang selama ini orang sering tuduhkan ke anak-anak Pesantren.. kita, anak alumni pesantren, membawa misi untuk merubah society kita.. kita harus bisa karena kita anak-anak luar biasa!”

10 thoughts on “Anak Pesantren Tidak Seperti Itu Lagi…

  1. Salut aku sama tulisan ini, aku ada “amran” yang bicara soal, anak santri tentu ingat “dlaraba zaidun amran. aku coba kasih kritik ke ungkapan itu lewat cerpen.
    aku juga nulis cerpen2&novel, pengennya sich ngangkat yang cerita filosofi cinta gtu…kasih masukan ya, tentunya abis datang ke blogku
    http://rembang2030.blogspot.com

  2. @ missglasses : IIBS sih secara pembelajarannya bsa disebut pesantren modern, secara fasilitasnya udah dah.. kaya apartemen -_- mana ada pesantren kaya IIBS.. gila.. orang kelas 2 SMA aja study banding ke syria 2 bulan 0_0

  3. @ monte :
    ada laaah.. macam tak tau aje kau ni.. yang itulah.. menggambar Perspektif.. pas latian malem sebelum hari ujian KTK ini.. waah ceritanya seru deh.. si Ajem nelpon Elo.. eh yang ngangket itu sapa gitu lupa saye, hahaha kocak deh ngeliatinnya, si Ajem gagal mengonfirmasi HTSny dengan si Elo.. trus lgsg melas gitu… si Willy ampe pindah kamar gr2 disrupt ama kejadian itu hahaha

  4. Kalau gambarannya seperti itu berarti bukan pesantren, tapi lebih ke apartemen yang berbau islami. Cari makna pesantren secara mendasar dan jelas! Apa asal kata pesantren, bagaimana pendekatannya dan sebagainya?

    Makanya suasana pesanten itu, kalau bisa jangan meninggalkan kesan santri yang harus dituntut mandiri, masak, nyuci, sendiri mencari guru-guru sendiri sekaligus tidak meninggalkan khazanah keilmuan dengan Sang Kyai dan yang terpenting kedekatannya dengan Kyai.

    Kalau tidak ada keadaan pokok demikian berarti lebih seperti keadaan asrama. Outputnya jelas beda: pesantren siap leading ke masyarakat plus bisa menyesuaikan diri dengan masyarakat, kalau alumni Apartemen berbau Islami agak aneh, manja, pengennya masyarakat yang harus menyesuaikan bukan dia yang menyesuaikan.

    Jelas beda…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s