Merapi, Setahun yang Lalu

Selasa Malam, tanggal 26 Oktober

Aku masih ingat malam itu. Aku masih di Jakarta, dan sedang mengikuti acara IndonesiaMUN 2010.

Sebenarnya malam itu aku harus datang ke Social Night. Tapi, entahlah, karena aku benar-benar kelelahan dengan semua council proceeding seharian itu, akhirnya aku memutuskan buat istirahat di tempat inapku di Pusat Studi Jepang.

Sambil membawa mie ayam yang baru aku beli di seberang Gedung Komunikasi FISIP UI, aku berjalan gontai ke Wisma Pusat Studi Jepang. Masuk kamar, dan langsung kujulurkan kaki yang pegal. TV pun dinyalakan.

Agak tidak jelas memang, tapi aku melihat sekilas berita tentang Merapi yang sedang bergejolak. Ratusan orang dievakuasi dari lereng, dan belasan telah tewas terkena asap panas. Perasaanku tak enak. Aku cek linimasa di jejaring sosial, dan benar saja, Merapi mulai memasuki siklusnya dan tentu saja Jogja terganggu karenanya.

Esok, tanggal 27 Oktober.

Hari terakhir dari IndonesiaMUN 2010.

Awal sidang terakhir, pimpinan meminta seluruh peserta untuk mengheningkan cipta untuk  Jogjakarta. Banyak yang langsung kaget dan tanya sana-sini, “Eh ada apa sih Jogja?”

Kami yang dari Jogja cuma bisa jawab seadanya, “Merapi meletus”

Tentu saja dengan perasaan yang kalut dan bingung. Bingung sekali. Aku yakin situasi di Jogja saat itu sedang tidak menentu

28 Oktober.

Aku kembali ke Jogjakarta dengan pesawat paling pagi, jam 6 dari Jakarta.

Penerbangan berjalan dengan baik, syukurlah, tanpa terhadang polusi atau hujan abu dari Merapi. Aku langsung balik ke kosan.

Situasi Jogja saat itu cukup tegang, tapi secara umum masih normal. Aku tidak bisa menduga apa yang akan terjadi pada Jogja esok hari.

Malamnya, aku diajak Abie Zaidannas  bersama teman lainnya ke Posko ACT di Km 16. Posko ini baru sekitar seminggu kurang lebih didirikan, tapi waktu aku sampai di Posko itu, situasinya benar-benar penuh dan padat dengan orang.

Bantuan tertumpuk di posko itu. Penuh sekali. Berkardus-kardus mie instan, suplemen makanan, dan alat-alat kebersihan.

Di Posko itu, aku bertemu dengan Mas Bayu Gawtama, relawan aktif di ACT.Mas Gaw, sebutan akrabnya, banyak cerita seputar pengalaman kerelawanannya, soal Merapi dan terutama, Mbah Maridjan. mas Gaw ini sempat bertemu Maridjan entah sekali atau beberapa kali. Yang jelas, mas Gaw membuka beberapa hal-hal menarik terkait mbah Maridjan yang dibilang orang banyak punya kultus, atau tentang mbah Maridjan yang dikomersialisasikan lewat iklan Kuku Bima Energi. Mas Gaw meluruskan segala fakta salah yang disampaikan oleh media.

“Kalian tahu”, kata mas Gaw, “mbah Marijan itu orang yang zuhud dan tawadhu”.Walaupun mbah Maridjan bisa dibilang populer, apalagi pasca iklan ‘Roso’nya di TV, mbah Maridjan tetap low-profile dan taat beragama.

Mbah Mairjdan mendapat untung yang besar dari Kukubima. Sebagai imbalannya, beliau justru meminta pihak Kukubima untuk membangun sebuah masjid di desa Kinahrejo dari penghasilannya di iklan, dan beliau minta masjid itu dibangun sebagus mungkin. Setelah masjid itu dibangun, beliau benar-benar memakmurkan masjid itu dengan segenap kemampuan dan keikhlasan beliau. Luar biasa.

Selain itu, banyak yang mengasosiasikan diri Mbah Maridjan sebagai figur yang kultus dan berhubungan dengan hal-hal ghaib, toh nyatanya mbah Maridjan masih memegang teguh ajaran Islam yang benar, dengan terus membaca Qur’an dan rajin tahajud. Tidak pernah ada tirakatan aneh-aneh yang dilakukan mbah Maridjan. Kalaupun mbah Maridjan melakukan perjalanan ke arah hutan Merapi yang dianggap angker, itu memang sudah tanggungjawab Mbah Maridjan sebagai pekuncen Gungung Merapi. Beliau benar-benar profesional dengan tugas beliau. Beliau hanya ingin memastikan semuanya aman.

Dan hal ini terlihat sampai beliau wafat. Kecintaan, ketaatan terhadap perintah Sultan, profesionalitas dan dedikasi beliau terhadap gunung Merapi terbukti sudah. Beliau meninggal dengan terhormat di lereng Merapi terkena awan panas, menjadi orang-orang terakhir yang setia menjaga Jogjakarta.

Semoga segala amal Mbah Maridjan diterima Allah dan arwah Mbah Maridjan berada dalam ketenangan dan lindungan di sisiNya. Amin.

29 Oktober.

Ini mungkin menjadi hari yang paling melelahkan buatku.

Jujur saja, sebelumnya aku belum pernah punya pengalaman menangani posko pengungsian.

Hari itu, aku ditugaskan untuk jadi kru pembantu di dapur umum shelter Kel. Umbulharjo, sekitar 10 KM jauhnya dari lereng Merapi.

Ketika aku masuk shelter itu bersama Dewantara Arief Rahman, aku terhenyak. Kondisi shelter benar-benar padat dan penuh dengan kepanikan. Relawan mondar-mandir sana sini untuk menangani pengungsi dan mengurusi distribusi bantuan. Relawan hampir datang dari semua golongan, entah dari manapun itu. Biarawati, aktivis dakwah, pekerja BUMN, relawan profesional, ibu-ibu arisan, aktivis LSM mancanegara (dari Korea), sampai wartawan dari berbagai biro di seluruh dunia. Penuh sekali.

Di satu sisi aku lihat seorang reporter sedang sibuk menghubungi kantor pusatnya untuk laporan live, di sisi lain aku melihat seorang mahasiswa sedang bermain-main dengan anak pengungsi.

Aku sendiri saat itu bekerja di dapur umum, entah mengaduk nasi, menggoreng ayam, mengupas kulit telur, dan segala macamnya. Ternyata tidak sesimpel itu, karena aku bersama tim dapur umum harus memasak untuk sekitar ratusan orang di shelter itu. Jatahnya harus pas, dan tidak boleh kurang.

Sempat ditengah bekerja, sekitar jam setengah 10, Merapi meletus. Perhatian semua orang tertuju pada letusan itu. Semua wartawan mengarahkan kameranya ke asap tinggi yang mengepul dari kawah Merapi. Asapnya tinggi sekali. Polisi dan tentara langsung bersiap siaga untuk segala kemungkinan evakuasi. Aku dan Dewan hanya takjub, dan Dewan kemudian bilang,

“Kalau ada apa-apa yang terjadi sama kita, gimana nih za? Gak papa kan?”

Aku cuma bisa pasrah dan menghela nafas.

Ternyata letusan ini tidak begitu serius, meskipun terbilang besar. Namun, relawan TAGANA memperingatkan kami untuk terus waspada dengan segala kemungkinan.

Bantuan terus datang silih berganti tanpa kenal waktu. Mulai dari dinihari sampai dinihari esoknya, truk-truk dengan stok makanan dan alat-alat mandi terus datang ke shelter Umbulharjo.

Jujur, ditengah hari aku cukup kelelahan. Dewan-pun juga. Kami baru sempat istirahat waktu solat Jum’at datang. Itupun sebentar, dan dilanjut kerja rodi lagi di shelter. Sampai sore datang, dan kami naik truk ACT diantar pulang ke Posko.

Hari yang melelahkan memang.

Tapi aku tersentuh.

Aku, yang selama ini belum berbuat apa-apa untuk mereka yang menderita, akhirnya bergerak juga. Pengalaman aku di dapur umum kemarin hari benar-benar berbekas di memori.

30 Oktober – 4 November

Aku tidak begitu ingat apa yang aku lakukan ditanggal ini.

Yang jelas,aku berkunjung sekali ke shelter di daerah 15 Km dari wilayah Merapi. Aku lupa persis nama daerahnya.

Pada tanggal 30  Oktober, aku ingat, itu pagi yang cukup berbeda buatku. Waktu aku buka pintu kamar, sekelilingku sudah benar-benar penuh dengan debu. Seperti salju.

Tanggal 1-4 November, aku sebenarnya masih memiliki beberapa jadwal UTS. UTS saat itu benar-benar chaos karena dibarengi dengan gejolak Merapi. Tanggal 4 November, akhirnya aku pulang dari Jogjakarta. Pertimbanganku untuk pulang sebenarnya simple, untuk ketemu sebentar dengan keluarga, dan setelah itu balik lagi tanggal 7 November.

Ternyata, tanggal 7 November, UGM mengumumkan bahwa kegiatan akademik diliburkan selama 1 bulan. Merapi sudah benar-benar mencapai klimaksnya waktu itu, jarak aman langsung beralih sampai 20-25 km. Hampir menyentuh Jakal Bawah, domilisi mahasiswa pada umumnya.

Keputusan ini kemudian membuat mahasiswa rantau langsung memenuhi semua stasiun dan orangtua mahasiswa rantau mulai panik menelpon anak-anaknya. Memaksa mereka segera keluar Jogja demi alasan keselamatan.

Sedangkan, mahasiswa asal Jogjapun bertahan. Aku bisa bilang, mereka HEBAT. Dalam situasi serba kacau, mereka menjadi relawan, mengabdikan diri di shelter membantu pengungsi.

Aku malu sebenarnya. Karena sebulan itu aku dirumah tidak berbuat hal-hal yang cukup berarti.

Aku baru kembali ke Jogja sekitar 1 minggu setelah Idul Adha waktu itu. Jogja sedang memulihkan dirinya.

Dan sekarang,

sudah setahun lewat setelah Merapi bergejolak.

Posko ACT sudah menjadi laundry.

Shelter Umbulharjo kembali ke fungsi semula sebagai Kantor Kelurahan Umbulharjo.

Masih banyak pengungsi yang tinggal di barak pengungsian terutama di Plosorejo, shelter resmi pemerintah.

Museum Merapi telah selesai dibangun, dan menampilkan koleksi serta bukti keganasan letusan tahun kemarin di gedungnya.

Merapi telah menjadi sebagian dari episode perjalanan hidupku di Jogja,

kisah yang luar biasa dan tak kan pernah terlupakan,

sebuah proses dan batu loncatan bagi diriku untuk terus berubah dan berkembang,

memberi energi bagiku untuk terus melakukan sesuatu,

demi kebaikan sesama bagi Jogja dan Indonesia.


3 thoughts on “Merapi, Setahun yang Lalu

  1. kalo merapi saya gak ngerasain. kalo gempa bantul benar-bener sempat ngerasain, terkejut banget dan segera lompat dari tempat tidur. tapi dengan bencana indonesia bisa terus belajar dan menjadi tambah makmur. indonesia bisa.

    salam cinta indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s