Holiday Notes: OSU-UGM Summer Program

“Saya patut bangga dengan anda semua, mahasiswa Ohio, yang telah berani memilih untuk pergi melakukan riset ke Indonesia” – Prof. Mohtar Mas’ud

1 bulan yang luar biasa, menurutku.

Bersama teman-teman baru yang datang dari negeri Paman Sam sana, aku belajar dan mengamati banyak hal. Bertukar pikiran. Bersenang-senang. Membuka wawasan.

Sebelumnya, aku hanya tahu OSU-UGM Summer Program ini dari selebaran yang ditempel di papan pengumuman jurusan. Aku pikir, karena aku masih semester 2 dan apalagi temanya tidak jauh dari ekonomi, lebih baik aku tidak ikut. Tapi, setelah Mas Dedi, dosenku, mengumumkan bahwa program ini available untuk semua angkatan – ya, pada akhirnya, aku ambil keputusan untuk mengorbankan liburanku demi Summer Program ini.

Berhubung gratis dan bisa mengcover 3 SKS untuk matakuliah PED, aku semakin rela untuk ikut program ini (yah, walaupun akhirnya dibayar dengan mengerjakan paper akhir yang harus berkualitas standar jurnal).

Pertama, aku bakal ngejelasin gimana jalannya kelas secara umum dalam 4 minggu ini.

Summer Program ini dimulai tanggal 20 Juni. Waktu itu, jadwal UAS masih jalan, dan beberapa diantaranya memang bertabrakan dengan jadwal kelas Summer Program. Ya, tapi itupun bukan masalah karena sebenarnya kami, peserta Indonesia yang berjumlah 10 orang ini, diberikan banyak kemudahan untuk bisa mengundurkan jadwal UAS. Hehe.

Tema umum dari Summer Program ini adalah tentang pembangunan, dan masih dibagi lagi jadi 4 tema spesifik, yang pertama tentang pariwisata, yang kedua tentang demokrasi, yang ketiga tentang ekonomi, dan yang keempat tentang agama dan gender. Setiap minggunya, bakal ada satu proyek field trip dan peserta Indonesia wajib pilih salah satu dari tema itu untuk digarap jadi paper akhir.

Peserta kelas program ini kurang lebih ada sekitar 20 orang, 10 dari Indonesia, 10 dari AS. Seperti pada awal-awal kelas biasanya, pastinya kikuk dulu. Apalagi dengan mahasiswa bule seperti anak-anak Ohio ini. Tapi ternyata, saat diskusi dimulai, waktu itu tema pertamanya adalah tentang demokrasi Indonesia secara umum, toh kualitas anak Indonesia dan anak AS juga nggak jauh beda. Ya, as time passed, akhirnya kami saling interaksi. Mulai dari obrol-obrolan ringan macam makanan favorit apa, keadaan di OSU gimana, sampai yang agak serius macam politik mahasiswa disana seperti apa.

Our Classroom

Rombongan OSU (Ohio State University) ini dikomandoi oleh seorang Indonesianis terkemuka, bapak William Liddle yang lebih senang dipanggil Pak Bill daripada dipanggil Mister atau Professor. Menurutku, Pak Bill ini adalah salah satu profesor yang paling ramah yang pernah aku temui (ya, walaupun beberapa pemikirannya ada yang aku tidak setujui). Pak Bill sendiri mahir banget untuk bicara-bicara Indonesia, beliau lebih senang untuk bicara bahasa Indonesia dengan kita-kita mahasiswa UGM dan panitia, dibanding bicara bahasa Inggris (kecuali waktu diskusi kelas).

Oke, dimulai dari minggu pertama. Temanya adalah tentang pariwisata dan pembangunan. Tema ini tema yang menurutku cukup ringan dibanding tema-tema lainnya. Cukup banyak diskusi, tapi nggak begitu intensif. Kelas yang paling seru selama program ini juga ada waktu minggu ini berlangsung, waktu kelas tourism branding dihandle sama Mr. David Sanders dari Pusat Kajian Pariwisata UGM. Penjelasan Mr. David bener-bener substantif, dan inspiring. Terutama waktu Mr. David membandingkan pencapaian pariwisata kita (dengan segala potensinya yang luar biasa) dengan negara-negara tetangga. Hasilnya? Indonesia gagal. Dan, salah satu faktor kegagalan Indonesia adalah tidak adanya branding yang bagus yang bisa memikat turis luar negeri, ditambah lagi infrastruktur yang seadanya dan nggak ada kualitasnya.

Nah, sisanya, semacam penjelasan tentang tourism village yang jadi fokus untuk filedtrip. Kelas lebih banyak dihandle sama Pak Usmar (dibantu Pak Mohtar) yang memang udah ahli untuk masalah tourism development.

Untuk minggu pertama ini, sebenarnya ada field trip ke Candirejo, desa wisata yang ada di dekat Borobudur. Tapi, entah kenapa, nggak ada satupun peserta Indonesia yang tertarik buat ikut program ini. Temenku, Nuri, bilang, “Za, kalo aku jadi peserta, aku bakal ambil yang Candirejo kali.. ”

Ya, aku sebenarnya males untuk ke Candirejo, karena harus packing dan bermalem disana (plus bikin papernya mungkin agak susah). Jadi, mending ambil program yang field tripnya masih di sekitar Jogja aja.

Yah, minggu pertama memang kami belum begitu get along, masih agak kaku, tapi minggu kedua suasana udah mulai agak cair.

Mas Nico Warouw

Minggu kedua, temanya tentang demokrasi dan pembangunan. Menurutku, di minggu ini diskusinya mulai panas dan cukup intens. Karena isu demokrasi di Indonesia ini adalah suatu isu yang masih bikin orang-orang luar penasaran karena gejolaknya yang luar biasa. Banyak penjelasan, terutama dari Pak Mohtar yang membuka wawasan. Materinya kurang lebih sama kaya materi kelas KPI (Kekuatan Politik Indonesia) dan PSDem (Pengantar Studi Demokrasi) yang  baru aku mau ambil semester depan. Plus, ada juga dosen dari Antropologi, Mas Nico Warouw, ikut ngisi kelas di minggu kedua ini. Mas Nico Warouw, eks-aktifis PRD dan kamerad Mas Eric Hiariej (dosen tercinta), memberi banyak penjelasan seputar fenomena sosial yang terjadi di antara buruh, juga penjelasan tentang hubungan kapital dan masyarakat. Penjelasan Mas Nico cukup menarik, tentang observasinya di pabrik di wilayah Banten. Banyak fenomena sosial seputar hubungan antara pemerintah Banten dengan jawara sebagai praetorian force-nya, yang berkolaborasi dengan tangan-tangan pemilik modal untuk membuat kawasan industri di Tangerang dan Banten.

Field tripnya untuk minggu kedua ini adalah ke dua kantor kabupaten di Sleman dan Bantul. Aku nggak begitu tertarik untuk ikut, jadi, waktu disuruh nulis response paper, akhirnya aku nulis tentang pembangunan di Kota Bekasi. (All hail Bekasi!) dan ternyata direspon cukup baik sama Pak Bill.

Pak Anggito

Minggu ketiga adalah tentang ekonomi. Aku nggak begitu tertarik dengan ekonomi, terutama kalau udah ngeliat grafik dan indikator dalam tabel, plus harus ketemu rumus. Dosen pertama yang ngisi kelas ini adalah Prof. Mudrajad, seorang profesor muda (udah 45-46 tahun) yang sedikit narsis tapi substansi waktu beliau ngajar cukup oke. Penjelasannya tentang kondisi ekonomi Indonesia secara umum, dan lebih spesifik ke beberapa measure tentang peran pemerintah dalam pembangunan. Kelas berlanjut dengan datangnya Pak Anggito, mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu. Pak Anggito fokus untuk menjelaskan masalah masa depan pembangunan Indonesia, lagi-lagi ketemu statistik dan beberapa analisis. Pak Anggito nyoba untuk membuat peserta kelas engage dalam diskusi, tapi entah kenapa nggak begitu ditanggapi.

Nah, setelah bosan ketemu dengan figur-figur grafik dan statistik, kelas minggu ketiga akhirnya diakhiri oleh Pak Revrison, ekonom-sosiolog. Cukup seru sih, karena penjelasannya cukup beda dengan Pak Anggito dan Pak Mudrajad yang berorientasi kanan. Pak Revrison fokus melihat ke sejarah pembangunan ekonomi Indonesia yang ternyata merupakan jebakan permainan dari Barat. Pak Bill ternyata gak begitu menerima pendapat Pak Revrison, dengan bilang ke aku, “Kondisi ekonomi di Indonesia yang terjadi saat ini bukan hanya disebabkan oleh keterlibatan perusahaan asing saja, tapi memang karena pemerintah Indonesia tidak ada kemauan untuk memperbaikinya”.

Hmm, bisa diterima sih, tapi alangkah lebih baik kalau perusahaan asing tidak memperkeruh suasana bukan?

Untuk minggu ketiga ini fieldtripnya lumayan seru dan unik, berkunjung ke TEMBI dan pusat-pusat wirausaha macam Coklat Roso dan Bakpia Djava. Tapi, karena temanya ekonomi, aku lebih milih nggak ikut.😀

Nah, minggu terakhir – minggu keempat adalah minggu yang cukup seru, soalnya minggu ini banyak membahas soal kaitan antara agama, gender dan pembangunan. Kelas pertama di minggu ini diisi oleh ibu Ruhaini, aktivis gender, pengurus PP Aisiyah, dan pemikirannya cukup liberal (setaraf ibu Musdah Mulia kalau mau dibandingkan). Ibu Ruhaini ini alumni PP Pabelan dan sekarang jadi dosen di UIN sekaligus pegiat di PSW-nya. Ibu Ruhaini banyak buka fakta soal domestic violence, tapi juga menyinggung masalah agama dan perempuan yang cukup sensitif. Kalau menurutku, Ibu Ruhaini ini lebih ke tipe feminis radikal (CMIIW).

Bu Ruhaini

Lanjut sesi selanjutnya ada dosen tercinta, Mas Eric Hiariej. Sayangnya, waktu Mas Eric menjelaskan soal gender, ada yang beda dalam cara penyampaiannya. Entah karena kurang persiapan atau kurang menguasai teori (nggak mungkin juga kali ya), tapi… Mas Eric jadi keliatan beda dari biasanya.

Besoknya, ada Pak Zainal Abidin Bagir, direktur CRCS UGM yang mengisi soal agama dan politik di Indonesia. Wah, seru banget. Dan emang, presentasi pak Zainal ini cukup komprehensif, tapi sempat agak menyinggung masalah tentang Hindu Dharma yang agak membuat temenku, Pras, jadi protes. Setelah kelas Pak Zainal, masih ada kelas lagi yang dipandu sama Mr. Ted dari Kedubes AS tentang hubungan AS-Indonesia selama ini.

Mr. Ted Lyng – Staf Atase Politik Kedubes AS Jakarta

Untuk minggu keempat ini, fieldtripnya bener-bener seru dan aku nggak nyesel ngambil proyek agama dan gender. Nah, untuk cerita selengkapnya, nanti aku ceritakan di bagian belakang artikel ini.

Oke, sekarang tentang orang-orangnya.

Ya, aku deket dengan beberapa anak-anak OSU, macam Stuart dan Josh. Ada lagi 2 cowok, David dan Chris, tapi aku cuma ngomong sesekali ke mereka. Sisanya, ada 6 orang cewek, dan entah kenapa.. aku jarang bahkan gak pernah ngomong sama mereka. Sedih ya, tapi diantara mereka nggak ada yang begitu cakep juga.

Selama 4 minggu ini, kami sering main bareng. Entah futsal bareng, entah makan bareng, sampe  main XBox larut malam.

Nah, diantara 4 cowok OSU ini, yang paling deket sama anak-anak Indonesia adalah Josh aka J-Hood aka Joshua Hudspeth. Ya, gak cuma peserta aja yang ngerasa, tapi juga panitia sendiri. Diantara semua peserta, dia yang paling nggak banyak complain dan cukup adaptable dengan kondisi Indonesia.

Waktu Josh ditinggal temen-temennya berangkat ke Bali dan dia harus tinggal di Jogja, akhirnya kami, panitia dan peserta udah berkonspirasi untuk membuat acara biar Josh gak bosen di Jogja. Yah, akhirnya hari Sabtu dia motoran bareng aku, Bara, plus Oot (temennya Bara) ke lereng Merapi (sampai daerah Kali Gendol yang jalannya terkenal ekstrim itu) dilanjutin nonton Festival Gamelan Yogya yang keren banget malam itu (minus Bara sama Oot yang lanjut mengembara ke selatan mencari pantai).

Minggunya, aku ngajak Josh ke pantai bareng Swas, Nuri, sama Fara. Karena mobil sewanya nggak bisa dipake waktu itu, akhirnya Swas dengan sukarela minjamkan mobilnya untuk dibawa ke Pantai Glagah yang ternyata hari itu rame banget. Waktu Josh dibawa ke Pantai Glagah, orang-orang cuma bisa ngeliat dia doang, karena cuma dia satu-satunya bule yang ada disana, haha.

Chris wears grey, Stuart wears blue (beside Pak Bill), Josh wears blue too (beside Stuart), and David is on the front one

Anyway, Josh adalah orang yang asik dan enak buat diajak ngobrol (selain Stuart yang gaul juga, ditambah penampilannya yang kece). David juga, tapi David orangnya bener-bener comel, dan sekali kita ngobrol sama dia (apalagi kalo masalah bodybuilding, kata kak Ray), yeah, siap2 mendengar runtutan omongannya yang panjang banget. Aku pernah ngobrol random bareng David sama Josh tentang greetings in languages waktu break lunch dan itu seru banget. Kalo Chris, aku nggak begitu deket, dan sekali ngobrol pun, itu cuma ngobrolin soal hotspot internet di kampus.

Professor Bill Liddle

Sekarang, tentang Pak Bill. Yes, as I said, he’s one of the most friendly profesor that I’ve ever met. Pak Bill sering banget tiba2 duduk di sebelah mahasiswa Indonesia atau ngajak ngomong soal apa aja. Aku pernah ditanyain, “Kalian disini sering makan apa saja sehari-hari?”. Maklum, karena mahasiswa kosan jawabannya, “Yang ada aja Pak Bill, indomie, nasi goreng, dsb..”. Pak Bill jawab, “Wah sayang sekali kalo setiap hari makanan kalian itu saja, padahal makanan Indonesia itu salah satu yang paling kaya di dunia soal rasa..”. Dengan melasnya, aku cuma bilang, “Uangnya gak cukup pak Bill untuk beli makanan yang enak-enak..maklum anak kosan”. Pak Bill terkekeh-kekeh sambil bilang, “Oooh, iya, anak kos-kosan..”

Satu part lagi dari notes ini yang nggak boleh dilewatkan adalah cerita tentang field trip yang sempat aku skip.

Jadi, seperti yang udah aku jelasin diatas, ada 4 proyek riset dalam summer program ini, dimana anak Indonesia diminta untuk ngambil 1 dari 4 proyek yang tersedia. Nah, aku milih tema ke-4, tentang “Religious, Gender Issues and Development”. Aku sempet dicibir sama Mas Ivan, seniorku yang juga ikut program ini, “Yakin za ambil isu ini? Emang kamu bisa nge-counter argumen-argumen liberal mereka?”.

Ya, jujur aja, aku nggak begitu bisa meng-counter beberapa argumen-argumen liberal dan sinis mereka terhadap Islam dan perempuan di era kontemporer Indonesia. Tapi, aku pikir, ini jadi pelajaran supaya kedepannya aku siap untuk menajamkan lagi daya pikirku supaya bisa memberikan counter-argument yang tepat, nggak hanya didasari oleh rasa atau feeling, tapi juga basis pemikiran yang kuat. That is important, how to debate and discuss on an issue not only based on our emotional perspective, but also to find its theoretical ground.

Untuk field trip ini, aku ngunjungin beberapa tempat, pertama ke Pesantren Mualimin Muhamadiyyah, kedua ke NGO Interfidei, ketiga ke Seminari St. Paulus, dan keempat ke LSM Rifka Annisa WCC (Women Crisis Center).

Pesantren Mualimin ini dipilih karena cukup representatif untuk menggambarkan pendidikan Islam, terutama fokus untuk Kota Jogja dan sekitarnya yang mainstream pemikiran agamanya itu dari Muhammadiyah. Selain itu Pesantren Mualimin juga cukup modern. Di pesantren ini, secara umum dijelaskan banyak hal tentang Kemuhamadiyyahan dan pendidikan Islam. Waktu diskusi, ada beberapa anak juga yang didatangkan dari MTs dan MA untuk membaur bareng bule-bule OSU ini, dan yang dari MA ini adalah anak-anak EDS yang mukanya udah aku kenal banget karena aku udah dua kali ketemu mereka pas aku jadi LO di HI Green Week + HIPhoria.

Paling seru waktu di Muallimin ini adalah pas Q&A Session, dimana ada beberapa pertanyaan yang cukup ‘panas’ dari peserta OSU. Salah satunya adalah masalah gender dan juga soal posisi Muhamadiyyah dalam memandang Islam secara konservatif. Karena kemarin Bu Ruhayatin menyampaikan kuliahnya dalam perspektif yang liberal, ketika dikonfrontir ke para ustad di Mualimin, jadilah pertanyaan itu agak nyelekit dan sensitif. Ada ustadz yang jawabnya dengan nada yang agak tinggi (mungkin karena agak emosi), sampai Josh bilang ke aku, “I don’t know why, but this man is really annoying to me”.

Ada juga ustadz yang jawabnya sangat bagus, ketika menghadapi pertanyaan Muhamadiyah yang makin bergerak ke arah konservatif. Ustadznya jawab, Muhamadiyah berkhidmat untuk umat, dan akan selalu berada di jalan tengah tanpa terpengaruh arus politik dan sebagainya. Memang, ada beberapa tokoh Muhamadiyah yang memiliki pola pikir liberal atau konservatif, tapi itu pola pikir pribadi, bukan doktrin atau ideologi organisasi, sehingga tidak boleh dijudge ketika seorang Muhamadiyyah berkata A maka Muhamadiyyah secara organisasi pasti berkata A. Muhamadiyyah respect kepada semua elemen yang ada didalamnya dengan prinsip saling mengingatkan pada yang benar atau yang salah.

Selesai sesi Q&A, peserta summer program diajak sedikit ngeliat kehidupan pesantren. Waktu itu, Mualimin masih rame karena baru aja tahun ajaran baru mereka dimulai dan suasananya benar-benar semarak. Bule-bule diajak ngeliat kamar-kamar santri yang bertipe barak (dan ini membuat aku kangen sama pesantrenku di Anyer sana) juga lab-lab Mualimin yang notabene masih baru dan apik.

Lepas azan Zuhur, perjalanan di Mualimin selesai. Sebelum naik mobil, ada seorang pegawai pesantren yang menghampiri aku dan bilang, “Mas, terima kasih ya kunjungannya. Kami sangat mengapresiasi sekali nih, dan ini penting sekali supaya mereka (mahasiswa OSU) ini tahu tentang Islam dan kita bisa tahu tentang mereka juga”.

Setelah break Ishoma, perjalanan field trip lanjut agak jauh ke Benteng, Sleman. Di LSM Interfidei, akhirnya kami diskusi lagi banyak hal seputar religious situation in Yogyakarta and Indonesia. Lebih fokus membahas ke soal diskusi antar-agama sih, karena kepala LSM ini adalah Pdt. Elga yang udah senior dan berkecimpung banyak di bidang interfaith. Beliau cerita banyak pengalaman diskusi interfaith. Fakta menarik dalam diskusi interfaith adalah terkadang mereka yang memiliki pola pemikiran radikal dan fundamen seperti Ust. Abu Bakar Baasyir dan MMI lebih mudah untuk diundang diskusi daripada yang pola pikirnya lebih moderat. Wow. Waktu diskusi, mereka juga diskusi secara benar dan ini cukup diapresiasi oleh LSM Interfidei.

Selain itu, pendeta Elga juga banyak cerita tentang masalah agama di Jogja, yang tetap adem-ayem dan rukun, dan bisa dikatakan nggak ada konflik horizontal antar pengikutnya. Ini yang jadi rahasia utama kesuksesan itu – Sultan as unifying force. Sultan itu sebegitu wibawanya, sehingga rakyat Jogja benar-benar bertumpu pada tangan Sultan sebagai penjaga keguyuban rakyat Jogja seberapa besarpun perbedaan yang ada di antara mereka. Masyarakat Jogja sendiri punya awareness multikultur yang cukup kuat (bukan hanya berasal dari pengawalan Sultan, tapi juga pola pendidikan yang baik di Jogja), dengan komposisi diversitas yang luar biasa. Islam, Katolik, LGBT, Hindu, Ahmadiyah dan sebagainya melebur jadi satu di Jogja, tanpa ada friksi yang benar-benar mengancam keutuhan itu.

Tapi, aku nggak begitu mengikuti diskusi di Interfidei ini secara komplit, karena udah bener-bener ngantuk.

Lanjut dari Interfidei, rombongan fieldtrip akhirnya sampai ke Seminari St. Paul di Kentungan (daerah Jakal km 7-8). Jujur, aku cukup excited kali ini karena akhirnya bisa masuk ke daerah monastery yang selama ini jadi misteri juga rasa penasaran buat aku. Sampai disana, kami disambut dengan luar biasa oleh kru Seminari, dari pendeta senior sampai murid-murid Seminari disana. Mereka sangat niat, sampai nyiapin afternoon tea di gazebo seminari mereka.

YEAH!

Di Seminar ini sendiri, rombongan lebih banyak jalan-jalan keliling Seminari-nya dibanding diskusi. Tapi emang, banyak banget fakta menarik dari seminari tinggi tertua di Indonesia ini. Aku keliling ngeliatin kapel tempat pastor dan muridnya ibadah sehari-hari, foto-foto santo, koleksi buku tua tentang ajaran Gereja, goa Maria, anjing penjaga biara, sampe akhirnya juga nemu koran La Observatore Romano yang langsung dikirim dari Vatikan (aku bener-bener excited ngeliat koran ini, karena termasuk koran yang cukup langka untuk ditemui).

Sampai akhirnya, keliling-keliling ini berakhir di tempat peristirahatan terakhir para pastor dan murid-murid seminari yang udah berkhidmat untuk seminari dan masyarakat Jogja sekitar. Nah, tiba-tiba, ada sesuatu di tempat ini yang jadi spesial. Ternyata, ada kuburan Rm. Mangun, yang dikenal sebagai filsuf juga aktivis sosial di Jogja. Waktu Pak Bill tahu di tempat itu ada kuburan Rm. Mangun, beliau langsung excited, dan banyak cerita soal Rm. Mangun. Pak Bill sempat deket sekali dengan Rm. Mangun, sampai mereka pernah debat beberapa kali. Setelah Pak Bill menjelaskan panjang lebar seputar Rm. Mangun, tiba-tiba Pak Bill diam. Ya, diam. Berdiri agak lama di depan kuburan itu, sambil memejamkan mata. Agaknya banyak memori yang Pak Bill lewatkan dengan Rm. Mangun. Sampai akhirnya Pak Bill bilang, “Saya sampai tidak  percaya sahabat yang dulu sebegitu dekat dengan saya sudah ada dibawah sini..Saya benar-benar merasa kehilangan..”. Mood Pak Bill langsung berubah jadi sangat melankolis, beliau termenung begitu lama. Aku jadi bisa membayangkan keakraban Pak Bill dan Romo Mangun yang mungkin begitu luar biasa, sehingga rasa kehilangan seorang sahabat itu menjadi sangat.. menyedihkan dan memilukan.

Aku melihat ekspresi Pak Bill yang beda dari biasanya, dan aku cukup tersentuh.

Sore itu, mungkin berakhir dengan agak biru buat Pak Bill, dan aku juga jadi ikut simpati.

Tapi, nggak untuk yang satu ini. Tiba-tiba, waktu peserta udah balik ke Gazebo, Josh ngebawa satu buah timun yang gede banget dan masih seger, dan itu langsung dipetik dari kebun seminari. Waktu sesi Q&A, sementara yang lain makan gorengan dan minum teh, si Josh dengan lahapnya ngemil timun itu, sampai kunyahannya terdengar ke semua orang. Hahaha.

Nah, perjalanan akhirnya lanjut besok di LSM Rifka Annisa Women Crisis Center. Disini kurang lebih membahas seputar masalah gender, dan lebih fokus ke masalah domestic violence yang memang jadi konsentrasi utama Rifka Annisa. Banyak pengalaman yang diceritakan, tapi yang seru adalah ketika seorang pegiat ini cerita kalau sebenernya banyak pria yang juga sering bikin laporan ke Rifka Annisa karena “takut istri” atau “disiksa istri”. Tapi toh, ternyata laporan ini cuma dalih, karena sebenarnya dari crosscheck dengan istri korban, ternyata suaminya yang pertama mulai menyiksa, terus dibalas istri dengan cukup keras dan kemudian si suami ini merasa dianiaya istrinya.

The Krapyak

Setelah melewati berbagai fase kelas dan fieldtrip, aku kemudian disibukkan untuk ngerjain paper akhir. Paper akhir yang penuh dengan perjuangan karena aku juga harus fokus buat hibah riset fakultas yang sama-sama butuh perhatian. Paper akhirku ini bertema tentang peran pesantren dalam pengembangan masyarakat di era globalisasi. Untuk objeknya, aku milih pesantren Krapyak (dan ya, ditengah riset, aku agak sedikit misunderstood antara PP Al-Munawwir dan PP Ali Maksum yang sama-sama di Krapyak). Aku sempet ke PP  Al-Munawwir sekitar 2-3 kali, terus wawancara juga sama mas divisi humas Pesantren Munawwir. Selain itu juga banyak studi literatur, terutama literatur yang bagus dari KH Sahal Mahfudz tentang fiqih sosial yang cukup inspiring.

Kalau mau tahu lebih lanjut, lihat aja ke: http://www.scribd.com/doc/61305855/Transformation-of-the-Role-of-Pesantren-for-the-Indonesian-Development-in-the-Globalization-Era

The Last Dinner🙂

Akhirnya, semua rangkaian acara selama sebulan ini berakhir di dua tempat, restoran Suharti dan lapangan futsal. Di Restoran Suharti, perpisahannya memang agak formal, aku juga agak nggak nyangka. Di Suharti, kami bener-bener having fun dengan nyanyi-nyanyi, joget, dan makan-makan sampe mblenger. Nah, paginya, setelah puas di Suharti, kami main futsal dengan beberapa cowok dari OSU (Josh, Stuart, Chris), plus satu cewek (Aarti).

Yah, setelah sekitar sebulan, aku benar-benar merasa bersyukur ikut program yang difasilitasi oleh IIS UGM ini. Luar biasa.

Dan aku benar-benar mengharap kalau suatu saat mungkin aku bisa ke Kampus OSU di Columbus, Ohio sana. Mudah-mudahan.😀

Makasih banget untuk semua orang yang ada di program ini, mulai dari dosen-dosen, tim panitia, temen-temen sejurusan, and Ohio guys – thanks for the wonderful experience!

Yep, this is all for OSU-UGM Summer Program, and I still got many more holiday experience to be share with all of you guys😀

Cheerio!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s