62

62 tahun, untuk ukuran sebuah universitas, masih bisa dikatakan sebagai usia yang muda.

Lihat Al-Azhar, yang telah berdiri lebih dari 1 milenium lamanya. Institusi perguruan tinggi tertua di dunia, yang memberlakukan sistem college (kuliyyah)  dan menjadi awal dari sistem universitas modern. Telah membangun peradaban dan pengetahuan di Delta Nil, mencetak insan-insan yang telah mengukir sejarah dunia, dan bertahan dari badai sejarah – mulai dari Perang Salib sampai Perang Dunia ke-2.

Sekitar seabad setelah Al-Azhar diresmikan di Kairo, baru muncul sebuah universitas di Bologna, Italia, disusul dengan kehadiran Universitas Paris (sekarang dikenal sebagai Sorbonne), dan berbagai universitas lainnya yang muncul diseantero benua Eropa, termasuk Cambridge University yang lahir pada tahun 1208.

Universitas-universitas Eropa ini lahir ditengah gelapnya abad pertengahan. Mereka kemudian mengembangkan konsep kampus modern, dengan istilah almamater yang menyatakan independensi kampus dari pengaruh pemerintah dan institusi keagamaan. Mulai muncul konsepsi kebebasan akademik, seperti yang pernah digelorakan pada masa filsuf Yunani.

Pada zaman Renaissance, universitas-universitas di Eropa mulai berkembang dan menggantikan dominasi dunia Timur atas ilmu pengetahuan. Kurikulum serta materi-materi kuliah mengalami perubahan, terutama pengaruh besar pandangan humanis serta ideologi-ideologi modern mulai berkembang secara pesat pada abad ke-16 dan abad ke-17. Universitas-universitas ternama di Amerika, seperti Harvard, mulai lahir pula pada abad tersebut.

Pada abad ke-20, seiring dengan kebangkitan Asia, mulai muncul beberapa universitas di Asia. Dalam waktu kurang dari seabad, universitas-universitas di Asia  ini, semisal Universitas Tokyo dan Universitas New Delhi berhasil mengejar kejayaan mereka dari universitas Barat dalam pencapaian ilmiah dan akademis, meraih penghargaan Nobel dan mengembangkan ilmu pengetahuan hingga ke taraf setinggi-setingginya.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pada tahun 1849, cikal bakal Universitas Indonesia berdiri dengan nama Sekolah Dokter Jawa oleh pemerintahan kolonial Belanda. Disusul pula dengan kelahiran Institut Teknologi Bandung pada tahun 1920, pun didirikan pula oleh pemerintahan kolonial. Universitas-universitas ini kemudian melahirkan pengagas-pengagas besar dalam sejarah Indonesia, seperti Ir. Soekarno dan Dr. Wahidin Sudirohusodo.

Namun, tepat seabad setelah berdirinya Sekolah Dokter Jawa, lahirlah sebuah perguruan tinggi yang didirikan oleh pemikir serta ilmuwan Indonesia pada tahun 1949. Tepatnya pada 19 Desember, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23/1949, diresmikanlah Universitas Gadjah Mada yang terdiri dari 6 fakultas dan dipimpin oleh Prof. Dr. Sardjito sebagai rektor pertama UGM.

Kehadiran UGM pada saat itu menjawab tantangan zaman, kebutuhan akan ilmuwan-ilmuwan Indonesia untuk memajukan ilmu pengetahuan yang akan didayagunakan untuk menyejahterakan rakyat Indonesia. UGM berdiri pada masa-masa sulit, dimana saat itu Indonesia sedang menghadapi agresi dari Belanda.  UGM menjadi tempat dimana ilmu serta gagasan-gagasan asli Indonesia dipertahankan dari pengaruh-pengaruh kolonial. Kuliah-kuliah pada masa itu diselenggarakan dengan penuh kesederhanaan, meminjam ruang-ruang terbuka di Sitihinggil Kraton Jogjakarta.

Dari UGM, muncul pula pergerakan mahasiswa, yang diinisiasi oleh (Alm.) Prof. Koesnadi pada tahun 1950-an, seiring pula dengan berdirinya Dewan Mahasiswa di UI oleh Prof. Emil Salim. Pergerakan mahasiswa ini yang nantinya akan menjadi salah satu faktor penentu dalam perubahan yang terjadi di sejarah Indonesia.

Tahun 1970-an, dari UGM pula muncul gagasan Kuliah Kerja Nyata yang dipelopori oleh Prof. Koesnadi. Gagasan KKN ini, yang pada akhirnya diadaptasi oleh universitas-universitas di Indonesia, merupakan sebuah tindak nyata dari idealisme yang tercatut dalam statuta UGM, yang menyatakan bahwa UGM “membentuk manusia susila yang cakap dan mempunyai keinsyafan bertanggungjawab tentang masyarakat Indonesia khususnya..”

Tahun 1990-an, ide-ide reformasi Indonesia juga bangkit dari kampung Bulaksumur, kampung yang telah dihibahkan Sultan Hamengkubuwono IX untuk dijadikan kampus UGM. Senat Mahasiswa yang dihidupkan kembali oleh Prof. Koesnadi pada tahun 1986 mengambil peran besar dalam menyalakan motor pergerakan mahasiswa Indonesia masa itu. Dibantu oleh dosen-dosen berpemikiran reformis, seperti Prof. Amien Rais dan Prof. Ichlasul Amal yang juga dikenal sebagai Rektor Reformasi, UGM menjadi tempat awal disemaikannya gagasan untuk mengubah kondisi Indonesia yang telah terpuruk oleh rezim 30 tahun Soeharto.

Pergerakan di UGM kemudian menginspirasi gerak mahasiswa di universitas lainnya, dan menghasilkan sebuah gelombang besar yang meruntuhkan tembok kokoh rezim Orde Baru.

Pada akhirnya, Indonesia memasuki gerbang reformasi.

Dan, dimana UGM saat ini?

62 tahun setelah UGM lahir dari zaman-zaman kesengsaraan dan serba keterbatasan, sekarang UGM mulai mengubah dirinya. Bangunan-bangunan megah dan serba modern mulai melingkup kampus Bulaksumur. UGM sedang mencitrakan dirinya untuk menjadi sebuah Universitas Riset Kelas Dunia yang nantinya diharapkan melahirkan insan-insan Indonesia yang memenangkan Hadiah Nobel dan pencapaian akademis tertinggi lainnya.

Namun, sebenarnya UGM sedang mengalami krisis. Bukan krisis material, karena pada tahun-tahun ini, seolah UGM sedang bertransformasi menjadi sebuah kompleks akademik termegah di Jawa. UGM sedang dalam ancaman kehilangan identitas dan kehilangan arah. Identitas “kampus kerakyatan” yang dimiliki oleh UGM sekarang seolah hanya menjadi simbol dan pencitraan belaka.

Seharusnya, seluruh civitas akademika UGM menginsyafi perannya sebagai insan Indonesia yang progresif, yang tidak terlena oleh buaian zaman modern yang identik dengan sikap-sikap apatis dan individualis. Saat ini, gagasan-gagasan hebat dari pemikir semacam Prof. Teuku Jacob, Prof. Sardjito, Prof. Sartono dan Prof. Moebyarto hanya dijadikan arsip dan bagian dari sejarah UGM tanpa dibangkitkan kembali.

Padahal, gagasan profesor-profesor ini penting, terutama tentang bagaimana peran UGM untuk menjadi sebuah kampus yang benar-benar membaktikan dirinya pada rakyat, bukan pada institusi internasional demi mendapatkan akreditasi. Untuk meraih pencapaian akademis yang tinggi, meraih Nobel dan menciptakan inovasi,  sebenarnya civitas akademika UGM hanya perlu kembali ke khittah-nya yang sebenar, yakni jalan pengabdian kepada rakyat.

“Janganlah pencitraan itu membuat Anda melupakan substansi serta tujuan Anda yang sebenarnya” – kata Dubes Iwan Wiranataatmadja

Bolehlah UGM mempunyai fasilitas riset yang luar biasa, kampus yang megah, dan pencapaian internasional yang tinggi, tapi satu hal yang tidak boleh dilupakan, civitas almamater UGM yang katanya kampus kerakyatan dan kampus perjuangan ini, tidak membuat batas antara dirinya dengan rakyat. Rakyat dan UGM adalah satu kesatuan utuh yang nantinya, dalam satu abad kemudian, semoga, akan melahirkan pemikir-pemikir yang progresif, bermoral, sadar akan cita-cita bangsa Indonesia dan memberikan hidupnya untuk kemajuan Indonesia dan dunia pada umumnya. Bukan tidak mungkin, UGM akan menjadi poros pemikiran utama di Asia Tenggara dan Dunia nantinya.

Maka dari itu, marilah insaf demi kebaikan dan kejayaan UGM dan Indonesia!

Selamat ulang tahun yang ke-62, UGM.

One thought on “62

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s