Klarifikasi Fakta tentang Turki dan Erdoğan (Bagian I)

Bapak Presiden dan Cumhurbaskan

Presiden Erdoğan dan Presiden Jokowi beserta istri masing-masing (sumber: STAR)

Beberapa hari kemarin (sejak artikel ini mulai ditulis pada tanggal 2 Agustus 2015), linimasa Facebook sedang agak ramai dengan berita dan updates kedatangan Presiden Erdoğan ke Indonesia. Banyak yang mengelu-elukan kedatangan Presiden satu ini, tentunya karena beliau memang sudah memiliki pamor di masyarakat Indonesia (terutama teman-teman dari jamaah tarbiyah dan simpatisan PKS) yang menganggap beliau sebagai pemimpin Islam teladan yang berprestasi dan patut ditiru. Banyak artikel-artikel yang disebar dalam rangka mendukung klaim tersebut, seperti misalnya artikel ini yang sudah beredar di Arrahmah Media. Artikel ini cukup populer, diposting juga di media-media Islam lain seperti fimadani, PKS Piyungan Online dan juga Islampos, bahkan sempat beredar versi jarkomannya di whatsApp saya beberapa waktu lalu. Dengan artikel inilah, para suporter (garis keras) Presiden Erdoğan memberikan justifikasi bahwa pencapaian Erdoğan itu tidak sekadar omong kosong belaka tapi nyata dan bisa dilihat buktinya (kadang-kadang juga dengan tambahan komentar: ‘dibanding Jokowi yang tidak bisa berbuat apa-apa, cuma omong doang, musuh Islam lagi’ atau komentar ‘Ingin sekali presiden RI ditukar dengan beliau’ dan komentar-komentar lain yang buat saya menyunggingkan senyum). Tapi, saya jadi bertanya-tanya setelah membaca artikel ini, apakah fakta yang disampaikan dalam artikel ini murni 100% fakta atau ada fakta yang dibuat-buat atau malah fiksi sama sekali?

Mumpung saya sedang tinggal di Turki, sedang punya waktu untuk mengerjakan artikel karena libur musim panas masih tersisa 1 bulan lagi dan sedang ingin coba bantu tabayyun isu-isu yang beredar tentang Erdoğan dan Turki, saya coba membuat artikel FactCheck atau klarifikasi fakta-fakta yang disampaikan dalam artikel yang pertama kali rilis di Arrahmah Media. Sebagai seorang Muslim, saya merasa perlu untuk membuka dan menyampaikan kebenaran secara objektif serta bertabayyun dengan kemampuan yang saya punya.

Catatan sebelum membaca: Walaupun panjang dan terdiri dari dua seri, mohon membaca dari awal sampai akhir. Kalau memang teman-teman punya fakta dan data untuk menyanggah fakta dan data temuan saya dalam artikel ini, silakan disampaikan dan dilampirkan buktinya, asalkan tidak dibuat-buat. Kalau ada penyampaian konsep saya yang kurang tepat, mohon diperbaiki dengan konsep yang lebih tepat juga. Kalau ada analisis, itu semata-mata pandangan saya dan bisa diperdebatkan, tapi lagi-lagi jangan lupa analisis yang disampaikan harus ada dalam kerangka konsep dan konteks yang jelas, jangan kemana-mana supaya debatnya bisa asyik.😀

Oke, mari kita mulai klarifikasi faktanya!

Kita mulai dari hal yang paling dasar: dari mana artikel ini berasal? Artikel ini pada awalnya memang bukan berasal dari Arrahmah Media, tapi dikutip dan diterjemahkan oleh tim redaksi Arrahmah Media dari salah satu portal online berbahasa Arab yang berasal dari Tunisia yang bernama Asy-Syahid. Artikelnya dirilis pertama kali pada tanggal 26 Desember 2014, belum sampai setahun. Menurut Arrahmah Media, penulisnya adalah seorang komentator politik Yordania yang bernama Ihsan al-Faqih. Namun, setelah saya telaah, sepertinya bukan beliau penulisnya karena didalam artikel aslinya di Asy-Syahid tidak ada nama penulisnya. Entahlah, mungkin saja artikel ini merupakan hasil kompilasi poin-poin oleh tim redaksi dari Asy-Syahid dan dishare oleh Ihsan al-Faqih di page Facebooknya. Artikel tersebut diberi judul “Dosa-dosa dan kebodohan-kebodohan hak Erdoğan terhadap hak Ummat Islam”, yang sepertinya memang sama dengan judul asli yang diberikan dalam bahasa Arab: “Ba’dhu jara’im wa hamaqat Erdoğan bi haq-l ummah wa-l Islam“. Kalau teman-teman baca judulnya, lalu mencoba untuk melihat isinya dengan lebih teliti, teman-teman akan menyadari kalau ada ketidaksambungan antara judul dan isi (meskipun mungkin ada beberapa yang relevan).

Saya kira pengantar sekilas sudah cukup, sekarang mari kita bahas isi dari artikel ini.

1. KLAIM: Dari poin awal, sepertinya artikel ini mencoba untuk mengungkit kehebatan dan keajaiban ekonomi Turki selama masa pemerintahan Erdoğan. Diklaim bahwa produk domestik nasional bruto Turki pada tahun 2013 mencapai angka 100 milyar dolar AS, dimana pencapaian ekonomi ini menyamai pendapatan gabungan 3 negara ekonomi terkuat di Timur Tengah, yakni Arab Saudi, UEA dan Iran, dan masih ditambah lagi dengan pendapatan Yordan, Suriah dan Lebanon.

FAKTA: Saat saya coba untuk klarifikasi faktanya, saya menemukan hal menarik karena ada perbedaan antara artikel versi Arab dan versi Indonesia. Di dalam versi Arab, disebutkan bahwa pencapaian ekonomi Turki jika dilihat dalam indikator Produk Domestik Nasional Bruto (GDP) pada tahun 2013 adalah sebesar 1 trilyun 100 milyar dolar AS (ترليون ومائة مليار دولار), sedangkan di versi Indonesia-nya hanya ditulis 100 milyar dolar AS. Mungkin penerjemahnya agak kelewatan membaca trilyun yang ada di versi asli, padahal satu angka itu penting sekali, apalagi kalau menjabarkan data tentang ekonomi. Kalau memang negara dengan populasi kurang lebih 77,6 juta seperti Turki hanya punya GDP sebesar 100 milyar dolar AS, maka bisa dikatakan ekonomi Turki sudah hancur dan bangkrut total. Andai saja penulis bisa lebih hati-hati dan andai pembaca bisa lebih jeli dalam membaca kesalahan kecil tapi fatal seperti ini.

Oke, sekarang coba kita lihat dari sisi yang lebih konseptual. Penulis artikel mencoba untuk menjelaskan kehebatan ekonomi Turki dengan melihat indikator GDP-nya. Mungkin beberapa teman-teman pembaca sudah paham dengan konsep GDP, tapi saya coba jelaskan dengan sederhana kepada teman-teman yang mungkin belum tahu. GDP atau Produksi Domestik Nasional adalah nilai total moneter semua barang dan jasa yang diproduksi dalam sebuah lingkup batas negara dan dalam waktu kurun tertentu, biasanya dihitung selama satu tahun. Jadi, GDP ini dihitung dengan menambahkan jumlah total konsumsi pribadi warga negara dalam suatu ekonomi, jumlah total pengeluaran negara, jumlah total pengeluaran modal yang dilakukan oleh industri-industri dalam negara tersebut, serta jumlah total ekspor bersih yang dimana total ekspor bersih didapatkan dengan mengurangi total ekspor dengan total impor suatu negara dalam jangka satu tahun. Pertanyaannya sekarang, apakah kemajuan dan kesejahteraan ekonomi suatu negara bisa dilihat dari indikator GDP? Tentu saja bisa, hanya saja tidak cukup dalam menjelaskan ekonomi suatu negara hanya dengan melihat indikator GDP. Saya pernah ketemu dengan seorang profesor kebijakan keuangan di Universitas tempat saya belajar, namanya Ali Hoca (Hoca itu panggilan untuk guru di Turki, sama seperti dengan sensei di Jepang -pen). Beliau bilang bahwa banyak orang yang seringkali dengan mudah menghakimi ekonomi Turki turun-naik maju-mundur dengan alasan ini-itu tanpa melihat indikator yang beragam. Beliau bilang tidak bisa ekonomi suatu negara dihakimi hanya dengan melihat satu indikator tanpa melihat indikator lainnya secara hati-hati sebelum bisa menentukan kualitas ekonomi di suatu negara. Tapi sebelum lanjut lebih dalam lagi, kita akan berhenti sampai disini dulu karena subjek tentang indikator ekonomi akan lebih lanjut saya bahas di poin kedua dan mungkin poin-poin selanjutnya, karena ada banyak poin juga membahas soal ekonomi dan industri Turki.

Kembali ke GDP! Apakah klaim data yang disampaikan oleh artikel (saya merujuk ke versi Arabnya saja ya, karena kalau merujuk ke versi Indonesianya jauh sekali) benar dan valid sesuai fakta? Dari mana kok kemudian bisa mendapatkan angka 1 trilyun 100 milyar dolar AS?  Kalau kita coba lihat GDP setiap negara, maka akan ada dua versi data GDP yang akan kita dapatkan, yakni GDP dengan jumlah nominal, GDP riil dan GDP dengan indikator PPP. Apa beda diantara ketiganya? GDP nominal hanya menjumlahkan total produksi di suatu negara tanpa melihat perbedaan harga mata uang serta kualitas hidup di berbagai macam negara dan tingkat inflasi, GDP riil dengan mencakupkan indikator inflasi, sedangkan GDP dengan indikator PPP biasanya sudah mencakup kedua indikator yang tidak dimasukkan dalam nominal. Dalam pandangan beberapa ekonom, melihat kondisi ekonomi suatu negara dengan GDP PPP lebih akurat dan reliabel dibanding melihat GDP nominal. Nah, data 1 trilyun 100 milyar dolar AS yang coba ditunjukkan di artikel sepertinya representasi dari data GDP PPP. Sayangnya, data ini tidak cukup akurat dan bisa dibilang meleset dari data asli. Saya menduga kemungkinan penulis melihat data yang sifatnya perkiraan GDP, namun karena artikel ini ditulis pada akhir 2014, seharusnya penulis bisa melihat data tahunan yang sudah pasti. Sebenarnya bukan hal yang susah kalau kita ingin mendapatkan data yang akurat tentang GDP Turki, baik yang versi GDP nominal maupun GDP PPP. Datanya bisa diakses di Lembaga Statistik Turki di turkstat.gov.tr dan sudah berbahasa Inggris lagi, jadi lebih mudah untuk melihat dan memahami data-data yang disampaikan ketimbang versi bahasa Turkinya yang tidak dipahami oleh banyak orang. Oke, sekarang kita lihat data aslinya. Jadi, kalau menurut Lembaga Statistik Turki atau yang biasanya disingkat TUİK, GDP nominal Turki pada tahun 2013 adalah 823 milyar dolar AS dan GDP PPP Turki pada tahun 2013 adalah 1,409 trilyun dolar AS. Kalau memang penulis artikel berkehendak untuk memakai data GDP PPP, penulis meleset lumayan jauh sebesar 0,3 trilyun dolar AS dari yang seharusnya.

Selanjutnya, benarkah GDP PPP Turki menyamai total GDP PPP dari enam negara di kawasan Timur Tengah seperti yang diklaim oleh penulis? Coba kita lihat lagi. Supaya imbang, saya memakai data IMF tahun 2013 dari masing-masing negara. Kita coba lihat negara-negara dengan ekonomi terbesar di Timur Tengah terlebih dahulu sebelum lihat yang lain. Pada tahun 2013, Arab Saudi mendapatkan 962 milyar dolar AS; UAE mendapatkan 271,3 milyar dolar AS; Iran mendapatkan 999,1 milyar dolar AS. Lucunya, ketika GDP PPP tiga negara ini ditambah saja hasilnya sudah lebih dari GDP PPP Turki tahun 2013, yakni dengan total fantastis sejumlah 2,234 trilyun dolar AS atau -825 milyar dolar AS dari yang Turki dapatkan pada tahun 2013. Kalau sudah begini, data dari negara dengan GDP yang krucil-krucil seperti Lebanon (63 milyar dolar AS), Yordania (38 milyar dolar AS) dan Suriah (yang sayangnya tidak punya data karena sedang dilanda perang) tidak perlu dihitung karena kalaupun dihitung juga,  jumlah GDP PPP enam negara ini tetap saja lebih besar dari GDP PPP Turki.

Sebelum saya menutup bahasan poin pertama, coba kita sambungkan poin pertama ini dengan judul. Oke, judulnya tentang “dosa-dosa dan kebodohan Erdoğan terhadap hak umat Islam”. Judulnya sengaja dipilih yang agak kontroversial supaya pembaca lebih tertarik untuk melihat tulisannya dan mengundang simpati, padahal judul yang diinginkan sebenarnya adalah “amal-amal dan kepintaran Erdoğan terhadap (dalam memenuhi -pen.) hak umat Islam”. Kalau kita menyambungkan pencapaian GDP Turki pada tahun 2014 dengan judul yang dikehendaki penulis, sepertinya memang tidak ada relevansi sama sekali. Memangnya kalau Turki mencapai GDP sekian pada tahun X, apakah hak-hak umat Islam langsung terpenuhi? Tidak mungkin dong, karena umat Islam tidak hanya tinggal di Turki tapi juga di belahan bumi lain dengan masalah dan kondisi sosial, politik dan ekonomi yang tentunya sangat beragam, dan tentu saja pernyataan bahwa pencapaian GDP Turki akan memenuhi hak-hak umat Islam tidak valid sama sekali. Sampai poin-poin seterusnya (terkecuali beberapa poin mungkin), tidak ada korelasi antara isi yang disampaikan dengan judul yang telah ditentukan.

Untuk mengakhiri bahasan poin satu, kesimpulannya: berdasarkan fakta dan bukti statistik yang ada, klaim dalam poin nomor satu tidak tepat dan tidak terbukti benar sesuai dengan fakta sesungguhnya.

2. KLAIM: Pemerintahan Turki dibawah Erdoğan melakukan lompatan ekonomi yang besar dengan membawa Turki dari peringkat 111 ekonomi dunia menuju peringkat 16 ekonomi dunia (yang berarti Turki termasuk dalam anggota G-20), dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 10% per tahun.

FAKTA:  Apakah benar pertumbuhan ekonomi Turki jauh melesat sebegitu rupa seperti yang diklaim di artikel? Apakah rata-rata pertumbuhan ekonomi Turki berkembang sebesar 10% per tahun? Seperti biasa, mari kita pahami dulu konsep bagaimana cara menghitung pertumbuhan ekonomi suatu negara, bagi teman-teman yang mungkin belum terlalu paham. Di poin pertama saya sudah menjelaskan dengan cukup jelas tentang GDP. Nah, pertumbuhan ekonomi suatu negara biasanya dihitung dengan melihat selisih perubahan total GDP suatu negara dalam dua tahun, biasanya disajikan dalam bentuk persenan. Pertumbuhan ekonomi suatu negara itu bisa plus atau bisa juga minus, tergantung kondisi dan situasi ekonomi suatu negara. Dalam menghitung pertumbuhan ekonomi suatu negara, kita akan menggunakan GDP riil, dimana GDP riil merupakan GDP yang sudah dihitung dengan mempertimbangkan persentasi inflasi di suatu negara. Mengapa perlu menggunakan GDP riil? Karena dalam melihat pertumbuhan ekonomi suatu negara, tidak cukup hanya melihat indikator jumlah total produksinya saja, namun juga harus memperhitungkan inflasi yang mempengaruhi nilai mata uang negara tersebut. Oke, sekarang kita langsung berangkat ke data, seperti biasa kita akan menggunakan data resmi dari TUİK karena data memang tersedia sangat lengkap sekali disana. Jika kita menggunakan alat indikator di website TUİK untuk melihat pertumbuhan ekonomi Turki dari tahun 1999-2014, maka kita akan temukan data sebagai berikut:

Tabel 1.1 – Tingkat pertumbuhan Turki berdasarkan GDP Riil selama 1999-2014 (sejak awal masa pemerintahan AKP)

Sekarang kita coba lihat data tabel yang sudah saya lampirkan secara seksama. Ekonomi Turki terlihat mulai tumbuh kembali pada tahun 2002 setelah terjadinya krisis ekonomi dan finansial pada tahun 1999-2001. Adanya perbaikan awal ini disebabkan bukan karena adanya pemerintah AKP (yang saat itu memang masih belum dapat berkuasa karena ganjalan politik), namun adanya upaya intervensi yang dilakukan oleh IMF dan Bank Dunia yang dimediasi oleh ekonom Bank Dunia yang berkewarganegaraan Turki, Kemal Derviş. Upaya awal dari IMF dan Bank Dunia adalah untuk menyehatkan anggaran Turki dengan menganjurkan berbagai macam rancangan reformasi seperti misalnya privatisasi perusahaan, penghematan belanja anggaran, dan sebagainya. Dari rencana Derviş bersama dengan IMF dan Bank Dunia inilah ekonomi Turki perlahan-lahan mulai tumbuh kembali. AKP kemudian masuk ke pemerintahan pada tahun 2003 setelah memenangkan pemilu dan pada masa awal pemerintahan AKP, Turki mendapatkan tingkat pertumbuhan sebesar 5,3% di tahun 2003. Jumlah ini mengalami peningkatan yang cukup besar pada tahun 2004, lalu kemudian mengalami turun-naik antara tahun 2004-2007. Pada periode ini perlu dicatat bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi Turki pada tahun 2004-2007 mencapai angka 7,35% dan menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara-negara OECD.

Ekonomi Turki kemudian turun ke tingkat paling rendah pada tahun 2008 (0,7%) dan 2009 (-4,8%). Penurunan pada tahun 2008 dan 2009 ini disebabkan adanya pengaruh dari krisis mortgage (gagal bayar) di AS dan krisis ekonomi global yang menyusul. Turki sebagai bagian dari pasar Eropa tentunya cukup terpukul dengan krisis tersebut. Ekonomi Turki kemudian naik drastis dan mengejar ketertinggalan pada tahun 2010 dan 2011 dengan persentase masing-masing sebesar 9,2% dan 8,8%, lalu kemudian bergelombang lagi di antara tahun 2011-2014. Adanya ketidakstabilan dan penurunan pertumbuhan dalam ekonomi Turki antara tahun 2011-2014 disebabkan oleh berbagai faktor internal. Jika dilihat dari faktor internal, ada beberapa sebab yang menyebabkan ekonomi Turki mengalami ketidakstabilan, seperti misalnya: pertama, dalam analisis lembaga SETA yang berjudul AK Parti Dönemi Türkiye Ekonomisi (Ekonomi Turki Periode AK Parti), adanya defisit anggaran Turki pada tahun 2011 yang mencapai 10% memperlambat pertumbuhan ekonomi dan membuat pemerintah Turki harus merevisi anggaran dan kebijakan ekonomi; kedua, adanya serangkaian aksi protes pada tahun 2013 yang menyebabkan ketidakstabilan politik di Turki yang kemudian berdampak pada ketidakstabilan ekonomi. Jika dilihat dari faktor eksternal, faktor utama yang menyebabkan ketidakstabilan ekonomi Turki adalah tarik-ulur penyelesaian masalah ekonomi global dan regional Eropa. Meskipun Turki belum secara resmi masuk dalam Eurozone, namun Turki memiliki pangsa pasar yang cukup besar di Eropa dan adanya ketidakstabilan di pasar Eropa akan berpengaruh cukup besar di Turki.

Sekarang, coba kita sesuaikan fakta yang ada di lapangan dengan fakta yang diklaim dalam artikel. Artikel menyebutkan bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi Turki mencapai 10% pertahunnya. Apa benar? Mari kita hitung bersama berdasarkan data yang ada dari TUİK. Jika kita memulai periode AKP sejak tahun 2003 dan mematok akhir sesuai patokan penulis artikel sejak awal tulisan, yakni pada tahun 2013, maka didapatkan bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi pada periode pemerintahan AKP berkisar pada angka 5,49%. Angka ini bukan angka yang jelek-jelek amat, justru angka ini menunjukkan pencapaian ekonomi yang cukup stabil -tidak terlalu jelek tapi tidak bagus sekali- ditengah segala macam masalah domestik, regional dan internasional yang menyerubungi Turki. Jadi, penulis artikel sebenarnya tidak perlu repot-repot mematok angka rata-rata pertumbuhan ekonomi Turki pertahun diatas 10% untuk menunjukkan kesaktian dan kedigdayaan ekonomi Turki, karena disamping terlalu lebay, angka ini juga tidak rasional bagi negara seperti Turki yang memiliki cukup banyak masalah ekonomi yang belum selesai.

Mari beralih ke pembahasan tentang meningkatnya ekonomi Turki di ranah global. Apa sih sebenarnya rahasia Turki dalam hal ini? Mengapa Turki bisa menjadi negara yang meningkatkan peringkat ekonominya secara pesat di ranah dunia? Tentu saja ada beberapa jawaban terhadap hal ini. Pertama, adanya reformasi pelayanan publik dan ekonomi yang berjalan dengan baik serta konsisten di Turki. Reformasi pelayanan publik (misal efisiensi administrasi, pemberantasan korupsi dan transparansi) dan kebijakan ekonomi (deregulasi, peringanan pajak, reformasi BUMN, dan reformasi jejaring keamanan sosial) ini dijalankan seiring dengan aspirasi Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa, dimana Uni Eropa menyaratkan bahwa calon anggotanya harus menuruti serangkaian persyaratan yang telah ditentukan yang telah diatur dalam Kriteria Kopenhagen. Adanya reformasi ini terbukti telah membantu ekonomi Turki untuk berkembang dengan stabil dan maju. Kedua, pemasukan pajak yang besar dan taat pajak di Turki yang disiplin telah membantu tersokongnya pembangunan ekonomi dan infrastruktur di Turki. Perlu diketahui bahwa pada tahun 2013, sebesar 88,3% pemasukan APBN di Turki berasal dari pajak (347.890.019.000 Lira Turki dari total 393.920.654.000 Lira Turki). Pada rencana APBN Turki 2015 yang disetujui pada tahun 2014, target besaran pajak dalam pemasukan APBN Turki adalah sebesar 82,3%.  Ketiga, adanya manajemen yang baik terhadap anggaran dan utang-utang yang dimiliki Turki oleh tim ekonomi pemerintahan AKP. Untuk soal manajemen anggaran dan utang ini akan lebih banyak dijelaskan nanti pada poin keenambelas dalam artikel, yang akan menyusul pada serial kedua dari tulisan ini.

Dengan segala proses dan pencapaian tersebut, wajar sekali GDP Turki mengalami peningkatan dan pada akhirnya, Turki berhasil memasuki 20 besar ekonomi dunia dan saat ini Turki ada di peringkat ke-17, bersebelahan dengan Indonesia yang ada di peringkat ke-16 (jika dilihat dari GDP nominal). Klaim yang disebutkan oleh artikel memang benar dalam hal ini, yakni Turki berhasil masuk dalam 20 ekonomi besar dunia namun penulis artikel hanya salah dalam penyebutan peringkatnya. Namun, dalam melihat pencapaian Turki yang masuk dalam peringkat ke-17 ekonomi dunia, kita perlu berpikir kembali dan mengajukan berbagai macam pertanyaan, sama seperti kita melihat dan merenungkan posisi Indonesia yang dengan ajaibnya juga nangkring di peringkat ke-16 ekonomi dunia: Apakah ekonomi Turki sudah benar-benar menyejahterakan rakyatnya dengan perimbangan gaji? Bagaimana dengan soal ketimpangan pembangunan di wilayah tertentu, terutama di wilayah Tenggara dan Timur Anatolia? Bagaimana tentang tingkat pengangguran yang masih perlu dicari solusinya? dan pertanyaan-pertanyaan sejenis. Tentunya pertanyaan-pertanyaan ini tidak harus saya jawab sekarang, mungkin teman-teman bisa mulai mencari data dan memikirkan kembali fakta-fakta tentang ekonomi Turki, sambil merefleksikan hasil pemikiran tersebut dengan situasi kita di Indonesia. Mungkin saja setelah teman-teman bercermin dengan kondisi di Turki dan Indonesia, teman-teman bisa menyadari bahwa sebenarnya Turki dan Indonesia sama-sama menghadapi masalah yang kurang lebih sama – hanya saja Turki memang lebih punya itikad untuk menyelesaikan masalah itu karena pemerintahnya komitmen dan rakyatnya mendukung, meskipun prosesnya dan perdebatannya bisa jadi sangat berliku panjang. Mari berfikir lebih dalam lagi mengenai soal ini, karena persoalan ekonomi -seperti yang sudah saya sebut pada poin pertama- tidak cukup hanya dilihat dari satu indikator belaka.

3. KLAIM: Tahun 2023 dicanangkan oleh Erdoğan sebagai tahun pembangunan Turki modern. Ditargetkan pada tahun itu Turki akan menjadi kekuatan dunia nomor 1 dibidang politik dan ekonomi.

FAKTA: Klaim ini memang sesuai dengan fakta, karena Presiden Erdoğan memang sudah mencanangkan tahun 2023 sebagai tahun target Turki untuk menjadi great power di ranah dunia. Tapi perlu diingat, ini hanyalah sebuah tujuan, bukan pencapaian. Semua orang bisa menentukan tujuan, tapi realisasinya bergantung pada kesungguhan serta situasi dan kondisi zaman. Oh ya, omong-omong, kenapa sih harus banget tahun 2023? Tahun 2023 sengaja dipilih Erdoğan karena tahun itu adalah tahun dimana Turki akan merayakan peringatan 100 tahun berdirinya Republik Turki, yang dahulu didirikan oleh Mustafa Kemal Atatürk pada tanggal 29 Oktober 1923. Dan kalau teman-teman ingat lagi, bersamaan dengan berdirinya Republik Turki yang membuka sejarah baru bagi bangsa Turki, Kesultanan Usmaniyah yang sudah berdiri selama kurang lebih 7 abad harus runtuh karena dinyatakan bubar oleh Atatürk dan menurut banyak ulama dan beberapa politisi-politisi Islamis menyatakan bahwa berdirinya Republik Turki adalah sebuah momen kesedihan dan kehancuran bagi umat Islam. A hard fact, indeed. Teman-teman suporter (garis keras) Presiden Erdoğan yang kebanyakan rindu dengan khilafah Islamiyah perlu lagi menyadari ini. Tahun 2023, selain peringatan 100 tahun berdirinya Republik Turki adalah juga peringatan 100 tahun dimana khilafah Usmaniyah harus merelakan kerubuhannya di tangan Mustafa Kemal Atatürk. Walaupun Erdoğan menyatakan bahwa 2023 akan jadi titik tolak sejarah baru, yang seringkali disebut Yeni Türkiye (Turki Baru), dimana pembangunan konsep Turki Baru melibatkan elemen-elemen memori dan romantika sejarah Kesultanan Usmaniyah yang sangat kentara sekali, saya yakin sekali Presiden Erdoğan tidak akan terpikir untuk mendirikan khilafah. Ya, mungkin Presiden Erdoğan akan lebih menguatkan solidaritas antar negara-negara Islam sambil memastikan (imej) posisi Turki sebagai pemimipin dunia Islam – tapi tidak akan lebih dari itu. Presiden Erdoğan akan tetap setia dengan konsep Republik yang sekular, mungkin sampai akhir hayatnya. Ya tapi sekali lagi, untuk soal ini, hanya Allah dan Erdoğan yang tahu.

Pada tahun 2023, apa saja yang ditargetkan Turki untuk menjadi kekuatan besar? Indikatornya apa saja sih? Turki sudah menggariskan ini dalam sebuah makalah yang berjudul AK Parti 2023 Siyasi Vizyonu (Visi Politik 2023 AK Parti). Ada 3 pembahasan dalam makalah tersebut: Pembahasan pertama, pengembangan demokrasi, hak asasi manusia dan sistem politik Turki untuk visi 2023. Dalam visi tersebut, disebutkan bahwa AK Parti menyadari bahwa dengan identitas masyarakat Turki yang berbudaya, bermoral dan berperadaban besar, Turki perlu untuk mengembangkan sebuah paradigma politik yang disebut dengan muhafazakar demokrat atau demokrasi konservatif. Demokrasi konservatif adalah sebuah pandangan politik yang dibangun dengan asas demokrasi dan penghormatan kepada kebebasan serta hak asasi manusia yang disesuaikan dengan moralitas dan budaya peradaban Turki. Pembahasan kedua, pengembangan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat Turki untuk visi 2023. Pengembangan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat Turki akan dilakukan dengan memastikan reformasi sistem asuransi sosial, perlindungan hak anak dan wanita, pengembangan sistem kewirahusaan bagi pemuda, pengembangan infrastruktur dan fasilitas publik serta reformasi sistem pendidikan di Turki. Pembahasan ketiga, penguatan posisi Turki di ranah dunia. Turki memang sudah memiliki ambisi untuk menjadi kekuatan dunia sejak awal memasuki pemerintahan tahun 2003. Salah satu otak dibalik pemikiran ini adalah seorang filsuf dan pakar hubungan internasional, Ahmet Davutoğlu, saat ini menjabat sebagai Perdana Menteri. Davutoğlu mengatakan bahwa menjadi negara pusat dalam sistem internasional merupakan sebuah takdir dan identitas utama Turki. Hal ini didasari oleh dua pertimbangan, yaitu pertimbangan geografis yang melihat posisi Turki yang berada di persimpangan dua benua dan perlintasan dua laut utama; dan pertimbangan sejarah yang mempertimbangkan sejarah Turki dengan wilayahnya yang amat luas serta pengaruhnya yang masih terasa kuat di Jazirah Balkan dan Timur Tengah.

Sekali lagi, kita tidak tahu apakah pemerintahan Turki dibawah AKP bisa benar-benar mewujudkan visi 2023 ditengah segala macam ketidakpastian dan ketidakstabilan yang terjadi di sekitar Turki. Kita hanya bisa menunggu dan melihat bagaimana pemerintah Turki dibawah AKP dapat bergerak dalam masa-masa sulit ini, karena sebagaimana perkataan pepatah Cina, dalam kesulitan biasanya akan muncul peluang besar. Apakah peluang itu ada bagi Turki dan apakah Turki akan secara cerdas menggunakan peluang itu? Masih jadi pertanyaan besar untuk kita semua.

 4. KLAIM: Bandara Internasional Istanbul merupakan bandara internasional terbesar di Eropa dengan kapasitas penerbangan sebesar 1260 penerbangan per hari dan Bandara Sabiha menampung 630 penerbangan per hari.

FAKTA: Mari langsung kita lihat data. Kalau kita melihat pada data yang disampaikan oleh Airports Council International pada tahun 2013, Bandara Internasional Atatürk di İstanbul menempati posisi ke-21 dari 30 bandara internasional di seluruh dunia dengan indikator jumlah penerbangan pertahun. Jika memang pertahunnya Bandara Internasional Atatürk (IST) bisa menampung 406.482 penerbangan, maka perharinya bisa didapatkan angka 1.113 penerbangan – yang sayangnya agak meleset sedikit dari klaim di artikel. Bandara internasional terbesar di Eropa, lagi-lagi kalau melihat data Airports Council International pada tahun 2013, adalah Bandara Internasional Charles de Gaulle di Paris dengan jumlah penerbangan 478.306 penerbangan pertahunnya.

Sedangkan, untuk jumlah penerbangan per hari di Bandara Internasional Sabiha Gökçen yang juga terletak di Istanbul, menurut data yang disampaikan oleh koran Hürriyet pada tahun 2014, maka didapatkan 1376 penerbangan perminggunya atau sekitar 196 penerbangan per hari – jauh sekali dari klaim yang disampaikan yakni 630 penerbangan per hari.

5. KLAIM: Maskapai Turkish Airilines meraih penghargaan maskapai penerbangan terbaik di dunia dalam 3 tahun berturut-turut

FAKTA: Saya tidak habis pikir, mengapa penulis artikel senang sekali mengungkit prestasi Turki dalam dunia penerbangan untuk membuktikan amal dan perbuatan pemerintahan Erdoğan untuk memenuhi hak umat Islam. Oke, saya bingung beneran karena memang tidak ada korelasi linear dan langsung antar kedua hal ini. Mari lanjut saja ke pembahasan.

Saya menggunakan penilaian yang diadakan oleh lembaga survei penerbangan terkemuka, Skytrax, untuk mencocokan klaim dengan fakta. Faktanya adalah selama tahun 2011-2014 (saya langsung patok di jangka tahun ini karena saya tidak tahu penulis artikel mematok jangka tahunnya dari tahun berapa sampai berapa), Turki memang masuk ke 10 besar maskapai penerbangan terbaik di dunia, tapi bukan sebagai nomor pertama. Selain itu, teman-teman perlu tahu satu fakta menarik, di tahun 2013 dan 2014, Garuda Indonesia (maskapai nasional kita) juga menempati posisi sebagai 10 besar maskapai penerbangan terbaik di dunia, dengan bertengger di posisi ke-8 selama 2 tahun tersebut, pas sekali di atas Turkish Airlines yang menempati posisi ke-9.

Jadi, buat apa lihat rumput tetangga selama rumput kita masih lebih baik dan bersih juga?

Sebelum menutup pembahasan poin kelima, memang perlu diakui bahwa Turkish Airlines merupakan salah satu maskapai penerbangan dengan destinasi terbanyak di seluruh dunia, menjangkau kota-kota di 5 benua dan kelebihan ini yang memang menjadi andalan maskapai Turkish Airlines.

6. KLAIM: Dalam kurun 10 tahun, Turki telah menanam 770 juta pohon Harija dan berbuah.

FAKTA: Melihat kalimat diatas, saya langsung merasa bingung dan berpikir: Ini terjemahnnya gimana sih? Memang ada pohon Harija? Kalau ada pohon apa pula itu? Akhirnya saya memutuskan untuk melihat versi asli bahasa Arabnya dan dengan kemampuan bahasa Arab saya yang terbatas saya coba baca kalimat aslinya: في عشر سنوات زرعت تركيا مليارين و 770 مليون شجرة حرجية ومثمرة. Saya kemudian sadar satu hal karena lagi-lagi penerjemahnya salah lihat angka, karena angka sebenarnya adalah 2 milyar 770 juta pohon (مليارين و 770 مليون شجرة), jumlah yang sangat besar sekali. Saya lalu coba lihat ke  kata spesifik, yaitu شجرة حرجية yang memang kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia secara plek-plekan artinya pohon Harija (Harjiyah -pen.). Setelah dilihat di kamus شجرة حرجية artinya kurang lebih adalah pohon hutan atau pohon-pohon yang untuk ditanam di hutan demi kepentingan penghijauan dan reboisasi. Oke, kita sudah mengklarifikasi apa itu pohon Harija dan sekarang mari langsung lihat datanya.

Saya langsung cari referensi ke Kementerian yang berwenang dalam urusan ini, yaitu Kementerian Kehutanan dan Urusan Perairan di Turki. Kemudian saya menemukan data yang ada di link ini: http://www.cem.gov.tr/erozyon/Files/istatistik/3.1.pdf, yang menyampaikan rekapitulasi proyek reboisasi secara keseluruhan di Turki dari tahun 1991 sampai 2013. Nah, data artikel mengklaim bahwa selama 10 tahun, Turki telah menanam 2 milyar 770 juta pohon hutan dan bertumbuh dengan baik. Saya sudah coba untuk mencocokkannya dengan kenyataan, dan hasilnya tidak seperti itu. Jika kita hitung satu hektar kurang lebih bisa ditempati sebanyak 250-750 pohon, dan dalam kurun waktu 2003-2013 pemerintah Turki telah melakukan penghijauan di seluruh Turki di lahan sebesar 1.549.429 Hektar, maka dapat ditemukan dengan estimasi terendah bahwa jumlah pohon yang ditanam oleh pemerintah Turki pada tahun 2003-2013 mencapai 387.257.250 juta pohon (jauh sekali dari klaim yang disampaikan dalam artikel) dan kalau dihitung dengan estimasi tertinggi jumlah pohon yang ditanam dalam periode 2003-2013 bisa mencapai 1,162 milyar pohon (hampir mendekati klaim, tapi masih jauh). Sayang sekali, saya tidak menemukan patokan dari Kementerian untuk berapa banyak standar pohon yang bisa ditanam pada satu hektar. Klaim dari artikel boleh jadi benar, tapi sangat disayangkan tidak memiliki validitas sumber yang jelas.

7. KLAIM: Untuk pertama kali, menurut klaim artikel, Turki di masa modern ini berhasil memproduksi tank baja, pesawat tempur tanpa awak, pesawat terbang, dan satelit militer yang multifungsi.

FAKTA: Sebagai kekuatan militer terbesar kedua di NATO, Turki punya kapasitas dan kualitas fisik serta mental militer yang cukup baik untuk mendukung operasional militer harian. Nah, dalam pengembangan kualitas fisik milter Turki, Turki memiliki dua lembaga penting yang mendukung industri militer: pertama, ada Turkish Aerospace Industry (TAI) yang fokus untuk memproduksi produk pertahanan udara seperti pesawat tempur tanpa awak, pesawat latih, helikopter dan satelit militer multifungsi. Ada produk-produk TAI yang sifatnya self-manufacture, seperti misalnya satelit Göktürk-2 dan UAV Anka, tapi juga ada yang sifatnya modifikasi seperti modifikasi teknologi dan peralatan di helikopter Sikorsky dan F-16. Kedua, ada lembaga Savunma Sanayii Müsteşarlığı (SSM) atau Badan Industri Pertahanan Turki yang langsung berada di bawah koordinasi Kementerian Pertahanan dan Angkatan Bersenjata Turki. Dalam SSM, ada beberapa prioritas produksi termasuk salah satunya seperti yang disebutkan oleh klaim artikel yakni produksi tank baja utama nasional Altay. Tank Altay ini baru mulai digunakan pada tahun 2015, artinya baru rilis dan belum dipasarkan ke pasar global.

Mengenai produksi pesawat terbang mandiri, produksi sendiri baru akan dimulai pada tahun-tahun ini dan kemarin waktu pemilu Davutoğlu menargetkan pesawat akan dirilis pada tahun 2019.

Kesimpulannya, klaim di artikel ada yang benar tapi butuh klarifikasi lebih lanjut.

8. KLAIM: Dalam 10 tahun masa pemerintahan Erdoğan, Erdoğan telah mendirikan 125 universitas baru, 189 sekolah baru, 510 rumah sakit baru, 169.000 kelas modern, dan rasio siswa-guru yang berbanding 21:1.

FAKTA: Benarkah hal ini? Mari kita kembali lagi melihat data. Soal universitas, perlu diakui bahwa pemerintah Erdoğan memang melakukan proyek pembangunan dan pengembangan universitas besar-besaran di seluruh Turki, terutama di kawasan yang selama ini tertinggal yaitu di kawasan Timur dan Tenggara Anatolia dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang berada di kawasan tersebut. Dalam rakam data terakhir yang dirilis oleh BYEGM (Biro Humas Kantor Perdana Menteri) selama tahun 2003-2013, Pemerintah Turki sukses meresmikan 99 universitas baru, bukan 120 universitas seperti yang diklaim. Dari 99 universitas tersebut, 48 diantaranya dikelola bersama dengan yayasan tertentu. Namun, jika mau ditambahkan dengan total universitas yang sudah ada sejak sebelum 2002 yaitu 76 universitas maka total universitas di Turki pada tahun 2013 adalah 175 universitas.

Sekarang mari kita melihat ke sekolah di Turki. Sebelum melihat data lebih jauh, penting untuk mengetahui sistem pendidikan di Turki. Secara umum, pendidikan di Turki diklasifikasi jadi tiga tahap utama, seperti di Indonesia yang mengenal pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Untuk pendidikan dasar dan menengah, strukturnya adalah 4 tahun pendidikan dasar di ilkokul (setingkat SD), 4 tahun pendidikan menengah di ortaokul (setingkat SMP) dan 4 tahun pendidikan menengah lanjutan di Lise (setingkat SMA). Pendidikan dasar dan menengah, terkecuali di sekolah swasta, dikelola dan dibayar sepenuhnya oleh pemerintah Turki. Namun, perlu disadari bahwa masih ada beberapa permasalahan dalam sistem pendidikan Turki, salah satunya adalah revisi kurikulum yang seringkali terjadi (sama dengan yang terjadi di Indonesia). Untuk penjelasan singkat soal sistem pendidikan Turki saya kira sudah cukup, mari beralih lagi ke statistik di TUİK. Ketika kita melihat data peningkatan jumlah sekolah dasar selama kurun waktu 2003-2013, maka kita justru melihat ada dinamika turun naik dalam pertumbuhan jumlah sekolah dasar. Pada tahun ajaran 2003-2004, jumlah SD di seluruh Turki berjumlah 36.114 sekolah, namun menariknya pada tahun ajaran 2014-2015 jumlah ini menurun ke angka 27.544 sekolah. Sedangkan, pada level SMA di Turki, memang cenderung ada tren kenaikan jumlah sekolah yang kadang-kadang diselingi penurunan;  misal untuk jumlah SMA dari tahun 2003 yang berjumlah 6941 sekolah menjadi 9061 sekolah pada tahun ajaran 2014-2015. Tren dan data-data ini bisa teman-teman periksa sendiri di website TUİK yang berbahasa Inggris, di bagian Education Statistics. Berdasarkan data-data ini, bisa dinyatakan bahwa data yang disampaikan dalam klaim tidak valid, karena peningkatan sekolah tidak terjadi di level SD, hanya terjadi di level SMP-SMA, serta peningkatannya tidak hanya sekedar 180 sekolah saja.

Mengenai jumlah kelas modern yang sekarang mencapai 169.000, kemungkinan besar data tersebut merupakan data yang menjelaskan jumlah kelas di level pendidikan menengah, jika melihat data dari TUİK. Sampai pada tahun ajaran 2014-2015, jumlah kelas untuk level pendidikan SMA mencapai 151.661 jumlah kelas. Untuk klaim data soal jumlah kelas, mungkin saja jumlah kelas yang disebutkan adalah target awal dari AKP namun masih belum tercapai hingga sekarang. Melanjutkan ke persoalan rasio siswa-guru, kita bisa melihat bahwa rasio siswa-guru di Turki merupakan salah satu yang ideal di dunia. Dalam data yang dikeluarkan TUİK, rasio siswa-guru di SD memiliki besar 21:1 pada tahun 2014-2015. Pada tahun ajaran yang sama, rasio siswa-guru di SMP memiliki besaran 25:1 dan rasio siswa-guru di SMA memiliki besaran 21:1. Hal ini dimungkinkan karena jumlah guru yang semakin banyak dan mendapatkan tunjangan yang cukup baik dari negara.

Sekarang, mari kita lihat data jumlah rumah sakit di Turki selama 10 tahun belakangan. TUİK dalam bagian data Health Statistics sayangnya hanya memberikan data dalam sektor yang umum, yakni jumlah institusi pelayanan kesehatan di Turki secara keseluruhan. Itu artinya selain rumah sakit, institusi lain seperti pusat pelatihan dan pusat kesehatan masyarakat masuk di dalam data. Pada tahun 2003, Turki hanya memiliki 9.183 institusi pelayanan kesehatan namun jumlah ini ternyata semakin meningkat pertahunya hingga pada tahun 2013 mencapai jumlah 30.116, sebuah peningkatan yang sangat besar yakni 306% dari tahun 2003. Dari sinilah kita bisa paham mengapa kemudian kualitas hidup di Turki menjadi membaik dari sebelumnya.

9. KLAIM: Ketika krisis ekonomi memukul Eropa dan Amerika, Universitas-Universitas di Eropa dan Amerika menaikkan biaya kuliah, sedangkan Erdoğan menggratiskan kuliah dan sekolah bagi rakyatnya dan sepenuhnya di tanggung negara.

FAKTA: Saya sudah pernah menjelaskan soal krisis ekonomi di poin-poin teratas, dan saya sudah menyebutkan bahwa krisis ekonomi ini sangat berdampak pada Turki yang memiliki pasar yang cukup besar di Eropa, sehingga pertumbuhan ekonomi Turki sempat mandek dan harus jeblok ke level minus pada tahun 2009. Logika sederhananya begini, ketika ekonomi Turki sedang bermasalah, pemasukan ke anggaran berkurang, apakah logikanya pemerintah Turki akan menggratiskan biaya kuliah begitu saja? Tidak semudah itu, malah bukan tindakan yang logis dan bijak, karena dengan menggratiskan biaya kuliah pada masa krisis akan semakin mengganggu pengeluaran anggaran untuk hal-hal yang lebih esensial. Kalau untuk pos anggaran pendidikan dasar dan menengah, memang sejak awal sudah dibuat dan disediakan gratis bagi rakyat – seperti yang saya sudah sebutkan sebelumnya.

Faktanya apa dong? Kok cuma pakai logika saja? Kalau mau tahu, berikut saya berikan datanya. Pada tanggal 18 September 2008, Kabinet Erdoğan mengumumkan bahwa biaya pendidikan tinggi (SPP) untuk tahun ajaran 2008-2009 akan dinaikkan sebesar 10% lebih tinggi dari biasanya. Berita ini sempat jadi headline di beberapa media terkemuka, seperti Zaman, CNNTurk, dan Milliyet. Biaya SPP ini berkisar 66 Lira Turki untuk pendidikan terbuka sampai 547 Lira Turki bagi mereka yang belajar di kedokteran. Untuk mereka yang memiliki masalah finansial dalam membayar, pemerintah memberikan peluang kredit utang beasiswa dalam membayar biaya operaisonal pendidikan melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga. Hingga sekarang, pemerintah Turki masih menarik biaya biaya operasional pendidikan untuk kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi demi kelanjutan operasional – dengan biaya yang sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dari Indonesia. Dengan bukti ini, lagi-lagi klaim artikel tidak terbukti.

Catatan tambahan terkait poin ini, pada tahun ajaran 2008-2009, Pemerintah Turki masih memberlakukan biaya operasional pendidikan bagi setiap mahasiswa universitas, baik itu mereka yang berasal dari kelas reguler, kelas paralel dan kelas terbuka (open education). Untuk referensi lebih lengkap, sila lihat ke tulisan ini (dalam bahasa Turki): http://www.resmigazete.gov.tr/eskiler/2008/09/20080918-2.htm. Namun,sejak tahun ajaran 2011-2012, Pemerintah Turki telah memberlakukan kebijakan bebas biaya operasional pendidikan untuk seluruh mahasiswa yang berada di kelas reguler (atau dalam bahasa Turkinya, birinci öğretim) dan mereka yang berada di kelas terbuka. Selain kategori mahasiswa ini, yaitu kategori mahasiswa asing (yang tidak dalam cakupan beasiswa pemerintah Turki) dan kategori mahasiswa kelas paralel tetap harus membayar biaya operasional pendidikan. Untuk detil lebih lengkap bisa dilihat di link berikut (berbahasa Turki): http://www.resmigazete.gov.tr/eskiler/2011/08/20110826-12-1..pdf (aturan TA 2011-2012) dan http://www.resmigazete.gov.tr/eskiler/2014/09/20140927-6-1.pdf (aturan TA 2014-2015).

10. KLAIM: Dalam 10 tahun, pendapatan per kapita penduduk Turki yang hanya 3500 dolar AS pertahun, meningkat jadi 11000 dolar AS pertahun, lebih tinggi dari pendapatan per kapita penduduk Perancis! Nilai mata uang Turki juga meningkat 30 kali lipat!

FAKTA: Mari langsung buktikan dengan statistik! Coba kita lihat tabel yang ada dibawah ini:

Tabel 1.2

Tabel 1.2 – Tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita Turki 1998-2014

Sekarang, kita akan coba membandingkan data dari sebelum pemerintahan Erdoğan berkuasa pada tahun 2002 hingga 10 tahun pemerintahan Erdoğan pada tahun 2013. Pada awal tahun 2002, pendapatan Turki per kapita hanya berada pada level 3.492 dolar AS – hampir sesuai dengan klaim yang diajukan oleh penulis artikel. Tahun 2003, pendapatan per kapita Turki meningkat menjadi 4.564 dolar AS dan dalam sepuluh tahun, tepatnya pada tahun 2013, pendapatan per kapita Turki menjadi 10.821 dolar AS – agak meleset dari klaim penulis artikel yang menyebutkan angka 11.000 dolar AS. Berarti sejak tahun 2003 hingga 2013 ada peningkatan pendapatan per kapita Turki sebesar 209%. Hal ini memang perlu diakui sebagai sebuah pencapaian dan klaim yang disampaikan oleh artikel adalah benar meskipun datanya meleset. namun dengan beberapa catatan. Pertama, pendapatan per kapita ini tidak dapat mengilustrasikan pendapatan sesungguhnya dari rakyat Turki. Pendapatan per kapita biasanya didapat dari pembagian GDP dengan jumlah populasi, jadi pendapatan per kapita hanya menggambarkan pendapatan rata-rata yang didapatkan oleh masyarakat Turki perbulan. Kedua, perlu diketahui bahwa di Turki terdapat ketidaksetimbangan penghasilan yang cukup tinggi dan masalah ini merupakan masalah yang cukup serius serta memiliki dampak terhadap dinamika sosial-ekonomi di Turki.

Lalu, apakah benar pendapatan per kapita Turki lebih tinggi dari pendapatan per kapita Perancis? Menurut data World Bank, pendapatan per kapita Perancis pada tahun 2013 mencapai angka 42.631 dolar AS sedangkan Turki hanya 10.986 dolar AS. Jadi jelas sekali klaim ini adalah klaim yang terlalu melebih-lebihkan dan tidak sesuai fakta yang ada.

Sekarang, bagaimana kemudian kita bisa menghitung nilai uang Lira Turki yang menurut klaim meningkat 30% dari tahun 2003? Menghitung nilai uang sebenarnya bisa dilakukan dengan memperhitungkan tingkat inflasi dari dua tahun yang akan dibandingkan. Untuk mempermudah menghitung nilai uang, khususnya nilai uang Lira Turki, TUİK (saya benar-benar kagum luar biasa dengan lembaga satu ini) sudah membuat sebuah aplikasi yang bernama Parasal Değerleri Güncelleme Aracı (Money Value Renewal Application) yang dapat menghitung nilai uang dalam dua jangka waktu dengan dua indikator, yaitu CPI (Costumer Price Index) dan PPI (Producer Price Index) yang mengukur perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh konsumen (CPI) dan mengukur perubahan harga penghasilan yang didapatkan oleh produser (PPI). Ketika saya coba mengukur berapa harga 1 TL dalam tahun 2003 dan 2013, terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Kalau dilihat dari indikator CPI, maka perbedaan nilai mata uang Lira Turki itu berkisar sebesar +140% dan kalau dilihat dari indikator PPI, maka perbedaan itu berkisar sebesar +119%. Klaim yang disampaikan dalam artikel bahwa nilai mata uang Turki meningkat sebanyak 30 kali lipat merupakan klaim yang tidak jelas, karena tidak dijelaskan bagaimana angka 30 kali lipat ini bisa didapat.

11. KLAIM: Di Turki, pemerintah sedang sungguh-sungguh membiayai 300 ribu ilmuwan untuk melakukan penelitian ilmiah menuju 2023.

FAKTA: Klaim ini benar adanya, hanya saja kita perlu tahu dalam proyek penelitian apa mereka sedang bekerja dan bagaimana pemerintahan Turki memperhatikan sektor penelitian dan pengembangan di Turki (yang dalam bahasa Turki disebut Ar-Ge)? Jadi, di Turki, urusan litbang diserahkan ke sebuah institusi yang bernama TÜBİTAK, kurang lebih sama seperti kombinasi antara LIPI dan BPPT. Nah, proyek yang disebutkan melibatkan 300 ribu ilmuwan ini dikerjakan dalam koordinasi dengan institusi resmi TÜBİTAK. Judul lengkap dari proyek riset 300 ribu ilmuwan ini adalah Ulusal Yenilik Sistemi atau Sistem Inovasi Nasional. Selain dalam tujuan untuk meraih visi 2023, apa sebenarnya yang melatarbelakangi pengembangan Sistem Inovasi Nasional?

Dalam tujuan untuk menjadi negara 10 ekonomi termaju di dunia pada tahun 2023, Turki hendak memfokuskan dirinya untuk melakukan lebih banyak riset untuk mengembangkan sektor industri, pembangunan ekonomi, perbaruan energi dan sistem pertahanan nasional. Kondisi penelitian dan pengembangan Turki saat ini bisa dibilang masih cukup jauh dari partnernya di dalam lingkup OECD, dimana anggaran Turki untuk litbang saat ini hanya berkisar pada angka 0.8% dari total APBN Turki (mematok data tahun 2010), yang dalam nominalnya berkisar pada angka 9,8 milyar lira Turki. Negara-negara anggota OECD yang lain, seperti AS mengalokasikan 2,7% dari total APBN; Finlandia mengalokasikan 3,84% dari total APBN; dan Korea Selatan mengalokasikan 3,36% dari total APBN untuk kegiatan litbang. Dalam rencana yang dipaparkan oleh TÜBİTAK, ditargetkan bahwa hingga tahun 2023, persentase alokasi APBN untuk anggaran riset ditingkatkan hingga 3% untuk mendukung penelitian-penelitian yang akan berlangsung dalam Sistem Inovasi Nasional yang sedang dijalankan oleh Turki saat ini serta mengejar ketertinggalan dari negara anggota lain di OECD. Lalu, apa sajakah penelitian yang hendak atau sedang dijalankan dalam lingkup Sistem Inovasi Nasional? Prioritas riset Sistem Inovasi Nasional diberikan kepada sektor penelitian di bidang nanoteknologi dan bioteknologi, pengembangan serum, generasi baru teknologi nuklir yang ramah lingkungan, teknologi sel hidrogen, pengembangan sumber daya alam lokal untuk pengembangan teknologi (seperti misalnya pengembangan mineral Bor untuk mikrocip) dan lain-lainnya. Dalam pelaksanaan proyek ini, selain melibatkan 300 ribu akademisi yang berafiliasi dalam institusi resmi, proyek ini juga membiayai para wirausaha dan industri UKM yang hendak terlibat dalam pemberlakuan Sistem Inovasi Nasional. Untuk soal prioritas pengembangan litbang, kita memang perlu belajar ke Turki.

12. KLAIM: Di antara keberhasilan politik terbesar Turki adalah keberhasilan Erdoğan adalah mendamaikan dua bagian Cyprus yang bertikai. Erdoğan juga melakukan pembahasan damai dengan Partai Buruh Kurdistan untuk menghentikan pertumpahan darah, dan meminta maaf kepada Armenia, sehingga menyelesaikan permasalahan yang sudah menggantung sejak 6 dasawarsa.

FAKTA: Kenyataannya sayang sekali tidak semudah yang dijelaskan oleh klaim diatas. Saya coba bahas secara rinci masalah tersebut satu persatu.

Sekarang, mari kita masuk ke pembahasan hubungan antara Turki dan Siprus. Hubungan Turki dan Siprus merupakan salah satu persoalan paling krusial dalam politik dalam dan luar negeri. Lho, kenapa disebut juga politik dalam negeri Turki? Untuk mengetahui hal ini, teman-teman perlu melihat balik ke sejarah Siprus. Siprus pada awalnya adalah salah satu bagian integral dari Kesultanan Usmaniyah sejak abad ke-16, hingga pada akhirnya Siprus harus jatuh ke tangan Inggris pada tahun 1878. Hingga tahun 1960, Siprus menjadi semacam dependensi dari Inggris. Sepanjang tahun 1878-1960, Siprus mengupayakan dirinya untuk menjadi sebuah negara yang merdeka dan berdaulat sendiri melalui berbagai pergerakan, salah satu yang populer adalah yang dipimpin oleh pemimpin Gereja Ortodoks Siprus yakni Uskup Makarios. Gerakan kemerdekaan Siprus yang dipimpin oleh Uskup Makarios menghendaki kemerdekaan Siprus dari Inggris, lalu kemudian setelah Siprus merdeka dan menjalankan pemerintahannya setelah beberapa tahun, Siprus akan bergabung dengan Yunani dan menjadi salah satu bagian dari Yunani. Tapi pembicaraan soal kemerdekaan Siprus yang banyak diprakarsai oleh etnik Yunani-Kristen Siprus ini merupakan hal yang tidak mudah karena di Siprus juga tingal etnik Turki yang sudah menempati Siprus sejak era Kesultanan Usmaniyah serta adanya gejolak Perang Dingin pada masa itu. Pada tahun 1958, dengan adanya bantuan mediasi dari Inggris, Turki, Yunani, serta etnik Yunani dan Turki yang tinggal dari Siprus menyepakati sebuah perjanjian yang dinamakan sebagai Perjanjian Macmillan. Perjanjian ini memberikan porsi kepada etnik Yunani dan etnik Turki dalam pemerintahan, meskipun memang etnik Turki mendapatkan banyak sekali mendapatkan keuntungan dan privilege dari hasil perjanjian tersebut. Adanya kecenderungan ini tentu membuat etnik Yunani di Siprus marah dan Presiden Siprus dari etnik Yunani kemudian secara sepihak mencabut privilege tersebut. Kemudian, gelombang kekerasan kembali berlanjut di Siprus setelah dahulu dimulai sejak tahun 1950-an. Di akhir konflik ini, akhirnya disepakati bahwa untuk etnis Turki di Siprus akan dibentuk sebuah provinsi otonom yang akan dikelola secara mandiri oleh etnis Turki. Tapi, masalah tak selesai berhenti disini. Tahun 1974, terjadi dua peristiwa penting yang mengancam stabilitas Siprus: kudeta Yunani terhadap pemerintahan Presiden Uskup Makarios dan invasi Turki terhadap Siprus. Sejak saat inilah, Siprus kemudian benar-benar terbagi menjadi dua bagian yang tidak bisa disatukan, yakni Siprus bagian Yunani dan Siprus bagian Turki. Dalam dunia internasional, Siprus yang diakui hanyalah Siprus Yunani, sebab Siprus Turki dianggap sebagai sebuah bentuk ‘penjajahan’ dari Turki dan tindakan yang ilegal dalam pernyataan PBB ketika Siprus Turki menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1983. Upaya terakhir kali untuk mendamaikan kawasan Siprus dilakukan pada tahun 2002. Rencana perdamaian dan persatuan Siprus ini diinisiasi oleh Kofi Annan, Sekjen PBB pada masa itu. Dalam rencana Annan, dijelaskan bahwa Siprus akan menjadi sebuah negara persatuan yang mencakup etnis Yunani dan etnis Turki, dimana pembagian kekuasaan politik antar kedua etnis akan disusun melalui prinsip demokrasi konsosiasional seperti yang diterapkan di Lebanon. Namun, hingga saat ini, upaya perdamaian dan persatuan Siprus belum terwujud karena pihak etnis Turki dan etnis Yunani masih belum bisa bersepakat dalam banyak hal serta di Turki sendiri, Siprus Turki sudah dianggap sebagai negara Turki itu sendiri (meskipun Siprus Turki sudah mengelola politik domestik secara mandiri, namun secara keamanan, Siprus Turki masih berada di bawah kewenangan Turki) – sehingga adanya upaya penyatuan Siprus akan menimbulkan protes dan gejolak politik di Turki. Dapat disimpulkan dari pembahasan ini bahwa belum ada solusi dan perdamaian komprehensif antara Siprus Yunani dan Siprus Turki, dan kalaupun ada upaya untuk mendamaikan, upaya itu datang dari pihak PBB – bukan dari pihak Turki sebagaimana yang sudah diklaim oleh artikel.

Mari beralih ke soal Turki-Kurdi. Lagi-lagi ini merupakan persoalan yang paling pelik dalam politik domestik dan luar negeri Turki. Saya mungkin tidak bisa membahas masalah ini secara benar-benar dalam dan tajam, tapi saya akan mencoba untuk mengangkat hal-hal penting yang perlu kita lihat dalam permasalahan antara Turki-Kurdi. Masalah Turki-Kurdi mulai muncul pada awal berdirinya Republik Turki di tahun 1923 dan bersamaan dengan berdirinya Republik Turki tersebut, promosi nasionalisme Turki menjadi prioritas dalam nation building bagi Republik Turki. Adanya upaya promosi nasionalisme Turki yang melibatkan pengagungan terhadap identitas bangsa Turki dan pemakaian bahasa Turki secara sistematis menyingkirkan orang-orang Kurdi yang memiliki budaya dan bahasa berbeda. Permasalahan Kurdi ini ditambah lagi dengan adanya ketidakseimbangan dalam pemerataan hasil ekonomi di wilayah Kurdi yang berada di daerah Timur dan Tenggara Turki. Atas adanya ketidakadilan dan kesewenangan yang dilakukan oleh pemerintah Turki pada masa itu, akhirnya muncul berbagai macam kelompok pemberontakan dari pihak Kurdi, namun beberapa yang paling terkenal diantaranya adalah PKK (Partai Buruh Kurdistan yang berideologi Marxist-Komunis) dan Hizbullah (Faksi Islam Kurdi yang merupakan lawan dari PKK). Kelompok-kelompok ini memperjuangkan hak-hak dasar masyarakat Kurdi di Turki dan memperjuangkan hak masyarakat Kurdi untuk menentukan nasibnya sendiri serta membentuk sebuah negara terpisah bagi seluruh diapsora Kurdi yang ada di wilayah Timur Tengah dan seluruh dunia. Dalam memenuhi tujuannya, PKK dan Hizbullah seringkali menggunakan pendekatan teror dengan aksi menutup jalan lintas provinsi, melakukan pembunuhan secara sporadis di tengah masyarakat Kurdi dan Turki, dan melakukan pemboman di kawasan-kawasan strategis. Tujuannya, menciptakan rasa takut supaya masyarakat dan pemerintah berada pada rasa ketidakpastian dan kebingungan yang tidak menentu. Pemerintah Turki kemudian merespon aksi PKK dengan operasi-operasi militer, yang sayangnya juga mengorbankan masyarakat sipil. Pada masa kepresidenan Turgut Özal, pemerintah Turki mencoba untuk mengadakan negosiasi serta gencatan senjata dengan PKK melalui pendekatan yang lebih humanis dan terbuka. Özal beserta pemerintahan yang sedang berkuasa pada saat itu (yakni partai dari sayap sosial-demokrat) melihat bahwa untuk menyelesaikan masalah Kurdi, perlu ada demokratisasi dan pemberian hak-hak yang lebih besar kepada masyarakat Kurdi, seperti hak untuk menggunakan bahasa sendiri secara publik dan hak otonomi yang akan diberikan bertahap. Pada tahun 1993, sebuah perjanjian gencatan senjata disepakati tepatnya pada tanggal 20 Maret 1993. Perjanjian gencatan senjata antara Turki dan PKK ini menjadi sebuah perjanjian yang pertama dan sangat bersejarah, namun harus berhenti ketika PKK melakukan penyerangan ke rombongan pasukan Turki pada bulan Mei 1993 dan pada masa itu, Presiden Özal sudah mangkat dari jabatan sebagai Presiden, dan proses perdamaian antara Turki dan PKK tidak berlanjut hingga masa pemerintahan Turki dipegang oleh AKP.

Salah satu prioritas pemerintahan Turki dibawah AKP pada masa awal tahun 2003 adalah melangsungkan demokratisasi dan membuka hak-hak sipil dan sosial secara lebih luas untuk seluruh masyarakat Turki tanpa melihat asal bangsa, ideologi, dan agama. Hal ini dilakukan oleh AKP sebagai sebuah proses untuk mempercepat masuknya Turki dalam keanggotaan Uni Eropa. Salah satu dampak dari adanya proses demokratisasi dan pembukan hak-hak sipil dan sosial-politik ini adalah terbukanya kembali proses negosiasi dengan PKK dan pemberian hak kepada masyarakat Kurdi yang selama ini ditinggalkan dalam berbagai aspek. Pemerintah Turki mulai mencoba untuk mengupayakan pembangunan infrastruktur fisik di kawasan mayoritas Kurdi dan memberikan hak-hak masyarakat Kurdi yang dahulu dilarang seperti menggunakan bahasa Kurdi dalam lingkup publik, hak untuk melangsungkan festival budaya dan perayaan tahun baru Nawruz besar-besaran. Adanya upaya ini berhasil membuat AKP memenangkan hati rakyat Kurdi dan AKP sempat menang dengan suara yang cukup besar di wilayah Kurdi. Namun, pada tahun 2004, gencatan senjata antara PKK dan Pemerintah Turki pecah kembali dan akhirnya PKK dan Pemerintah Turki saling berperang satu sama lain selama tahun 2004-2012. Hal ini dikarenakan PKK menanggap Pemerintah Turki tidak serius dalam upaya negosiasi, dan Pemerintah Turki menganggap bahwa PKK menggunakan kesempatan gencatan senjata untuk memasukkan gerilyawan PKK dari wilayah Kandil yang berada di Utara Irak. Selama tahun-tahun 2004-2012, cukup banyak hal yang terjadi, diantaranya adalah upaya pemerintah Turki untuk tetap memajukan proses rekonsiliasi konflik dan kebangkitan partai politik Kurdi yang menang dalam pemilihan umum lokal dan pemilihan umum legislatif pada tahun 2010, namun kebangkitan partai politik Kurdi ini tidak lama karena langsung terbungkam oleh adanya putusan dari Mahkamah Konstitusi dan banyaknya politisi-politisi Kurdi yang masih dipenjara di Turki. Proses negosiasi kemudian dimulai pada tahun 2012 dan kali ini dimulai dengan tahap yang lebih maju dan serius, karena pemerintah Turki langsung mengadakan negosiasi dengan Abdullah Öcalan yang merupakan pemimpin dari gerakan PKK, namun saat ini dipenjara di penjara İmralı. Öcalan telah mencapai beberapa kesepakatan awal dengan Pemerintah Turki dan kemudian menyampaikan pada perayaan Nawruz tahun 2012 bahwa PKK dan masyarakat Kurdi harus meninggalkan perlawanan senjata untuk melanjutkan proses negosiasi dengan Pemerintah Turki. Proses negosiasi dan gencatan senjata ini berjalan dengan cukup baik hingga tahun 2015 ini, tepatnya pada bulan Juli-Agustus 2015 ketika terjadi kekacauan di wilayah Timur Turki yang ditandai dengan bom di Suruç yang dilakukan oleh elemen ISIS lalu disusul dengan penembakan dua polisi di wilayah Diyarbakır yang diduga dilakukan oleh elemen PKK. Adanya keterlibatan PKK dan ISIS membuat pemerintah Turki mengerahkan tentara dalam jumlah yang besar ke wilayah Timur dan Tenggara Turki. Sampai saat ini, belum ada kepastian soal apakah keamanan akan kembali lagi ke wilayah Timur dan Tenggara Turki? Dan kalaupun iya, apakah kedua pihak saling bisa melakukan negosiasi? Banyak sekali pertanyaan yang belum bisa dijawab tentang bagaimana masalah konflik antara Turki-PKK bisa diselesaikan dengan baik, sehingga klaim bisa dianggap sebagai klaim yang kurang akurat.

Sebagai bahasan terakhir dalam poin ini, kita akan membahas masalah Turki-Armenia, yang lagi-lagi merupakan masalah yang paling pelik juga dalam politik Turki. Mengapa menjadi pelik? Permasalahan ini dimulai ketika triumvirat Jemal Pasha, Enver Pasha dan Talat Pasha melakukan kudeta terhadap pemerintahan monarki Abdulhamid II. Pemerintahan triumvirat ini merupakan penguasa riil dalam masa-masa akhir Pemerintahan Khalifah Usmaniyah, walaupun pada masa itu kekhalifahan dipegang oleh Mehmet V. Reşad. Salah satu kebijakan paling kontroversial dari triumvirat Jemal Pasha, Enver Pasha dan Talat Pasha adalah kebijakan untuk menghilangkan hak-hak warganegara Kesultanan yang berasal bangsa selain Turki serta menguatkan nasionalisme Turki sebagai sebuah upaya untuk melakukan reformasi kebangsaan yang menyeluruh di Turki. Adanya kebijakan ini menyulut gerakan nasionalisme yang memang dari awal sudah muncul di Kesultanan meskipun secara sporadis dan dalam format yang masih sederhana. Di wilayah Timur dan Utara Turki, tempat etnis Armenia banyak bermukim, mulai muncul banyak tegangan sosial antara orang-orang Armenia dan Turki yang disebabkan oleh adanya kebijakan pemerintah yang sepihak. Lalu datanglah Perang Dunia I, yang membuat permasalahan semakin pelik dan posisi orang Armenia semakin rumit. Pada masa Perang Dunia I, masing-masing negara yang terlibat dalam Perang Dunia I seperti Rusia dan Turki memanggil warganegaranya untuk terlibat dalam persiapan pasukan. Adanya hal ini menyulitkan posisi Armenia, dimana disatu sisi etnis Armenia memiliki kedekatan dengan Kekaisaran Rusia pada masa itu dan disisi lain etnis Armenia juga masih merupakan bagian dan warganegara dari Kesultanan Usmaniyah – meskipun hak-hak mereka pada saat itu masih diabaikan. Di tengah kondisi ini, ada beberapa warga Armenia yang memutuskan untuk bergabung dengan kekuatan bersenjata Rusia, ada pula mereka yang tidak memilih keduanya. Adanya kecenderungan ini membuat banyak warga Turki yang marah dan melakukan serangan ke komunitas Armenia – dan sebaliknya orang-orang Armenia yang dipersenjatai oleh Rusia mulai mengganggu keamanan warga Turki yang tinggal di Timur Turki, hingga kota Van dulu sempat diduduki oleh pasukan Rusia pada tahun 1915. Kondisi ini membuat pemerintah Turki dan triumvirat mengeluarkan keputusan yang akan tercatat sepanjang sejarah dunia, dalam bahasa Turki, keputusan ini dikenal sebagai keputusan techir atau relokasi. Inti dari kebijakan ini adalah merelokasi ratusan ribu hingga jutaan masyarakat Armenia yang tinggal di kota-kota besar di Kekhalifahan Usmaniyah ke wilayah yang sekarang dikenal dengan Suriah, dengan tujuan untuk menghindari kekacauan masyarakat yang lebih besar. Namun, dalam perjalanan ratusan ribu hingga jutaan masyarakat Armenia, banyak terjadi kerusuhan, banyak dari para pengungsi yang harus mati dijalanan karena kurang makanan dan minuman, dan kemudian pada masa-masa setelahnya banyak yang melihat kasus ini sebagai sebuah contoh awal genosida. Masalah techir ini merupakan masalah yang paling diperdebatkan antara sejarawan Turki sendiri, dan juga sejarawan Armenia serta sejarawan dunia lainnya; apakah techir merupakan kebijakan yang perlu dilakukan, apakah techir melibatkan unsur-unsur genosida secara sistematis, apakah memang hanya masyarakat Armenia yang disakiti dalam konflik ini, ataukah bangsa Turki dan Armenia sama-sama harus mengorbankan nyawa dan darah dalam masa-masa sulit seperti ini dan apakah memang masyarakat Turki sepenuhnya melakukan pemusnahan terhadap etnis Armenia? Pertanyaan inilah yang masih membekas dan masih perlu didiskusikan secara terbuka antara kedua masyarakat. Dengan keterbukaan politik Turki saat ini, peluang untuk membicarakannya menjadi lebih terbuka – meskipun kemudian lagi-lagi masih ada tendensi yang kuat dari masyarakat Turki untuk melihat masalah Armenia sebagai sebuah masalah yang sulit untuk dibahas. Langkah Erdoğan untuk meminta maaf kepada Armenia atas tindakan pada saat Perang Dunia I merupakan sebuah satu langkah berani, namun masalah antara Armenia dan Turki, dalam kondisi saat ini, masih jauh dari selesai – karena masalah ini harus selesai tidak hanya dengan negosiasi antar pemerintah tapi juga adanya pendekatan antar masyarakat kedua bangsa untuk mengakhiri luka yang sudah tidak tersembuhkan selama 100 tahun…

 13. KLAIM: Di negara Turki, gaji dan upah meningkat sebesar 300%. Gaji pegawai meningkat dari 345 Lira Turki menjadi 957 Lira Turki, sedangkan jumlah pencari kerja turun menjadi 2% dari yang sebelumnya 38%. Gaji guru sebesar gaji dokter. (Pernyataan di poin keempatbelas saya pindah ke poin ketigabelas karena sama-sama membahas soal gaji)

FAKTA: Mengenai gaji di Turki, kita bisa melihat fakta kepada data yang disajikan oleh Kementerian Pekerjaan dan Keamanan Sosial Turki. Fakta pertama yang akan saya periksa adalah fakta soal gaji yang meningkat sebesar 300%. Apakah benar meningkat sebesar itu? Untuk melihat peningkatan ini, kita patok awal tahun pada tahun 2005 setelah adanya renumerasi dan restrukturisasi finansial di Turki (sebelum tahun 2005, gaji Turki masih berada di nominal ratusan juta Lira Turki) hingga tahun 2015. Pada awal tahun 2005, gaji bersih para karyawan Turki berada di kisaran 350,15 Lira Turki setelah dikurangi biaya asuransi dan biaya keamanan sosial, Pada pertengahan tahun 2015, gaji bersih para karyawan Turki ditetapkan pada kisaran 1000,54 Lira Turki. Baiklah. Kalau begitu, berapa persen jumlah kenaikannya? Setelah dihitung bisa ditemukan bahwa kenaikan gaji bersih dasar dari tahun 2005 sampai 2015 adalah 185%. Memang gaji karyawan dan pegawai Turki mengalami peningkatan yang cukup signifikan, namun jauh dari klaim yang disebutkan yakni 300%. Selanjutnya, apakah benar klaim yang menyatakan bahwa jumlah pencari kerja yang sebelumnya 38% turun menjadi 2%? Menurut data terakhir yang disampaikan oleh TUİK, jumlah pengangguran saat ini (terakhir kali tercatat pada tahun 2015) tercatat dalam angka 9,6%. Sepanjang tahun 2005-2015, rata-rata pengangguran di Turki mencapai sekitar 9.68%, jadi klaim yang disampaikan oleh penulis artikel bahwa pengangguran telah turun hingga 2% sama sekali tidak valid dan tidak sesuai fakta.

Yang paling akhir, mari coba kita lihat klaim soal gaji dokter dan gaji guru yang sama. Beban kerja dua profesi ini jelas berbeda, dan kalau dipikir-pikir secara rasional, sebenarnya agak tidak mungkin bagi dokter dan guru untuk mendapatkan jatah gaji yang sama. Begitulah pula fakta membuktikan. Dalam standar patokan gaji terakhir yang ditentukan oleh pemerintah Turki untuk gaji tahun 2015, guru di Turki rata-rata mendapatkan gaji bulanan dalam jangka 2.565 – 2.853 Lira Turki perbulan, sedangkan dokter umum di Turki rata-rata gaji bulanan adalah 3.570 Lira Turki dan dokter spesialis mendapatkan rata-rata gaji bulanan sebesar 4.324 Lira Turki. Kesimpulannya jelas, tidak sama antara gaji dokter umum, dokter spesialis dan guru yang memang memiliki spesifikasi kerja yang berbeda antara satu sama lain.

14. KLAIM: Di Turki, anggaran pendidikan dan kesehatan melampaui anggaran pertahanan.

FAKTA: Kalau kita melihat pada APBN Turki 2013 yang sudah disetujui oleh parlemen Turki, maka fakta yang ditemui adalah sebagai berikut. Tahun 2013, Kementerian Pendidikan Turki mendapatkan jatah anggaran sebesar 47,4 milyar lira Turki; Kementerian Pertahanan Turki mendapatkan jatah anggaran sebesar 20,3 milyar lira Turki; dan terakhir Kementerian Kesehatan Turki mendapatkan 2,4 milyar lira Turki. Awalnya memang Menteri Keuangan Turki hendak memberikan porsi anggaran yang lebih besar ke Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kesehatan sebagai sebuah upaya untuk mengembangkan kualitas hidup dan kesejahteraan warga negara, dengan besaran yang tidak main-main, yakni 68,1 milyar lira Turki untuk Kementerian Pendidikan dan 64,7 milyar lira Turli untuk Kementerian Kesehatan. Namun rancangan APBN yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Turki ini tidak terwujud dengan mudah karena terganjal perdebatan di parlemen Turki dan kondisi-kondisi ekonomi saat itu, sehingga pada akhirnya rancangan APBN itu diubah cukup signifikan. Dari data APBN Turki 2013 yang sudah diterima parlemen Turki, maka dapat kita simpulkan bahwa anggaran pertahanan memang lebih kecil dari anggaran pendidikan, namun masih lebih besar dari anggaran kesehatan, dan oleh karena itu klaim bisa dibilang benar meskipun ada kesalahan yang membuatnya tidak benar-benar akurat.

15. KLAIM: Di Turki telah dibangun 35 ribu laboratorium IT dan database modern yang melatih pemuda Turki

FAKTA: Saya sudah sempat membahas soal dinamika dan sistem litbang di Turki pada poin-poin sebelumnya, namun ketika saya mencoba untuk mengkonfirmasi poin klaim ini, saya tidak begitu paham laboratorium apa yang dimaksudkan dalam klaim ini. Hal ini karena laboratorium bisa ada di sekolah, bisa ada di universitas, maupun juga laboratorium yang berdiri sendiri, atau berada di bawah koordinasi TÜBİTAK dan kementerian tertentu. Sejauh pencarian saya di internet, saya hanya bisa menemukan satu saja pernyataan terkait 35 ribu laboratorium Turki, yakni dari pernyataan Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoğlu yang di-tweet di twitter.

Gambar

Salah satu contoh laboratorium di sekolah di Turki (sumber: situs Kementerian Pendidikan Turki)

Beliau menyatakan bahwa sekarang di sekolah-sekolah Turki terdapat 35 ribu laboratorium dan 22 ribu perpustakaan. Sayang pernyataannya hanya cukup disitu saja, tanpa ada penjelasan atau lampiran yang menjelaskan data terkait 35 ribu laboratorium dan 22 ribu perpustakaan tersebut. Namun, jelas bahwa laboratorium yang dimaksud oleh Davutoğlu adalah laboratorium sekolah bukan laboratorium IT dan database modern – dan biasanya memang laboratorium sekolah hanya mengandung perlengkapan-perlengakapan praktikum dasar untuk penelitian sederhana, tidak punya database seperti yang digunakan untuk menyimpan data-data server dan kalaupun punya perlengkapan IT, perlengkapan itu hanyalah perlengkapan standar untuk mencatat data hasil penelitian dan administrasi lab.

Tulisan ini saya sudahi hingga poin ke-15 dahulu, dan sisanya dari poin ke-16 hingga poin ke-29 akan saya susul dalam waktu-waktu kedepan.

Wallahul musta’an…

48 thoughts on “Klarifikasi Fakta tentang Turki dan Erdoğan (Bagian I)

  1. Salam.
    Sebelumnya saya berterima kasih dengan artikel yang sangat luar biasa ini. Dengan data2 yang ada, artikel ini bukanlah artikel hoax yang sangat banyak bertebaran di home facebook saya. Saya berharap tulisan2 berkualitas seperti ini akan semakin banyak dan bukannya malah ketutupan sama artikel2 hoax di facebook.

    Saya ingin menanyakan sesuatu mengenai poin 9 tentang biaya kuliah. Di situ dijelaskan bahwa mahasiswa/i di turki dikenakan biaya spp. Sedangkan yang saya tau sampai sekarang, spp hanya diwajibkan untuk mahasiswa/i asing, sedangkan teman2 saya yang orang lokal tidak membayar (kecuali yang kuliah di univ swasta atau yang kuliah 2. Ogretim). Atau, apa sebenarnya burs/kredi yang diberikan oleh pemerintah merupakan bentuk lain dari spp tersebut atau bagaimana? Saya agak tidak paham di poin ini.
    Terima kasih banyak sebelumnya.🙂

  2. Qoi: Sama-sama mbak Qoi, saya juga berterimakasih untuk komentar yang sudah mbak Qoi berikan terkait tulisan ini. Untuk penjelasan soal poin 9, saya merefer ke keputusan yang dikeluarkan setiap awal tahun akademik oleh Bakanlar Kurulu atau kabinet yang disetujui oleh Cumhurbaşkan. Namun, sepertinya saya kurang baca secara teliti waktu itu, ternyata memang di keputusan itu ada pernyataan bahwa semua biaya operasional pendidikan untuk birinci öğretim dan açık öğretim akan dibayarkan oleh pemerintah,

    Detilnya bisa dilihat disini: http://www.resmigazete.gov.tr/eskiler/2014/09/20140927-6-1.pdf

    Terimakasih untuk koreksinya, akan saya langsung edit🙂

  3. Artikel yang padat sekali Mas. Saya justru tertarik dengan judul berita aslinya, yang kurang lebih maksudnya kebaikan Erdogan terhadap hak kaum Islam.
    Dari penjabaran beritanya, dan penjelasan perpoin dari anda. Tampak jelas kalau kebijakan yang dibuat Erdogan adalah kebijakan presidensil. Untuk negara dan rakyatnya (yang mana kita tahu bahwa rakyat Turki bukan umat Islam saja).

    Erdogan mungkin adalah presiden yang populer disana. Tujuannya menjadikan Turki sebagai salah satu negara utama dunia tidaklah ganjil, yang menjadi aneh malah saat beberapa fans muslimnya di Indonesia berpikir seolah kebangkitan Turki adalah kebangkitan umat Islam.

    Saya masih bertanya-tanya, mengapa beberapa simpatisan partai Islam Indonesia sangat mengelu-elukan Erdogan.

    • Terimakasih sudah mau membaca dan berkomentar disini mbak.

      Erdoğan disini memang sangat populer, baik di kalangan pendukungnya dan pembencinya. Bisa dibilang pembenci dan pendukung beliau punya rasio 50:50 atau 40:60, jadi kalau kita jalan keliling Turki,berdiskusi tentang orang Turki dan menanyakan pendapat mereka tentang Erdoğan ada pendapat yang beragam tentang bapak Presiden satu ini. Turki saat ini masih menerapkan sistem pemerintahan parlementer, hanya saja terasa sekali Erdoğan sebagai seorang presiden dalam sistem parlementer ingin sekali terlibat banyak dalam mengatur kebijakan pemerintahan, yang sebenarnya bukan kewenangan utama beliau. Sempat di pemilu lalu, ada wacana dari Erdoğan dan partai AKP yang berkuasa bahwa Turki lebih baik diatur dengan sistem presidensial. Namun, karena suara AKP jatuh tahun ini, wacana itu terpaksa ditunda terlebih dahulu.

      Soal kenapa temanteman simpatisan partai Islam di Indonesia sangat ngefans dengan Erdoğan sebenarnya sederhana: masyarakat kita krisis panutan. Akhirnya mereka-mereka ini mencari keluar siapakah yang pantas kita jadikan panutan, lalu ketemulah dengan Presiden Erdoğan ini. Dengan bangunan citra beliau sebagai pemimpin yang peduli dengan dunia Islam dan keberhasilan Turki dalam berbagai macam sektor, akhirnya Erdoğan jadi panutan baru bahkan pujaan baru bagi para simpatisan-simpatisan ini. Sayang sekali mereka tidak memahami konteks dari kebangkitan Erdoğan dan politik di Turki yang sangat dialektis dan berlika-liku, terlalu percaya dengan bangunan citra, serta tidak bisa memisahkan antara fakta yang real dan yang dibuat-buat. akhirnya elu-eluan mereka terhadap Erdoğan jadi tidak rasional dan kontraproduktif. hanya bisa berkhayal tapi tidak bisa mempelajari banyak hal dari Turki itu sendiri. yang keluar akhirnya: boleh ngga Erdoğan ditukar dengan Jokowi? Ini fenomena yang menyedihkan sekali.

  4. Salam kenal bung neorhazes.
    Saya termasuk yang gemas melihat banyak sekali pengguna sosial media menyebarkan klaim2 kesuksesan ekonomi Turki setelah mencampakkan sekularisme. Dari judulnya saja sudah tidak benar, karena Turki sampai saat ini masih negara sekuler. Dilihat sekilas, klaim2 tersebut juga banyak yang tidak masuk akal.
    Tanpa cek dan ricek banyak yang menyebarkan klaim2 tersebut, dan sebagian lagi menggunakannya untuk mendiskreditkan bangsa sendiri (dan pemimpin bangsa).
    Karena saya hanya bisa akses data2 indikator makro ekonomi, saya membuat analisis singkat terhadap klaim kesuksesan Turki yang di gadang2 tersebut. Ternyata setelah dibandingkan dengan pencapaian ekonomi Indonesia dalam 10 tahun terakhir, terlihat kita lebih sukses kok..
    Tanggal 2 Agustus saya post analisis tersebut di facebook saya, cukup banyak yang share, dan kemudian salah seorang teman saya memberikan tautan ke artikel anda, yang lebih komprehensif ini.
    Senang bisa mendapatkan informasi yang lengkap ini, saya sudah bagikan tautan ke artikel anda di fb saya🙂

    • Salam kenal juga bung Nelwin,
      Terimakasih sudah numpang mampir dan share artikel blog saya..
      Berarti kita berbagi keresahan yang sama tentang bagaimana teman-teman kita yang terlalu fanatik akhirnya harus buta dengan fakta dan malah melempar kotoran ke negaranya sendiri. Saya kemarin juga sudah lihat tabel dari bung Nelwin juga, sebuah upaya yang bagus untuk bisa mencerahkan rekan-rekan di Indonesia bahwa sebenarnya kita tidak kalah hebat dari Turki, kita cuma perlu usaha dan optimisme lebih untuk mewujudkan visi Indonesia yang maju dan berperadaban tinggi. Penyadaran masyarakat memang kerja kolektif dan harus bareng-bareng, semoga makin banyak teman-teman yang mau memberi kontribusi🙂

    • Halo mas Jack (atau entah siapa anda), terimakasih sudah berkunjung ke blog saya. Insya Allah segala macam data disini bisa dipertanggungjawabkan, untuk data-data ekonomi silakan langsung diperiksa saja ke web TUIK http://www.turkstat.gov.tr. Referensi lain akan saya unggah segera. Silahkan dicek nanti karena saya butuh waktu untuk susun referensinya. Di antara referensi-referensi tersebut ada yang bisa dicek dalam bahasa Inggris dan bahasa Turki.

      Saya tidak mengkritik dan menghina Presiden Erdogan dan pemerintah Turki lho disini, tanpa kebijakan beliau dan pemerintah Turki saya tidak akan bisa kuliah di Turki. Saya membuka fakta yang mana yang benar dan mana yang salah dari klaim2 yang ada di artikel yang tersebar di berbagai media Islam dan jarkom2, dan saya mencoba untuk mengomentari klaim dari artikel yang ada di Arrahmah yang cukup banyak tersebar luas. Kalau ada yang benar dan perlu dijadikan pelajaran buat kita yang di Indonesia, saya bilang hal itu benar dan kita perlu jadikan pelajaran. Kalau ada yang salah, kita perlu pikirkan lagi bersama-sama kenapa Turki bisa menghadapi masalah seperti itu dengan memahami konteksnya seperti apa. Baca baik-baik deh artikel saya. Kalau dibaca baik-baik dan pelan2 tanpa emosi, insya Allah bisa melihat faktanya dengan lebih jernih. Saya berupaya sekuat mungkin untuk tidak sembarang dan asal mengambil argumen.

      Mengenai soal bantuan ke Gaza dan Suriah, iya benar, pemerintah Turki punya peran yang nyata disana. Tapi memang tidak saya bahas di tulisan saya ini, bukan saya tidak mau atau menutup fakta, hanya saja saya mengomentari klaim2 dengan mengikuti artikel yang ditulis di Arrahmah itu. Jujur saja lho mas, Turki merupakan salah satu aktor kemanusiaan yang punya kebijakan yang baik dalam menangani masalah krisis kemanusiaan dan pengungsi. Lebih lanjut nanti saya tulis deh, khusus buat si masnya.

      Oh ya saya akan lebih senang kalau mas menunjukkan jati diri asli si masnya, supaya debatnya lebih asik. Kalau mau tau saya, silakan lihat di profil saya di kolom Kuncen Blog. Gak usah malu-malu, disini kan forum klarifikasi.🙂

      • dan kenapa referensi yg lain menyusul??? ini ibaratnya menangkap orang dulu, dijadikan tersangka, baru kemudian dicari buktinya

      • Loh … Salah yah kalau sumbernya mengutip web resmi dari pemerintahan Turki sendiri? Kan datanya tentang Turki. Ya ngambilnya dari publikasi pemerintahan Turki dong. Atau menurut anda domain *.go.tr masih kurang valid untuk itu? (.go.tr artinya website tersebut milik dan dikelolah oleh goverment atau pemerintahan Turki).

    • Analisisnya mantap ja! Izin share di blog dong😀

      Dan sebetulnya penasaran juga sih sama data terkait Indonesia di poin-poin ini, data bps mencukupi buat analisis serupa gak ya? Yang lebih ngerti dinamika sosial bisa tolong bantu jelaskan mungkin, hehe.

    • Judul artikelnya:

      “Klarifikasi Fakta tentang Turki
      dan Erdoğan”

      Pendahuluannya gak sekalimatpun nyebut sekuler. Yang ada malah ngelurusin fakta. Ente muslim kan? Diajarin tabayun kan? Bagus dong ini artikel. Mana ada Islam ngebolehin bohong kalo emang faktanya nggak?

      “Tanyakan niat si penulis”…lah niat penulisnya aja ente gak ngerti…kok bisa nyimpulin gitu.

      • “Ya, mungkin Presiden Erdoğan akan lebih menguatkan solidaritas antar negara-negara Islam sambil memastikan (imej) posisi Turki sebagai pemimipin dunia Islam – tapi tidak akan lebih dari itu. Presiden Erdoğan akan tetap setia dengan konsep Republik yang sekular, mungkin sampai akhir hayatnya. Ya tapi sekali lagi, untuk soal ini, hanya Allah dan Erdoğan yang tahu.”

  5. Kalaupun fakta yg telah dipaparkan diatas itu memang benar, tetap saja Erdoğan adalah pemimpin terbaik yg dimiliki oleh negeri islam saat ini. Dan ini terbukti atas kebebasa yg telah diberikan bagi kaum muslim di Turki. Karena perlu diketahui kaum muslim di Turki sebelum masa erdoğan hidup tertindas, jilbab dilarang, azan diubah mnjadi bahasa turki. Kalaupun semua yg anda katakan ini adalah benar, tapi kita harus tetap mendukung erdogan. Karena ialah pemimpin terbaik saat ini.

    Namun kalau anda adalah pendukung jemaat gulen, wajar-wajar saja anda tidak mendukung erdogan, karena jemaat gulen sendiri tidak sepaham dgn pemerinta turki saat ini. Mereka lebih sepaham dengan amerika.
    Terima kasih..
    Kalau ada yg ingin lebih mengerti tentang kondisi di turki saat ini hubungi saya melalui email: muhammadhaykall@yahoo.com

    • Terimakasih sudah mau mampir dan berdiskusi mas Haykal🙂

      Setuju mas, apapun upaya pemerintah Turki untuk memajukan negerinya layak untuk didukung, tapi bukan dengan dukungan fanatik. Perlu didasari bahwa dukungan kita harus bersifat rasional dan berimbang. Disini saya tidak berupaya untuk menjelek2an siapapun, saya cuma ingin melihat fakta aja. Kalau mas baca2 lagi artikel saya dengan pelan2 dan hati2, saya juga mengakui kok kemajuan yang dicapai oleh Turki.. dan perlu diingat bukan kerja Erdoğan seorang yang bisa membuat Turki jadi luar biasa, rakyatnya juga.🙂

      Saya bukan pendukung Gülen juga. Saya cuma mahasiswa biasa yang tertarik buat mendalami Turki.

      • gimana neh, masih sibuk juga penulisnya?ataukah hanya pada koment tertentu saja tiba2 sibuk penulisnya??? bagaimana dengan situasi sekarang ini dimana Rusia menyerang Suriah yg diklaim sebagai serangan terhadap isis yg kemudian sengaja memasuki wilayah Udara Turki. masih relevankah tuduhan anda terhadap Turki???

    • Sangat setuju dgn pndpt anda.. sampai hari ini kami sebagai saudara seagama islam turki sangat bahagia krn wanita turki sudah bebas mengenakan jilbab.. tidak perlu memakai rambut plsu lg saat akan msk ke kampus.. dan semua itu lewat perjuangan erdogan

  6. ati ati dama kelakuan orang turki, liat saja Nino Fernandes dikasih babi waktu makan disana, nino udah dibilang minta makanan halal eh orang turki malah kasih sosis babi.

  7. Saya punya pengalaman tour beberapa hari di Turki, aya amati setiap shalat di mesjid tidak ada kaum muda yang ikut shalat, begitu pula tour guide yang membawa saya keliling Turki dia seorang muslim usia 25 tahun, tapi pada saat shalat Jum’at dia tdk merasa wajib ikut shalat. Saya coba berdiskusi dengannya, jawabannya cukup mengejutkan, shalat itu nanti saja waktu usia diatas 70 tahun, bahwa banyak pemuda seusianya mengalami kebingungan karena selama masa pemerintahan sekuler mereka benar2 dibentuk jadi sekuler. Ini hanya opini pribadi berdasarkan pengamatan sesaat selama tour beberapa hari, bisa jadi salah.

  8. Nyimak. Artikelnya cukup adem. Semoga bisa menjadi data pembanding terhadap kecintaan kalap beberapa kalangan di Indonesia kepada presiden Erdogan.

  9. Saya paham dengan harapan kaum muslimin dengan sosok pemimpin islam yang negaranya bisa melindungi umat islam lain dari kedzaliman seperti di Gaza, mesir, suriah dll. Makanya kadang mereka terlalu mencintai Erdogan krn tidak ada yg bisa diharapkan dr pemimpin lain yg takluk oleh hegemoni barat. Entah alasan apa yg dimiliki oleh orang yg membenci jg Erdogan dibalik segala kelebihan dan kekurangan Beliau.

  10. Terimakasih atas sumbangsih informasi dan analisanya mbak… Mohon sabar ya mbak memang banyak orang insonesia yang menjadi “orang islam di indonesia” bukan orang indonesia yang beragama islam” jadi nya ya kayak fans boy sapi sapian itu… Tidak mengenal dan bangga akan negerinya sendiri… Salam…

    Jika beragama sudah disusupi unsur niat politik golongannya sendiri yang timbula adalah kebenaran hakiki mutlak pada dirinya sendiri… Sangat tidak indonesia dengan kegotongroyongan, teposliro, dan menghormati hak pendapat orang lain… Ah sudahlah.. Namanya juga sapi sapian yg tiada nama asli nin pengecut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s