Jose ‘Pepe’ Mujica di Eskişehir

Saya merasa beruntung tinggal di Eskişehir.

Kota ini, sejak awal berdirinya Republik dan seiring dengan berjalannya sejarah Republik Turki, merupakan kota yang dipenuhi oleh orang-orang terdidik – tidak peduli asal kelasnya, mau kaya atau miskin, mau buruh, petani atau pengusaha. Karena karakter terdidik orang Eskişehir inilah Eskişehir menjadi kota yang dipenuhi oleh banyak intelektual dan aktivis – mereka-mereka yang punya kesadaran untuk menggerakkan masyarakat dan dengan inilah, demokrasi di Eskişehir berkembang dengan sangat baik, bahkan ketika situasi di sekitar memburuk dan berada dibawah tirani. Demokrasi di Eskişehir tumbuh dengan sangat subur dan indah hingga sekarang, dimana orang kiri dan orang Islamis berdebat satu sama-lain tentang bagaimana cara membangun sistem masyarakat yang adil bagi semua. Betapa beragamnya pandangan politik di Eskişehir, sampai2 apa yang terjadi di Eskişehir (yang bukan merupakan kota yang besar-besar amat) dapat berpengaruh secara nasional, berpengaruh ke seluruh Turki.

Dari Eskişehir-lah dimulai upaya demokratisasi Turki, saat Adnan Menderes, seorang pengusaha UKM berbicara di depan ratusan warga desa di Sakaryabaşi tentang arti penting menjalankan sistem politik demokratis di Turki, melawan wacana sistem satu-parti nan otoriter yang dijalankan oleh Partai Republik Rakyat atau CHP saat itu. Dari Eskişehir-lah muncul dan tumbuh gerakan kiri yang amat solid dan kuat dari kampus dan pabrik2, yang bahkan tidak tumbang hingga sekarang dan telah menghasilkan alumni-alumni dengan pemikiran luar biasa, seperti Yilmaz Buyukersen, seorang akademisi sosial-demokrat dari Universitas Anadolu yang sekarang masih menjadi walikota. Dari Eskişehir-lah hadir syahid perjuangan rakyat seperti Ali Ismail Korkmaz, seorang mahasiswa muda yang dikeroyok oleh polisi-polisi setelah ikut demo tahun 2013 dan namanya masih dikenang2 sampai sekarang (setiap tanggal 11 November  kegugurannya masih dikenang).

Saya kira karakter-karakter Eskişehir inilah yang mungkin membuat seorang presiden luar biasa dan manusia besar seperti Jose Mujica mau berkenan berkunjung ke Eskişehir. Mungkin saja. Dan kalaupun tidak, memang sangat cocok sekali Jose Mujica berkunjung ke kota ini.

Jose Mujica, menurut berita dan selebaran yang ada, datang dengan undangan dari salah satu partai besar di Turki, CHP yang merupakan partai (yang mengaku) sosial-demokrat. Jose Mujica, sebagai seorang komunis tulen yang merakyat, tentunya senang diundang oleh sesama kamerad dari benua lain, sehingga beliau akhirnya datang dan sesuai pengakuan beliau, “Saya datang kesini untuk memberikan dukungan dan solidaritas terhadap perjuangan rakyat Turki”. Sebelum ke Eskişehir, awalnya beliau mampir ke kota-kota yang dikuasai oleh CHP di wilayah Istanbul, seperti ke Beylikduzu dan Sisli. Baru setelah itu, beliau pergi ke kota Eskişehir dengan menggunakan kereta super cepat.

Sesampainya di Eskişehir, Jose Mujica disambut oleh para pemakai VW di Eskişehir (mengingat Bapak ini juga senang memakai VW kemana-mana tanpa kawalan, bahkan mau juga memberikan orang tumpangan ketika butuh) dan diantarkan jalan-jalan oleh para pengurus CHP dan para pengurus kota Odunpazari (salah satu bagian dari kota Eskişehir) untuk menikmati bagian-bagian unik dari Eskişehir, menemui serikat pekerja, menandatangani buku… dan sampai akhirnya datang hari ini. Hari yang mempertemukan saya dengan si Bapak sederhana dari Uruguay…

Saya sendiri datang dengan rasa penasaran: Jose Mujica ini orangnya seperti apa sih sebenarnya dan pikiran dia apa sih tentang dunia? Mungkin untuk menjawab pertanyaan ini, sebenarnya tidak perlu repot2 pergi ke Ataturk Kultur Merkezi. Mepet2 dengan ribuan orang tua dan mahasiswa-mahasiswi muda sampai harus duduk di tangga. Tapi pengalaman melihat dan mendengar langsung seorang yang hanya muncul sekali dalam seumur hidup saya ini tidak boleh dilewatkan. Melihat dan mendengar berarti mencatat sebuah memori sejarah yang akan terkenang sepanjang hidup. Akhirnya, walaupun cuaca di luar dingin, walaupun saya masih ada jatah ujian dan makalah yang belum terselesaikan, saya tetap berkeputusan untuk berangkat dan menyaksikan Jose Mujica berbicara. Kapan lagi bertemu dengan Jose Mujica.

20151103_191747

Maaf kamera saya bukan kamera yang bagus2 amat, tapi di meja tengah itu ada Pepe, moderator, Pemimpin Serikat Buruh Uruguay dan para penerjemah yang kesemuanya wanita

 

Jose Mujica. Benar seperti kata orang, bapak ini sangat sederhana. Nampak tadi beliau hanya memakai jas coklat dengan kemeja biru muda. Tidak lebih dan tidak ada pernak-pernik lain. Ah, tapi bukan fisiknya yang saya lihat untuk menilai beliau.

Yang penting dari beliau adalah apa yang beliau akan sampaikan, begitu tutur saya dalam hati. Akhirnya saat Jose Mujica berbicara, saya mencoba untuk berhati-hati mendengar karena apa yang beliau sampaikan akan disampaikan dengan Bahasa Spanyol dan diterjemahkan ke Bahasa Turki. Namun sayang sekali, dalam upaya penerjemahan ini, saya merasa ada beberapa kata-kata yang hilang dan mengapung di udara karena ketidakmampuan penerjemah Spanyol-Turki dalam mengolah kalimat yang baik. Saya mencoba untuk menangkap kata-kata yang hilang tersebut dengan mencoba untuk memahami beberapa kata Spanyol yang familiar dan dekat dengan bahasa Inggris, lalu mengumpulkannya dan beginilah simpulan saya atas pemikiran Jose Mujica, sesuai dengan batas pendengaran dan batas pemahaman saya atas apa yang disampaikan dan diterjemahkan:

“Hidup ini sebuah mukjizat. Hidup ini sebenarnya merupakan hal yang sangat indah. Namun, kebanyakan dari kita melupakan makna kehidupan ini. Mengapa? Kita terlampau sering mengartikan kehidupan kita sebagai sebuah kehidupan yang penuh dengan pola konsumsi berlebihan, penghabisan uang untuk bermacam hal yang mungkin tak perlu, serta pekerjaan-pekerjaan kita yang justru mengekang kita dari kehidupan. Ya, kita bekerja untuk melanjutkan hidup, tapi bukan berarti kita hidup untuk melanjutkan kerja. Pola pikir kita yang seperti itu (hidup untuk bekerja), dimungkinkan sekali oleh beberapa alasan. Alasan pertama adalah kita hidup dengan ego. Ego memang sebuah sifat alami manusia, namun bukan berarti kita harus menyerah pada ego. Sepanjang hidup manusia, jika ia memang ingin menjadi baik bagi dirinya dan bagi sesama serta sekitarnya, ia harus berjuang keras dan berperang melawan ego. Adanya ego telah terbukti menghancurkan banyak hidup manusia, entah secara individu maupun secara sosial, karena dengan ego ini manusia seolah tidak puas dan ingin memiliki semuanya, entah itu kuasa atau harta. Jika kita menginginkan sebuah sistem hidup yang lebih baik, indah dan damai, maka kalahkanlah ego itu. Jadilah manusia seutuhnya yang memanusiakan diri dan sekitar. Alasan kedua adalah kita hidup dalam sebuah abad penuh konsumsi dan kegilaan pada kapital. Betapa gilanya orang-orang dengan kapital, sampai orang-orang telah menjadikan kapital itu sebagai sebuah agama. Bahkan bisa dibilang agama sudah tiada, karena agama-agama yang dulunya ada itu sudah tergantikan oleh kapital atau dibumbui oleh racun kapital sehingga membius massa-massa yang awam. Kapital telah membuat kita memproduksi banyak hal yang sebenarnya tidak kita perlukan dalam hidup, malah-malah memperbudak diri kita. Alasan ketiga adalah globalisasi ekonomi. Globalisasi ekonomi telah membuat kesengsaraan makin meluas. Bukan kesejahteraan yang tersebar, tapi kemiskinan dan kehancuran bagi mereka-mereka yang masih berada di bawah dan tak bisa bergerak dilindas roda penindasan. Yang diglobalisasi oleh manusia seharusnya bukan kapital dan ekonomi, tapi kemanusiaan itu sendiri. Yang harus diciptakan adalah globalisasi kemanusiaan, bukan globalisasi ekonomi!

Untuk menjawab segala tantangan ini, kita harus memulai upaya solidaritas dan perjuangan demi masyarakat yang lebih adil. Pertama, upaya itu bisa dimulai dengan menyamakan hak diantara sesama kita, mau lelaki perempuan, tanpa memandang asal usul agama dan lainnya. Kedua, upaya itu diperkuat dengan memberikan lebih banyak dana untuk membangun pendidikan dan memberikan pangan bagi mereka yang tertindas, terutama para kaum wanita tertindas dan terdiskriminasi. Dengan wanita yang terdidik dan sehat, masyarakat yang baik akan terbangun pada akhirnya. Ketiga, upaya solidaritas itu hanya bisa berjalan dengan persatuan semua serikat dan partai dalam satu barisan yang kuat dan kokoh, yang menghilangkan batas ego politik antar satu sama lain, seperti yang sudah dilakukan di Uruguay. Keempat, perkuat terus upaya demokrasi. Demokrasi memang penuh dengan kecatatan dan ketidaksempurnaan, tapi jalankanlah terus demokrasi. Karena dibawah sistem demokrasi dalam negara Republik lah kedaulatan rakyat akan benar-benar terwujud. Dengan upaya-upaya inilah, masalah-masalah ketidakadilan dan kemiskinan di sekitar kita bisa terselesaikan. Namun ingat, semuanya akan berjalan dengan waktu. Semuanya perlu waktu, tidak ada sesuatu hal yang segera selesai. Jalani. Jangan pernah keluar dari jalan itu karena itu adalah sikap menyerah. Jalani, maka waktu itu yang akan memenangkan kita dalam perjuangan, seiring dengan segala usaha yang telah kita lakukan.”

Kurang lebih begitu pesan-pesan penting yang bisa saya tangkap dari apa yang disampaikan Pepe selama pidatonya tadi.

Selain menyampaikan pesan-pesan diatas, Pepe juga sedikit-sedikit bercanda dengan menunjukkan seragam sepakbola Eskişehirspor, klub kebangaan Eskişehir dan bilang bahwa semua orang Uruguay suka sepakbola – walaupun Uruguay berada ditengah-tengah Brazil dan Argentina, tidak membuat Uruguay kalah dari kedua negara ini soal sepakbola. Selain itu, Pepe juga menjawab sebuah pertanyaan, “Jika anda punya anak selama jadi presiden, dan jika ia menjadi kaya, apa yang akan anda lakukan?” dengan kelakar, “Kalau ia kaya, pasti ia mencuri karena tidak ada orang yang dpapat menjadi kaya (memiliki harta berlebih) tanpa mengambil apa yang seharusnya menjadi hak orang lain..”. Pepe juga berkelakar, “Di Uruguay, penduduk kami yang manusia hanya 3 juta orang. Sisanya anda akan menemukan lebih banyak domba atau sapi di desa-desa..”

Pepe memang seorang yang sederhana, tapi idealismenya luar biasa dan mengguncang dunia. Idealismenya yang kuat ini ditempa dengan tahun-tahun ia menjadi gerilya (yang membuat ia menemukan istrinya yang juga seorang gerilya) , tahun-tahun ia disiksa oleh pemerintahan diktator, tahun-tahun ia dipenjara di sel sempit serta dibatasi aktivitasnya, tahun-tahun ia bergerak dan bersekutu membangun aliansi melawan diktator… hingga umurnya sekarang yang ke-8o..  seolah tidak ada yang berbeda darinya.

Pepe, mengingatkan saya pada figur-figur sahabat Rasul dan para sufi yang memilih hidup sederhana ditengah rakyat dan memilih untuk menjadi miskin daripada kaya. Seorang manusia yang memang langka dan seolah tidak mungkin hidup di abad ke-21 yang amat fana dan amat jenuh dengan jejaring kapital.

Ah, sebelum saya menyelesaikan tulisan ini, sebenarnya saya punya satu pertanyaan yang tadi tidak sempat saya tanyakan ke beliau: Apa pandangan Jose Mujica tentang dunia ketiga dan apa pesan ia kepada pemimpin dan rakyat di negara dunia ketiga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s