Uzun İnce Bir Yoldayız..

Satu waktu ketika aku masih belajar bahasa Turki, aku juga belajar tentang musik-musik daerah Turki yang indah dan beragam macamnya.

Tatanan musik Turki banyak terinspirasi dari tatanan musik Arab yang bermakam-makam dengan sentuhan ala Asia Tengah. Syairnya banyak bercerita tentang cinta dan tragedi dalam kehidupan manusia, tentang perpisahan, pertemuan, pertengkaran hingga peperangan. Oleh karena itu, musik-musik daerah Turki (meskipun tak semua) kebanyakan bertempo pelan-sedang dan melankolik, hingga yang mendengarkan mungkin bisa bersedih dan tersedu-sedu tanpa sebab.

Salah satu lagu yang diajarkan mula-mula oleh hoca saya adalah lagu Uzun İnce bir Yoldayım. Artinya kurang lebih: Aku berada di jalan yang panjang dan sempit. Lagu ini merupakan lagu favorit orang Turki dari semua latar belakang, mau dia orang Islam, Kristen, Yahudi, atau mau dia orang Kanan, Liberal, Kiri.. mereka pasti mengenal lagu ini dan dalam beberapa kesempatan, mungkin mereka-mereka sering menyiulkan atau mendendangkan lagu ini. Lagu dan syair dari Uzun İnce bir Yoldayım ditulis oleh Aşık Veysel, seorang buta tapi diberikan anugerah luar biasa Allah dalam mengarang syair dan membuat lagu-lagu yang dengan mudah dihapal dan diingat oleh orang banyak.

Aşık Veysel adalah seorang halk şairi, seorang penyair rakyat yang namanya tersohor dan dihormati orang banyak, meskipun ia bukanlah seorang yang punya harta banyak atau berlatar belakang keluarga terhormat. Ia adalah salah satu penerang dan pemberi jalan bagi masyarakat modern yang bingung dan kehilangan arah dalam sekularisme yang ekstrim dan berlebihan, meskipun ia sendiri seorang buta. Aşık Veysel suka membuat lagu-lagu bertemakan hidup, sebagai sebuah metode penyembuh dan pengingat bagi mereka yang sedang berduka atau yang sedang lupa. Uzun İnce bir Yoldayım adalah salah satunya, dan menurut saya, yang punya makna sangat dalam, meskipun liriknya sangat sederhana. Berikut liriknya dalam artian Indonesia:

Aku berjalan di sebuah jalan

Yang panjang lagi sempit

Aku berjalan di jalan itu

Tak kenal siang dan malam

Aku tak tahu apa yang akan kuhadapi

Tapi aku akan terus berjalan

Tanpa kenal siang dan malam

***

Sejak aku datang ke dunia

Aku telah memulai langkah

Untuk perjalanan ini

Dalam sebuah rumah

Dengan dua buah pintu saja

Aku terus berjalan

Tanpa kenal siang dan malam

***

Saat aku tidurpun

Aku tetap berjalan

Dalam tidurpun

Aku selalu mencari sebab

Untuk terus bangkit

dan berjalan

Aku terus melihat

Banyak orang berjalan

Maka aku pergi

Berjalan tanpa kenal

Siang dan malam

***

Empatpuluh sembilan tahun telah lewat

Di padang rumput

Di gunung

Di gurun

Aku telah jatuh pada

Tangan-tangan asing

Aku terus berjalan

Tanpa kenal siang dan malam

***

Ketika dipikir-pikir dalam

Perjalanan ini memang awalnya terasa panjang

Namun setelah dijalani

Bahkan tak terasa semenit ketika melewatinya

Aku terus berjalan

Tanpa kenal siang dan malam

***

Veysel Buta hanya bisa takjub

Melihat segala hal ini

Terkadang ia tersenyum terkadang ia menangis

Namun apapun yang terjadi

Untuk tujuannya

Ia terus berjalan

Tanpa kenal siang dan malam..

Tanpa kenal siang dan malam..

 

Begitulah Veysel Buta menuliskan lirik dan menyusun lagunya. Betapa sederhana, namun rumit dan penuh makna di dalamnya.

Veysel Buta, di dalam lirik dan lagunya, hendak memberikan sebuah pelajaran: Hei, hidup itu panjang dan singkat. Panjang, karena pengalaman kita relatif dan apa yang kita lalui dalam hidup berbeda-beda. Terkadang kita di gurun, terkadang kita di padang rumput, terkadang kita di gunung. Singkat, karena hidup itu bak berjalan di sebuah rumah dengan dua pintu. Rumahnya dunia, jarak dua pintu adalah kehidupan, pintu pertama adalah kelahiran dan pintu kedua adalah kematian – pertemuan kita dengan Sang Cinta. Saking panjangnya, kita tak merasakan singkatnya.. dan terkadang saking singkatnya, kita melupakan rasa panjangnya.

Veysel Buta juga hendak berkata: Hei, kamu mungkin takut, bingung, khawatir tentang apa yang kau temukan di jalanmu. Mungkin kau berada di jalan yang panjang dan sempit, yang susah untukmu menemukan jalan lain atau jalan yang lebar dan nyaman. Mungkin kau akan berada dan terselip di dalam situasi aneh dan absurd yang membuatmu terteror setengah mati, tapi jangan.. jangan pernah takut dan khawatir. Berjalanlah, berjalanlah tanpa kenal siang dan malam. Berjalanlah demi tujuanmu satu, Sang Cinta, tanpa henti. Ia tak akan henti menemanimu pula selama engkau merasakan dirimu ditemani olehNya. Jangan, jangan pernah berhenti. Meskipun tangisan telah kering dari matamu, meskipun tawa telah melepas mulutmu, berhenti bukan pilihan. Berhenti bukan alasan. Jalan, terus berjalan, tanpa berhenti mengenal siang dan malam.

Veysel Buta sudah bersama Ilahi saat ini. Mungkin kamu, aku dan kita akan bertemu dengannya nanti.

Sambil memetik bağlama, entah di pintu surga yang mana, ia akan menyambutmu bersama penghuni yang lain: Hei, anak muda, kita yang semua dimudakan olehNya

Ey canlar, mari bernyanyi bersama, syukuri akhir perjalananmu dengan bernyanyi pada yang kita Cinta.

—————————————————————————————————————-

Pagi Hari sebelum Subuh, 5:40 EEST.

 

One thought on “Uzun İnce Bir Yoldayız..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s