Dakwah Complex

Sabtu malam, saya dan teman-teman halaqoh lagi kongkow di masjid (lebih tepatnya, liqo). Sewaktu jam menunjukkan pukul 9:50, kita sedang ngobrolin tentang proker (yihaa, halaqoh juga punya proker) dan kemudian dilanjutkan dengan sharing kehidupan masing-masing. Kali ini masalah-masalah yang dihadapi oleh teman saya, yang diceritakan dalam sharing, cukup luar biasa. Mereka menceritakan problematika dakwah ROHIS di SMA mereka masing-masing. Setelah mendengar cerita itu, jujur saya ngerasa malu, karena saya yang lulusan pesantren malah gak ikutan ROHIS.

Dari sini, saya bisa mengetahui bahwa di lingkungan SMA saja, ROHIS sudah terombang-ambingkan dengan banyak masalah yang rumit. Gimana di LDK Universitas yah? Saya akan menceritakan masalah-masalah dakwah, yang disini akan saya ceritakan. Tentu saja dengan identitas yang dirahasiakan.

First case is about differences. Islam adalah sebuah agama yang mempunyai lingkup ilmu yang luas sekali (luas belum tentu LIAR). Lingkup ilmu yang luas ini karena adanya penerjemahan atau penjelasan ilmu yang berbeda-beda dari setiap ulama. Setiap ulama memiliki ijtihad sendiri (manusia mana bisa sama pikirannya!) yang unik dari yang lain. Nah, saya ingin cerita tentang seorang teman yang bersekolah di sebuah sekolah di Metropolitan Jakarta ini. Sebut saja Gofur. Gofur adalah seorang aktivis ROHIS dan sekaligus seorang ketos yang baru terpilih.

Suatu hari Gofur berdiskusi dengan temannya yaitu seorang pengikut Salafi bernama Aziz. Mereka membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan fiqih saat Pelajaran Agama Islam. Diskusi mereka menjadi cukup panas saat adanya friksi karena perbedaan prinsip pada masalah fiqih. Mengenai masalah ini, pembina (murobbi)  saya bilang..” just ignore our differences in firqoh (percabangan).. mau dia orang Hizbut Tahrir, orang Ikhwan, orang Salafy, tetaplah mereka orang Islam! Jangan pernah coba untuk saling menyesatkan! Persatuan umat Islam lebih berharga dari sekedar perbedaan firqoh…”

Second case is about “lost”. Sebuah SMA di Jakarta Timur yang sudah lama berdiri, mungkin sejak tahun 80-an. SMA ini adalah sebuah SMA swasta dan popularitasnya sudah mulai tergusur dengan sekolah-sekolah negeri. Seperti halnya SMA-SMA lain sekolah ini juga punya ROHIS. Sayang.. ROHIS ini sirna. Bukan berarti sirna seutuhnya, tapi generasi junior seolah apatis dengan ROHIS.. tapi menurut info dari aktivis senior ROHIS dari SMA tersebut.. siswa-siswa di angkatan bawah mereka diapatiskan oleh sekolah! Sekolah sengaja menghindarkan mereka dari kegiatan ROHIS, entah apa alasannya itu..

Third case is about fitnah politisasi ROHIS. Fitnah ini mulai merebak ke hampir semua ROHIS di SMA-SMA. Entah kenapa, ROHIS selalu dianggap affiliated terhadap sebuah partai. Anda mungkin tahu partai apa yang dimaksud membina ROHIS-ROHIS SMA. Ada sebuah kasus di sebuah SMA di Bekasi, dimana ROHIS berencana akan mengadakan acara munashoroh (solidaritas) untuk Palestina. Saat mengajukan proposal ROHIS ke kepala sekolah, kebetulan kepala sekolah sedang kedatangan tamu. Tapi tetap saja ROHIS diperbolehkan masuk.

Saat seorang anggota ROHIS menjelaskan acara munashoroh Palestina, sontak si tamu ini merespon, “Wah acara-acara ROHIS kaya gini pasti dibekingi sama PKS ya?”.  Gelp, begitulah respon anak-anak ROHIS. Sebenarnya untuk masalah ini, bisa dijelaskan secara gamblang. ROHIS memang yang membangun adalah orang-orang tarbiyah, yang kebanyakan dari mereka adalah orang-orang PKS. Toh kita tak perlu ragu, asalkan kita tahu batasnya dimana bekerja sebagai seorang aktivis dakwah di kepartaian atau aktivis dakwah di lingkungan sekolah. Karena sekolah adalah daerah netral untuk aktivitas-aktivitas politik (walaupun kepala burung garuda sekarang sering nongol di baju-baju anak SMA trus dipake ke sekolah).

Fourth is case about phobism. Beberapa sekolah sangat takut dengan eksistensi ROHIS. Mereka takut dari ROHIS akan muncul kader-kader fundamental Islam (jauh amaat). Mereka takut ROHIS akan lebih berkuasa dari OSIS, dsb.. Terutama setelah kita membaca kasus penculikan Raisah Ali, yang diantara penculiknya itu adalah seorang anak ROHIS dari sebuah SMA di Jakarta. Orang akan berpikir, “Wah bener nih, jangan-jangan ROHIS memang fundamentalis dan isinya pengajaran teroris”. Untuk merespon hal ini, toh kita perlu berpikir, siapa sih yang mendidik penculik dari ROHIS ini? ROHIS-ROHIS lain mah mana ada yang ngajarin buat nyulik orang, buat nyiksa orang apalagi sampe perencanaan bom di mal! All we need to do is to find a good mentor to teach us in ROHIS..

Guru-guru saya di Pesantren sudah mewanti-wanti soal mencari mentor terbaik di ROHIS dan tentunya bukan mentor macam-macam. Sekarang kan memang sudah zaman liberal, bebas. Remaja adalah sasaran empuk ideologi-ideologi yang berkedok Islam tapi isinya.. busuk! Seperti sekularisme dan liberalisme yang dibawa JIL, atau mungkin ultra-chauvinisme oleh NII KW 9 Az-Zaytun. Kita harus memilih sebuah arah menuju Islam yang moderat. Sekarang memang sudah banyak tarbiyah yang berbasis Islam moderat. Tujuan moderat supaya orang-orang gak menganggap lagi Islam sebagai hal yang menyeramkan, kekerasan, tapi cenderung supaya orang memandang Islam sebagai ajaran yang fleksibel dan welcome.

Tapi moderat bukan berarti BABLAS seperti JIL yah!

Itu baru sekian dari masalah-masalah yang dihadapi oleh anak-anak ROHIS. Ini belum termasuk masalah yang mungkin juga patut diperbincangkan, yaitu masalah pemurtadan di sekolah-sekolah menengah.

Dengan posting ini, mudah-mudahan anda, para kader ROHIS maupun LDK yang membaca tulisan ini akan semakin tergugah semangatnya dan terbuka pikirannya untuk terus melakukan yang terbaik demi dakwah kita di jalan Allah sampai saatnya kita meninggalkan dunia ini..

Allahu akbar!

4 thoughts on “Dakwah Complex

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s