Obrolan dengan Dosbingku

Selasa siang kemarin sebenarnya cuaca sangat dingin. Aku sebenarnya sempat tak terpikir untuk ke kampus.

Bayangkan saja, suhu udara sekitar 5 sampai 7 derajat dibawah nol, angin cukup kencang, dan jalanan sudah mulai ber-es atau artinya sudah sangat licin. Tapi, karena aku yang membuat janji untuk bertemu dengan dosen pembimbingku hari itu, ya mau bagaimana lagi. Lagian juga, dosenku satu ini agak susah meluangkan waktunya, karena beliau punya banyak proyek editan buku dan penelitian yang jauh lebih penting daripada urusan tesisku yang masih draf proposal saja. Akhirnya, aku mencoba untuk bangun dan melangkah ke kampus untuk membicarakan draf proposalku dengan dosen pembimbing (dosbing) satu ini. Aku sudah berencana untuk sekedar memberikan draf proposal, bicara 30 menit paling lama, lalu langsung pulang untuk kembali ke kamar (yang entah kenapa juga ikut-ikutan dingin).

Sekitar satu jam sebelum janjian, aku sudah di fakultas. Fakultas tak begitu ramai dengan banyak orang, namun sekitar setengah jam setelahnya, banyak orang-orang yang baru selesai ujian remidi keluar dari kelas dan mulai memenuhi kantin. Aku kemudian coba memeriksa ke jurusan. Pintu biasa ke arah jurusan ditutup, diperbaiki ternyata. Aku cek ke pintu kedua, ternyata buka, dan aku langsung lihat pintu ruang dosbingku masih tertutup rapat. Langsung saja kutanya ke Sekretaris Jurusan yang biasanya tahu keberadaan dosen2:

“Bu, Cenap hoca belum datang ya?”

“Oh kayanya saya sehari ini nggak ngelihat beliau. Dari pagi nggak dateng sama sekali..”

“Tapi saya sudah ambil randevu untuk ketemu jam 3..”

“Berapa menit lagi ke jam 3?”

“Sekitar 15 menit…”

“Oh ya udah, kamu tunggu aja. Biasanya kalau udah randevu beliau nggak akan lupa kok, kalaupun dibatalin pasti kamu dikasih tau sebelumnya..”

Akhirnya aku jalan ke toilet sebentar, sekalian wudhu, dan cari tempat untuk sholat. Setelah sholat, ternyata sudah jam 15:08, dan aku langsung bergegas menuju ke ruang dosenku. Ternyata ruangannya sudah terbuka, dan aku masuk.

Baru kali itu aku ketemu dosbingku secara personal, karena biasanya aku cuma ketemu di kelas Teori. Setelah basa-basi sebentar, aku kemudian memberikan cetakan rencana tesisku dan minta pendapat dosbingku terkait rencana tesis tersebut.

“Jadi gimana hoca? Ada pendapat atau pandangan terkait tesis saya?”

“Oh, proposalmu yang ini toh. Kalau yang ini saya sudah lihat beberapa hari yang lalu, itu Ali hoca, dosen metode penelitianmu kemarin juga kasih ke saya…”

“Oh gitu ya hoca? Kira2 ada masukan, atau pertanyaan terkait rencana tesis saya?”

“Ini kalau saya baca dari judulnya, ada kata Reformasi, berarti saya tebak2 artinya kurang lebih proses perubahan politik ya?”

“Iya hoca, kurang lebih gitu. Saya mau membahas wacana dalam politik luar negeri Indonesia selama era perubahan politik ini menggunakan analisis diskursus…”

“Oke kalau gitu.. Saya awalnya mikir kamu akan bahas politik luar negeri Indonesia dengan kaitan masalah-masalah hak minoritas, seperti soal Timor Leste, mungkin.. Sebenarnya gini, untuk tesis kamu, di jurusan kita sayangnya tidak ada yang spesialis banget dalam soal analisa politik luar negeri.. dan soal analisis diskursus juga nggak ada.. Tapi, saya punya gambaran lah soal bagaimana analisa ini harus dilakukan.. Sekarang pertanyaannya gini, kira2 diskursus apa yang mau dibahas dan dianalisa?”

Nah, aku setelahnya menjelaskan soal tesis aku dengan cukup panjang lebar… Mulai dari soal perkembangan demokratisasi Indonesia sejak akhir Orde Baru sampai sekarang, ketika Indonesia mulai bangkit sebagai kekuatan politik di Asia Tenggara yang rajin mempromosikan demokrasi, dan bagaimana diskursus politik luar negeri selama proses perubahan politik ini bisa dianalisis lewat metode analisa Hansen dalam melihat diskursus. Selama aku ngobrol dengan dosbingku, ada beberapa dosen yang lalu lalang masuk ke ruangan dosbingku. Untuk sekedar salam, atau ada juga yang malah ikutan diskusi aku sama dosbingku. Dosen yang ikutan diskusi ini dosen Timur Tengah aku , dan akhirnya aku diskusi (sekalian memperkenalkan) politik domestik dan politik luar negeri Indonesia. Dari obrolan-obrolan itu, dosen Timur Tengah aku sempat nyeletuk, “Berarti sebenarnya ada beberapa episode sejarah dalam politik Indonesia yang cukup serupa dengan politik Turki, terutama di era-era 1990an.. dan tadi soal perdebatan Islam – Sekularisme yang kamu bahas, saya rasa kita juga memiliki perdebatan yang serupa..”

Di samping obrolan2 serius, dosbing dan dosen Timur Tengah aku juga sempet nanya2 hal yang personal, soal cuaca, soal makanan dan sebagainya. Aku juga sempat membagi beberapa rencana2 bikin jurnal dan rencana2 setelah kuliah yang ditanggapi dengan, “Kamu tertarik nggak doktoral disini? Nanti kita tanggung dan nanti kamu bisa ambil program part-time“, yang aku tanggapi dengan, “Wah saya nggak terlalu yakin hoca, saya kemungkinan bakal kerja dulu, nanti doktoralnya mungkin di Inggris..” Dosen Timteng aku kemudian jawab, “Yah, berarti kamu nggak suka dong tinggal disini..” dan aku cuma bisa bilang, “Nggak kok hoca..”

Setelah pembicaraan serius yang diselingi basa-basi antar aku, dosbing dan dosen Timur Tengah, akhirnya dosen Timur Tengahku pergi karena ada kerjaan dan akhirnya aku ngobrol intensif lagi dengan dosbingku. Aku kemudian nanya2 tentang riset2 yang sedang dosbingku kerjakan hari2 ini. Dosbingku kemudian menjelaskan soal Conceptualizing Jihad. Sebagai seorang dosen yang memiliki spesialisasi Hukum Internasional, dosbing aku juga akrab dengan persoalan hukum Islam dan perdebatan norma antara “Barat” dan “Islam”. Dosbingku menjelaskan bahwa saat ini beliau melihat banyak sekali riset dalam hukum humaniter internasional yang mencoba untuk membandingkan antara norma Islam dan norma Barat yang “universal”. Tapi, dosbingku menganggap bahwa riset-riset seperti itu sebenarnya salah secara esensi, karena menurut dosbingku, ketika kita melihat persoalan hukum humaniter sebenarnya tidak ada perbedaan yang fundamental antara Islam dan Barat, justru yang ada persamaan yang amat kentara antara norma Islam dan Barat terkait hukum perang. Dosenku melihat bahwa analisis perbandingan dan melihat lagi contoh-contoh dalam Siroh Nabi itu sudah tidak perlu kita lihat lagi, karena perdebatan antara Islam-Barat dalam soal hukum perang sebenarnya sudah selesai dan kita perlu melihat konteks berbeda yang kita hadapi sekarang.

Hoca-ku bilang,

“Sekarang masalahnya begini. Ketika orang-orang lihat ISIS melakukan kekerasan dan pelanggaran atas nama jihad, dan banyak orang-orang kemudian mengkritik dan merespon dengan keras aksi ISIS yang katanya tidak sesuai dengan hukum kemanusiaan, dan  banyak orang kemudian yang jadi salah melihat makna jihad ketika mereka cepat menghubungkan jihad dengan aksi-aksi mujahidin yang salah disini.  Jihad itu kan sesuatu yang didasari oleh ajaran Islam, dan oleh karena itu secara normatif saat perang ya tidak seharusnya ISIS melakukan pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan seperti itu. Nah, tapi menurut saya, berarti ini persoalannya bukan persoalan norma lagi, tapi saya pikir ini sudah lebih jauh lagi dari soal norma.. Nah, saya ingin sekali mencoba untuk mendefinisikan kembali jihad dalam konteks bahwa jihad sebenenarnya digunakan oleh beberapa aktor untuk use of power, sebagai sebuah instrumen, untuk memenuhi kepentingan mereka.”

“Berarti ini pertanyaan yang bersifat epistemologis kan hoca?”

“Iya, itu istilah yang bagus. Saya melihat bahwa jihad ini bukan tujuan para mujahidin. Jihad itu tidak lain dan tidak bukan merupakan sebuah urusan keduniawian.  Okelah, kita bisa lihat bahwa secara ontologis basis Islam adalah wahyu dan  secara epistemologis ada pengaruh norma-norma dari ajaran Islam yang bersifat ukhrawi, atau ada tindakan2  yang terpengaruh itu tapi ketika kita lihat dalam praktiknya, apa yang dilakukan oleh para mujahidin ini aspeknya sangat duniawi. Nah, dari sini saya mau coba mulai mengkonseptualisasi Jihad dari segi ini (sebagai sebuah instrumen yang duniawi) dan mungkin setelah melakukan riset yang panjang dalam hal ini, saya mau coba luaskan tidak hanya sekedar dalam bidang hukum perang, tapi bagaimana pola pikir seperti ini juga bisa kita baca di dalam filsafat politik Islam dan lainnya. Saya pikir sepanjang sejarah umat Islam selalu menerjemahlan wacana2 ukhrawi menjadi sebuah praktik yang sebenarnya sangat duniawi..”

“Iya hoca, seperti misalnya analisis Ibnu Khaldun yang bersifat kultural ya..”

“Benar sekali, itu salah satu contoh saja. Masih ada contoh yang lain yang bisa kita eksplor, dan ini sangat menunjukkan bahwa Islam itu sebenarnya ajaran yang tidak terpisah dengan urusan duniawi, malahan berorientasi dan terikat pada hal-hal duniawi, seperti budaya dan lain-lain.”

Aku kemudian jadi banyak berpikir soal hal ini. Pikiranku berputar kencang saat itu. Aku saat itu terpikir tentang soal saeculum dan ranah keagamaan yang seringkali dianggap terpisah. Aku juga terpikir soal hubungan norma dan praktik dalam perkembangan sejarah dan filsafat ummat Islam.. Aku masih merasa perlu banyak baca dan belajar soal agamaku.

Mungkin dengan bertemu dosbingku satu ini aku diarahkan oleh Allah untuk lebih banyak baca soal agama, soal aqidah, soal fiqih, soal syariah, dan soal filsafat.. Karena aku jujur saja tertarik untuk elaborasi Teori Politik Islam untuk S3-ku nanti.

Kemudian aku sadar, jam sudah menujukkan jam 16:35 EET. Nggak terasa sudah sekitar 1,5 jam aku ngobrol-ngobrol dengan dosen aku, lebih satu jam yang telah aku rencanakan.. Ternyata ngobrol dengan dosbingku itu asik dan inspiratif sekali..


Post-script: Percakapan yang terjadi disini terjadi seutuhnya dalam bahasa Turki, dan mungkin ada beberapa makna yang tidak tertangkap dengan baik, terutama karena aku tidak merekam dan aku tidak mengambil catatan selama diskusi.. Wallahu a’lam bisshawab..

Insya Allah dalam waktu2 kedepan aku akan tuliskan serial Obrolan dengan Dosbing ini sebagai sebuah upaya untuk menghilangkan persepsi bahwa konsultasi sama Dosbing itu adalah hal yang menyeramkan, instead of that konsultasi sama Dosbing itu bisa jadi sebuah pencarian intelektual yang luar biasa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s