Musim Gugur

image

Penampakan musim gugur di Kampus Meselik, Eskişehir Osmangazi Üniversitesi

Suatu kali dalam kelas persiapan bahasa Turki, saya bersama Şeyma Hoca (hoca dalam bahasa Indonesia artinya guru, mirip suffix sensei dalam bahasa Jepang) dan teman-teman sekelas membahas tentang musim-musim yang ada di Turki.

Karena Turki adalah negara empat musim dengan iklim subtropis, dan banyak dari peserta kelas banyak yang berasal dari negara-negara tropis yang notabene tidak pernah merasakan musim semi, musim gugur dan musim dingin, kami membahas keempat musim tersebut secara detil. Lalu, Şeyma Hoca sempat bertanya ke semua peserta kelas, “Menurut kalian, mana sih musim yang paling romantis? Gugur atau Semi? Karena biasanya kedua musim itu dianggap musim-musim romantis..” Kalau tidak salah waktu itu saya mendengar ada perdebatan antara teman-teman yang berasal dari negara beriklim subtropis, ada teman dari Eropa Tengah-Timur dan teman-teman dari Timur Tengah yang berdebat. Waktu itu mereka berdebat tentang musim gugur dan semi, mana diantara kedua musim tersebut yang paling romantis. Waktu itu, ada dua orang teman saya yang mendukung opsi bahwa musim gugur adalah musim paling romantis, meskipun banyak yang bilang, musim gugur adalah musim para penggalau, musim orang-orang yang putus asa. Bahkan, dalam  kajian politik, kegagalan negara-negara Arab dalam melanjutkan proses demokratisasi dikatakan beberapa pihak sebagai sebuah dekadensi Arab Spring menuju Arab Autumn. Tapi, kedua teman saya, orang Lebanon dan orang Irak mendukung opsi kalau musim gugur itu musim yang romantis. Teman saya orang Lebanon beralasan kalau sewaktu musim gugur dia lebih banyak dapat kesempatan untuk merenung dan akhirnya, dari perenungan itu muncul syair-syair romantis yang seringkali dia share di akun FB-nya (meskipun saya nggak ngerti maksudnya apa..). Teman saya orang Irak (tepatnya sih Irak Utara) pernah bilang juga kalau di daerahnya, yakni daerah dengan masyarakat mayoritas Kurdi, mempunyai budaya menulis puisi cinta saat musim Gugur. Bahkan, dalam literatur Kurdi sendiri ada seseorang sastrawan yang dijuluki sebagai General of the Autumn. (Sayangnya sampai sekarang, saya belum berhasil menemukan contoh puisi dari si Jenderal Musim Gugur ini, Muhammad Omer).

Sedangkan, yang tidak setuju kalau tidak salah bilang musim gugur.. ya musim penghujung.. Dimana daun-daun mulai berguguran dari pohon sampai yang tersisa dari pohon hanya ranting dan pokoknya saja. Dalam bahasa Turki sendiri, kata gugur diartikan dengan sonbahar, artinya musim pengakhir. Jadi, asosiasi musim gugur memang erat dengan segala sesuatu yang dekaden, menurun, backward, dan.. patah hati.

Lalu, menurut saya, musim gugur itu musim yang bagaimana?

Setelah menjalani musim gugur selama lebih kurang 2.5 bulan, saya memahami musim gugur sebagai sebuah musim dengan identitas yang paling kompleks, mungkin bisa dibilang lebih kompleks dari musim-musim lainnya. Kenapa saya bilang kompleks? Begini alasannya. Musim gugur bisa bermakna macam-macam. Musim gugur bisa diasosiasikan sebagai sebuah musim yang menunjukkan proses penuaan atau dekadensi. Sebuah musim yang berujung pada …. ketiadaan. Sebuah musim yang dimana udaranya yang kencang membuat orang-orang merasa malas untuk keluar dan bermukim di dalam. Tapi, ternyata musim gugur tak mesti seperti itu. Musim gugur menawarkan keindahan yang luar biasa. Tidak sedikit orang-orang yang membagikan foto musim gugur di linimasa Facebook, Instagram, Twitter dan lain sebagainya, entah untuk sekedar pamer, atau memang untuk menunjukkan bahwa musim gugur bukan musim yang suram, tapi musim yang sebenarnya penuh dengan keindahan yang berwarna-warni.

Musim gugur, menurut saya, adalah sebuah kombinasi antara kesedihan dan harapan. Musim gugur mungkin merupakan sebuah ucapan sampai jumpa yang disampaikan oleh pepohonan (terkecuali pohon palem yang evergreen) kepada alam. Perpisahan itu berlangsung dengan indahnya, diman dedaunan yang beragam warna muncul di rerantingan sampai semuanya gugur, berserak di tanah, menjadikan tanah berwarna-warni, mulai dari warna merah, kuning, jingga sampai ungu.. hingga pada saatnya dedaunan indah tersebut terbawa angin…atau mungkin tersapu para penyapu jalanan.. dan pada akhirnya tinggal tersisa tanah yang kosong tanpa warna warni dedaunan dan pohon yang rontok, dimana pohon itu akan menghadapi musim dingin yang sangat berat.. Saat ini, sedih memang melihat pohon yang tidak hijau dan daun yang berwarna telah hilang dari permukaan bumi.

Tapi, Sang Penguasa sudah mengatur semuanya. Semi nanti, dedaunan dan bebungaan akan kembali lagi di pepohonan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s