Subuh Itu

Subuh itu
Aku baru saja beranjak dari terminal setelah berjam2 menunggu

Tram masih saja kosong karena mana ada orang yang mau keluar sepagi itu
Cuaca dingin dan langit masih gelap
Di tengah perjalananku pulang, di dalam tram yang isinya hanya beberapa orang,
Pelan2 menyeruak pagi yang sepi suara azan..
Azan yang menentramkan hati dan menyejukkan pikiran..
Yang sedari kemarin sudah dipenuhi beragam cobaan dan ujian..
Namun.. azan subuh itu ingatkanku pada banyak cerita, banyak orang diseluruh dunia
Tentang bagaimana hidup mereka tatkala subuh berkumandang dan surya mulai membentang di cakrawala..

Subuh itu
Masih hitungan ratusan kilo, tak terpaut jauh dari tempatku
Tak ada azan berkumandang
Meski ratusan ribu penduduknya
beragama Islam
Oh bukan karena lupa, bukan!
Sedari beberapa hari lalu,
Orang-orang dilarang keluar
Kabarnya ada teroris
Mereka polisi-polisi datang
Dan rakyat biasa diminta diam tenang di dalam rumah..
Ah, tapi mana bisa..
Desingan peluru kapan waktu menembus jendela
Lontaran mortir nyasar kadang melukai dan menewaskan mereka kecil tak berdosa..
Situasi di rumah saja tak aman
Apalagi diluar sana..
Dua pihak bersenjata menjebak rakyat dalam skema yang berbahaya..
Dan tak ada siapa yang mampu menengahinya, entah kenapa
Bahkan si Pak Imam Tua, kehormatan kampung dan kota itupun, tak siapapun yang sudi mendengarnya
Suara azannya terdengar sejak 40 tahun lalu pertama ia lulus dari
sekolah berlatih jadi Imam dan Khatib
Dan sampai kemarin sebelum rusuh ini, masih terdengar dengan jernih..
Tapi setelah konflik ini
Pak Imam Tua cuma bisa bermukim di rumah
Sambil istighfar dan berwirid
Takut amal buruknya dan dosanya yang sebabkan kekacauan sekitarnya
Ketika waktu subuh tiba,
Pak Imam Tua hanya bisa berlirih sambil sesenggukan
“Tuhan, kapan Kau perdengarkan azan.. di tanah kami yang terkoyak ini?”
Lirihannya diamini gagak2 tua yang lewat diatas jenazah,
dan para rakyat kecil yang hanya bisa berkemul dibalik gelapnya malam membawa doa
dengan latar rentetan senjata..

Subuh itu,
Tepat sebelah tenggara, diluar perbatasan negara aku bermukim,
Azan berbunyi kencang lewat speaker di penjuru kota yang terkoyak oleh serangan bom dalam sebulan ini..
Kota ini seolah tak mati,
Meski beribu2 ton bom sudah melindas beragam bangunan
dan mengambil nyawa ratus, ribu manusia, tapi tetap saja, nyawa-nyawa yang tersisa itu.. bangkit menuju masjid..
Mereka menuju masjid sambil membopong senjata2 terbaru mereka, hasil ghanimah katanya,
Tak kira2, dari produk Rusia sampai Israel ada ditangan semua..
Di Masjid tanpa ragu mereka berdoa demi kejatuhan negara2 itu, sedangkan senjata2 produksi negara2 itu mereka pegang dan elus2 dengan sayang..
Subuh itu,
para pejuang di kota terkoyak ini,
ada yang kembali ke kediaman,
ada yang bersiap-siap menuju ke pertempuran,
ada yang bergerilya di dunia maya mencari calon-calon tentara baru
melintasi benua-benua untuk memenuhi ide gila nan utopis mereka..

Subuh itu,
Sedikit jauh, sampai ribuan mil mungkin.
Di sebuah kota
Yang terkenal dengan anggur2nya dan wisata gunungya
Seorang berjenggot sedang melihat mukanya di kaca
Ia bingung dan ragu, apakah ia harus musnahkan atau tinggalkan jenggotnya yang panjang itu?
Sebab, kemarin lusa, selepas kerja ia dihardik sekelompok orang yang tak senang dengan jenggotnya, kulitnya yang agak keling, dan identitasnya.
Ia biasa kerja
Di sebuah pemotongan daging, untuk mengisi waktunya dan menambah uangnya selagi lanjut studi S3..
Setelah kemarin bom besar di kota tempat kemerdekaan manusia dideklarasikan itu terjadi,
kemerdekaan seolah musnah dan ketakutan merajalela..
Ia bingung, jenggotnya jadi masalah besar padahal setau ia banyak filosof besar yang berjenggot..
Subuh itu,
Takut hari ini ia akan dihardik lagi
Ia terpaksa potong jenggotnya,
dan berangkat pergi pagi sekali ke tempat kerja..

Subuh itu
Di sebuah tempat di seberang samudera
Tempat dimana orang2 yang terzalimi agamanya mengungsi mencari tanah untuk bebas dari segala prosekusi..
Seorang polisi, baru kembali dari patroli malamnya,
Malam yang sibuk, gumamnya, tapi wajar saja, ini kota besar, lanjutnya lagi..
Polisi ini melihat jam tangannya,
Dan sadar bahwa sudah tiba waktunya,
Untuk kembali bersuci dan berbicara dengan Tuhannya..
Dalam doanya,
Dengan seragam yang terpasang simbol bendera dengan 50 bintang..
Dia berharap
Agar Tuhan selalu menjaga ia menjadi Muslim yang baik dan bermanfaat bagi sesama
Mau dimanapun ia berada
Dan entah jadi apapun ia..
Ia tahu
Sebagai Muslim ia dapat banyak fitnah di negara kelahiran..
Negara yang ia cintai sejak pertama melihat bumi dan semesya..
Tapi ia tahu..
Bahwa ia tak akan menyerah pada fitnah2 itu..
Ia akan terus menunjukkan bahwa Islam..
itu mendunia dan kebaikannya tak kan pernah mengenal tempat dan waktu…

Subuh itu
Seorang paruh baya baru saja memulai geraknya ke tempat kerja
Ia baru saja sarapan dan memulai semua kegiatannya..
Di tengah kota yang ramai penuh dengan manusia yang berfikir tentang bisnis dan kerja-kerja duniawi mereka
Ia mencari Tuhan dibalik keramaian yang sibuk namun kosong akan makna..
Ia mencari Tuhan dibalik rumitnya dan ruwetnya kemajuan serta pembangunan..
Ia mencari Tuhan yang sudah lama tak ia temukan..
Ia mencari Tuhan… yang lama disembunyikan.. lalu dicuri dan dibawa entah kemana oleh siapa..
Subuh itu,
Paruh baya ini, entah lelaki entah wanita, memulai perjalanannya mencari Tuhan
Di tepi-tepi kota yang kosong dan tertinggal
Di jiwa-jiwa yang dibiarkan dan dibuang
Di balik kerumunan yang melenakan..

Subuh itu
Di sebuah desa tropis yang indah nan subur
Sahutan azan dan kokokan ayam sama2 mengisi pagi dengan kabut yang kabur..
Membangunkan seisi kampung dari lenanya tidur menuju ke Baitul Ghafur..
Muka-muka orang kampung itu tampak lelah..
Seolah nampakĀ  sisa2 pertarungan di wajah mereka, dengan para penguasa dan aparatnya..
Yang mereka perebutkan, sebuah bukit dengan sebongkah batu yang katanya berharga (?)…
Namun tidak bagi masyarakat desa, harga itu fiksi dan dibuat2 saja..
Tetap bagi mereka, bukit itu sumber hidup dari sejak moyang mereka tinggal, dengan air dan hutan yang memungkinkan habitasi manusia..
Tapi kata penguasa, masa bodoh manusia – hidup duit dan kuasa!
Lalu mereka datang malam lalu habis Isya dan mencoba merobohkan pagar2 warga..
Karena itulah.. muka pak desa dengan para karang taruna sedikit terlihat lelah subuh ini..
Tapi mereka tak kan berhenti..
Karena mereka tahu
Tuhan melihat dan membantu mereka yang terzalimi..
Di subuh itu
Perjuangan masih tetap berlanjut
Dengan lafaz Allahu Akbar
Hanya Allah saja yang layak kita besarkan
Dan Laa ilaha illa Allah
Tiada, dan tiada yang berkuasa kecuali Dia..
Tiada, berarti melawan semua keegoisan dan kesombongan manusiawi… untuk menegakkan tauhidNya yang Maha Adil..
Subuh itu.. perjuangan yang baru dimulai lagi..

Subuh itu,
Angin samudera bertiup lembut menyambut sang Surya
Di balik sebuah jazirah yang sangat strategis letaknya
Terdapat masyarakat yang sedang menderita..
Bertahun-tahun mereka ada dibawah dominasi bangsa2 yang anggap mereka bodoh dan tak berdaya..
Dibuat konflik untuk memecah mereka yang dulu bersatu..
Sehingga semua kekayaan yang ada didalamnya menjadi milik mereka..
Namun tidak,
tidak lagi.. Karena subuh ini seorang pemuda, bersama penuda lainnya berjalan bersama ke masjid..
Mereka-mereka, belajar jauh ke pelosok benua untuk memahami pemikiran orang2 yang mengadu domba mereka..
Dan kembali lagi demi sebuah rencana besar..
Bukan untuk membalas dendam..
Tapi untuk menunjukkan bahwa bangsa mereka berdaya dan tak ada yang akan berani mengusik mereka lagi kedepannya..
Di Subuh itu.. ikrar mereka terulang
Tidak akan berhenti perjuangan mereka hingga semua bangsa merasa sejahtera..

Subuh itu
Pikiranku melayang entah kemana-mana
Padahal tubuhku masih ditempat yang sama, di kursi tram yang kosong tanpa penumpang
Sambil berdiam,
Aku hanya berharap dalam subuh itu
Semoga Tuhan selalu menguatkan dan memberikan barakahnya kepada mereka, para manusia yang bangun di waktu Subuh.. di seluruh bagian dunia… dengan segala kondisinya..
Semoga seluruh manusia tetap berada dalam kondisi damai dan sejahtera.. dalam lindunganNya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s