Ujian Nasional?

Dua minggu yang lalu, kurang lebih, saya ikut Ujian Nasional tingkat SMA/MA.  Secara umum sih, menurut saya, UN berlangsung cukup lancar di sekolah saya.. ya baru sekolah saya.. gak ada kasus apa-apa yang terendus.. macam nyontek dsb..

Tapi memang kesuksesan program UN bisa ditentukan di satu sekolah saja? Oooh jelas tidak…

Dari Sabang sampai Merauke, ternyata masih banyak carut marut yang terlihat dalam Ujian Nasional TA 2009/2010 ini..

Kalo kita cermati pernyataan Mendiknas, M. Nuh, di media-media cetak dan elektronik, beliau meyakinkan bahwa pelaksanaan UN akan berjalan sangat lancar sebagaimana mestinya. Toh, perkataan ini gak sepenuhnya benar kan.. Dalam posting ini saya akan menunjukkan beberapa fakta yang membuat sistem UN seolah belum berganti/beranjak dari semula.. fakta-fakta tersebut akan saya tunjukkan dalam beberapa poin

Segel sakral

1. Standardisasi soal. Kita tahu, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala soal meratanya tingkat pendidikan. Soal meratanya tingkat pendidikan ini sudah jadi masalah dari sejak ORBA dan sampai sekarang belum terlalu terselesaikan. Sebabnya ya entah karena kendala transport/terlalu terpencilnya suatu area, dan sarana-prasarana yang tidak memadai. Nah, dari tingkat pendidikan yang kurang merata inilah maka tingkat pelajaran yang dikuasai pun pada setiap daerah akan berbeda-beda levelnya. Anak-anak DKI Jakarta pastinya punya kepintaran lebih daripada anak Papua (no SARA), sebab anak-anak DKI Jakarta mendapat porsi ilmu lebih ketimbang anak Papua yang porsinya lebih kecil sebab sarana-prasarana yang tidak mendukung. Pada UN kali ini, pemerintah memang mencoba untuk menyamaratakan standard soal untuk semua daerah di Indonesia, tapi toh tetap saja, anak-anak di daerah tetap merasa kesusahan mengerjakannya. Bahkan anak-anak DKI sekalipun! Entah karena malas belajar? Bisa jadi, tapi mungkin saja tidak.  Saya yakin siswa/i SMA seperti saya pasti berjibaku untuk lulus UAN. Tidak ada yang mau ikut Paket C kecuali terpaksa. Ini karena tingkatan soal yang sama digunakan oleh siswa senusantara! Seharusnya pemerintah melakukan cara lain dengan menyesuaikan soal dengan daerahnya. Tugas pembuatan soal tetap di serahkan ke pusat, hanya saja dengan bantuan guru-guru daerah tersebut yang tahu bagaimana kompetensi dan standard pendidikan provinsi disana.

Situasi sekolah persis setelah hari terakhir UN

2. Jual-beli KUNJAW (Kunci Jawaban). Seorang temen saya, mengkritisi “kepedean” pak Mendiknas yang menyatakan bahwa tidak ada soal yang akan bocor dengan menulis status di FBnya seperti ini: “jangan remehkan kekuatan dari ketamakan manusia!!”. Anda pasti mengerti kan apa yang dimaksud temen saya ini? Ya.. namanya juga Indonesia, yang namanya bisnis suap-menyuap untuk mendapatkan sesuatu itu adalah sebuah hal yang sangaat lazim, bahkan di tengah gencar-gencarnya reformasi birokrasi. Soal UN merupakan sesuatu yang agaknya susah susah gampang didapat, dan juga dengan modal yang agak tinggi. Biasanya, dari pengamatan saya, soal UN didapat dari menyogok para penjaga soal UN (para polisi) atau saat docking soal ke sekolah pusat rayon. Saat-saat itulah saat rawan dimana soal bisa saja dibuka, entah untuk dicek kelengkapannya atau hal lain. Tentu saja itu digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk mengambil selembar soal, kemudian entah dikopi atau difoto dan di kirim ke oknum yang memesan jawaban soal UN. Kemudian setelah di dapatkan soal UN tersebut sang oknum yang memesan itu akan mengerjakan soal UN tersebut/mengkonsulkannya kepada ahli subjek tersebut, kemudian muncullah kunci jawaban. Dari situ, kunci jawaban kemudian di sebar kepada siswa-siswa yang telah meminta kunci jawaban dari oknum pembocor tersebut. Biasanya kunci jawaban sudah tersebar 1-2 jam sebelum UN dimulai, berarti aproksmasi pengerjaan soal adalah 3-5 jam sebelum UN. Tarif yang biasa dipatok oleh oknum pembocor biasanya sekitar 100ribu-3juta. Ya! Ada yang berani mematok harga diatas 3juta bahkan, karena mereka sudah amat yakin dengan soal dan kunci jawaban dengan segala kombinasinya.. nah karena inilah kadang-kadang dalam sebuah angkatan dibentuk sebuah timses untuk meluluskan angkatan mereka, yakni dengan urunan uang, sekitar 100ribu per anak hanya untuk mendapatkan kunci jawaban sebuah soal UN (paket A/B)

LJK UN di percetakan (courtesy dedywitagama)

3. Masalah teknis. Teknis itu sebenarnya sederhana saja.. karena koordinasi yang kurang baik dan ketelitian yang tidak cermat yang membuat banyak masalah teknis terjadi pada pelaksanaan UN. Contoh bisa kita lihat apa yang terjadi di Bali, yakni tertukarnya soal bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris.. wah itu kacau sekali kan?! Selain tertukar soal bisa menghabiskan banyak waktu siswa menunggu soal yang baru datang, soal bahasa Inggris yang seharusnya dikerjakan pada hari selanjutnya bisa dibaca siswa sekilas sehingga tampak seperti bocoran! (meskipun hanya beberapa saat, tapi paling tidak siswa sudah dapat gambaran soalnya).  Contoh lain adalah soal yang tintanya kabur sehingga soal tidak terlihat begitu jelas, dan lain-lain. Depdiknas sih mengakunya sudah menindaklanjuti permasalahan teknis ini ke pihak percetakan Balai Pustaka, mudah-mudahan masalah-masalah teknis seperti ini tidak akan terulang pada UN tahun depan (AMIN)

Mobil Polisi nongkrong di depan sekolah saya

4. Pengamanan. Ini juga menjadi masalah, setidaknya di beberapa sekolah. Ada saja sekolah yang diamankan secara berlebih, beberapa media memberitakan hal itu. Hal ini wajar saja di sekolah yang menjadi sentra rayon, tapi dengan sekolah yang tidak? Kadang-kadang ada saja polisi yang menjadi pengawas tambahan ketika UN. Ini membuat mental siswa/i yang mulanya PD menjadi agak drop, karena merasa terintimidasi dengan kedatangan polisi di ruangan ujian/di depan ruangan ujian mereka. Seharusnya polisi cukup menjaga saja di ruang guru/depan sekolah.

5. Masalah waktu. Entah karena Ramadhan jadi maju ke bulan Agustus atau apa, yang jelas UN yang semestinya dan biasanya diadain bulan April, malah dimajuin ke bulan Maret. Keputusan Mendiknas tahun kemarin itulah yang membuat diknas provinsi, sekolah-sekolah, dan terutama para siswa/i menjadi kelabakan. Tapi, ada hikmahnya juga sih, kalo seandainya UN tidak dimajukan, maka tes PTN akan berlangsung sebelum UN, dan itu lebih kacau lagi.

Nah, itulah fakta-fakta yang menurut saya, membuat UN menjadi tidak sesempurna apa yang Bapak Mendiknas inginkan. Semoga tahun depan, saat angkatan adik kelas saya UN, kesalahan-kesalahan diatas tidak terulang lagi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s