Menemukan Romansa Jogjakarta

Seperti yang anda semua tahu, para pembaca tercinta, sekarang aku di Jogja.

Sekitar setengah tahun, hampir genap, ya selisih sedikit kalau ada, aku sudah ada di tanah Sultan ini. Sudah sekian bulan aku merasakan udara, makanannya, bertemu orang-orangnya, juga menemukan sebuah atmosfer cinta dan suasana persahabatan yang berbeda.

Ya, Jogja memang terkenal dengan kesederhanaannya, kawan.

Aku benar-benar menikmati kesederhanaan itu, hidup di kos sederhana, pergi ke kampus dengan sederhana, menikmati segala yang sederhana setelah kutinggalkan apa yang kusebut sebagai kemewahan bak raja di Jakarta…

Tapi, terkadang ada rasa bosan serta galau yang menghujam hatiku. Memang, kebosanan hidup di kota yang sederhana serta suasana sendu kota Jogjakarta dengan hujannya yang terus menerus, terutama hari – hari ini membuatku lebih bersifat phlegmatis…kalau melankolis sih.. memang sudah sikapku dari sana..

Namun…

Aku – entah sekitar 2 atau tiga minggu lalu – menemukan sebuah romansa Jogjakarta yang tak biasa, yang beda dari yang lainnya. Memang, banyak fenomena Jogja yang istimewa.

Ketika kamu mengendarai sepeda sambil menikmati udara pagi ketika berangkat ke kampus..
atau menikmati malam hari di pinggiran alun-alun dan Malioboro dengan suasana meriahnya yang begitu simpel tapi mengena..
atau sekedar mencari pencerahan di Kaliurang atas..

Ya. Saat itu aku sedang galau.. tapi kemudian, temanku mengajak aku untuk nongkrong di sebuah angkringan. Ya sekadar untuk mengalihkan gegalauanku, sambil ngobrol macam hal, dan minum teh.

Ya kukira itu angkringan biasa, tapi ternyata beda. Dari angkringan-angkringan yang pernah kutemukan, baru yang satu inilah tukangnya bisa bernyanyi keroncongan secara bagus dan luar biasa. Ya, mungkin banyak yang lain, kata temanku yang orang Jogja.. tapi ya dengan bertemu yang satu ini.. aku udah kagum banget..

AH!
Sejenak muncul semacam taman di hatiku. Suara tukang angkringan ini, seorang bapak yang umurnya paruh baya, menyentuh perasaanku yang galau. Sambil minum teh, aku menikmati alunan merdu “Bengawan Solo” yang mengalir begitu saja dari epiglotis bapak itu…. ditemani gitar dari teman sang bapak penjaga angkringan.

“Mantap, pak”, kata temanku, “ya gak za?”

Aku hanya bisa terdiam. Sambil menghirup teh berikutnya, aku merasa telah menemukan romansa Jogja yang tak biasa.
Sebuah momen yang mungkin, tak akan terlupa.

Temanku kemudian tanya ke bapak penjaga angkringan itu, “Bisa nyanyi apa lagi pak?”
Kata si bapak, “Wah saya sudah banyak lupa mas…”
“Kayanya bapak ini dulu penyanyi keroncong ya..”
“Iya mas, dulu saya sering main di klub musik keroncong, pernah menang lomba di kecamatan. Sekarang, sudah jarang. Tapi kadang-kadang dapat undangan dari tetangga untuk sekedar nyanyi-nyanyi sedikit”
“Waah, pak .. coba bapak masih bisa nyanyi kaya dulu, masih hapal banyak lagu yang lain.. mantap sekali itu pak..”

Aku pikir bapak ini luar biasa lho. Haha.
Coba si bapak masih ingat lagu keroncong dulu macam, Widuri atau Mawar Berduri dan lain-lain..

Ada satu request sih, yang aku tau lagunya, supaya si bapak itu bisa nyanyikan.. tapi.. aku tak mau sebut judul lagu itu.. hihi..
Seandainya bapak itu bisa kuundang nanti sewaktu aku menikah nanti hari..
Aih,
atau bersama pasanganku nanti, aku duduk berdua di bawah tenda angkringan, minum teh dan menikmati suara bapak itu..
itu akan jadi sangat istimewa.

Jogja, aku cinta padamu.
Sangat cinta.

MAAF KALAU TULISANNYA ANEH. HAHA.

One thought on “Menemukan Romansa Jogjakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s