Holiday Notes: Hibah Riset 2011

“Makanya, saya kira kalian jadi kaget seperti ini karena kalian tidak punya sumber yang valid.. dan menurut saya itu menjadi tidak intelektual, tidak ilmiah…”

Selama liburan ini, selain ikut program musim panas-nya OSU, aku juga ikutan dalam sebuah proyek tahunan fakultas – hibah riset. Awalnya, aku pengen bikin kelompok hibah riset sendiri bareng temen-temen 2010, tapi karena kita mentok soal tema, dan ternyata terbentur juga masalah tugas-tugas paper yang menumpuk waktu itu, akhirnya aku sempat mutusin untuk mundur aja dari proyek hibah riset ini, sebelum ada 2 orang senior, Mbak Ulya dan Mbak Lintang, yang ternyata melamar aku buat jadi anggota dari tim mereka. Ya, akhirnya setelah ditimbang dan dipikir-pikir ulang, boleh juga lah aku ikut salah satu dari kelompok senior ini.

Tema hibah riset tahun ini seru banget dan sesuai sama minatku, yaitu ngebahas tentang demokratisasi di Timur Tengah. Kelompokku milih isu di Iran, tentang wewenang Wilayatul Faqih dan hubungannya dengan konteks demokrasi.

Ayatollah Khamenei, the Rahbar

Nah, supaya pembaca sekalian mengerti tulisan ini dengan lebih seksama, mungkin aku akan jelaskan dikit tentang tema risetku ini. Wilayatul Faqih itu adalah semacam badan yang terdiri dari 12 ulama dan dipimpin sama satu orang yaitu yang kita sering kenal sebagai Ayatollah (Supreme Leader/Pemimpin Utama), dan orang Iran juga sering menyebutnya sebagai Rahbar. Kewenangan Wilayatul Faqih ini cukup besar, soalnya mereka punya kontrol dalam masalah konstitusi dan menjaga garis besar haluan negara supaya tidak keluar dari garis Islam. Nah, yang jadi masalah adalah dengan kewenangan yang besar dan absolut (prejudice awal kelompok kami, yang nantinya bakal dikoreksi) ini, apakah Wilayatul Faqih justru menggangu serta menyalahi makna demokrasi?

Perjalanan riset akhirnya dimulai dengan pembuatan proposal riset, yang sebenarnya aku nggak terlalu terlibat. Tapi, selanjutnya, aku bener-bener bisa menikmati pencarian ilmu selama riset ini, dan memang, ilmu yang kudapat selama quest for truth ini sangat melegakan, istilah kerennya – quenching my thirst of knowledge.

Setelah aku tau judul hibah risetnya dari Mbak Ulya, aku langsung muter otak, kira-kira kemana nyari sumber yang valid buat penelitian soal Iran dan Syi’ah seperti ini. Akhirnya, aku ingat lagi sebuah lembaga think-tank/LSM yang basis serta pegiatnya adalah orang Syi’ah, namanya Rausyanfikr Institute. Dulu mereka pernah ngadain seminar di UC UGM tentang doa dan rintihan umat beragama.Rausyanfikr Institute ini fokusnya di mistisisme dan filosofi Islam, diskusi mereka bagus-bagus dan yang seminar kemarin, mereka ngundang beragam tokoh lintas agama dari Iran sampai ke Amerika.

Dalam riset ini, kelompokku ngadain beberapa macam interview ke beberapa orang, 2 orang dosen, 1 orang pakar Timur Tengah dan 1 orang dari Rausyanfikr Institute. Dari dosen-dosen sama pakar Timteng (Pak Hamdan), kami dapat gambaran cukup tentang kondisi Iran sama konsep tentang Wilayatul Faqih, tapi emang gak begitu dalam. Narasumber awal kami, misalnya, Mas Faris memang cukup knowledgeable dalam masalah Iran, tapi akhir-akhirnya Mas Faris ngasih rekomendasi bahan bacaan (Vali Nasr sama Naim Qassem), ditambah ngasih saran untuk datang ke Rausyanfikr Institute. Bener deh, akhirnya tempat ini yang jadi target utama kelompok kami.

Sebelum bener-bener ke Rausyanfikr Institute buat interview, pertama aku pengen lihat tempatnya dan survei bentar, sekalian janjian sama pegiat yang standby disana. Ternyata, tempatnya lebih kecil daripada dugaanku. Kantor Yayasan Rausyanfikr Institute ini letaknya di posisi cul-de-sac dan tampilannya sederhana banget. Sampai disana, aku bareng sama Swas (yang hari itu jadi partner jalan-jalanku) akhirnya ketemuan sama Mas Edi, sekretaris Rausyanfikr. Setelah tanya-tanya sebentar, akhirnya aku bikin janji untuk interview buat minggu depannya, untuk tanggal  sekitar 14-18 Juli waktu itu.

Nah, selama sekitar seminggu sebelum interview, aku dapet tugas dari Mbak Ulya untuk menyelidiki lebih lanjut tentang kondisi Iran sekarang-sekarang ini, yang sempet panas karena ada demo dari Barisan Hijau, kelompok oposisi yang dipimpin oleh Mousavi dan rekan-rekannya. Padahal waktu itu, tugas-tugas lainnya macam tugas OSU masih lumayan numpuk (terutama tugas paper). Toh, finally, aku bisa menyelesaikan semuanya (dengan dorongan luar biasa dari banyak hal, terutama Jogja).

Seminggu kemudian, sekitar tanggal 18, kelompokku interview dengan Kepala Yayasan Rausyanfikr, Pak AM Safwan. Dari awal interview, waktu beliau ngeliat paper dan penjelasan kami, beliau udah banyak mengkritisi konten dari paper kami yang beliau anggap “tidak ilmiah” awalnya. Misalnya aja waktu kami menganggap kalau Wilayatul Faqih itu adalah entitas yang besar sehingga memiliki kekuasaan yang absolut. Pak AM Safwan tidak terima dengan prejudice kami ini, dan akhirnya beliau langsung menjelaskan kalau besar itu beda sekali dengan absolut. Contoh, kekuasaan SBY besar kan di Indonesia, tapi tentu saja tidak absolut, karena diatur dalam kerangka demokrasi.

Terus, lanjut lagi kritik beliau tentang sumber yang kami kutip, yaitu bukunya Pak Bambang Cipto, dosen HI UMY (setahuku). Nah, prejudice kami tentang absolut itu sebenarnya berasal dari buknya Pak Cipto ini, dan beliau bilang, “Sayang sekali peneliti seperti Pak Cipto hanya bisa menggunakan data-data literatur sekunder dari Amerika, tanpa membandingkan dengan data primer dari Iran”.

Selama interview, kami lumayan banyak diberi pencerahan soal Iran, demokrasi dan Wilayatul Faqih. Pak AM Safwan juga bilang kalau,
“Jangan kira orang Iran itu tidak menggunakan dasar pemikiran yang baik, ulama-ulama di Iran banyak belajar tentang filsafat Barat! Plato, Aristoteles mereka sudah khatam kok, dan di Iran itu dalam setahun bisa ada 200 ribu buku lebih yang diproduksi baik dalam bentuk cetak atau ebook, tidak seperti Indonesia yang cuma 80 ribu, itupun dalam bentuk terjemahan”. Memang sih seperti agak memuji Iran, tapi ya faktanya memang seperti itu, orang Iran memang terkenal pintar – peradaban mereka sudah bertahan lebih dari 3000 tahun di dunia ini.

Pak AM Safwan juga cerita tentang Pak Supardja, dosen Sosiologi UGM yang pernah melakukan Sabbatical Research di Iran sekitar 3 bulan. Sabbatical Research itu semacam cuti akademik dari kegiatan belajar-mengajar, tapi tujuannya justru untuk melakukan penelitian lebih dalam dan menghasilkan karya akademik setelahnya. Ternyata yang Pak Supardja temui di Iran toh bener-bener beda dengan pandangannya tentang Iran sebelum beliau datang kesana. Yes, sekali lagi, it’s all about our prejudice, our narrow mind of thinking – yang akhirnya hanya bisa diselesaikan dengan melihat langsung apa sih yang sebenarnya terjadi dan apa yang ada disana.

Pak AM Safwan juga titip pesan, “Mbok ya sekali-kali UGM ngundang native dari Iran untuk ngobrol soal Iran langsung, jangan melulu dari Amerika, atau adalah sekali-kali mahasiswa yang kesana juga”. Hm, menderngar kata pak Safwan ini entah kenapa aku jadi tertarik untuk ke Iran.

Ke Iran? Negara otoriter? Mayoritas Syiah?

Sepertinya menarik, tapi akan ada banyak tantangan. Ngomong-ngomong, aku udah punya satu kontak disana, seorang programmer dari kantor berita online di Iran, namanya Mojtaba Mousavi. Setahuku juga, sebenarnya ada program beasiswa 6 bulan yang dibuka setiap semester dari Kedubes Iran, tapi ya untuk ini, aku harus rela mengorbankan waktuku di UGM. Selain itu, Syi’ah? Mungkin bisa jadi big deal buat aku yang Sunni ini, tapi katanya mereka juga nggak terlalu masalah, asal kita bisa saling menghormati.Satu hal lagi, mungkin aku bakal sedikit susah koneksi ke Indonesia, karena seperti yang udah kita tahu, koneksi ke FB dan twitter di Iran itu diblokir (tapi untungnya Y!M masih bisa). Yah, bakal banyak kangen sama Indonesia kalau begini ceritanya.

Isfahan is Nisf-Jahan – Half of the Heaven

Lagipula tantangan-tantangan itu seakan tidak ada apa-apanya dibanding apa yang bakal aku dapat di Iran. Di Iran banyak sekali tempat-tempat seru yang bisa dikunjungi. Misal saja, Persepolis, tempat dulu Kekaisaran Agung Persia pernah bertahta. Ada lagi Isfahan, bagian kecil surga langit yang jatuh ke bumi. Atau mungkin ke Tabriz, sebuah kota yang menjadi inspirasi bagi sufi Jalaluddin Rumi?

Iran yang kulihat dari film Children of Heaven, dokumenter Diego Bunuel “Don’t Tell My Mother” atau dari serial-serial sinetronnya di channel IRIB3 selama ini kuanggap sebenarnya Iran itu keren dan bagus-bagus aja, bahkan eksotik.

Ya, pertanyaannya, apa aku rela untuk mengorbankan waktuku untuk menjelajahi Iran?

Entahlah, sepertinya jalannya sudah ada, tapi tinggal aku yang memilih.

By the way, sekarang makalah hibah risetnya udah kelar, dan aku tinggal menunggu dengan penuh harap dana dari fakultas. Entah keluar atau tidak?😀

Oh ya, satu lagi, untuk ngeliat transkrip wawancaranya kesini, dan untuk makalahnya bisa request via emailku🙂

Yap, sekian aja untuk holiday notes kali ini. But, this is not the end. There’s still some more from me!

Oke then, cheerio!

One thought on “Holiday Notes: Hibah Riset 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s