Wong Pinggiran

Beberapa hari ini sewaktu ngaji Quran, aku beberapa kali ketemu kata “rojulun min aqsal madinati”. Yang kuinget ada di dua surat, yang pertama di al-Qashash dan yang kedua di Yasin.

“Rojulun min aqsal madinati” secara bahasa berarti orang dari tempat paling jauh di kota. Ya, atau bahasa sehari-harinya bisa disebut sebagai wong pinggiran.

Yang menarik dari “rojulun min aqsal madinati” atau wong pinggiran ini adalah mereka selalu muncul sebagai pemberi peringatan (nadzir). Dalam surat al-Qashash, wong pinggiran ini berperan untuk mengingatkan Nabi Musa a.s. bahwa nyawa beliau terancam (karena Nabi Musa ‘membunuh’ seorang dari keluarga kerajaan Firaun/Banu Firaun). Hadirnya wong pinggiran dalam kisah Nabi Musa a.s. ini penting karena wong pinggiran inilah Nabi Musa dapat menyelamatkan nyawanya dan terjadi titik balik dalam kehidupan Nabi Musa a.s. – yang digambarkan lebih lanjut di ayat-ayat selanjutnya di al-Qashash, yakni perjalanannya ke Midian untuk bertemu Nabi Shu’aib yang kemudian jadi mertuanya.

Dalam surat Ya-Sin, peran wong pinggiran juga tidak kalah penting. Kalau teman-teman hafal surat Ya-Sin, mesti ngerti dengan cerita kaum Ya-Sin (entah apa namanya, tapi menurut beberapa riwayat, kaum itu pernah bermukim di wilayah Antiochia, Syria modern sekarang). Wong pinggiran dalam Ya-Sin ini hadir dalam setting di akhir cerita kaum Antiochia (beberapa riwayat menyebut wong pinggiran ini bernama Habib an-Najjar), dimana kaum Antiochia sebelumnya telah membiarkan tiga utusan yang dikirim oleh Allah untuk mengirimkan peringatan kepada kaum Antiochia yang telah berbuat zalim. Tapi, di tengah ketidaksadaran dari kaum Antiochia, ada seorang wong pinggiran yang sadar bahwa utusan-utusan itu membawa pesan penting yang dapat menghindarkan kaum Antiochia dari azab yang pedih. Wong pinggiran ini mencoba untuk meyakinkan kaumnya, wonge dewe, kaum Antiochia untuk tidak meminta syafaat kepada ilah selain Allah.

Tapi toh, mungkin karena dari pinggiran kota, kaum Antiochia tidak menghiraukan pesan itu. Malahan wong pinggiran ini disiksa karena yakin dengan keimanannya.

Dan dalam beberapa hari kemudian, kota Antiochia luluh lantak hanya dengan satu teriakan. Menurut tafsir, ketika Malaikat Jibril masuk ke gerbang kota itu, Malaikat Jibril berteriak dan… tidak ada suara lagi yang terdengar dari kota itu.

Yang aku ingin garis bawahi disini adalah bagaimana sebenarnya al-Quran punya pesan yang penting untuk kita renungi tentang wong pinggiran.

Di masa-masa modern ini, siklus kehidupan memang banyak bergulir di metropolitan dengan segala hiruk pikuk dan kemajuannya. Manusia modern dituntut untuk berpikir cepat dan bergerak cepat untuk dapat mengikut alur zaman. Manusia modern berpikir banyak tentang what will we get dan hal-hal materi yang sifatnya pragmatik.

Namun, di sisi lain dari hiruk pikuk dunia metropolitan yang serba maju dan modern, ada pinggiran dari wilayah metropolitan tersebut. Pinggiran yang seringkali dimaknai secara peyoratif dan hina oleh banyak manusia modern. Entah dengan kata-kata kampungan atau ndeso.

Tapi, al-Quran mencoba mengingatkan kita bahwa sebenarnya wong pinggiran tidak selamanya kampungan atau ndeso. Bisa jadi wong pinggiran, karena hidupnya di batas kota atau hampir dekat desa, memiliki kesempatan untuk merefleksikan hidup karena pola hidup yang tidak tergesa-gesa dan apa adanya (qonaah). Hal penting lainnya adalah wong pinggiran bukannya tidak mengamati situasi kota/perkembangan dunia, tidak! Mereka sadar itu, dan mereka punya filosofi yang lebih dalam dan reflektif ketika memahami kondisi dunia saat ini.

Allah, melalui al-Qur’an, mengajak kita untuk mendengarkan suara wong pinggiran. Suara-suara sederhana yang mungkin seringkali kita abaikan, tapi sebenarnya penting. Nadzir (peringatan) bisa jadi hadir dari wong pinggiran yang kelihatannya biasa saja.

*mohon koreksi jika ada yang salah dalam tulisan, al Haqqu minaLlah*

Ditulis di Angkringan dekat Demangan

29 Rajab 1435 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s