Le Grand Voyage: 3000 Mil Menuju Pencerahan

1 mobil. Satu supir. Satu penumpang. Belasan negara. Ratusan teman. Ribuan mil.

Dan, pengalaman yang tak terhitung.

Sudah sekitar 3 kali lebih aku menonton film ini, dan entah kenapa, aku tak pernah bosan.

Film Le Grand Voyage buatan produser asal Maroko, Ismael Ferroukhi yang dirilis pada tahun 2004 ini tidak terlalu populer di pasaran. Sekali pernah, MetroTV menayangkan film ini waktu segmen ‘World Cinema’ sabtu malam pada saat bulan Haji tiba. Waktu itu, sekitar 2 tahun yang lalu, pada kesan pertama, aku tergugah menonton film ini. Film yang sangat jarang ditemui pada masa ini, dengan alur cerita yang sederhana, namun sarat makna.

Le Grand Voyage – bahasa Prancis yang berarti Perjalanan Akbar – mengambil setting waktu pada tahun 1990-an dengan sentral tokoh yakni seorang pemuda bernama Reda, yang akan lulus bakalaureat (setingkat diploma) pada tahun itu ditempat tinggalnya di selatan Prancis. Ayahnya, seorang imigran tua, berkehendak untuk menunaikan haji pada tahun itu.

Ayah Reda sangat ingin untuk menggunakan mobil dalam perjalanannya menuju Mekkah. Awalnya, kakak Reda yang diminta ayahnya untuk mendampingi dalam perjalanan tersebut, tapi karena kakak Reda tersandung masalah soal obat-obatan dan narkotik, akhirnya Reda-lah yang menemani ayahnya dalam perjalanan besar menuju Baitullah, walaupun dengan sedikit terpaksa karena harus meninggalkan pacarnya dan studinya di Prancis.

Perjalanan sejauh ribuan mil inipun akhirnya dimulai.

Dengan menggunakan sebuah mobil Peugeot seri 306 yang dipinjam dari tukang bengkel kenalan, ayah dan anak ini kemudian menjelajahi puluhan negara di Eropa dan Timur Tengah. Selama perjalanan, ayah dan anak yang sangat jarang menjalin interaksi ini kemudian perlahan-lahan mulai menjalin rasa satu sama lain. Awalnya, hubungan mereka memang terlihat sangat kaku, sang anak sangat cuek dan bersikap mau enaknya sendiri, sedangkan si ayah meminta anaknya untuk tidak berbuat seperti itu.

Dibesarkan dalam zaman yang berbeda membuat hubungan antara mereka berdua juga renggang dan berbeda. Reda yang sudah lazim dengan budaya sekuler dan hedon ala Prancis sangat kontra dengan sikap ayahnya yang sangat taat agama dan hidup sesederhana mungkin. Terjadilah debat dan pertentangan atas sikap mereka masing-masing. Tapi toh, Reda perlahan-lahan belajar dan disadarkan oleh sikap ayahnya.

Perjalanan mereka berdua menuju Mekkah menemui banyak sekali rintangan yang aneh dan tak terduga. Saat di Kroasia, mereka dihampiri oleh seorang wanita tua misterius yang meminta tumpangan menuju ke sebuah kota yang namanya tak ada di peta. Wanita ini benar-benar aneh, bahkan dia bisa melewati pos perbatasan tanpa diperiksa. Karena Reda merasa ketakutan, dia sempat beberapa kali meminta ayahnya untuk menurunkan saja wanita misterius ini.

Selain itu, mereka juga menemui hadangan lain yang cukup menyebalkan, seperti misalnya ditahan berjam-jam di pos imigrasi Turki karena dokumen perjalanan Reda yang tidak valid. Sampai akhirnya Reda bertemu dengan seorang Turki bernama Mustapha yang pada awalnya baik hati, namun akhirnya menjebak Reda dengan mencuri uang perjalanannya ke Mekkah. Semua ini membuat Reda berpikir tentang apa sebenarnya tujuan dari perjalanan yang cukup merepotkan ini.

Di tengah perjalanan, Reda sempat bertanya pada ayahnya.

“Ayah, kenapa kau tidak terbang saja ke Mekkah? Sunguh perjalanan seperti ini amat merepotkan..”

Ayah Reda, dengan suaranya yang tenang dan bijaksana, menjawab pertanyaan anaknya dalam bahasa Arab yang indah dan sarat makna yang dalam,

“Ketika air samudera menguap menuju langit, air-air tersebut akan kehilangan rasa asinnya dan kembali murni kembali. Air samudera kan menguap seiring naiknya mereka ke kawanan awan dan ketika mereka menguap, mereka akan menjadi murni kembali. Itulah sebabnya lebih baik berangkat haji dengan berjalan kaki daripada menaiki kuda, lebih baik menaiki kuda daripada menggunakan mobil, lebih baik menggunakan mobil daripada menaiki kapal, dan lebih baik menaiki kapal daripada berkendara dengan pesawat..”

Jawaban ayah Reda mungkin agak susah dicerna, tapi sangat indah dan luar biasa. Inti dari jawaban ayah Reda sebenarnya adalah: “Ini semua soal kemurnian niat, dan lebih baik menempuh perjalanan panjang selama berbulan-bulan, karena setiap langkah dalam perjalanan menuju Baitullah akan dihitung sebagai sebuah pahala yang akan mengurangi dosa dan memurnikan jiwa”

Reda pun hanya tersenyum dan terpukau mendengar jawaban ayahnya.

Tapi, rintangan dan konflik dalam perjalanan orangtua-anak ini tak berhenti sampai disini. Perjalanan mereka baru sampai setengahnya ketika mereka beranjak dari Turki menuju Damaskus.

Di Damaskus, godaan setan tampaknya berhasil menghasut hati Reda. Saat ayahnya sedang tidur, Reda yang kebosanan beranjak dari tempatnya dan berangkat ke sebuah klub tari perut. Disana dia hanya bersenang-senang sambil mabuk dengan arak dan menari bersama penari-penari yang cantik.

Sebelum ini pun, Reda juga sempat tergoda bujukan bulus Mustapha untuk minum bir di Turki. Ada sebuah percakapan menarik antara mereka sebelum Reda meminum bir.

“Reda, apa yang hendak kau minum, bir, teh atau kopi?”

“Ah, coba kupikir dulu.. Tunggu, bukankah bir haram? Dan aku pasti tidak diperbolehkan ayahku untuk meminumnya..”

“Dengar cerita ini nak, dulu ada seorang mursyid Sufi yang ditanyai oleh muridnya,

‘Mursyidku, apakah arak itu haram dalam Islam?’

‘Ah, muridku tercinta, itu bergantung pada seberapa besar jiwamu. Coba kau tuangkan sebotol anggur pada segelas air murni, niscaya air murni itu akan berubah warna. Namun, bila kau tuangkan sebotol anggur itu pada samudera, niscaya tak kan berubah warna dan rasa samudera itu’

Nah, Reda, apakah kau punya jiwa yang cukup besar untuk tidak meminum bir ini?”

“Ah, aku rasa aku akan minum bir saja”

Dari percakapan ini sangat tergambar jiwa Reda yang masih dalam pencarian jatidiri dan belum punya sikap sampai akhirnya ayahnya menasehati Reda untuk tidak mempercayai Mustapha lagi.

Untuk kedua kalinya, di Damaskus, ayah Reda benar-benar kecewa dengan sikap anaknya yang bermain-main dengan wanita. Sampai ayah Reda memutuskan untuk berangkat sendiri ke Mekkah. Tapi dengan bujuk rayu serta sendu Reda, akhirnya ayah Reda pun berusaha untuk sabar dan memaafkan tindakan anaknya yang sudah sangat keterlaluan ini.

Konflik belum berakhir, dan akhirnya justru kembali. Reda yang kebosanan makan-makanan yang murahan, meminta ayahnya untuk membeli daging. Karena Reda terlalu memaksa, akhirnya ayahnya menjual kamera miliik Reda untuk ditukarkan dengan seekor kambing. Reda terang marah dengan ayahnya yang menukarkan kamera dengan kambing, dan ayah Reda hanya menjawab, “Loh, kan kamu yang ingin makan daging?”

Saat mereka berhenti untuk menyembelih kambing itu, ternyata kambing itu lepas dan hanya membuat Reda semakin kesal. Puncak kekesalan Reda adalah pada saat Reda melihat ayahnya memberikan uang kepada pengemis jalanan padahal pada saat itu uang mereka juga ingi menipis.

Reda jengkel, dan akhirnya kabur.

Tapi toh, Reda tak benar-benar kabur, dan hanya sekedar mangkel sambil duduk-duduk diatas bukit. Ayahnya kemudian menghampiri.

Saat itulah, Reda kembali bertanya lagi kepada ayahnya,

“Ayah, kenapa ayah sangat ingin ke Mekkah? Kenapa Mekkah sangat berarti banyak bagi ayah sehingga ayah mengusahakan untuk mengendarai mobil sejauh ini bersamaku untuk sampai kesana?”

Ayah Reda menjawab pertanyaan anaknya itu dengan suaranya yang khas dan menenangkan,

“Mekkah adalah tempat suci bagi seluruh umat Islam dari seluruh dunia. Tempat ini adalah peninggalan Ibrahim, nabi yang diberkati Allah. Semua orang Islam yang masih mampu secara fisik, mental dan materi harus menyanggupkan diri berangkat ke Mekkah sebelum dia meninggal dunia untuk menyucikan jiwanya disana. Kita semua pasti meninggal di dunia ini karena kita hanyalah tetamu sementara. Ketakutanku satu-satunya dalam perjalanan ini adalah aku akan meninggal sebelum benar-benar sampai di Mekkah. Untunglah, kau menemaniku sepanjang perjalanan, nak. Allah memberkatimu. Aku juga mempelajari banyak hal selama perjalanan ini”

“Begitupun aku, yah”

Setelahnya, mereka berdua saling memandang dan tersenyum. Lalu ayah Reda beranjak menunaikan salat, dan Reda hanya terdiam memandang langit.

Perjalanan mereka akhirnya mencapai titik miqat, sebuah titik dimana jamaah haji mulai mengenakan ihramnya dan bersiap untuk menunaikan ibadah haji secara penuh dengan niat yang tulus dan ikhlas karena Allah ta’ala.

Di titik miqat ini, Reda dan ayahnya bertemu dengan segerombol jamaah haji dari penjuru negeri Arab. Disinilah Reda akhirnya ditinggalkan oleh ayahnya ke Mekkah, dan Reda mengatakan kepada ayahnya untuk memberi tahu jika ayahnya sudah selesai dengan ibadah haji esok hari.

Tapi, sampai esok, ayahnya tak kunjung datang dengan bus charter para jamaah. Reda mulai khawatir.

Reda dengan jiwanya yang cemas mulai mengejar dan mencari ayahnya hingga menaiki bus ke Mekkah. Ditengah kerumunan jemaah haji yang berjuta jumlahnya, dia berusaha untuk mencari wajah ayahnya yang bersahaja. Tapi, tetap dia tidak bisa menemukan ayahnya. Dia hanya bisa berteriak, “Ayahku dimana? Dimana? Dimana?”

Sampai karena teriakannya, dia ditangkap oleh polisi Mekkah.

Dia akhirnya dibawa kesebuah lorong gelap oleh polisi Mekkah setelah diinterogasi.

Dia memasuki sebuah ruangan dengan cahaya redup, dan melihat jenazah-jenazah yang bergeletak. Perasaan Reda mulai tak tentu, dan kemudian dia dibimbing oleh penjaga tempat tersebut untuk mencari ayahnya.

Benar saja, ketika membuka kain penutup terakhir dari jenazah tersebut, dia menemukan ayahnya.

Pucat. Kaku. Tak bergerak lagi.

Reda hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Menyesali segala tindakannya.

Dia kemudian memandikan jenazah ayahnya dan membungkus jenazah ayahnya dengan kafan untuk disolatkan kemudian di Masjidil Haram.

Ayah Reda telah berhasil menunaikan hajinya, Allah menyempatkan beliau untuk melakukannya. Tapi, Allah sangat sayang kepada ayah Reda sehingga ayah Reda dipanggil seketika setelah ayah Reda menyelesaikan tugas tersebut. Sungguh mulia.

Subahanallah.

Reda, dengan hanya membawa koper dan uang sisa penjualan mobilnya, akhirnya beranjak pergi dari Mekkah untuk berangkat dari Saudi Arabia kembali ke Prancis. Jiwa Reda yang sebelumnya tak berarah akhirnya menemukan arahnya, dan dia menemukan cahaya hidayah dari Allah yang berkenan menunjukkannya dalam perjalanan ini.

Sebelum pulang dari Mekkah, Reda menyempatkan diri untuk menginfakkan sebagian uangnya kepada pengemis, sebelum akhirnya dia beranjak dan pergi ke bandara dengan menggunakan taksi.

Film ini luar biasa menyentuh hati, walaupun tidak mendapatkan penghargaan.

Aku sangat menyarankan film ini untuk ditonton oleh mereka yang ingin berangkat ke Mekkah, entah untuk umrah atau haji, supaya esensi perjalanan mereka tak sia-sia.

Dan didampingi juga dengan buku Ali Syari’ati yang bertema tentang haji, berisi esei penggugah jiwa yang patut dijadikan kawan selama berada di dua kota suci.

Sungguh, dalam perjalanan hidup, banyak pelajaran yang bisa didapatkan, terutama untuk mereka yang mau menyadarinya.

 

 

8 thoughts on “Le Grand Voyage: 3000 Mil Menuju Pencerahan

  1. Ayahnya sudah berkali-kali mungkin ngajak solat, djn, sejak kecil sampe sudah rada gede,
    Jadi ayah Reda ini mungkin berharap kalau suatu hari akan muncul kesadaran sendiri dari Reda.. dan dengan kata lain, ya Reda harus mengejar dan mendapatkan hidayahnya..
    Dan Hidayah itu telah didapatkan Reda setelah ayahnya wafat..

  2. “Film ini luar biasa menyentuh hati, walaupun tidak mendapatkan penghargaan.”
    ??
    Cazale menerima penghargaan sebagai aktor terbaik dari NewPort International Film Festival 2005
    Majd menerima gelar yang sama dari Mar del Plata Film Festival 2005
    Le Grand Voyave juga menerima penghargaan Luigi de Laurentis Awards pada Venice Film Festival 2004 serta mendapatkan nominasi film berbahasa asing terbaik pada BAFTA 2005.
    JiFFest yang ke-7 dibuka dengan pemutaran film pemenang beberapa penghargaan dari Perancis dan Maroko, “Le Grand Voyage”

  3. sekian lama aku cari akhirnya ketemu film bernafas cahaya antara Reda & Ayah yg pengen kemakkah. waktu itu aku lihat di film nasional kalau dak salah di globaltv kira- kira 10 th yg lalu . kini masih teringat alur ceritanya. bagus pengen nonton lagi…

  4. Film ringan, keren. Baru nonton hari ini. Mungkin itu gambaran susahnya migran Muslim di Eropa dalam mendidik anaknya di sana. Lumayan perjalanan melewati berbagai negara memperlihatkan pemandangan alam dan kota2 nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s