8 tahun

Rasa-rasanya kemarin, sekitar pertengahan Juli 2004, aku baru saja masuk di sebuah pesantren di ujung pulau Jawa. Waktu itu, aku ditinggal orangtua supaya bisa belajar mandiri. Rasa-rasanya memang berat, karena ditinggalkan di hutan yang aku sama sekali tidak tahu, dan jauh dari “peradaban” kota.

Masih ingat waktu awal-awal masuk pesantren, semua temanku menangis. Ya, wajar. Siapa yang mau tinggal di asrama dengan aturan-aturan dan menghabiskan hari tanpa TV dan segala macamnya?

Ya, memang perlahan-lahan, aku dan teman-temanku terbiasa dengan semua aturan dan kondisi itu.

Mulai dari makanannya yang seringkali cepat habis dibantai oleh teman-teman seasrama,

tim kedisplinan yang sangar dan sadis, siap membantai wajah-wajah santri unyu yang mencoba mbandel,

kena hukuman untuk cabut ilalang,

kebanjiran di asrama,

dikejar anjing hutan….

terpleset di turunan penuh lumpur waktu hujan..

diketekin kakak kelas….

sampai tawuran antar asrama.

Iya! Tawuran antar asrama!

Ah, jadi mau ketawa ngingetnya.

Ah, itu baru tahun pertama.

Tahun kedua di SMP lebih-lebih ‘berat’ dan seru lagi. Wali asramaku terkenal ganas dan sangat disiplin. Setiap pagi, dengan semprotan air suci dan gagang sapunya, pak Ustad ini membangunkan seluruh santrinya dengan menggedor-gedor pintu dan menyipratkan air suci kepada santri tercinta sehingga terbangun dari impian indahnya…

Setelah subuh, pastinya ada piket untuk membersihkan asrama. Biasanya kami ditemani lagu-lagu haroki, lagu-lagu semangat yang sering dipakai kader PKS waktu demo. Mungkin sampai sekarang teman-teman seasramaku masih hapal. Gebrukan drum dari lagu itu membuat nggak ada lagi santri yang mau tidur (ya, sebenarnya ada aja sih..)

Nah, kalau piket ada yang kotor sedikit, nggak beres sedikit, semua santri harus push-up 120 kali.

Sekilas sadis, tapi lumayan, buat olahraga pagi. Hehe.

Ah, di masa inipun, rona-rona cinta remaja mulai terasa. Ya, maklum, kubu lelaki dan kubu perempuan di pesantrenku mulai sering berinteraksi karena kami merencanakan program Islamic Supercamp Leadership Competition. Mulai ada yang namanya modus-modus tersembunyi, selipan surat di meja kelas, sampai sms-sms yang dikirim diam-diam.

Mulai bandel juga. Kelas dua ini masa bandel yang paling parah. Komputer mulai masuk asrama, dan beberapa hari kemudian, banyak game yang sudah diinstal. Mulai dari Nascar, sampai ke…. Call of Duty. Pernah wali asramaku pergi sehari semalam, dan ya, teman-temanku menyelesaikan seluruh campaign di Call of Duty dalam waktu sehari itu. Haha.

Bukan hal aneh lagi kalau di lemari-lemari kami ada kaset band, DVD film, komik dan barang macam-macam. DVD film pun nggak nanggung-nanggung – ada film Hannibal yang terkenal sadis itu. Hahaha.

Ah, tapi ada satu momen yang benar-benar terkenang dari masa kelas dua ini.

Aku ingat sekali, malam itu benar-benar gelap dan mendung. Tanggal 15 Mei 2006. Teman-teman seasrama lagi asik main bola di lapangan. Tiba-tiba….

Aku kaget, teman-temanku pada lari keasrama. Ternyata seorang teman tersambar petir saat main bola. Semuanya kaget. Dibawa ke klinik pesantren, ternyata tidak ada fasilitas cukup. Akhirnya, dia dibawa ke rumah sakit di Cilegon yang jaraknya sekitar 1.5 jam perjalanan. Was-was menunggu, sekitar jam setengah delapan malam, ada telefon dari Cilegon. Sang teman, yang bernama Aal, sudah pergi ke indahnya Surga. Tak ada yang menyangka, dan malam itu hanya menyisakan tangisan di asrama kami.

Toh, momen itu pada akhirnya menyatukan angkatan kami, angkatan enam.

Tahun ketiga. Terasa sangat cepat. Kelas tiga itu istilahnya adalah masa-masa yang penuh ujian dan peluh keringat. Waktu itu kami benar-benar digembleng untuk bisa mengerjakan soal-soal UN SMP – dan waktu itu kami memang dibantu Bimbel. Mana bisa kami cari SMS contekan dari luar sana?

Setelah melalui serial TO UN..dan juga sempat tawuran waktu H-3 sebelum UN dengan kakak kelas SMA yang menyebalkan.. (Oyeah!)…

Akhirnya dengan segala kerja keras, segala ketulusan dan kerjasama… yak, kerjasama..!

Kami lulus 100%. Sempat terdengar isu kalau ada yang tidak lulus, tapi akhirnya semuanya lulus juga.

Ya, diakhir masa pendidikan SMP ini, baru kami rasakan semua kenangan dan manfaat dari didikan keras ala pesantren. Uh. Masih teringat, semua santri angkatan enam yang nangis waktu muhasabah sehabis haflah wada’.

Dan, pada akhirnya, kami harus meninggalkan hutan penuh kenangan ini menuju ke dunia yang lebih menantang lagi ke… masa SMA.

Masa SMA.

Jujur, sampai sekarang, kalau ditanyakan tentang masa SMAku, aku akan jawab kalau aku menyesal.

Ya, penyesalan itu datang karena aku tidak cermat menggunakan waktu SMAku dengan baik untuk berorganisasi dan beraktualisasi.

Tapi, toh, aku dapat teman kelas yang baik.. 23 orang yang benar-benar bareng mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. Mulai dari nginep bareng di Puncak, Trip Observasi bareng di Karawang (ah, aku lupa nama desanya!). melewati masa-masa ujian internasional yang bertumpuk – mulai dari IGCSE sampai A-Level, praktek di UI, mendengar nasehat dan tausiyah dari guru Fisika tercinta, omelan dari guru Kimia tersayang, sampai lawakan dari guru bahasa Indonesia dan guru PKn nan bijak.

Ah, sempat pula jatuh cinta di masa SMA ini. Tapi terlalu silly untuk diceritakan. Hihi.

Di akhir batas, waktu kelas 3, aku benar-benar merasa bahwa perjuanganku sangat berat. Dengan melihat kondisi diriku yang sebenarnya bukan orang yang seharusnya duduk di kelas IPA, menghadapi serangkaian TO UN dan TO SNMPTN di bimbel membuatku hampir mati (ya, ditambah juga yang IGCSE dan AS-Level tadi). Dari situ aku dapat pelajaran, aku tidak mau ketemu lagi dengan yang namanya rumus matematika, limit, integral, optik, relativitas dan segala macamnya. Capek!

Ya, aku lebih suka belajar biologi dan kimia (walaupun kimia masih ada logaritma dan angka-angkanya).. Aku sempat mau masuk kedokteran (sampai baca yang namanya buku Anatomi Sobotta, dan Harrison’s Internal Medicine), tapi apa daya…

Toh, ternyata ada jawaban lain buatku. Aku masuk Hubungan Internasional di UGM.

Banyak yang tidak menyangka, bahkan teman-teman IPS seangkatanku. Entahlah, tapi mungkin ini rezeki Tuhan.

Aku memang tidak lulus dengan nilai summa kumlaude untuk UNku (bahkan Matematika dan Fisikaku ada diambang batas!), tidak seperti temanku yang sekarang sedang kuliah di Jepang atau yang sedang kuliah di FK UI.

Tapi, di masa kuliah ini, aku ingin membalas semua ketertinggalanku di SMA.

Masa kuliah, aku awali dengan datang ke kota pelajar, Jogjakarta. Kota yang setidaknya masih layak huni sampai sekarang.

Awal mula semester pertama, aku masih agak apatis, tidak terlalu peduli dengan sekitarku. Sebenarnya ingin peduli, hanya saja aku bingung bagaimana caranya untuk bergerak. (Maklum, waktu SMA aku tak berbuat apa-apa.. jadi beginilah!). Untungnya ada teman-teman dekat yang mencoba untuk membantu dan menginspirasi aku untuk lebih aktif dan bergerak.

Seolah mereka bilang, “Hey, kamu punya kemampuan itu! Ayolah, buat sesuatu dengan pikiran dan kemampuanmu itu”, dan aku perlahan berlari, dan mulai mencapai mimpi-mimpi yang pernah aku idamkan beberapa tahun lalu…

Memang, di tengah perjalanan ini, aku cukup lelah. Dengan semua tugas dan tanggungjawab yang ada dipundakku, badanku hampir terasa remuk.

Ya, disaat-saat seperti itu, terkenang dan terbayang siluet keluarga… yang selalu mendoakan dan mendukung setiap langkahku di sini. Teman-teman yang selalu menghibur dengan segala cara, termasuk bully mereka… mimpi-mimpi dan cita yang membuatku selalu terdorong untuk tidak cepat menyerah… dan juga cinta. Cinta yang selalu menginspirasi setiap kerjaku disini…… cinta yang membuatku bahagia tanpa sebab… dan cinta yang membuatku selalu rindu selama dua tahun ini.. Seolah tak pernah henti.

Ah, mereka ini, teman-temanku ini, membuat hidupku jadi lebih indah dari sebelumnya.

.. dan yang jelas, sudah dua tahun hampir kulewati di Jogja, rasanya amat cepat! Mungkin dalam beberapa masa lagi, aku sudah beranjak ke tempat lain untuk meneruskan petualangan hidupku…

Dari perjalanan sepanjang 8 tahun ini, seolah tidak akan ada kenangan yang tak akan terlupa, selama delapan tahun yang telah kulewati dengan cepat ini. Walaupun di tulisan ini tak tertulis semua kenangan yang pernah kualami (saking banyaknya), tulisan ini kubuat untuk siapapun yang pernah berjalan bersamaku, belajar bersamaku, bertualang bersamaku dan berbuat bersamaku untuk meraih cita dan cinta.

5 thoughts on “8 tahun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s