Suatu Sore di Kelas

Di tempat kursus bahasa Turki saya, ada seorang guru bernama Muharrem Hoca. Beliau ini aslinya seorang dosen di jurusan Sastra Turki, hanya saja beliau mau meluangkan waktu sepanjang siang sampai sore hari di tempat kursus bahasa Turki untuk mengajarkan mahasiswa asing mendalami sastra Turki.

Umur beliau, tanpa saya sangka-sangka, sama dengan umur bapak saya; walaupun tampaknya beliau tampak lebih tua dari umur beliau (Pada awalnya saya kira beliau berumur 50-60 tahun, tapi ternyata beliau tidak berumur setua itu).

Dalam pelajaran-pelajaran beliau, saya entah mengapa selalu tersentuh dengan karya-karya sastra yang beliau berikan, mulai dari yang berbentuk puisi sampai cerita-cerita singkat.

Namun, ada satu hal yang sangat membekas di hati saya, hingga saat saya mendengarkan cerita beliau, mata saya sudah menggenang, tapi untung saja tidak tumpah. Ada banyak cerita-cerita lainnya, sebenarnya, tapi menurut saya, cerita ini  (sampai sekarang) menurut saya adalah yang paling berkesan:

“Kalian tahu tidak, saya ini waktu kecil dulu sebenarnya bukan siswa yang pintar-pintar amat. Saya cuma beruntung saja. Kalian tahu, saat saya mau masuk ke jurusan sastra, waktu ujian masuk universitas, saya masuk di peringkat paling bontot, peringkat ke 35 dari 35 orang. Saya terlalu beruntung untuk bisa masuk ke universitas idaman saya itu (red: Universitas Istanbul, yang sampai sekarang memang universitas yang bergengsi di Turki). Waktu saya belajar disana, saya berhasil menyelesaikan pendidikan saya.. dan setelah pendidikan sarjana saya selesai, saya ditawarkan oleh beberapa dosen2 saya untuk melanjutkan pendidikan di Amerika Serikat. Waktu ditawarkan hal seperti ini, jujur saja saya tertarik tapi saya sadar juga kalau saya harus memberi tahu dan meminta pendapat dari ayah saya. Kemudian saya datang ke ayah saya dan bertanya, apakah saya diperbolehkan untuk studi di luar?.. beliau secara langsung menjawab, apa yang akan kamu lakukan disana? Lebih baik kamu belajar dan bekerja disini.. Saya kemudian mencoba untuk membela dengan bermacam argumen, tapi akhirnya saya mengalah pada ayah saya dan mengabaikan rencana saya untuk studi di luar.. dan akhirnya saya bekerja sebagai guru dan melanjutkan studi di Turki.. Tawaran beasiswa itu akhirnya kemudian dialihkan ke teman saya dan dia sempat melanjutkan studinya di Universitas Indiana di AS..

Ya, saya sempat sedih ketika tidak mendapatkan kesempatan studi luar negeri yang sangat berharga.. tapi buat apa saya terus mengeluh, dan saya melanjutkan kembali hidup saya dengan semangat.

Teman saya saat ini menjadi dosen, dan saya juga menjadi dosen. Tapi, kalian tahu tidak? Saya sekarang merasa beruntung, lebih beruntung dari teman saya. Kalian tahu kenapa saya merasa beruntung? Ketika saya melihat kalian duduk di depan saya, saya merasa bahwa mimpi saya untuk studi di luar negeri telah terpenuhi, oleh kalian. Kalian, datang jauh-jauh dari berbagai negara dan benua, berkumpul disini dan belajar bahasa Turki, dan pada masa-masa selanjutnya kalian akan melanjutkan studi di bidang masing-masing. Ketika saya mengajar kalian, saya merasakan suatu kebanggaan dan kepuasan, karena kalian adalah mimpi saya yang akhirnya menjadi hidup dan nyata. Saya berterimakasih pada kalian, atas usaha kalian dan semangat kalian, mimpi saya untuk melanjutkan studi di luar negeri itu telah kalian hidupkan kembali.”

Sejenak saya langsung terhenyak, dan mata saya berair setelah beliau mengucapkan itu. Saya yakin juga teman-teman yang lain merasakan hal yang sama.

Cerita dari Muharrem Hoca ini jadi pengingat bagi saya untuk bersyukur bahwa saya telah diberikan kesempatan oleh Allah untuk menjelajahi bumiNya yang luas ini dan mengambil ilmu di tanah Anatolia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s