Holiday Notes: International Conference on Futurology

“The greatest danger in understanding future is reasonable people” – George L. Friedman

Kamis kemarin, tanggal 28, aku diajak seorang teman dari HI UI – Robie, buat ikutan acara International Conference on Futurology. Undangannya agak dadakan memang, karena aku baru di-SMS malam sebelum acaranya. Pertamanya sih, pengen nggak ikut aja, tapi toh karena aku bosan juga ngendok di rumah terus, akhirnya aku mutusin buat ikut Robie ke acara ini.

Dan ternyata, pilihanku gak salah.

Acara ini, yang diadain di Shangri-La Hotel Jakarta, emang acara yang keren dan sayang banget buat dilewatkan. Pembicaranya juga nggak nanggung-nanggung, dan bener-bener orang yang kompeten untuk ngomong masalah ‘forecasting the future’. George L. Friedman, misalnya. Dia udah terkenal sebagai pakar futorolog ternama di dunia. Futorolog kasarnya, memang mirip peramal. Tapi, mereka meramal dengan mempertimbangkan dan melihat banyak indikator, situasi, dan statistik yang ada. Selain futurolog, ada juga tokoh-tokoh semacam Pak Anies, Pak Gita Wirjawan(pemrakarsa acara ini), Pak Dino (pemrakarsa juga), Desi Anwar, dll.

Menariknya juga, konferensi ini benar-benar mencerminkan future of Indonesia. Karena pesertanya memang kebanyakan terdiri dari anak-anak muda, dari berbagai kampus. Ada dari Pusgerak UI, anak-anak Modernisator, anak-anak SPEAK, anak-anak IYC (ada Alanda Kariza juga), anak-anak Sampoerna, Bakrie, dsb. Rame. Hal inilah yang diapresiasi oleh Pak Gita, sampai waktu opening remarks  beliau bilang, “Mungkin saya harus keliatan lebih trendi dikit supaya mirip dengan Justin Bieber, karena banyak anak muda disini” [red. in English]. Memang, dandanan Pak Gita jadi agak gimana gitu, yang tadinya pake Tuxedo, sekarang cuma pake kemeja + dasi dengan lengan tangan yang digulung.

Oke..

Selanjutnya, Pak Dino yang maju ke podium untuk memberikan opening remarks. Dalam opening remark-nya, Pak Dino mencoba untuk memberikan gambaran bahwa masa depan Indonesia akan sangat brilian. Ya, setidaknya diantara banyaknya tantangan yang dihadapi bangsa pada saat ini, kita masih akan mampu untuk bergerak maju. Pak Dino juga mengatakan kalau sekarang sudah bukan saatnya lagi untuk sejajar dengan bangsa lain, tapi untuk menjadi maju dan memimpin bangsa lain.

Sesi pertama pun akhirnya dimulai. Pembicara pertamanya, Mr. James Canton, juga ikut-ikutan jadi Bieber-like segala. Diawal-awal speechnya, entah kenapa dia tiba-tiba bilang, “Oh baby baby..”

Oke. Speechless. Aku cuma bisa nyengir.

Tapi, selanjutnya, speech Mr. James di konferensi ini bener-bener keren. Dia lebih banyak menjelaskan tren masa depan secara general di segala bidang, dan banyak sekali membahas soal kemajuan teknologi. Mulai dari teknologi 3D dan hologram yang akan mendominasi visual media, “Internet Needs You”, robotic works, artificial life geoengineering, bahkan sampai investasi saham di luar angkasa.

Waktu Mr. James Canton menjelaskan soal geoengineering, dan dia menceritakan bahwa sangat mungkin untuk manusia di masa depan memprogram kondisi alam di bumi. Sekilas, aku jadi terpikir lagi dengan film yang pernah aku tonton dulu waktu SD, Syukur21. Film dari Malaysia yang dibintangi kelompok nasyid Raihan ini menceritakan tentang teknologi rekayasa cuaca. Aku jadi benar-benar terbayang kalau di masa depan, ketika pemanasan global sudah dipuncaknya, manusia bisa membuat program untuk mengendalikan cuaca. Aku cuma bisa takjub mendengar proyeksi Mr. James ini.

Selanjutnya, penjelasan Mr. James Canton yang benar-benar mantap adalah tentang investasi di luar angkasa. Ya! Mungkin karena kompetisi di bumi sudah begitu padat dan membosankan, membuka pasar di luar angkasa merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi. Ya, akan banyak investor yang terbang dan membuka CBD di orbit bumi sampai Planet Mars! Kompetisinya akan sangat luar biasa!

Khayalan liarku adalah… Adakah orang Indonesia yang mau buka franchise warteg/burjo sampai di CBD dekat Planet Mars? LOL!

Setelah Mr. James Canton merasuki otakku dengan proyeksi-proyeksi gilanya, sekarang Mr. George L. Friedman maju ke podium. Ya, aku merupakan salah satu peminatnya. Salah satu buku George L. Friedman, “The Next 100 Years”, dipenuhi dengan analisis yang unpredictable soal konstelasi politik dunia dalam 1 abad mendatang. Dia meramalkan naiknya kekuatan baru di dunia, semisal Turki dan poros Eropa Timur. Di awal ceramahnya, George Friedman menyampaikan bahwa orang yang logis dan berpikir linier tidak akan bisa memprediksi masa depan dengan baik. (Perkataannya aku kutip di awal tulisan ini). Hal itu terbukti, banyak orang ‘logis’ di pertengahan 1970-an yang menyangka kalau rezim Uni Soviet akan tetap bertahan sampai tahun 2000-an, banyak yang menyangka kalau Cina akan tetap terperosok di jurang kemiskinan karena Revolusi Kebudayaan di awal 1970-an, ternyata?

Dalam waktu satu dekade, semua pernyataan ini terbantahkan begitu saja. Banyak orang, yang awam sampai yang pintar sekalipun cuma bisa melongo melihat Cina kemudian bangkit perlahan dan maju setelah kehadiran Deng Xiaoping dengan New Economy Policy-nya atau Uni Soviet yang ternyata runtuh begitu saja.

Hal ini, kemudian ditanggapi oleh Pak Chairil Anwar, atau Mr. David [aku agak lupa], bahwa bukan sesuatu yang tidak mungkin kalau Indonesia masuk sebagai negara G8 nantinya! Dan, memang dari proyeksi makro oleh pembicara ke-3, Mr. Zubaid, bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh secara eksponensial dan tidak terhenti kedepannya.

Mr. George Friedman, yang merupakan CEO Stratfor ini, juga menjelaskan fenomena politik dunia kedepannya. Dia memprediksi kalau Cina masih akan mendominasi dengan mengatakan, “Yes, China would still dominate, but also, don’t overestimate them”. Mr. Friedman juga menjelaskan kalau rivalitas hubungan bilateral antara Jerman-Rusia akan kembali memanas, serta kemungkinan gesekan antara trio East Asia (Jepang, Cina, Korea) akan terus berlanjut dan tidak berhenti.

Sesi pertama akhirnya selesai sekitar Ashar. Pertamanya kukira nggak ada break antara sesi I dan sesi II, makanya sebelum mulai konferensi aku langsung jama Zuhur-Ashar. Eh ternyata, dibreak sesi ini malah disediakan waktu untuk break sholat, plus afternoon tea yang langsung dikerubungi peserta conference. Ya, break ini akhirnya jadi ngeganggu acara juga, karena waktu Sesi II sudah dimulai, masih banyak peserta yang ada diluar.

Sesi II membahas tentang ekonomi, dimoderatori oleh Stephanie Vaessen, reporter Al-Jazeera di Jakarta. Pembicara pertamanya adalah Pak Gita. Dari penjelasannnya, yang aku tangkap adalah bahwa beliau sangat optimis, bahkan bisa dikatakan terlalu optimis dalam memandang masa depan Indonesia kedepan. Beliau terlalu banyak melihat ke aspek makro dengan segala macam grafik dan contoh-contoh yang menggeneralisir, misal saja beliau mengibaratkan bahwa anak Papua saat ini sudah bisa mengakses kurikulum Stanford dari HP-nya. Logikanya ya, kalau pendidikan di Papua saja masih tidak dibangun dengan benar, mana mungkin mereka berpikir sampai Stanford? Di Jawa saja, masih banyak sekolah rusak.

Sama saja dengan pembicara kedua, Pak Zubaid. Sepanjang ceramahnya, aku memang tidak terlalu memperhatikan. Terlalu penuh dengan analisis grafik! Bosan sekali! Aku hanya perhatian dengan aksen India-nya yang khas, yang sering kutemui di Singapura. Untung saja kebosananku dengan pemaparan Pak Zubaid ini terbayar dengan kehadiran Pak Anies yang maju ke podium setelahnya. Banyak poin-poin penting dalam pemaparan Pak Anies, terutama dalam soal menguatkan masyarakat dengan penyuluhan dan pendidikan (tentu saja, ini fokusnya Pak Anies). Lebih lanjut lagi, aku melihat bahwa Pak Anies adalah orang yang optimis juga dalam melihat Indonesia, tapi tidak seperti Pak Gita, Pak Anies menyatakan kalau menjadi orang yang optimis tidak harus selalu menjadi orang yang pro-pemerintah.

Pidato Pak Anies, walaupun singkat (kurang lebih 15-20 menit), menurutku benar-benar memukau, sampai Robie sendiri bilang ke aku kalau, “Kayanya semua kata-katanya di dalam pidato ini pantas dijadikan kutipan”.

Sesi II pun selesai, dan lanjut ke Sesi III. Masih dimoderatori oleh Stephanie Vaessen, tapi kali ini membahas masalah Geopolitik. Ada Robert Kaplan, seorang ahli geopolitik yang banyak membahas masalah posisi strategis negara-negara Asia di lautan. Beliau memakai teori tradisional Alfred Thayer Mahan tentang ‘sea power’, dan sampai sekarang, jika dikorelasikan dengan konteks kasus ‘Laut Cina Selatan’ dan ‘Samudera Hindia’, memang akan nyambung. Beliau banyak menggambarkan tentang bagaimana kekuatan-kekuatan dominan seperti AS dan Cina akan tarik-menarik pengaruh dengan negara-negara di kawasan laut tersebut, karena sejak dulu bahkan sampai sekarang, dua laut ini benar-benar memiliki pengaruh yang sangat dominan untuk international trade passageway dan memiliki security position yang strategis.

Lalu ada juga Prof. Thomas yang menjelaskan soal ‘food in the future’. Awalnya kukira Prof. Thomas akan banyak menjelaskan inovasi-inovasi dalam pangan (seperti penjelasan Dr. James Canton), tapi ternyata Dr. Roger lebih banyak menjelaskan ke strategi bagaimana menjaga jumlah pangan dan populasi agar tetap tercukupi kedepannya. Kemudian, sesi ini dilanjutkan oleh Dr.Roger, ahli geopolitik juga. Sebenarnya secara substansi beliau menarik, seperti memperjelas penjelasan Friedman dan Kaplan sebelumnya, tapi karena cara penyampaian beliau yang sangat monoton, akhirnya aku malah tidak bisa memperhatikan dengan lebih baik penjelasannya.

Sebagai pelengkap sesi III, kemudian muncul Kapten (Inf.) Agus Harimurti Yudhoyono sebagai discussant. Waktu Kapten Agus muncul ke panggung, banyak orang (terutama cewek-cewek) yang berkomentar di social media kalau dia benar-benar charming. Presentasi Kapten Agus sendiri  juga luar biasa, tidak dibuat dengan asal-asalan. Materinya padat dan sudah benar-benar disiapkan dengan metode presentasi yang memikat. Materi yang disampaikan adalah tentang posisi strategis hankam Indonesia dalam geopolitik dunia kedepan. Hankam Indonesia, menurutnya, akan lebih banyak menjalin kerjasama strategis dengan negara lain, terutama meningkatkan kerjasama antara negara-negara di ASEAN untuk menghadapi isu keamanan nontradisional yang saat ini sangat marak terjadi. Kapten Agus juga menambahkan pentingnya menguatkan sea power Indonesia untuk mencegah adanya ancaman-ancaman eksternal yang suatu saat dapat merongrong wilayah Nusantara yang luas ini.

Setelah sekitar 5 jam, akhirnya 3 sesi konferensi ini selesai, dan kemudian ditandai dengan closing remarks. Sayangnya, waktu closing remarks sudah mulai, aku nggak ada di ruangan. Tapi, alasanku memang untuk sholat magrhib yang nggak bisa ditinggalkan juga. Nah, untungnya, aku masih bisa mendengarkan closing remark dari Pak Dino dan Mr. Donald Emmerson (Direktur Southeast Asia Forum, Stanford Uni.). Aku nggak terlalu ingat apa yang dikatakan oleh Mr. Don, tapi secara umum beliau mengomentari pemaparan di semua sesi. Yang aku benar-benar ingat adalah speech Pak Dino. Pak Dino punya pesan khusus buat pemuda Indonesia. Beliau bilang, jangan terlalu terjebak dalam idealisme dan dogma yang membuat kita sinis untuk melakukan upaya kemajuan serta perubahan di Indonesia. Pak Dino menekankan makna penting optimisme, dan dengan usaha serta partisipasi bersama pasti semua bisa dikerjakan.

Tugas utama seluruh rakyat Indonesia, saat ini, menurut Pak Dino, adalah menduniakan Indonesia. Bukan saatnya untuk diam dan termangu melihat kemajuan negara Barat, saatnya bagi kita untuk mengejar mereka.

Dan seiring dengan berakhirnya pidato Pak Dino

Ada beberapa catatan dariku tentang konferensi ini. Pertama, konferensi ini berorientasi kanan dan makroskopik. Optimisme dijadikan semangat utama diadakannya konferensi ini, dan tidak sekadar statement-statement kosong, pemapar di konferensi ini menyampaikan bukti-bukti serta indikator yang akan menunjukkan bahwa suatu saat nanti Indonesia akan ada di puncak ekonomi dunia. Dalam konferensi ini, seolah aku menemukan bahwa Indonesia masih kuat untuk berlari maju ketika badannya masih terluka oleh banyak masalah internal. Kedua, karena pandangannya yang terlalu makroskopik inilah, akhirnya yang mikro-mikro seolah tidak terlihat.Ya, memang, di awal konferensi ada video dari Modernisator dimana aktivisnya akan berjanji untuk menanggulangi kemisikinan, kebodohan dan masalah sosial lainnya. Tapi, di konferensi ini, hal-hal tersebut tidak dibahas dan dilihat dengan lebih mendetil dan justru ditutupi dengan setumpuk grafik  dan data-data yang sangat… melenakan. Orang miskin, lower-middle class tidak akan terlalu peduli dengan indikator. Boro-boro mengerti indikator, sekolah saja mereka masih susah. Beli beras dan memenuhi kebutuhan sehari-hari sudah menjadi tantangan. Yang sadar soal indikator hanya orang-orang upper middle class yang beruntung (termasuk saya ini, dan mungkin anda juga).

Indikator-indikator yang disampaikan memang begitu melenakan, seolah fakta-fakta dilapangan seperti pengemis kolong jembatan terlewatkan begitu saja. Memang, punya ambisi untuk maju itu penting, tapi mudah-mudahan ambisi ini, untuk membuat Indonesia maju (secara makro) diantara bangsa lain tidak membuat kita melupakan mereka. Aspek mikro, kesejahteraan sosial, juga sangat penting untuk dilihat kedepannya, supaya tidak ada ketimpangan yang besar yang pada akhirnya akan menjadi bumerang bagi kita sendiri.

Memang tugas kita, tugas para terdidik, intelektual, untuk bangkit, mengalahkan ego kita ditengah era yang serba kompetitif ini untuk merangkul mereka yang ada dibawah, mendidik dan mengayomi mereka supaya turut mencapai tingkat yang setara.

Meskipun perjuangan ini akan menemui jalan yang berliku dan panjang, tapi sekali lagi dengan semangat optimisme, pasti kita bisa.

Serial Holiday Notes ini masih belum berakhir, masih banyak pengalaman liburanku yang seru dan menarik untuk diceritakan.😀

Cheerio!

2 thoughts on “Holiday Notes: International Conference on Futurology

  1. Alhamdulillah.. mantap….:) termasuk perspektif mikro yang tidak tersentuh karena terlalu hi-level. Optimisme yang harus menginjak ke bumi.. Karena toh pada ujungnya yang dimintai pertanggung jawaban nantinya bukan dengan paparan indikator tersebut, tapi bagaimana para pemimpin menyelesaikan persoalan riel yang dihadapi rakyatnya.

  2. Suka banget sama entry yang ini hadza hehehe.jadi merangkum dan lebih mudah gue mengerti soalnya pas conference jujur aja gue ngantuk2 kecuali bagian nya anies baswedan. conference ini jujur meningkatkan ke optimisan gue akan INdonesia karena yang diberi disini fakta fakta bukan cuma jual janji.gue yang tadinya berfikiran egois untuk tinggal di luar negeri aja dan lebih sejahtera jadi mikir ulang untuk ninggalin Indonesia.We should never lose our hope karena anak2 muda yang beruntung untuk dapet pendidikan kita kayak inilah yg memang harus ngalahin egoisme dan berjuang untuk bangsa ini.

    keep fighting hadza.semoga kita bisa mengabdi buat bangsa kita😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s