Wara-wiri ke Museum Sumpah Pemuda

Kapan ya, saya pernah ke Museum Sumpah Pemuda? Ya, pokoknya tahun kemaren lah, mungkin sekitar bulan Desember 2009 pas film 2012 lagi booming-boomingnya.

Hari itu, saya lagi gak ada kerjaan. Di sekolah sebenernya ada acara, cuma malees banget rasanya buat ngeliat sekolahan. Akhirnya saya mutusin buat pergi, ya semacem bolang tapi gak bolang juga, lebih mirip wandering around. Pas nyampe di Kp. Melayu, akhirnya saya udah punya rencana ke Museum Sumpah Pemuda yang lumayan gampang tempatnya, deket dari shelter Pal Putih kalo gak salah.

Letak Museum Sumpah Pemuda sih.. sebenernya agak gak terlihat, karena nyempil diantara bangunan-bangunan ruko di area Kwitang, juga gak terlalu jauh dari Museum Prasasti dan Pasar Tanah Abang. Cuma tetep aja, kalo mau ke Museum ini, mata anda semua harus agak jeli lah… letaknya di lajur kiri jalan kalo anda ikutin arah lurus ke Atrium.. kalo gak jeli ya anda kebablasan, dan muter balik lagi..

Museum Sumpah Pemuda

Museum Sumpah Pemuda.. so apa sih istimewanya? Bangunannya gak terlalu mencolok, susah nyarinya,  dan udah tua. Tapi, nilai historisnya bener-bener gak ternilai. Di museum ini dulu… sekitar 82 tahun yang lalu, pemuda-pemuda Indonesia dengan uang modal f. 120 (kalo sekarang sekitar 5 jutaan) berkongres untuk menyepakati sebuah kesepakatan yakni Sumpah Pemuda. Seandainya aja gak ada Sumpah Pemuda, mungkin sejarah Indonesia udah beda, karena Sumpah Pemuda ini merupakan batu tolakan untuk jenjang perjuangan yang lebih tinggi..

Selain buat Sumpah Pemuda, museum itu juga dipake buat tempat wisma mahasiswa Indonesia. Bukan sembarang mahasiswa karena yang pernah tinggal disana adalah Mr. Asaat (PM ad interim) dan Mr. Moh. Yamin (saya yakin anda dah tau lah siapa dia).

Sayangnya, pemerintah gak begitu menghargai bangunan monumental ini. Pengelolaan museum ini pun.. pas saya liat, gak begitu bagus. Ya ditunjukin dengan pegawainya yang keliatan gak serius, meskipun ya mereka mencoba seramah mungkin. Pas saya dateng, kebetulan saya dateng pertama, dan emang udah ada satu satpam yang jaga. Cuma pas ditanya harga tiketnya berapa, eh si pak Satpam ini malah bilang, “Dek, tiketnya hilang, saya cari dulu ya!”.

Duh, saya gak kebayang kalo seandainya ya, seandainya bule yang justru dateng ke museum itu. Betapa tercorengnya pariwisata Indonesia cuma gara2 ketidakprofesionalan petugas.

Setelah sekian lama, akhirnya tiket itu ditemuin. Kalo gak salah, tukang pramubaktinya yang nyimpan tiket itu disuatu tempat.

Akhirnya saya bisa masuk museum, dan.. sepi. Ya, sepi. Wajar saya yang dateng pertama. Di depan, ada semacam peta dan maket yang menjelaskan pergerakan kebangkitan Indonesia. Tapi sayang, font dan warnanya udah agak puder, jadi agak jelek aja. Terus saya liat-liat koleksi, yang gak lebih dari sekedar foto, tapi ya cukup menceritakan pergerakan waktu itu. Kebanyakan foto-foto pandu, ada juga foto-foto Indonesische Vereninging, dan foto pergerakan lain yang disertai detail tentang siapa dan apa foto itu.

Tokoh-tokoh di ruang sidang Sumpah Pemuda.

Masuk ke ruang utama adalah ruang sidang. Tempat paling penting dan utama di Museum Sumpah Pemuda. Ruangannya cukup luas. Ada diorama patung yang nunjukin beberapa tokoh yang duduk di meja sidang, ada juga teks lagu Indonesia Raya yang dituliskan di dinding. Yang paling penting lagi juga ada salah satu koleksi penting yaitu koleksi biola WR Supratman yang dipakai buat melantunkan lagu Indonesia Raya. Waktu disitu, ya saya agak merinding juga sih, bukan karena sendiri, cuma nuansanya beda aja. Saya ngebayangin saya balik ke 1928, dimana pemuda-pemuda lagi sumpel-sumpelan dan antusias mengikuti kongres.

Selesai dari situ, saya ke tempat lain. Ya saya namain sektor itu sektor AMPERA dan REFORMASI (zona perjuangan pemuda pasca kemerdekaan). Ada macem-macem koleksinya. Ada vespa yang dipake KAMI untuk antarjemput aktivis, ada koleksi foto aksi-aksi AMPERA/TRITURA dan agak unik ada juga kaus yang penuh bercak darah, yang dipake sama Ade Irma Suryani pas ditembak Tjakrabirawa.. di sektor reformasinya cuma ada koleksi-koleksi foto yang umum banget lah, gak terlalu spesial.

Prasasti Sumpah Pemuda

Satu landmark yang wajib diliat di museum ini adalah tugu Sumpah Pemuda. Tugunya itu merupakan simbolisasi semangat pemuda untuk berjuang demi bangsanya, bentuknya kepalan tangan. Di sekeliling tugu itu ada relief, cuma saya gak terlalu ngeliat detailnya. Karena saking sepinya museum itu, sekitar 30 menit kemudian, saya langsung chao, dan pergi ke Atrium buat nonton 2012.

Banyaklah hal yang saya harapkan sebenernya dari Museum ini. Terutama untuk mengevolusi bentuk museum yang sangat MEMBOSANKAN. Sekarang, sepertinya museum ini gak match buat kawula muda, padahal seharusnya museum ini HARUS dikunjungi generasi muda. Pemda seenggaknya menjadikan museum ini sebagai teenage corner, semacem tempat nongkrong anak muda. Jadi bentuk  museum ini harus diubah, direnov tanpa menghilangkan kesan historisnya. Ikutin aja gaya-gaya museum di Singapura, kesannya emang klasik tapi tetep catchy atau dengan menambah gedung baru di dekat museum (walaupun biayanya mahal dan emang susah nyari lahan di sekitar museum tersebut).

Mudah-mudahan aspirasi saya di denger ama Dinas Pariwisata DKI JAKARTA, supaya emang museum ini gak dibiarkan begitu aja.

Selesai..

5 thoughts on “Wara-wiri ke Museum Sumpah Pemuda

  1. Ping-balik: Sejarah Sumpah Pemuda “28 Oktober 1928″ « Peradaban dalam Sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s