Perjuangan Siswa KI dari Perspektif Siswa KI Sendiri

Oleh Hadza Min Fadhli R
Siswa XI KI SMAN 81 Jakarta

Buku-buku yang cukup tebal, setebal 200-500 halaman, sudah biasa oleh dibawa seorang siswa KI dari sekolahnya ke rumahnya. Dia membawa bukunya ke rumah, tidak menaruhnya di loker di sekolah, karena orangtua nya menyuruh untuk seperti itu. Buku-buku itu sebagian imported, langsung dari percetakannya di London atau di Dubai, dengan publisher “Cambridge University Press”. Harganya sudah pasti mahal, tapi apalah mahal jika kita benar-benar mendapat ilmu dari buku itu. Toh, tetap saja. Buku ini walaupun sudah jelas-jelas buku subjek pelajaran, menjadi objekan orang-orang Bea Cukai yang maruk. Buku IGCSE Cambridge pernah tertahan selama 1-2 bulan di daerah Priok sebelum di distribusikan ke SMAN 8, sampai mereka hanya menggunakan secarik fotokopian dari buku subjek yang dimiliki guru mereka.

Ironis kan? Untuk pendidikan, kok dipermainkan dan diuangkan!

Seorang anak KI juga harus berjuang diantara 2 kurikulum. Kurikulum itu adalah Diknas dan Cambridge. 2 kurikulum ini sangat berbeda dalam sistem, tapi dalam isi materi ada beberapa yang sama. Mungkin ada materi kurikulum di Diknas yang tidak ada di Cambridge, bahkan sebaliknya. Bahkan yang diajarkan di Cambridge sudah masuk ke tema semester 1 Universitas! Menurut Depdiknas, yang memegang kendali atas sebuah proyek berjudul “Kelas Internasional”, siswa KI diharapkan memiliki kompetensi lokal dan internasional sehingga bisa membangun negaranya dengan prinsip “Think Globally Act Locally”. Tentunya berat dan susah bagi siswa KI untuk belajar dengan 2 kurikulum dan buku cetak yang berbeda. Namun, agaknya tak terlalu susah, seperti yang sebelumnya sudah disebutkan, bahwa beberapa materi Cambridge dan Diknas mempunyai kemiripan.

Pengalaman saya selama ini bahwa siswa KI bisa-bisa aja dengan 2 kurikulum ini, meskipun harus niat dan kerja keras. Kalau yang tidak kerja keras, bisa slip-off, dan seperti percuma saja masuk KI (Guru-guru sudah mengingatkan hal ini, ini ibarat untuk orang yang benar-benar hopeless [Ayam Sakit mau mati]! Kalau nggak hopeless masih banyak kesempatan! Ayo berjuang!) Beberapa materi Cambridge ada yang masuk dalam subjek kelas 3 SMA (padahal si siswa masih kelas 2-misalnya). Contoh tema Buffer Solution di Chemistry A Level yang sepadan dengan tema Larutan Penyangga yang ada di kelas 3 SMA (saya baru belajar tema ini). Mungkin tema Virus di kelas 1 SMA yang baru ada di A Level Cambridge.

Nah siswa KI juga sering dipersalahkan dengan turunnya grade UN di SMA tsb. Contoh terjadi pada kakak kelas saya yang akan menjadi lulusan pertama KI. Seorang oknum guru terang-terangan memasang nilai mereka dan dibandingkan dengan siswa akselerasi. Ini membuat kakak kelas saya marah dan mencopot daftar itu. Yah, jujur saja, kasus turunnya grade UN ini telah terjadi di SMAN 8. Tapi SMAN 8 terus memperbaiki diri mereka.. dan hasilnya.. tidak terlalu buruk sampai sekarang..

Seperti aksel yah, hanya lebih berat. (Guru-guru saya selalu bilang seperti itu)

Sering muncul anggapan negatif pada KI saat KI diluncurkan. Seorang anggota DPR, sempat mengatakan bahwa program KI membuat pemisahan antara siswa biasa dan siswa KI yang dikatakannya ekslusif. Padahal kata si anggota DPR ini pendidikan harus merata dan diberikan ke semua orang dan program KI membuat kecemburuan sosial! Sebenarnya program KI ini ditujukan untuk semua orang, tapi apa daya Diknas yang belum bisa meratakannya ke semua SMA, karena toh hanya beberapa SMA saja yang capable. Biaya untuk KI pun cukup mahal kalo ditanggung oleh pemerintah, jadi hanya mereka yang benar-benar mampu bisa membayar.

Mungkin masalah KI ini yang dimaksud oleh Pak Aleg DPR adalah masalah pergaulan antara anak KI dan anak regulernya. Kalau si bapak mampir di blog saya, baca ya pak pengakuan saya ini. Pergaulan anak KI dengan anak SMA reguler masih lancar-lancar saja. Seakan tak ada pembatas yang membedakan anak KI dan anak reguler kecuali materi pelajaran dan jam pulang (hehe.. anak KI bisa pulang sampai +30 menit dari anak-anak reguler). Mungkin beberapa anak KI masih mengeksklusikan diri mereka, tapi itu harus segera diperbaiki, agar tidak muncul kecemburuan sosial seperti yang si bapak Aleg DPR ini bilang.

Sampai sekarang, kelas KI saya (kecuali kelas X dan XII yang jarang-jarang) masih sering mengadakan eksebisi melawan anak kelas reguler. Kemarin menang 13-9.

Beberapa masalah yang sering dihadapi oleh baik wali murid dan murid KI sendiri adalah masalah fasilitas yang dijanjikan baik, malah ternyata tak seberapa. Usaha sekolah tidak terlalu maksimum dalam melengkapkan fasilitas yang di-inginkan para wali murid dan murid sendiri. Muncul kekecewaan seolah percuma saja masuk ke program KI, toh hanya dapat loker (realisasi di reguler tahun 2010), laptop (itupun perkelompok) dan LCD (LCD sendiri sudah masuk juga ke seluruh ruang kelas reguler). Tapi ya, tuition fee untuk sekedar belajar dan buku cetak sudah cukup mahal. (Tuition fee juga dipergunakan untuk lokakarya guru yang bayarannya jutaan rupiah [padahal cuma sehari dua hari!] jika dikonversi dari GBP). Apalagi kalau mau nambah fasilitas, pastinya jadi lebih muahal.

Di beberapa SMA, seperti SMAN 8, program KI juga ada. Entahlah di beberapa lubuk hati teman-teman saya muncul sedikit rasa iri sama anak SMAN 8, karena mereka sudah mengadakan program study research selama 5 hari di Singapura. Sedangkan plan di SMAN 81 belum tentu gagal dan ada sedikit harapan, tapi tentunya waktu yang sempit menjadi alasan untuk program study research (yang rencananya ke Singapura) menjadi gagal.

Masalah lainnya adalah profesionalisme guru. Wali murid yang sering komplain ke sekolah setelah mendengar aduan anaknya, bahwa guru yang ngajar itu gak profesional dan kaku seperti di reguler. Sempat ada kasus dengan seorang guru agama baru yang ngajar di kelas KI di SMA saya yang kemudian di exchange dengan guru lain yang tahun kemarin ngajar di kelas KI yang sama. Wali kelas saya sih pernah bilang, “Kamu masih mending dapet guru yang sebenarnya udah terpilih. Kalo kamu lihat kelas reguler, gak bakal tahan kamu. Lebih parah pokoknya…”.

Saya hanya bisa menghela nafas..

Begitulah sekelumit dari perjuangan siswa KI. Melelahkan tapi Insya Allah nggak akan percuma masuk KI.

Insya Allah😀

15 thoughts on “Perjuangan Siswa KI dari Perspektif Siswa KI Sendiri

  1. wadoh, rajin benar anda.
    ”aah kasarnya sih, ‘ayam sakit mau mati, ga punya motivasi’, tp saya ga mau bilang kasar.”
    jadi inget kan…

  2. yaampun perhelatan anak KI, sabar ya. Ada Emperor mengiringi kok (:
    Eh tapi bener loh coba lo belajar di kelas reguler, bedeh. Mana tahan banget dah gurunya kacho semua

  3. wahh iya emang bener banget itu. belajar di KI capek nauzubillah hahaha.. belom lagi tuntutan nilai bagus. bukan tuntutan juga sih, emang ya kesadaran diri juga. dan ya angkatan kelas X nya yang kmaren disuruh belajar matematika cuma 3.5 bulan. can you imagine that kan.. betapa repotnya. tapi Alhamdulillah nilai nya paling kecil cuma D itu juga cuma satu org hehehe🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s