Sultan Sulaiman dan Wazirnya

Cerita ini sudah lama kudengar sejak aku belajar bahasa Turki lalu, tepatnya di sebuah kelas bersama seorang guru / dosen Sastra Turki yang lebih terlihat seperti seorang mbah buyut yang hobi mendongeng ke cucu-cucunya. Ceritanya bagus sekali, hingga sekarang aku sangat menghafal dan menghayati cerita ini..

divani-humayun-sinavex

Divan-i Hümayun, Dewan Agung Kesultanan Usmani 

Alkisah suatu ketika di abad ke-16, berkuasalah seorang sultan Usmani yang dikenal dengan gelaran the Magnificient / Il Magnifico di wilayah Eropa. Di Turki, ia lebih dikenal dengan nama Suleyman Kanuni, karena sultan ini dahulu terkenal melakukan reformasi kodifikasi hukum di Kesultanan Usmani. Di era beliaulah, kanun atau titah raja mulai dikeluarkan sebagai sebuah bentuk hukum baru yang melengkapi hukum Syari’ah yang memang sudah menjadi dasar legal dari Kesultanan Usmani.

Sultan Suleyman Kanuni memiliki seorang wazir kepercayaannya, yang kebetulan merupakan menantunya juga. Wazir kepercayaannya ini bernama Damat Rüştem Paşa, seorang lelaki beretnis Kroasia yang diambil oleh tentara Usmani saat dia menghabiskan masa kecilnya di wilayah Bosnia. Damat Rüştem Paşa, seperti kebanyakan rekrutan non-Muslim lainnya, kemudian dibawa ke Istanbul dan dididik secara intensif untuk menjadi penasehat dan pembantu Sultan Usmani. Kebijakan untuk mengambil dan mendidik anak-anak non-Muslim di Istanbul dilakukan oleh Kesultanan Usmani pada saat itu sebagai sebuah cara untuk mengoptimalkan manajemen kekuasaan di tengah luasnya wilayah Kesultanan. Dengan merekrut pegawai dan penasehat Kesultanan dari berbagai etnis, diharapkan bahwa tensi konflik dan pembangkangan akan mudah diredakan.

Damat Rüştem Paşa dididik secara intensif di sebuah lembaga setingkat perguruan tinggi yang bernama Enderun. Enderun  adalah bahasa Persia yang secara harfiah berarti ‘bagian dalam istana’. Guru bahasa Turki saya sempat mengibaratkan Enderun seperti Harvard University John F. Kennedy School of Government and Public Policy atau sekolah sejenisnya, karena di Enderun-lah para pemuda-pemuda non-Muslim yang datang dari wilayah kekuasaan di Eropa dan Balkan dijadikan Muslim melalui pendidikan agama dan diberikan kurikulum pendidikan yang amat baik tentang administrasi publik, bahasa-bahasa dunia, matematika, ekonomi, filsafat, etika, dan ilmu-ilmu yang berkaitan tentang cara menjalankan kekuasaan. Para murid di Enderun juga dilatih untuk belajar ilmu fisik, karena kebanyakan pejabat tinggi Kesultanan diharapkan juga mampu untuk memimpin pasukan.

entrance_to_the_harem_11_0

Pintu masuk ke arah Harem yang dihiasi kaligrafi an-Nur ayat 27 – yang saya belum sempat masuki juga karena mahal tiketnya! :p

Untuk masuk ke Enderun ini bukan perkara mudah, karena Enderun hanya diperuntukkan untuk mereka yang sudah terpilih dari berbagai macam wilayah Usmani untuk menjadi pejabat publik dan penasehat Sultan kedepannya. Enderun dikhususkan untuk para murid-murid lelaki, tapi murid-murid perempuan juga memiliki sebuah institusi pendidikan tersendiri yang dinamakan Harem. Kata guru sastra saya lagi, Harem seringkali disalahartikan oleh dunia Barat yang memiliki sudut pandang orientalis sebagai sebuah institusi pelacuran – padahal faktanya sangat jauh dari itu! Harem secara harfiah berarti terlarang, atau sebuah wilayah dimana memang lelaki tidak boleh masuk karena wilayah itu benar-benar khusus untuk perempuan. Di harem-harem yang ada di Istana Topkapı, dahulu berlangsung proses pendidikan intensif bagi para perempuan yang juga kebanyakan datang dari beragam latar belakang. Pendidikannya tidak jauh beda dari para murid lelaki di Enderun. Para perempuan ini juga dididik soal ilmu sosial politik, ilmu eksakta, ilmu seni dan lain sebagainya. Apa tujuannya? Perempuan ini tidak akan muncul dipublik, tapi mereka akan mendukung tugas-tugas suaminya di belakang layar. Perempuan-perempuan hasil didikan harem biasanya akan menjadi istri Sultan, istri pangeran-pangeran atau istri pejabat tinggi kesultanan. Dengan kemampuan seperti itulah, sang istri akan jadi inspirasi bagi suami dalam menentukan kebijakan dan membantu tugas-tugas suaminya. Dengan perempuan-perempuan yang terdidik di harem inilah, muncul pula ibu-ibu cerdas yang mampu melatih anaknya untuk menjadi pejabat, pangeran atau bahkan sultan yang pintar nan bijaksana.

Pada tahun 1539, Rüştem Paşa menikahi putri dari Suleyman Kanuni yang bernama Mihrimah Sultan, seorang putri yang terkenal amat jelita – hingga kabarnya membuat arsitek Mimar Sinan jatuh cinta dan membuat karya arsitektur luar biasa karenanya. Beberapa tahun setelah menikahi Mihrimah Sultan, Rüştem Paşa kemudian diangkat untuk menjadi sadrazam atau wazir yang membantu Sultan Suleyman Kanuni.

Cerita sebenar dimulai saat Sultan Suleyman Kanuni dan Rüştem Paşa sama-sama selesai menghadiri Diwan-i Humayun, sejenis majelis tinggi atau kabinet Kesultanan Usmaniyah. Setelah melakukan rapat dan diskusi selama berjam-jam lamanya, akhirnya Diwan-i Humayun selesai dan para pejabat tinggi Kesultanan keluar dari ruangan untuk kembali menuju ke tempatnya masing-masing. Sementara, Suleyman Kanuni bersama Rüştem Paşa membincangkan beberapa hal sambil berbicara di tengah taman Istana Topkapı yang masyhur akan berbagai jenis bunganya.

Saat itu, meskipun Kesultanan Usmani memasuki masa kejayaannya, Kesultanan Usmani sedang ditempa oleh berbagai macam konflik dengan pihak eksternal yang mencoba untuk merongrong legitimasi Kesultanan Usmani. Dari sebelah timur, misalnya, ada Kerajaan Safawi yang memerangi dominasi Usmani di wilayah Kaukasus Selatan (Azerbaijan) dan Tabriz. Dari sebelah barat, ada kekuatan Dinasti Habsburg dan Kerajaan Hungaria yang mencoba untuk menandingi poros kekuasaan Usmani yang mulai mencengkram wilayah Balkan dan Eropa Timur, hingga hampir memasuki jantung Eropa Tengah. Saat itu, Rüştem Paşa sebagai seorang wazir mengkhawatirkan bahwa ada kecenderungan populasi non-Muslim di wilayah Balkan dan Eropa Timur yang baru dikuasai oleh Usmani akan terlibat dalam pemberontakan dan pengkhianatan terhadap Kesultanan Usmani.

20150502_102547

Pintu masuk ke bagian dalam Istana Topkapı (Dok Pribadi)

Saat sedang berjalan bersama Suleyman Kanuni, tiba-tiba Rüştem Paşa berkata, “Hünkarım, mengapa tidak kita binasakan saja semua orang-orang yang bukan Muslim di wilayah sana? Agar tugas kita tidak merepotkan dan agar agama kita secara lebih kuat tersebar di wilayah Eropa..”

Suleyman Kanuni diam sambil tersenyum simpul. Ia tahu bahwa Rüştem Paşa seorang devşirme, seorang etnis Balkan non-Muslim yang kemudian menjadi Muslim. Suleyman Kanuni tahu bahwa mungkin saja dengan ketercerabutan akar mantunya dari budaya asli inilah yang membuat Rüştem Paşa menjadi cepat emosi. Suleyman Kanuni menjawab tawaran dari Rüştem Paşa dengan memetik satu bunga mawar dengan tangkai dan daunnya yang ada di taman Istana Topkapı,

“Kamu tahu ini apa?”

“Itu bunga mawar, hünkarım..

“Lihatlah betapa indahnya ia dengan keseluruhan bentuknya…”

“Benar sekali, hünkarım.. Bunga ini sangat cantik sekali dengan keseluruhan bentuknya..”

Lalu perlahan-lahan, Suleyman Kanuni melepaskan daun dari tangkai bunga mawar itu, hingga tak tersisa lagi apapun dari bunga mawar itu selain tangkai dan durinya.

“Lihat sekali lagi, apakah bunga mawar ini indah tanpa daun?”

“Tidak seindah yang tadi, hünkarım.. Sungguh alangkah lebih nyaman ketika kami melihat bunga mawar itu terhiasi oleh daunnya..”

Sambil tersenyum, Suleyman Kanuni kemudian berkata dengan bijak,

“Seperti itulah juga Kesultanan kita, Paşam. Seperti bunga mawar yang kehilangan indahnya tanpa daun ditangkainya, Kesultanan kita ini tidak akan berkembang tanpa mereka-mereka yang bukan Muslim..

Mendengar jawaban itu, Rüştem Paşa langsung tertunduk malu dan meminta maaf kepada Suleyman Kanuni atas tawarannya yang tidak pantas.. namun seperti biasa, Suleyman Kanuni yang amat bijak memaafkannya dan mengajaknya untuk kembali berjalan di antara taman Istana Topkapı…


 

Saya tidak tahu apakah cerita ini benar-benar terjadi dalam sejarah atau tidak. Setelah saya coba cari di internet, saya tidak menemukan cerita yang sama, hanya ada cerita yang berbeda tentang Suleyman Kanuni. Namun, fakta seperti Enderun, Harem, Suleyman Kanuni dan wazirnya Rüştem Paşa, serta perseteruan politik regional yang terjadi pada masa itu benar-benar terjadi.. Tapi lagi-lagi, yang paling penting dari sebuah cerita adalah.. ibrah atau pelajaran..

Salah satu hal yang membuat Kesultanan Usmani dapat bertahan begitu lama (dalam waktu 5-6 abad) berkuasa adalah perlakuannya terhadap minoritas. Kesultanan Usmani begitu menghormati posisi minoritas dalam kekuasaan, bahkan memberikan mereka sejenis otonomi yang dinamakan sebagai millet, untuk menghargai hukum dan tata cara istiadat dari bangsa-bangsa yang berbeda di tataran geografi yang luas. Adanya millet ini mampu menjaga harmoni dan stabilitas Kesultanan Usmani, setidaknya sebelum terjadi gejolak politik dan gerakan kemerdekaan di Balkan dan Eropa Timur pada abad ke-19 dan ke-20.

Kisah Suleyman Kanuni  dan wazir ini mengajarkan pada kita bahwa keberagaman itu sesuatu yang membangun. Ia bukan saja sekedar fitrah, lebih dari sekedar itu keberagaman adalah sebuah potensi. Ketika keberagaman itu dimatikan, seperti yang sempat diinginkan oleh Rüştem Paşa, maka disitulah kehancuran sebuah sistem bermula. Setiap orang boleh memiliki latar belakang dan identitas yang berbeda, namun yang paling penting adalah bagaimana cara mencari sebuah mekanisme dan konsensus dalam keberagaman ini.

Kisah ini, menurut saya, menjadi sangat relevan ketika melihat contoh-contoh gerakan penuh dengan aksentuasi kekerasan dan radikalisme-vijilan, semacam ISIS. Dalam kisah ini justru diperlihatkan dengan jelas bahwa ajaran agama justru harusnya membuat kita lebih sadar tentang makna kemanusiaan dan keberagaman di dalamnya. Keberagaman ada untuk kita saling mengenal dan saling menguatkan, bukan untuk saling menghancurkan.

Eskişehir, 30 Januari 2016.

Terjemah:

Hünkarım: Sultanku

Paşam: Panglimaku

One thought on “Sultan Sulaiman dan Wazirnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s