Cerita Malam Ini

Malam ini, sekitar jam 7 EEST, setelah saya nongkrong dengan teman-teman kelas persiapan bahasa Turki (TÖMER) di Adalar, saya berangkat ke Hal Camii untuk solat Maghrib. Cuaca saat itu sangat dingin, mungkin berkisar 10 celcius dengan angin yang cukup kencang, dan saya hanya memakai jaket hoody yang saya pakai di Jogja.

Nah, karena saya memang sudah merasa kedinginan, saya langsung mempercepat langkah saya ke Camii sekalian menghangatkan diri.

Di Camii, akhirnya saya sholat Maghrib dan nongkrong sebentar sebelum keluar lagi untuk ke Asrama. Setelah saya solat Maghrib, saya melangkah keluar masjid untuk memasang sepatu. Saat saya sedang mau memasang sepatu, tiba-tiba ada seorang jamaah paruh baya (kira-kira umurnya 50-an) yang tadi solat disebelah saya menyapa saya, “Allah kabul etsin” – atau dalam bahasa Indonesianya, “Semoga ibadahmu diterima Allah”. Saya balas juga dengan kalimat yang sama.

Bapak paruh baya ini kemudian melanjutkan pembicaraan dengan menanyakan asal saya, “Nerelisin?” (Dari mana kamu?). Saya jawab
“Ben Endonezyalıyım” (Saya orang Indonesia). Bapak ini langsung terlihat tersenyum dan tertarik ketika mendengar saya dari Indonesia. Dari pendengaran dan pemahaman saya yang terbatas dengan bahasa Turki, bapak ini kira-kira bilang begini, “Oh dari Indonesia ya! Saya dulu naik haji tahun 1996, dan ketemu dengan banyak orang Indonesia. Pada saat saya sedang berhaji, saya dibantu oleh jamaah haji Indonesia, mereka baik-baik!”. Saya kemudian tersenyum lalu membalas, “Dulu orangtua saya sempat haji juga, tapi sekitar tahun 1997”.

Percakapan tidak berhenti disitu. Saya dengan  bapak paruh baya ini masih terus bicara sembari menunggu hujan reda. Bapak ini kemudian bertanya, “Kamu di Eskisehir sedang kerja atau kuliah?”. Saya kemudian jawab, “Saya kuliah, tapi tahun ini saya belajar bahasa Turki di Osmangazi, dan tahun depannya saya baru lanjut belajar kuliah S2 di Osmangazi juga”. Mendengar saya dari Osmangazi, bapak ini kemudian langsung tertarik, “Kamu kuliah jurusan apa?”. Saya bilang, “Saya kuliah S2 nanti di Hubungan Internasional”. Bapak itu menjadi sangat senang karena, “Oh, putera saya kebetulan juga sedang S2 HI di Osmangazi!”… Saking excited-nya bapak ini, saya diajak ikut beliau, “Gel, gel!” (Ayo mari!)

Bapak ini kemudian mengambil sepedanya yang diparkir di pelataran Camii lalu membawanya keluar. Beliau kemudian bilang, “Sebentar, saya mau telefon anak saya dulu”. Saya kemudian menunggu, sambil melihat beliau sedang memberitahukan anaknya kalau ada anak Indonesia yang akan ambil S2 HI di Osmangazi.Setelah selesai menelpon, beliau mengajak saya untuk ngecay (ngeteh) di rumah beliau, katanya ingin tahu lebih banyak tentang saya dan berbicara tentang banyak hal. Tapi, saat itu saya sudah capek karena memang sudah jalan2 seharian dan cuacanya memang masih dingin, jadi saya mau menghangatkan diri di asrama. Saya kemudian bilang ke beliau, “Malam ini saya mau ke Asrama dulu pak, mungkin minggu depan kita bisa ketemu”. Awalnya beliau sangat insisting, “Ayo, kamu ke rumah saya sekarang, biar ketemu anak saya juga.” Tapi, kemudian beliau mengerti kondisi saya dan akhirnya saya dan beliau bertukar nomor telefon untuk membuat janji sekitar minggu depan saat saya sedang lowong.

Saat saya bertukar nomor dengan beliau, beliau cerita bahwa anaknya dulu sempat ikut program (entah pertukaran pelajar atau kuliah singkat) di University of Wisconsin selama satu tahun (atau enam bulan ya?) – jadi kemungkinan besar anaknya bisa berbahasa Inggris dengan sangat lancar.

Saya baru berkenalan nama dengan bapak ini setelah selesai bertukar nomor.

Memnum oldum.

Ben de memnun oldum.

Setelah itu, saya mohon pamit ke bapak yang baik ini karena saya mau istirahat di asrama..

Ini bukan pertama kali saya disapa oleh orang random di Turki.. yang bercerita tentang kebaikan jamaah haji Indonesia

Pertama kalinya mengalami hal seperti ini adalah saat saya sedang naik tram ke Çankaya untuk datang ke pesta bakar-bakaran (barbekuan – bahasa Turkinya mangal) forum masyarakat Indonesia ++ (karena ada anak2 dari negara ASEAN juga).

Di tram, saya tiba-tiba disapa oleh seorang dede (bahasa Turkinya mbah) yang nanya asal saya dari mana. Saya jawab dari Indonesia, dan simbah langsung cerita bahwa saat beliau sedang berhaji, beliau banyak dibantu oleh jamaah haji dari Indonesia, dan memang jamaah haji Indonesia sangat baik. Ceritanya panjang, sampai saya tidak ingat lagi apa detilnya. Saat itu, untungnya saya berangkat dengan beberapa teman (salah satunya mas Abdulhamid dari Aljazair) yang membantu saya untuk memahami cerita simbah saat berhaji di Saudi Arabia.

Saya sangat terkesan dengan apa yang saya alami dalam dua pertemuan dengan dua orang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Mereka sangat terkesan dengan kebaikan orang Indonesia, sampai ketika saya sebutkan “Saya orang Indonesia”, muka mereka langsung sumringah. Dua orang yang saya temui ini mengaku bahwa mereka tahu kebaikan orang Indonesia saat sedang menunaikan haji. Entah bagaimana detil ceritanya, saya tidak tahu. Yang jelas, kebaikan jamaah haji Indonesia ini begitu membekas di hati mereka para jamaah haji Turki sampai bertahun-tahun setelah berhaji, sehingga sampai sekarang ketika mereka bertemu dengan orang Indonesia, mereka sangat senang – bahkan sampai mengundang untuk ngecay – ngeteh (yang merupakan cara orang Turki untuk menghormati tamu). Well, hal ini tidak hanya saya saja yang mengalami, tapi juga mahasiswa-mahasiswa Indonesia lain di seluruh daerah di Turki yang kebetulan disapa oleh bapak-bapak paruh baya atau simbah-simbah yang sudah naik haji.

Saat saya pulang, saya kemudian tersenyum, membayangkan betapa luar biasanya jamaah haji Indonesia. Menurut saya, merekalah orang-orang yang membuat impresi baik bangsa dan hal itu sangat membentuk persepsi orang terhadap Indonesia. Mereka juga pantas disebut diplomat, in terms of building people-to-people relations.

Dari apa yang saya alami malam ini, saya juga menyadari betapa luar biasanya makna ukhuwah yang melintas batas perbedaan negara, suku, bangsa, dan bahasa. Ukhuwah dimulai oleh adanya intensi  dan niatan baik.. dan kebaikan itu adalah sebuah bahasa universal, yang mudah dipahami, karena ia disampaikan dari hati ke hati.

Asrama Mahasiswa Yunusemre, 18 Ekim 2014 22:53 EEST

One thought on “Cerita Malam Ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s