4 tahun pasca-tsunami : berubahkah Aceh?

Walaupun saya bukan putroe nanggroe asli, tapi saya care banget sama yang namanya Aceh? Kenapa? Karena Aceh pernah jadi bagian dari hidup saya. Saya pernah tinggal di Aceh selama kurang lebih satu tahun disana, belajar kebudayaannya dan sifat-sifat orangnya. Aceh merupakan sebuah daerah yang terdapat berjajar gunung-gunung, kebudayaan yang unik, sifat orang-orangnya yang ramah, dan tentu saja makanannya yang enak-enak.

Sayang, di tanah Nanggroe Darussalam yang elok ini telah terjadi 3 luka. Luka pertama adalah luka saat Belanda menjajah Aceh dan itu sudah disembuhkan dengan perjuangan rakyat Aceh dan proklamasi kemerdekaan RI. Luka kedua saat sekelompok orang yang berusaha untuk memisahkan Aceh dari NKRI, justru bukan pro-rakyat Aceh, tapi mereka membuat rakyat Aceh menjadi semakin takut dan diteror setiap saat. Luka ini tampak dari luar sudah sembuh, tapi diam-diam luka dalamnya masih tersisa bahkan setelah luka ketiga, yaitu Tsunami yang menghantam segala penderitaan rakyat Aceh saat DOM.

Tsunami terjadi tanggal 26 Desember 2004. Saat itu saya masih kelas 1 SMP dan tidak menyangka kalau tsunami bakal terjadi di tanah Nanggroe tercinta. Saya semakin pilu mendengar bahwa ratusan ribu orang HILANG disapu tsunami begitu saja. Korbannya lebih banyak daripada DOM yang telah bertahun-tahun adanya. Saya jadi terpikir, betapa menderitanya Aceh. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tapi ternyata Allah mengirimkan sebuah hikmah dan mauizah dengan Tsunami ini. Tsunami membuat rakyat Aceh peduli satu sama lain. GAM atau bukan. Orang pribumi atau orang Jawa.

atjeh-and-indonesia

Menara Baiturrahman berdampingan dengan bendera dwiwarna

Sesaat setelah tsunami, yang ada hanyalah doa-doa. Islam, Katolik, Protestan, Buddha, bahkan mungkin Hindu. Menyatukan doa mereka untuk Aceh yang lebih baik. Beberapa bulan kemudian doa mereka terkabulkan. Masyarakat dunia berbondong-bondong datang untuk menyembuhkan luka Nanggroe yang begitu parah. Saking parahnya, kalau luka ini ada di manusia, kemungkinan sembuhnya akan sangat tipis sekali. Berkat mukjizat Allah-lah, karena Allah masih menghendaki Aceh ada, Aceh sembuh kembali.

Derita Aceh semakin tersembuhkan tatkala pihak GAM dan RI berdamai dengan sebuah keputusan yang dibuat di Helsinki. Orang-orang Aceh semakin tersenyum lebar. Infrastruktur bertambah. Orang-orang Aceh tak sungkan dan takut lagi untuk keluar malam mencari makan, yang dulu bila keluar akan di-inspeksi tentara dan dikira orang GAM. Hukum syari’ah diterima secara luas dan rakyat Aceh tampak fine, meskipun beberapa tampak munafik dengan adanya qanun di Aceh.

Tapi…
Jangan pikir infrastruktur lengkap menjamin pembangunan Aceh. Pembangunan Aceh, jujur saja, cukup lambat. BRR yang bahkan telah mengeluarkan dana sebanyak triliunan rupiah tidak sanggup menyelesaikan rumah yang diharapkan, bahkan cenderung jelek. Jalanan boleh bagus, tapi bila masuk ke pemukiman warga, akan ditemukan bahwa warga cukup tidak senang…

image2394

Si pelerai berbaju putih sedang mendekap sang asongan berbaju hitam yang tampak mengacung tangannya

Helsinki Accord? Oh tidak, masih ada beberapa orang yang ingin membuat suasana Aceh semakin keruh secara tidak bertanggung jawab. Bayangkan, hampir setiap minggu di koran Serambi Mekkah bisa anda temui headline bertemakan “bom dilempar” atau “penculikan” atau “penembakan” dari satu pihak ke pihak yang lain. Bahkan emosi rakyat Aceh yang sebenarnya ramah bisa dipicu dengan sangat mudah. Baru bulan Juli kemarin saya pergi ke Aceh dan kaget ketika satpam yang mencoba untuk mengusir seorang pedagang asongan pun bisa dikeroyok. Apalagi itu terjadi di depan Masjid Baiturrahman dan sedang ada sebuah perhelatan besar.

Luar biasa.

Pendidikan? Untuk masalah pendidikan saya masih bersyukur bahwa di Aceh sudah sangat banyak lembaga-lembaga pendidikan yang berdiri. Seperti dari Turki, dari MediaGroup dan lain-lain. Intinya rakyat Aceh sudah tercukupi untuk masalah pendidikan. Tapi saya masih kecewa dengan perguruan tingginya, UNSIYAH, yang dari dulu sepertinya gak ada perubahan.

Intinya saya ngeliat kalau Aceh sekarang dengan Aceh yang dulu cukup berubah walaupun dalam beberapa sisi masih sama-saja. Seperti masalah politik yang terlalu banyak konspirasi dan intrik yang terjadi. Rakyat bingung harus bagaimana. Aceh, kehilangan figur pemimpin seorang Sultan Iskandar Muda. Bayangkan dalam waktu DOM, seorang Abdullah Puteh bisa korupsi ditengah penderitaan rakyatnya. Ngaku-ngaku pak Puteh pernah ke sekolah pakai kaki telanjang, tapi sekarang? Tak ingatkah beliau? Saya pernah diundang ke Pendopo pak Puteh saat kelas 4 dulu, dan mendengar cerita itu langsung dari beliau…

Allah, aku hanya bisa berharap, rubahlah Aceh dan Indonesia menjadi lebih baik. Tutuplah lukanya dan jadikanlah bangsa Indonesia ini cahaya bagi bangsa lain. Amin.

3 thoughts on “4 tahun pasca-tsunami : berubahkah Aceh?

  1. yah, memang selalu ada hikmah dibalik semua kesusahan. Tergantung orang berpikiran apakah positif, atau negatif dari balik kejadian tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s