Wartawan Indonesia di Medan Perang

Sebuah perang yang cukup menarik minat masyarakat dunia saat ini telah terjadi yaitu Konflik di Gaza yang mengakibatkan 1000+ lebih tewas dan 5000+ terluka setelah Gaza digempur dalam 20 hari lebih. Di sisi lain, TV-TV seakan tak pernah bosan untuk memberitakan agresi Israel ke Gaza, padahal sudah hampir 3 minggu agresi ini berjalan. Walaupun ada beberapa headline di TV Indonesia yang cukup diamati seperti gempa Manokwari dan tenggelamnya KM Teratai, juga masalah banjir, toh itu semua kurang (gak kurang-kurang banget sih) menyedot perhatian publik yang sudah menekuni pemberitaan tentang konflik di Gaza.

Fenomena peliputan TV Indonesia tentang Gaza sangatlah menarik.

Beberapa TV berusaha untuk menampilkan situasi terkini dan terdetil seputar Gaza. Sebuah stasiun TV baru (tepatnya remake) yang berusaha untuk melakukan effot tersebut adalah TvOne, yang dimiliki oleh Bakrie (kita tau lah kalo Bakrie Group itu punya banyak uang). Hampir di setiap liputan TvOne pasti sekitar 45%-50% nya dipenuhi dengan liputan-liputan dari Gaza secara langsung!

Mereka mendapatkan izin dari Al-Jazeera Arabic untuk merelay tayangan al-Jazeera sehingga masyarakat Indonesia bisa mengamati lebih dekat dan detil tentang situasi di Gaza. Apalagi relay Al-Jazeera Arabic ini didukung oleh penerjemah-penerjemah kelas kakap (profesional) seperti Anan Nurdin, Lilik Nur Aulia, dll. Semuanya berpengalaman.

TvOne juga mengirimkan koresponden mereka ke titik terdepan di daerah Rafah. Stasiun TV lainnya, seperti SCTV juga tak mau ketinggalan untuk terus mengupdate kondisi Gaza terkini dengan mengirimkan koresponden mereka juga ke daerah Rafah. Tampaknya memang koresponden-koresponden ini terus tertahan di daerah Rafah. Metro TV, TransTV, Trans7, Antv, RCTI, dan TVRI mengirimkan juga koresponden mereka ke daerah Kairo, Amman, dan Rafah. Mungkin hanya sekedar untuk update info langsung dari sana.

Wartawan Indonesia sudah sering dikirim ke medan perang. Baik itu di dalam atau di luar negeri.

INDONESIA

Contoh saja saat peliputan konflik DOM TNI-GAM di Aceh. Dimana saat itu RCTI mengirimkan korespondennya, Alm Ersa Siregar ke frontline medan perang di Pidie. Memang pada saat itu konflik sedang parah-parahnya di NAD. Kemudian, Alm Ersa Siregar disandera oleh pihak GAM selama 6 bulan bersama dengan kameraman Ferry Santoro yang selamat dan supir RCTI. Mereka ditangkap dengan tuduhan mereka bekerja sebagai agen BIN yang memata-matai GAM. Alm Ersa Siregar harus meninggalkan kita semua (kata sebelumnya terlalu kasar) ketika TNI-GAM sedang melakukan kontak senjata.

mhafid

Satu lagi. Mungkin kasus Meutya Hafid dan kameramen Budiyanto masih terngiang di telinga kita. Selama 7 hari mereka disandera oleh Faksi Mujahidin Irak di kota Ramadi, salah satu kota yang cukup berbahaya dan rawan konflik di Irak. Dalam 7 hari tersebut, mereka memang dalam kungkungan sandera. Tapi untunglah, karena mereka adalah muslim, sandera bersikap cukup baik kepada mereka. Mereka diberikan makanan yang cukup. Dan untungnya lagi, pemerintah bertindak sangat cepat dalam kasus ini, untuk membebaskan wartawan mereka yang berada di Irak, sehingga dalam waktu sepekan berkat lobi ulama dan pemerintah mereka bebas, bahkan sekarang Meutya Hafid menjadi caleg di Partai Golkar.

Wartawan perang bukanlah wartawan biasa. Para wartawan perang harus berkorban dengan nyawa dan jiwa mereka untuk sebuah berita. Wartawan-wartawan ini harus punya nyali tinggi untuk bisa menembus garis depan, melihat darah bergelimpangan, berada di tengah rentetan tembakan dan ledakan mortir, sampai berada di dalam sandera kelompk tertentu.

Wartawan perang adalah pahlawan. Pahlawan yang memberitakan kebenaran di antara dua pihak yang bertikai. Pahlawan yang memberitakan penderitaan rakyat yang tak tahu apa-apa dan kemudian menjadi korban.

Salut untuk para wartawan perang, khususnya yang telah mengorbankan jiwa mereka bagi sebuah berita bermutu tinggi dan independen.

6 thoughts on “Wartawan Indonesia di Medan Perang

  1. jadi wartawan itu memang berat, apalagi yang di terjunin langsung ke medan perang.
    selain bertahan hidup, mereka juga harus menyajikan fakta-fakta yang mereka liat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s