Trip Observasi : Sebuah Kenangan [2]

Kertas-kertas itu.
Kertas-kertas itu tampak tergelontorkan di lantai pualam yang baru saja dipel. Beberapa anak tampak terduduk ditengah onggokan kertas itu. “Eh gue dapet bagian yang mana nih?”, tanya seorang bocah. Seorang cewek memberikan kertas, “Lo bikin pola daun emas yaa”, lalu memberikan ke seseorang yang lain, “Lo guntingin benteng ya.. nih guntingnya”. Saat mengerjakan, supaya suasana nggak terlalu hambar, beberapa orang ngobrol santai, yah bergosip, bercanda, atau malah ngemil (lebih lagi maen PS ato mabal!) Sesekali di selingi curhatan-curhatan atau, “Eh siapa nih mau beli bahan karton? Udah abis nih….”.

Kadang-kadang saking semangatnya membikin nametag, sampai-sampai beberapa orang terlewat jadwal makannya, atau malah terlewat jadwal sholat. Astagfirullah.

Saat saat membuat nametag ini adalah saat dimana anggota-anggota kelompok saling beradaptasi, mengenal satu sama lain. Mungkin kalau di situ ada Kamit, Kamitnya bakal berbagi pengalaman seputar TO si Kamit setahun yang lalu. Ada juga Kamit yang rela membantu mitranya untuk membuat nametag. Sampai malam lg. Usaha-usaha terus dilakukan, bahkan beberapa kelompok rela menginap. Beberapa lagi paling banter sampai jam 12 malam. Ada efeknya sih di jadwal sekolah, misalnya beberapa siswa agak telat. Tapi gak terlalu membahana.

Pas di sekolah pun udah mulai Pra-TO sebenernya. Yah, buat ketua kelompok doang. Biasanya PO akan memberi instruksi ke Ketua Kelompok itu. Bahkan hari Minggu juga sering dipanggil.

Oh ya, pas minggu-minggu pembikinan name-tag ini, sebagian dari anggota Kelompok mengecat tongkat. Termasuk tongkat Ketang. Wah saya juga kebagian tuh pas ngecat warna merah maroon di tongkat Ketang, ehehe. Susah juga lho mengecat tongkat, kita standby sampai jam 3 kurang lebih dari jam setengah delapan pagi. Kalau nggak salah, pembikinan tongkat ini pas hari Sabtu.

Pas hari minggu, para ketua kelompok ini digembleng mentalnya oleh PO. Mereka dibentak-bentak. Yah misalnya aja masalah nametag khusus ketua. Atau mungkin beberapa kelompok yang ditemukan gak solid. Pada akhirnya, tanggal 17 Desember, nametag pun selesai pada pukul 12 lebih. Dengan beberapa kekurangan mungkin. Pagi esok, pra TO segera menjelang…

Beban mental pun memuncak..
Banyak orang berpikir, temen-temen saya juga, kalau pra-TO itu justru lebih melelahkan daripada TO itu sendiri. Kenapa? Terlalu banyak beban mental disini. Setiap kelompok benar-benar diuji kesabarannya, kekompakannya dalam menghadapi masalah. Misalnya aja, vandel yang disita. Saya udah ngerasain gimana susahnya ngejar seorang jas abu-abu demi vandel dan tongkat. Susahnya minta ampun. Argumen dirasa nggak cukup. Kami sampai nyanyi yel-yel plus lagu Anak Kambing Saya yang udah di aransemen jadi, “Mana dimana vandel k’lompok kami?”. Duh duh duh..

Pembuatan charta juga menjadi acara wajib sewaktu Pra-TO. Waktu yang diberikan pun sangat terbatas, cuma satu jam! Itu sudah include cari data. Ckckck.. Kemudian, presentasi pun diberikan oleh setiap kelompok.

Selama presentasi, mungkin akan terdengar suara “Grompyang” yang membuat setiap orang di kelompok berdebar-debar. Yak, itulah suara tongkat2 yang secara sengaja ditendang oleh para jas abu-abu untuk kemudian vandel dan tongkat ketuanya disita. Beban mental makin terasa pas kritik-kritik pedas dari anak-anak SIGMA datang..

Oh ya, disini kekompakan angkatan juga diuji. Apalagi pas Ketang dicolong begitu saja sama jas abu-abu. Pas itu, jujur aja semua orang bingung. Soalnya, para jas abu-abu sengaja bikin bingung anak-anak se-angkatan. “Dek, kalo kalian mencar-mencar, kalian gak ada barisan!” atau “Dek, kalo ga ada Ketang, mana bisa angkatan ini jalan?”. Tiba-tiba, beberapa orang berinisiatif untuk melakukan sesuatu. Kemudian tersebar sampai seluruh angkatan mendengarnya. Satu, dua, dan tiga! Tongkat-tongkat diketuk-ketukkan, sampai terdengar gemuruh suara yang dahsyat. Teriakan, “Emperor! Emperor” terdengar membahana di lapangan basket.

Para jas abu-abu tidak pernah menyangka hal ini. Yah serentak mereka melepas jas abu-abunya. Memasang muka jengkel, entah dicampur perasaan sedih, marah, kecewa, merasa diabaikan, malu, dan lain sebagainya. Yang jelas setelah itu materi TO dilanjutkan, tanpa partisipasi yang baik dari para jas abu-abu.

Pra-TO kemudian berakhir. Perasaan setiap orang lega. Lega dan lega, meskipun rasanya capek luar biasa. Para jas abu-abu kemudian mengembalikan setiap atribut yang disita dengan berat hati. Hmm, beratnya karena mereka merasa jengkel. Atribut dikembalikan dengan cara dibantingkan. Kesel ga kalo nametag yang dibuang berhari2 dibanting begitu aja? (Walaupun punya saya berakhir juga di Bantar Gebang, udah gak berbentuk sama sekali!) Besok adalah Idul Adha Eve.. dan lusa adalah TO.. waktu terasa sangat cepat berlalu…

8 thoughts on “Trip Observasi : Sebuah Kenangan [2]

  1. ha2, wa inget tuh, waktu ketang ilang, wa ma blekhebonk menganggap itu hanya sandiwara belaka. jadilah wa bdiri (yg tdnya duduk), blekhebonk jg, dan seorang anak cowo d sblah wa. NAH, ANAK COWO ITULAH yg neriakin angkatan kta biar pada bdiri, bgabung dgn yg uda bdiri dluan d blakang. tp wa ga tau siapa plopor teriakan emperornya. huuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s