Jogja, Harapan Itu Masih Ada

Akhir-akhir ini, banyak yang bilang Jogja sudah tidak nyaman lagi. Selain karena Jogja mulai kehilangan jiwa kesederhanaan dan kesuwungannya dengan pembangunan yang seakan tidak bisa direm, Jogja mulai kehilangan jiwa toleransi.

Sebagai mahasiswa rantau yang tinggal di Jogja, aku merasakan Jogja adalah sebuah madinah yang thayyibah wa rabbun ghaffur pada awalnya. Bagaimana tidak, Jogja telah jadi bukti bahwa orang dari agama dan sukubangsa yang berbeda tidak hanya hidup berdampingan, tapi berkolaborasi dalam berbagai lini kehidupan.

Adanya kekerasan Jogja nampaknya telah meredupkan harapan sebagian orang tentang Jogja yang nyaman. Tapi aku kira harapan kita tidak boleh redup oleh aksi sekumpulan orang yang sebenarnya tidak ada apa-apanya dibanding banyak orang Jogja yang masih percaya akan kekuatan guyub dan gotong royong, terlepas latar belakangnya.

Aku percaya harapan itu tak akan pupus begitu saja karena harapan toleransi Jogja akan terus ada di desa-desa.

Aku masih teringat ketika aku ikut KKN sekitar awal Juli-akhir Agustus lalu di Dusun mBrajan, Desa Sendangagung, Minggir, Sleman. Aku kebetulan mondok di rumah seorang warga, namanya Pak Jemirin. Pak Jemirin adalah seorang PNS dan seorang Katolik yang taat.

Di desa mBrajan, komposisi antara warga Muslim dan Katolik rasionya bisa dibilang hampir imbang. Aku dengar dari warga kabarnya bahkan di satu keluarga besarpun bisa terdiri dari pemeluk kedua agama tersebut. Walaupun pada awalnya memang ada kekhawatiran kristenisasi di desa mBrajan, tapi seiring waktu kekhawatiran itupun pupus dan warga dari dua agama yang berbeda ini tetap hidup berdampingan.
Selama KKN, aku menemukan banyak contoh-contoh sederhana toleransi di dusun mBrajan yang mungkin bisa ditemui dengan mudah di dusun-dusun Jogja lainnya.

Salah satu contoh nya adalah Pak Jemirin. Walaupun seorang Katolik, nampaknya beliau cukup mengerti Islam. Beliau tidak segan-segan mengingatkan saya dan teman2 para pemondok untuk sahur kalau memang sudah waktunya sahur. Beliau juga tidak melarang kami para pemondok yang semuanya Muslim untuk membaca al-Quran dengan keras di rumahnya di pagi hari. Selain Pak Jemirin, juga banyak orang Katolik baik hati di dusun mBrajan dan mereka sama-sama telah membantu kami dalam menyelesaikan KKN.

Ada juga contoh lain. Di dusun mBrajan, kami biasanya sholat di Masjid Al-Mustaghfirin. Secara organisasi dan keaktifan, masjid ini bisa dibilang cukup hidup dan berdaya. Masjid ini bisa berdaya karena ada koperasi simpan pinjam masjid yang dananya banyak disuplai dari dana masyarakat sebuah perusahaan dan UII Jogja. Adanya dana tersebut dikelola oleh masyarakat mBrajan untuk kesejahteraan dan permodalan masyarakat mBrajan yang kebanyakan adalah pengrajin bambu. Meskipun dana ini adalah dana koperasi simpan pinjam yang dikelola oleh masjid, namun anggota KSP bukan hanya jamaah masjid saja. Banyak juga anggota KSP yang beragama Katolik dari dusun mBrajan ikut serta dalam koperasi tersebut. Kata takmir masjid, seingatku, ya ini merupakan bentuk solidaritas dan guyub antar warga. Tidak ada salahnya dana KSP yang dimiliki masjid disediakan untuk warga Katolik karena esensi Islam adalah untuk membawa kebermanfaatan bagi sesama.

Sebenarnya masih banyak contoh-contoh sederhana lainnya dari mBrajan tentang toleransi hanya saja yang memang paling aku ingat hanya dua contoh itu saja.

Aku teringat kata Syaikh Ahmad Hassoun, Mufti Suriah, ketika mengingat cerita-cerita dari dusun mBrajan. Syaikh Hassoun pernah bilang Muslim dan Kristen itu sebenarnya lebih banyak persamaannya daripada perbedannya – walaupun memang konsepsi dan pemahaman terhadap hal itu berbeda. Sama-sama percaya Tuhan, sama-sama percaya Injil, sama-sama percaya Nabi Isa dan mujizat-mujizatnya, sama-sama percaya Bunda Maryam, sama-sama percaya kenaikan Nabi Isa. Jadi, umat Muslim dan Kristen sebenarnya adalah orang-orang beriman, dan sesungguhnya umat beriman itu adalah bersaudara.

Jadi Jogja tidak seharusnya kehilangan harapan dengan kekerasan seperti itu. Kita hanya perlu kepedulian dan kepekaan yang lebih serta solidaritas yang lebih kuat antara orang-orang Jogja, baik yang muhajirin (rantau) maupun ansor (Jogja asli), baik Kristen, Hindu, Katolik, Buddhist, Muslim, Konghucu, dan lain-lain agama dengan beragam sektenya..untuk berani berkata tidak terhadap mereka yang ingin merusak tenun kebangsaan (istilah Anies Baswedan) yang sudah terjahit dengan rapi di Jogja

Ingat firman Allah,
Sesungguhnya manusia itu diciptakan berbeda-beda dengan alasan supaya mereka saling mengenal satu sama lain.

Manusia yang baik adalah manusia yang bertakwa dan takut pada Tuhannya, bukan membuat takut manusia lain dengan aksi-aksi terornya.

Jogja, 3 Juni 2014
Lagi-lagi di angkringan Demangan, kali ini di dekat USD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s