Soal Takdir (1)

Kemarin sewaktu melakukan daftar ulang semester genap, aku bertemu dengan admin jurusan yang juga kebetulan asisten riset. Niatku sebenarnya cuma mau validasi rencana studi, menanyakan beberapa hal terkait masalah administrasi kampus, lalu pulang. Eh tak dinyana, si mas setelah memvalidasi rencana studiku bilang: “Kamu duduk dulu disitu, aku mau ngomong sebentar sama kamu..”

Setelah mengurus rencana studi dan hal-hal lain, si mas menanyakan satu hal, “Kalau seandainya kamu bisa milih, kamu mau S2 dimana di Turki? Selain di kampus ini?”.

Aku jawab, “Kalau nggak di Boğaziçi ya di Bilkent..”

“Lha, terus kok kamu ngga pilih itu pas seleksi beasiswa? Nggak ada toh? Apa emang kamu ngga milih dan dimasukin gitu aja?”

“Oh nggak, saya milih Boğaziçi kok sebenarnya diawal, tapi ya karena waktu pendaftaran beasiswanya mepet.. dan saya nggak bisa masukin dokumen TOEFL IBT, jadi ya nggak masuk ke pilihan yang saya inginkan..”

“Oh gitu ya..”

“Kurang lebih..”

Percakapan kami kemudian entah kenapa berlanjut ke soal… riset tesis. Kelihatannya dosen metodologi penelitianku sudah menyebarkan rencana tesisku ke seluruh dosen dan asisten riset di jurusan, dan tema tesisku yang emang agak nekat ini jadi tema obrolan di antara dosen-dosen gara-gara dosen metpenku satu ini, dan aku jadi semacam grogi juga karena setiap aku ketemu dosen mereka langsung bilang, “Oh ini Hadza ya..” “Hadza yang tema tesisnya itu ya?” dan sebagainya. Akhirnya aku berdiskusi dengan mas asisten riset selama 10-15 menit tentang soal metodologi yang akan aku pakai di tesis, metodologi analisis wacana yang memang tidak gampang dan harus dilakukan secara hati-hati supaya tidak terjebak pada reduksionisme dalam analisis.

Tapi, sebenarnya, ketika si mas sedang sibuk mencecar aku dengan berbagai macam masukan dan kuliahan tentang soal metodologi studi wacana dan soal metodologi realisme kritis, aku justru terpikir hal lain… Aku jadi terpikir tentang soal takdir: “Apa ya hikmahnya aku terlempar kuliah S2 di Eskişehir?”

Sempat berandai, kalau seandainya aku mau menunggu saja barang satu semester untuk ambil tes bahasa dan kerja sejenak menyelesaikan proyek di GEO FISIPOL UGM, mungkin saja aku bisa mendapatkan peluang S2 di universitas-universitas yang “lebih baik” dan “lebih menantang” secara intelektual.

Tapi, işte hayat, sürpriz dolu bir şey. Kehidupan itu penuh dengan kejutan yang tak terduga. Aku awalnya sudah pesimis tidak akan diterima di beasiswa pemerintah Turki karena jujur saja persiapanku tidak sematang mereka-mereka yang lain yang sekarang diterima di universitas terkemuka di Turki. Aku sempat pasrah saja mau apapun hasilnya karena jujur saja pada saat beberap minggu sebelum pengumuman aku sama sekali belum memegang gelar sarjana. Masa bisa orang belum sarjana dan wisuda bisa langsung lanjut S2.  Namun, Allah ternyata memberikan jawabannya di hari-hari akhir Ramadhan. Aku membaca pengumumanku dengan setengah tidak percaya sekaligus agak heran, “Eskişehir ya, perasaan kemarin nggak milih ini?”. Tapi toh, namanya juga sudah excited dan memang studi di Turki sudah keinginan yang sudah jadi doaku sepanjang semester, aku kemudian memutuskan untuk berangkat ketimbang menunggu lagi. Restu orang tua sudah ditangan, jadi tak perlu ragu dan menunda lebih lama lagi…

Ya, inilah aku sekarang, di Eskişehir. Aku sempat melewati fase-fase sedih, kecewa, fase-fase tidak bersyukur dan iri dengan teman-temanku yang  bisa mencapai karir yang luar biasa dan belajar di universitas yang “bagus”. Aku sempat merenggut melihat mereka yang sekarang sudah ada di London, Sydney, Manchester, dan kota-kota mentereng lainnya atau mereka-mereka yang kerja di lembaga konsultan lain-lainnya. Tapi, aku sadar, aku tak bisa berbuat seperti itu karena dengan berbuat demikian, aku ingkar pada nikmatNya dan justru melupakan jerih payahku sendiri. Aku kemudian memikirkan hikmah terlemparnya diriku di pedalaman Anatolia, ke sebuah kota yang mungkin cuma sedikit sekali orang Indonesia yang kenal, Eskişehir. Hikmahnya, aku bisa belajar di sebuah kota yang amat kondusif untuk mahasiswa – secara intelektual sangat beragam seperti Jogja; secara sosial-politik juga demikian, dalam artian tidak begitu liberal, tapi tidak juga begitu konservatif; secara fisik tidak terlalu besar dan ramai, dan tidak jauh dari kota-kota strategis di Turki seperti Istanbul dan Ankara. Hikmah lainnya juga, mungkin Allah hendak mengajarkanku untuk bersyukur dengan apa yang ada atas segala semua usaha yang aku upayakan. Aku mungkin diterima di sebuah universitas yang rata-rata, atau middle-range, dimana mencari referensi bukan pekerjaan mudah, tapi itu jadi tantangan tersendiri. Untungnya saja, di universitas ini aku bisa mendapatkan dukungan, terutama dari dosen-dosen yang baik sekali disini. Hikmah lainnya, aku jadi bisa benar-benar mendalami Turki dengan pendidikan bahasa Turki yang cukup komprehensif. Berada di universitas menengah tidak masalah bagiku, karena yang penting adalah bagaimana kita bisa memaksimalkan kerja ditengah segala keterbatasan..

Hikmah terakhir, mungkin Allah hendak memanduku ke sebuah masa depan yang lebih baik – namun Ia hendak menguji keistiqomahanku dan meletakkanku ke sebuah universitas yang biasa-biasa saja sebelum mungkin kedepannya ada kesempatan yang lebih baik…

Entahlah.. Yang jelas dalam proses ini aku semakin yakin bahwa janji Allah itu nyata dan Ia amat baik pada mereka-mereka yang selalu ingat dan bersyukur padaNya…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s