Refleksi Ma’al Hijrah 1436 H

Khutbah siang ini entah kenapa begitu menyentuh buat saya. Meskipun saya cuma bisa menangkap sedikit isi khutbah yang disampaikan di Ilahiyat Camii siang ini, tapi saya bisa menangkap pesan umumnya lewat ayat pembuka yang dibacakan oleh hoca yang membacakan khutbah.

Alladzina amanu wa hajaru wa jahadu fi sabilillahi bi amwalihim wa anfusihim a’zhamu darajatan ‘indalLah.. wa ‘ulaika humul faizun..

“Sesungguhnya mereka yang beriman, berhijrah dan berjuang di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka, maka derajatnya akan ditinggikan di sisi Allah, dan merekalah orang-orang yang beruntung”

Jleb. Ayat-ayat itu langsung masuk ke hati saya. Saya langsung merefleksikan ayat itu dengan kondisi saya, yang kebetulan saja baru melakukan hijrah secara fisik ke Turki untuk melanjutkan belajar. Mata saya langsung berkaca-kaca, karena saya tahu hijrah saya ini sebuah perjuangan dan sebuah ujian besar untuk menguji keimanan saya. Mengapa begitu? Saya berpisah dengan banyak orang-orang yang saya sayangi di Indonesia. Saya meninggalkan zona nyaman saya di Indonesia untuk berhijrah dan berpindah ke tempat baru yang bernama Eskisehir, dengan budaya dan bahasa yang benar-benar berbeda.

Saya kemudian mencoba untuk mendengarkan khutbah dari hoca. Dari apa yang saya ingat dan saya dengar, inti khutbahnya begini: hijrah itu memiliki dua esensi penting. Esensi pertama adalah bahwa hijrah merupakan sebuah inisiatif yang melahirkan perubahan. Inisiatif ini muncul dari inspirasi ilahiah kepada Nabi Muhammad saw. yang akhirnya berhijrah dengan meninggalkan keluarga, kerabat, harta benda dan orang-orang yang dicintainya di Makkah al-Mukarramah. Nabi Muhammad menempuh perjalanan yang tidak mudah bersama sahabat terkasihnya, yakni Abu Bakar r.a. Melewati semua rintangan dan tantangan yang tak terkira hingga sampai ke Quba, lalu akhirnya sampai ke Madinah. Nabi Muhammad saw. kemudian sampai di Madinah, lalu bersama-sama dengan kaum Ansar dan Muhajirin yang datang dari Makkah membangun sebuah peradaban. Dari adanya inisiatif hijrah, muncul sebuah peradaban madani di Madinah yang kemudian mampu menyebarkan cahaya Islam di seluruh dunia. Kata hoca, kisah besar kejayaan Islam bermula dari adanya hijrah ke Madinah

Esensi kedua adalah bahwa hijrah merupakan sebuah strategi dakwah (saya jadi teringat kajian manhaj haraki selama liqo’, hehe). Strategi dakwah yang harus dilakukan oleh Nabi Muhammad tatkala dakwah di Makkah sudah dijegal dan ditekan oleh kaum Quraisy. Pada saat sebelum hijrah, Nabi Muhammad s.a.w. mengatur strategi kepindahannya bersama Abu Bakar dan anak perempuannya, serta sepupunya Ali bin Abi Thalib r.a. Dengan adanya bantuan dari kerabat-kerabat dan sahabat terdekat serta pengaturan strategi (yakni dengan Ali bin Abi Thalib yang tidur di ranjang Nabi Muhammad). Seingat dan sepenangkapan saya dari perkataan khotib, adanya perencanaan strategis merupakan hal penting yang perlu diambil pelajarannya dari peristiwa hijrah. Sebuah inisiatif harus disusun dengan strategi matang, bukan dibuat secara asal-asalan atau hitung-hitungan reaktif belaka.

Setelah khutbah selesai, lagi-lagi saya melakukan refleksi. Khutbah ini entah mengapa menjadi sebuah pesan tersendiri bagi saya selaku seorang muhajir yang baru saja datang dari Indonesia ke Turki. Saya percaya, kepindahan saya ke Turki merupakan sebuah cara Tuhan mencoba untuk mendidik saya dan untuk memberikan sebuah cakrawala baru bagi pemikiran saya, sehingga mungkin saja kedepannya saya bisa berhijrah – bukan hanya dalam arti fisik, tapi dalam arti hijrah mental, intelektual dan spiritual. Mabda’ (asal) dari hijrah saya tetap sama, prinsip saya tidak berubah dan insya Allah, tujuan akhir saya sudah tetap, hanya saja dengan hijrahnya saya ke Turki, Tuhan meminta saya untuk terus belajar.

Saya tahu bahwa upaya pembelajaran ini tidak mudah. Sejak awal saya bertekad untuk mendapatkan beasiswa Turki hingga sekarang saya berada di Turki, I always learned it in hard and difficult way. Tapi saya selalu yakin, bahwa dibalik semua kesulitan dan kepayahan yang telah saya hadapi selama ini, selalu ada kemudahan dan kebaikan dari jalan yang tidak disangka-sangka. Selalu ada orang-orang yang mau membantu saya saat saya menghadapi segala macam kesulitan dan kepayahan dalam proses saya berhijrah – seperti ketika Nabi Muhammad s.a.w . hendak berhijrah ke Madinah.

Walaupun cerita hijrah saya tidak semonumental hijrah Nabi Muhammad s.aw., saya yakin hijrah saya ini akan menjadi sebuah titik balik di kehidupan saya sebagai seorang pemuda yang beranjak menjadi seorang lelaki dewasa.

Bukan hanya dalam konteks individu saja, saya rasa khutbah yang disampaikan Jum’at kemarin ini merupakan refleksi penting juga bagi umat Islam sedunia yang saat ini menghadapi masalah yang amat kompleks.

Saat ini, Islam sedang kehilangan zeitgeist-nya, kehilangan tempo untuk berhijrah. Dari mana-mana kelompok, memang muncul banyak sekali bagian untuk hijrah, tapi sekali lagi, tidak pernah jelas ke arah mana hijrah itu akan dilangsungkan dan strategi apa yang dijalankan. Yang menjadi kontroversi besar saat ini adalah adanya upaya untuk mengembalikan zeitgeist kekhilafahan yang mendobrak batas-batas wilayah negara ala Westphalia. Walaupun sebagian orang bilang ini merupakan momentum hijrah bagi umat Islam untuk menyambut akhir zaman yang dicita-citakan dalam naungan minhaj nubuwwah, tapi tidak bagi sebagian besar lainnya.

Hijrah ini menjadi setengah hati dan akhirnya menjadi setengah-setengah juga, karena kemudian strategi yang disusun tidak komprehensif dan tidak melihat perjalanan zaman.

Mudah-mudahan dalam kesempatan Maal Hijrah 1436 ini, umat Islam perlahan-lahan sadar dan perlahan-lahan memikirkan kembali: zeitgeist apa yang sesuai dengan kondisi keumatan dan kemasyarakatan masa ini; apa yang perlu diperjuangkan kembali untuk memperbaiki ummat, dan apa strategi dalam hijrah tersebut, serta apa tujuan akhir dari hijrah di akhir zaman ini…

 

2 thoughts on “Refleksi Ma’al Hijrah 1436 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s