Minggu Pertama

Ketika anda baru masuk minggu pertama dalam suatu hal baru, entah dalam pekerjaan, kuliah, pernikahan, atau apapun itu, biasanya akan meninggalkan kesan yang berbekas dan tak terlupakan. Entah kesan baik atau buruk itu, minggu pertama akan menjadi patokan kita untuk melakukan aktivitas kita dalam masa-masa depan serta mengevaluasi apa-apa yang perlu diperbaiki dalam kehidupan kita selama ini sehingga ada perbaikan dalam kehidupan kita dan tujuan-tujuan kita akan tetap tercapai.

11856621_953594098035587_1487566220_n

Ruang Kuliah saya 

Minggu ini saya memulai sebuah hal yang benar-benar baru: kuliah S2. Subkata awalnya terlihat biasa: kuliah. Mungkin karena saya dahulu pernah jadi mahasiswa S1, kata kuliah jadi terlihat biasa – ya walaupun kadang-kadang terbayang juga kata lainnya, seperti rindu, malas, bosan, asik, dan lain-lain. Nostalgik lah intinya. Namun kalau subkata kuliah disandingkan dengan subkata S2, rasanya jadi beda sekali. Dan benar saja, ketika saya masuk ke kelas-kelas di minggu pertama ini, saya merasakan hawa yang sama sekali berbeda dari ketika saya kuliah S1. Apa bedanya?

Pertama, dalam kuliah S2 ini saya merasa lebih bebas, namun disaat bersamaan saya juga memiliki banyak tanggungjawab. Kenapa lebih bebas? Karena jujur saja, beban saya tidak seberat saat saya sedang berkuliah S1. Seminggu ada kuliah 5 kali, ada yang seehari cuma kuliah sekali, itupun siang dan cuma tiga jam, ada yang dua kali sehari, tapi ya cuma itu saja. Dosen-dosen juga mengatakan ke saya dan teman-teman mahasiswa seangkatan, “Kami tidak menghitung kedatangan kalian, kalian tidak datang bukan masalah buat kami..”, begitu menurut dosen-dosen di jurusan saya. Saya juga merasakan banyak tanggungjawab disamping kebebasan yang saya miliki, kenapa? Karena ada banyak tugas yang menghampiri satu-persatu, entah itu dalam bentuk presentasi dan makalah. Selain itu, bahan bacaan untuk satu mata kuliah bisa mencapai ratusan halaman, dan kalau memang mau berkontribusi aktif di kelas, maka bacaan itu perlu dilahap habis dalam waktu seminggu sebelum pertemuan berikutnya. Kalau tidak baca, habis sudah waktu di kelas hanya dengan mendengar ocehan dari teman dan untuk mahasiswa S2, diam di kelas itu suatu hal yang memalukan karena kelas S2 itu kecil sekali.

Kedua, dalam kuliah S2 ini saya merasa semuanya harus dikerjakan secara sendiri. Benar-benar sendiri. Tugas-tugas makalah dan presentasi tidak lagi dibagi-bagi dengan anggota kelompok, tapi menjadi tanggungjawab masing-masing mahasiswa. Tidak ada lagi yang jadi koordinator, anak buah, atau free-rider dalam tugas berkelompok karena makalah ini benar-benar jadi hasil karya individu. Topik? Topik ya terserah dirimu, mau apa saja, tentu setelah dikonsultasikan dengan dosen matakuliah bersangkutan. Selain itu, ketika ada masalah, sebelum bertanya ke siapapun, perlu inisiatif diri yang lebih besar untuk menyelesaikan masalah tersebut sendiri dan mencari tahu lebih lanjut jika memang tidak menemukan solusi.

Ketiga, kuliah S2 ini terasa berbeda karena saya berhadapan dengan jumlah teman-teman yang lebih sedikit, namun latar belakangnya sangat beragam dan ada orang-orang yang lebih hebat dari saya dalam segi karir dan ilmu. Jumlah teman saya seangkatan sebenarnya hanya 35 dan yang benar-benar datang ke kelas hanya sekitar 20-22 orang. Kata dosen saya, hal ini dimungkinkan oleh mereka-mereka yang sebenarnya ingin mengambil S2 tapi disisi lain ada pekerjaan yang juga mendesak bagi mereka – para mahasiswa yang tidak datang ke kelas, sehingga mereka memilih untuk bekerja dibandingkan datang ke kuliah S2 yang justru menghabiskan uang lebih banyak. Teman seangkatan saya yang aktif berjumlah rata-rata 20-22. Sekitar 90% adalah orang Turki, sisanya 10% seperti saya adalah orang asing. Beberapa orang asing adalah teman-teman saya dari kursus bahasa Turki, ada yang dari Georgia, ada yang dari Estonia, dari Irak, Filipina, dan Afganistan. Ada juga yang langsung datang dari negerinya seperti dari Kirgizistan yang notabene memang sudah bisa berbahasa Turki karena di kampusnya memang sudah diajarkan bahasa Turki. Untuk teman-teman dari Turki sendiri, latar belakangnya pun bermacam-macam. Ada yang datang dari kampus-kampus terbaik di Turki, seperti misalnya dari Universitas Istanbul (dan mahasiswi ini merupakan lulusan terbaik di jurusannya), Mulkiye – Universitas Ankara, dan Yeditepe University di Istanbul. Ada juga yang sudah keterima beasiswa S3 bahkan sewaktu baru memulai S2 dan sedang memikirkan S3 ke negara-negara Asia, seperti Malaysia, Filipina atau Indonesia. Ada yang sudah dari awal mempersiapkan proposal tesis dan tinggal mengumpulkan proposalnya ke jurusan. Ada yang sudah bekerja di Universitas Anadolu dan staf ahli di Kementerian Kesehatan Turki. Melihat latar belakang teman-teman saya yang seperti itu, saya merasa agak jiper, tidak pede, dan jadi takut – karena jujur saja, modal saya masih kurang sekali dibanding teman-teman Turki saya yang sudah punya pengalaman bermacam-macam.

Keempat, kuliah S2 berbeda karena kuliah S2 kali ini saya menggunakan bahasa yang baru saya pelajari dalam 1 tahun belakangan – bahasa Turki. Jujur saja, setelah saya masuk beberapa kelas, saya merasa bahwa apa yang saya telah pelajari selama 1 tahun dalam kursus bahasa Turki ternyata tidak cukup. Mungkin untuk sekedar percakapan sehari-hari sudah cukup sekali, tapi bahasa akademik tidak bisa disamakan dengan bahasa sehari-hari. Saya mungkin bisa menangkap dan memahami perkataan dosen dan proses diskusi dalam kuliah, karena saya sudah biasa mendengar kuliah dan ceramah dalam bahasa Turki, biasanya lewat YouTube. Tapi untuk berbicara dengan terstruktur, logis, dan bisa dipahami oleh penutur asli sangat susah sekali. Saya mencoba untuk berbicara seperti itu beberapa kali, tapi ujung2nya terasa belepotan dan berantakan, dan sehabis berbicara saya biasanya malu sekali untuk bicara lagi. Untuk menulis, saya sebenarnya merasa agak pede karena saya masih bisa mengecek dengan hati-hati grammar yang ada dalam tulisan.  Dalam soal bahasa ini, dosen-dosen punya kebijakan yang sama: mereka memberi toleransi kepada kami untuk mempresentasikan makalah dan mengerjakan ujian dalam bahasa Inggris, meskipun beberapa masih merasa bahwa akan lebih baik kalau kami mempresentasikan makalah kami dalam bahasa Turki. Salah satu dosen misalnya, yang berlatar belakang studi S2 dan S3 di Durham dan Sheffield mengatakan ke para mahasiswa asing bahwa dia mengerti posisi kami (mahasiswa asing -pen) yang harus belajar dalam bahasa yang berbeda dari bahasa ibu dan bahasa Turki. Dosen saya satu ini pernah juga merasakan betapa susahnya belajar dalam bahasa Inggris yang berbeda struktur dengan bahasa Turki, bahkan disertasinya pun masih harus diperiksa ulang oleh proofreader. Namun, dosen saya yang simpatik dan humoris satu ini tetap meminta dari kami-kami, mahasiswa asing, untuk dapat memberikan satu karya dalam bahasa Turki – dan di Institut tempat saya kuliah, dengar-dengar pengurus Institut tidak akan menerima tesis berbahasa Inggris, hanya berbahasa Turki. Ya, apapun kesusahan yang kami hadapi dalam soal bahasa ini, semoga tidak jadi halangan besar. Toh seiring waktu, kami akan terbiasa untuk menggunakan bahasa Turki dalam ranah akademik. Mudah-mudahan begitu.

Kelima, entah mengapa ketika memulai kuliah S2 ini saya merasa waktu terasa makin sempit dan waktu terasa cepat berlalu. Pada poin awal saya sudah menyebutkan bahwa saya merasa bebas, tapi dalam kebebasan pun saya terasa terpenjara dengan sebuah linimasa yang telah tergaris di pikiran saya. Tapi, biar waktu yang akan membuktikan nanti.

Keenam, saya mulai merasakan kuliah S2 terasa seperti bekerja sebagai periset. Mungkin nanti akan dibuktikan dalam empat sampai lima bulan kedepan.

Apa lagi ya bedanya? Saya rasa itu perbedaan terbesar yang saya rasakan sejauh ini ketika S2, dibanding saat S1 lalu.

Ya, apapun masalahnya, apapun perbedaannya, saya berharap semoga kuliah S2 yang sedang saya jalani ini tidak percuma dan sia-sia saja. Saya berharap kuliah S2 ini dapat menjadi titik balik yang penting dalam hidup saya. Saya masuk kuliah S2 ini bukan untuk sekedar mengambil ijazah dan gelar yang akan dipakai untuk kerja, tapi untuk sebuah tanggungjawab besar, menjadi pencerah dan penggerak ketika kembali ke negeri tercinta…

2 thoughts on “Minggu Pertama

    • Iya mas, full Turkish nih. Ga gampang tapi cool dan saya bisa lebih mendalami konteks sospol Turki lebih mendalam dg bahasa aslinya. Thanks mas, insya Allah🙂 Goodluck juga di Clingendael mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s