Resensi Film Downfall

Bagi anda yang selama ini menganggap bahwa Hitler adalah monster yang ganas, mungkin anda bisa terkejut ketika melihat Hitler menangis di film Downfall. Meskipun sebuah film, kisah di dalam film ini didasarkan oleh catatan harian seorang sekretaris pribadi kesayangan Hitler, Traudl Junge. Film ini sangat berbeda dengan film-film biografi yang lain. Oliver Hirschbeigel berhasil menciptakan atmosfer Berlin pada akhir perang dunia kedua dengan sangat teramat rinci. Mulai dari denah Fueherbunker sampai dengan bangunan-bangunan di sekitarnya.

Pemeran Adolf Hitler di film Downfall ini tidak sembarangan. Seorang artis dari Austria, Bruno Ganz, dipilih untuk menjadi Adolf Hitler. Kebetulan, Ganz memiliki tinggi yang sama dengan Hitler, juga raut yang cukup serupa. Yang membuat saya terpukau dengan Ganz adalah cara dia memerankan Hitler. Persis seperti banyak orang katakan bahwa Hitler sangat mudah marah. Ketika marah, seluruh tenaganya benar-benar dikeluarkan. Ganz melakukan akting tersebut dengan sangat sempurna, bahkan kita mungkin mengira bahwa Ganz-lah Hitler!

Film ini juga mengungkapkan betapa tersudutnya Nazi pada saat itu. Dari segala sisi, baik itu dalam semangat, logistik, persenjataan, dan lain-lain. Dalam film ini kita dapat mengetahui betapa banyak perwira Nazi bermuka dua. Tapi, ada beberapa perwira Nazi yang berhati putih, seperti misalnya Prof. Haase, Prof. Schenck dan William Mohnke. Saya menyukai Prof. Haase karena sifatnya yang berperikemanusiaan. Prof. Hencke mulanya disuruh untuk meninggalkan Berlin, tapi dia tetap memutuskan untuk membantu yang tersisa bersama Prof. Schenck. William Mohnke saya sukai karena dia adalah seorang perwira militer yang amat cerdas. Dia masih bisa berpikir jernih dalam situasi yang sempit. Dia hampir di hukum mati karena menarik mundur pasukannya, toh, Hitler malah senang dengan keputusan Mohnke dan menjadikan Mohnke sebagai Komandan Keamanan Berlin.

Hitler, dalam film ini, digambarkan sebagai seorang yang suka hewan, anak-anak dan bisa menangis. Anda pun tak bisa menduganya. Toh manusia pasti punya hati kecil yang mengandung rasa cinta dan kasih sayang [punya sisi manusiawi]. Banyak yang tidak tahu kalau Hitler sangat mencintai anjing peliharaannya yang bernama Blondi dibandingkan Eva Braun. Blondi sudah menjadi peliharaannya, temannya sejak masa kejayaan sampai akhirnya Blondi meninggal setelah diujicobakan dengan sianida. Hilter sampai memalingkan mukanya, dia sangat tidak tega melihat Blondi mati. Hitler juga sangat dekat dengan anak-anak dari keluarga Goebbels, Menteri Propaganda Nazi. Sebuah scene memperlihatkan Hitler duduk bersama anak-anak tersebut sambil mendengarkan lantunan nyanyian. Hitler tampak memangku anak terkecil Goebbels, Heidrun.

Sebuah scene juga memperlihatkan Hitler yang menangis setelah mengetahui secara langsung dari pembicaraan empat matanya dengan Albert Speer, seorang arsitek muda loyalis Hitler. Speer mengaku secara langsung kalau dia sudah menghianati Hitler dengan tidak melaksanaksn tugas-tugas yang diberikan. Hitler benar-benar sangat kecewa pada momen itu. Dia menunduk, dan tidak menggenggam tangan Speer yang ingin mengucapkan salam perpisahan. Hitler tidak bisa marah karena Speer adalah seorang arsitek loyalis kebanggaanya, masih muda pula. Speer masih berusia 40 tahun saat itu. Lalu? Keluarlah setetes air mata Hitler…

Oliver Hirschbeigel dalam sebuah wawancara mengungkapkan bahwa film ini dibuat sebagai penjelasan kepada rakyat Jerman untuk mengingatkan mereka pada masa-masa kelam secara jujur. Dia meminta rakyat Jerman untuk berkaca kepada masa lalu supaya peristiwa semacam itu tidak terulang lagi.

5 thoughts on “Resensi Film Downfall

  1. Gue suka banget sama film Downfall, tu adlah film terbaik yang pernah gue tonton. Efek suara, gambar, dan juga alur ceritanya sangat menarik. Pemerannya pun sangat mirip dengan aslinya. Andai Indonesia bisa menciptakan film tenta perjuangan bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan.

  2. film ini bisa membuka mata semua orang bahwa seseorang yang begitu mengerikan ternyata juga hanya menusia biasa!!
    gw dah liat film ini berkali2, ich finde es iast ja ganz toll!!

    film yang bener2 hebat salut buat sutradaranya, semoga suatu hari Indonesia bisa buat yng seperti ini, ya…..bisa jadi arsip nasional untuk anak-cucu kita kan?!

  3. makasih ya, hahaha..jadi salahsatu film refrensi buat ngerjain tugas (awalnya), ternyata memang film ini oke !!

    oya, coba nonton the pianist (film dari Polandia, dimana menceritakan seorang perjuangan pianist yang lolos dari nazi dan project nya untuk melenyapkan yahudi)

    nice inform in your blog🙂, salam kenal noerhazes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s