Mimpi Osman dan Awal Kesultanan Usmaniyah

Mungkin banyak orang yang tahu tentang sejarah kekhilafahan Usmaniyah, tapi tak banyak yang tahu asal muasalnya dengan detil ini (selain masyarakat Turki)..

Cerita ini sangat terkenal di masyarakat Turki karena cerita ini merupakan sebuah asal muasal dari salah satu kekuasaan yang paling besar yang pernah hadir di muka bumi, Kekhilafahan Usmaniyyah.

Cerita ini bermula ketika seorang şehzade (putera mahkota) yang bernama Osman, anak dari Ertuğrul Osman dan cucu dari Suleyman Şah yang dikirim oleh kakeknya ke Eskişehir untuk belajar agama ke seorang pemimpin tarekat dan sufi ternama, Syaikh Edebali.

Di bawah didikan Syaikh Edebali, Osman belajar banyak hal tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, keadilan dan tentunya soal-soal agama dan makrifat. Sebagai seorang şehzade, Osman diharapkan oleh orangtuanya (dimana bapaknya berperan sebagai pemimpin suku) dan kakeknya untuk menjadi seorang pemimpin yang memiliki kemampuan di berbagai macam hal.

Walaupun terkenal sebagai seorang pemuda yang saleh dan memiliki potensi yang luar biasa sebagai seorang pemimpin, Osman tentu saja masih mempunyai gejolak luar biasa dalam hatinya – terutama setelah bertatap pandang dengan puteri dari gurunya sendiri yang bernama Malhatun.

Setelah bertemu dengan Malhatun, rasa cinta sang şehzade semakin menjadi-jadi. Selalu ada alasan bagi Osman untuk berkunjung ke rumah Syaikh Edebali. Namun, Syaikh Edebali menganggap bahwa cinta Osman kepada Malhatun bukanlah cinta yang layak dan pantas, karena umur Osman yang masih muda dan kebijaksanaan serta keilmuannya yang belum matang.

Saking cintanya Osman pada Malhatun, setiap ia bertemu dengan teman-temannya, Osman selalu bercerita tentang Malhatun dan segala kecantikan yang ada pada diri Malhatun, sampai-sampai siapapun yang mendengarkan cerita Osman jatuh cinta pada Malhatun walaupun tidak melihatnya. Cerita ini sampai ke seorang kepala suku di kawasan Eskişehir yang masih muda dan belum pula menikah. Kepala suku ini-pun tak sungkan untuk langsung berkunjung ke Syaikh Edebali guna meminang Malhatun, namun Syaikh Edebali menolak pinangan tersebut. Karena khawatir ada dendam dari kepala suku tersebut, akhirnya Syaikh Edebali sementara menyingkir dari Eskişehir ke sebuah desa di luar batas kota Eskisehir.

Meskipun Syaikh Edebali belum menerima cinta Osman kepada Malhatun, namun Syaikh Edebali masih menerima dan mendidik Osman sebagai anak didiknya. Hal inilah yang kemudian membuat kepala suku dari Eskişehir cemburu dan ingin menghabisi Osman. Saat Osman dan adiknya, Gökalp, bertamu ke sebuah tempat bernama Ineani, saat itulah pasukan kepala suku Eskisehir bersama pasukan Kose Mihal mengelilingi daerah Ineani. Karena tidak terima tamunya dipermalukan, kepala suku Ineani membantu Osman dan Gökalp untuk mempertahankan diri dari serangan kepala suku Eskişehir dan pasukan Köşe Mihal. Dalam upaya tersebut, akhirnya Osman dan Gökalp bersama kepala suku Ineani menang. Kepala suku Eskişehir lari pada saat pertempuran, dan Köşe Mihal tertangkap. Namun, Osman kemudian bersahabat dengan Köşe Mihal setelah lama berinteraksi antara satu sama lain.

Setelah pertempuran, Osman kembali lagi ke tempat gurunya untuk melanjutkan belajar. Di sebuah malam yang tenang di rumah gurunya, Osman kembali tenggelam dalam kegalauan dan kerisauannya akan cintanya, yakni Malhatun, sambil berzikir untuk menhilangkan rasa galau tersebut. Saat sedang berzikir, Osman kemudian tertidur…

Dalam tidur tersebut, Osman bermimpi…

Visual mimpi Osman

Osman melihat dirinya tertidur di sebelah gurunya. Dari dada gurunya, tiba-tiba muncul hilal (bulan sabit) yang kemudian sempurna menjadi sebuah bulan purnama. Bulan purnama itu kemudian melingkupi tubuh Osman sehingga seluruh tubuhnya menjadi terang dan Osman tidak bisa melihat sekitarnya, seolah menjadi buta sesaat. Setelah itu, cahaya purnama itu menerangi sekitar. Osman kemudian melihat sebuah pohon muncul dari sampingnya, dan terus tumbuh hingga tingginya tak bisa digapai dan dilihat lagi oleh manusia. Pohon yang besar ini dikelilingi oleh empat gunung, dimana gunung2 itu adalah gunung2 yang ada di kawasan Eropa Timur, Turki, dan Timur Tengah (Kaukasus, Atlas, Taurus dan Balkan). Di bawah pohon yang besar tersebut mengalir pula empat sungai yang menjadi sumber kehidupan manusia sejak awal peradaban, yakni Tigris, Efrat, Danube, dan Nil. Sungai-sungai tersebut dilayari oleh kapal-kapal yang amat besar; serta di tepian-tepiannya tumbuh segala macam tumbuhan yang memiliki manfaat bagi manusia, mulai dari kapas, gandum, padi, bunga-bunga, buah-buahan dan rempah-rempah. Di lembah sungai tersebut, Osman kemudian melihat visualisasi kota-kota di dunia, yang tergambarkan dengan adanya piramida, reruntuhan abad lalu, gedung dan benteng, serta masjid-masjid besar. Purnama menyinari kota-kota itu dengan terang benderang. Osman takjub dengan pemandangan tersebut yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dari kota-kota tersebut, terdengar lantunan azan yang indah serta saling bersahutan… dan lantunan azan tersebut ditemani oleh kicauan segala burung yang bisa bersiul dan bernyanyi…

Kemudian, semua burung tersebut menetap di ujung2 ranting pohon tersebut dan daun-daun dari pohon tersebut membentuk bentuk pedang yang tajam. Tiba-tiba ada angin kencang yang datang, yang membuat daun-daun tersebut berterbangan ke seluruh penjuru dunia. Namun, kebanyakan dari daun tersebut kebanyakan berterbangan ke Istanbul. Daun-daun tersebut mengitari Istanbul yang berada di titik tengah dunia, di apit oleh dua benua dan dua laut, seperti sebuah cincin. Osman membayangkan dirinya hampir mengambil visualisasi Istanbul yang dalam mimpi itu menjadi cincin, namun sebelum dia memasukkan cincin itu ke tangannya, ia terbangun…

Osman kembali ke dunia nyata. Takjub dengan mimpinya yang baru saja ia rasakan. Seolah nyata. Seolah sebuah gambaran akan apa yang ia hadapi. Dia kemudian menghampiri gurunya, Syaikh Edebali, untuk menceritakan mimpinya. Syaikh Edebali tertegun dan terdiam sejenak. Kemudian, Syaikh Edebali tersadar, melalui mimpi ini, Allah hendak memberikan pesan pada dirinya bahwa Osman adalah seseorang yang akan dipercayai sebuah kekuasaan besar di muka bumi. Adanya mimpi ini menjadi bukti hal tersebut.

Syaikh Edebali kemudian tanpa ragu memberikan restu kepada Osman untuk menikahi Malhatun. Malhatun dan Osman dinikahkan oleh seorang darwis (pengikut tarikat) yang bernama Touroud, seorang murid dari Syaikh Edebali.

Dari pernikahan Osman dan Malhatun, tumbuhlah sebuah keluarga besar yang kemudian terus menerus beranak pinak membentuk sebuah Kesultanan Usmaniyyah, yang kekuasaannya hampir meliputi seperempat Eropa, seluruh Afrika Utara dan sebagian Timur Tengah.

Jika Osman tak belajar pada Syaikh Edebali, ia tak akan bertemu Malhatun.. dan jika Osman tak bertemu dengan Malhatun, maka tidak akan ada Kesultanan Usmaniyyah.


 

Post-script: Aku sangat tergugah dengan cerita ini. Meskipun secara faktual dan historis, cerita ini memang validitasnya diragukan karena banyak unsur fiksi dan glorifikasi tentang awal mula Kesultanan Usmaniyah, namun cerita ini memberikan sebuah semangat dan inspirasi bagiku dalam memulai studi di Turki.

Dari cerita ini, aku sadar bahwa pendidikan itu bukan hal remeh. Ia pembentuk pola pikir dan pemahaman seorang manusia akan sekitarnya. Ia yang membuat manusia menjadi bijak dan sadar akan sekitarnya, sehingga manusia tergerak untuk membuat perubahan dari apa yang ia anggap perlu diperbaiki karena Tuhan memberikan kemampuan bagi manusia untuk dapat merubah keadaan dunia…

Dan cinta, ya cinta. Cinta, dalam cerita ini, merupakan sebuah topik sentral. Cinta dalam cerita ini menjadi dasar sebuah peradaban yang amat kokoh, karena ia dibangun atas dasar sebuah visi besar dari seorang terdidik yang salih dan berkomitmen.

Aku tahu, pencarian ilmu disini tidak akan mudah, akan banyak tantangan yang mengujiku. Mulai dari soal bahasa, soal budaya, soal kesehatan fisik, soal mental, soal berjauhan dengan orang-orang yang dicinta. Namun, ini cara Tuhan untuk mengujiku seberapa kuat diriku dan seberapa siap diriku untuk menghadapi hidup di tengah segala tantangan tersebut.

Aku melanjutkan studiku di universitas yang menisbatkan namanya pada Osmangazi. Aku berharap bisa menghayati perjuangan, pemikiran serta visi Osmangazi sehingga bisa membangun sebuah peradaban besar seperti Kesultanan Usmaniyah.

Dan semoga, di tengah perjalanan ini, aku bisa mempersiapkan bekal diri untuk segera menempuh lautan kehidupan dengan seseorang yang telah aku nanti setelah sekian lama. Seperti Osmangazi yang menunggu Malhatun dengan segala kerisauan, kegelisahan dan kegalauannya. Lalu menjemput dan menggapai tangannya saat sang şehzade sudah siap dengan segala kebijaksanaannya..

– A.201/91, Asrama Mahasiswa Yunusemre, Eskisehir. 12 Ekim 2014. 23:09 EEST

Catatan: Tulisan ini di-repost dan diedit semula dari tulisan yang pernah dipublikasikan di tumblr

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s