Catatan Seorang Guru

Ini adalah catatan seorang guru yang tinggal di sebuah daerah konflik, tepatnya di Silvan, Diyarbakir. Dalam setahun ini, konflik dan letusan senjata mengisi pagi dan malam di antara rumah-rumah di sepanjang dinding kota Silvan. Kota yang telah memberi hidup sejak awal tumbuhnya peradaban manusia ini kini menjadi kota dimana setiap hari banyak orang yang harus tewas, karena ego dari mereka yang tidak mengerti bahwa manusia itu sebenarnya… sama.

Begini ceritanya.

k_07111020_20140403_104532

Silvan. Sebuah tempat dimana suara senjata tidak pernah lenyap, bahkan tatkala semua orang telah terlelap. Setelah pemilu tanggal 7 Juni lalu, pertikaian dan pertengkaran antar mereka yang saling berbeda pendapat tentang masa depan Turki dan bangsa Kurdi semakin meningkat. Pertikaian ini semakin tak terkendali tatkala hasil pemilu awal tanggal 1 November mengecewakan beberapa pihak. Konflik makin berkembang ke wilayah yang lebih luas. Gang-gang dimana dahulu orang dapat berlalu dengan bebas kini ditutup oleh barikade yang dibangun oleh anak-anak muda, yang mengaku membela kebebasan dan kemerdekaan bangsa mereka yang teraniaya. Helikopter terus terbang tanpa henti di atas langit, dan derunya terus terdengar, mendiamkan kicauan burung yang biasanya sering terdengar. Bom-bom dan peluru yang ditembakkan oleh kedua pihak yang berseteru tak henti-hentinya meneror warga, sehingga jalanan, gang-gang, bahkan  rumah-rumah kehilangan penghuninya…

Pada suatu pagi, seperti biasa aku berangkat ke kelas untuk mengajar anak muridku. Waktu itu, konflik baru saja dimulai. Beberapa anak muridku datang dan aku memulai pelajaran dengan menyuruh mereka untuk membaca. Baru saja saat pelajaran pertama dimulai, kami mendengar suara tembakan mulai terdengar dari segala penjuru. Seperti biasa, dalam kondisi seperti ini, aku mencoba untuk tidak panik, meyakinkan anak-anak muridku bahwa semuanya akan baik2 saja, dan aku menutup jendela yang persis ada disamping mejaku. Setelah aku menutup jendela, entah mengapa, suara bom dan desingan peluru makin terdengar kencang hingga beberapa anak mulai menangis dan merasa khawatir. Seluruh jendela aku tutup. Aku minta semua anak muridku untuk tetap tenang dan menutup buku mereka. Lalu, untuk menenangkan mereka dan mengurangi intensitas suara peluru terdengar di dalam kelas, aku minta mereka untuk menyanyikan lagu “Bir Dünya Bırakın Biz Çocuklara (Tinggalkanlah Dunia bagi Kami Anak-Anak)”… dan pelajaran pertama berakhir dengan selesainya lagu itu..

Aku kemudian turun ke bawah, ke kantor. Aku bertemu dengan teman-teman sejawatku, semuanya khawatir dan ketakutan. Aku kemudian mendengar suara pengumuman dari masjid yang diumumkan oleh seseorang karyawan sekolah. Pengumuman itu bilang kalau 3 kampung yang ada disekitar masjid harus segera dikosongkan, karena akan ada kontak bersenjata yang sangat intensif. Antara teman-teman sejawatku aku juga mendengar bahwa akan ada serangan dan pemboman dari udara, dan kekhawatiranku semakin tidak terkendali..

Lalu, bel sekolah berbunyi, istirahat berakhir dan pelajaran dimulai kembali. Sepanjang istirahat, tidak ada anak muridku yang berani keluar, bahkan untuk sekedar ke lobi dan toilet. Muka mereka benar-benar ketakutan, tak ada raut kebahagiaan sama sekali yang biasa terlihat… Aku memulai kembali kelas, mencoba untuk membuat mereka tetap berani.. Aku kemudian mengajarkan lawan kata. Ketika aku meneriakkan kata “Perang”, mereka meneriakaan kata “Damai!”

Tak berapa lama, seorang wali murid datang. “Pak Guru, di luar kondisinya sangat parah. Saya khawatir dengan kondisi anak saya. Kalau diizinkan saya ingin membawa anak saya pulang.” Aku izinkan wali itu dan kemudian ia pergi bersama anaknya. Sepanjang pelajaran, wali terus datang ke kelas dan membawa anaknya. Tinggal beberapa anak yang belum dijemput oleh orangtuanya, dan mereka berkata kepadaku: “Pak Guru, kenapa mereka pergi? Kami juga takut!!”… Aku meyakinkan mereka, “Jangan takut. Aku akan disini selalu bersama kalian..”. Di jam pelajaran selanjutnya, aku mendengar kabar bahwa beberapa anak yang pulang bersama orangtua mereka jadi korban tewas, terjebak di tengah kontak senjata yang amat intens.

Aku marah. Aku kecewa. Aku lelah.

Ada jutaan manusia di negara ini. Setiap orang boleh berbicara dan menjadi pemberani yang luar biasa. Namun tak ada yang bisa membawa perdamaian secara utuh ke negara ini..Aku tak bisa menahan tangisku seiring datangnya kabar-kabar korban tewas yang juga anak muridku..

Negara ini tidak bersatu, yang timur dan yang barat seolah terpisah. Bertahun-tahun orang Turki dan orang Kurdi terpisah satu sama lain tanpa bisa benar-benar berteman. Aku, kita semua, tidak ada yang meninggalkan tanah air yang aman dan tenang bagi semua anak-anak kita. Malangnya!

————————————————————————————————————————————-

Catatan akhir: Silvan hanyalah salah satu titik dari konflik yang terus berlanjut di wilayah Timur dan Tenggara Turki. Namun, konflik ini tidak terjadi di semua kota, seperti misalnya di Bitlis, Batman, Ağrı, Ardahan, Kars dan Iğdır yang relatif lebih aman dan intensitas konfliknya lebih rendah.

Semoga Allah selalu memberikan perdamaian dan keamanan bagi semua manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s