Hadza atau Fadhli?

Semester ini saya memilih beberapa matakuliah, salah satunya matakuliah tentang Asia Tengah dan Kaukasus.

Matakuliah Asia Tengah dan Kaukasus ini diampu oleh seorang dosen yang kemampuan bahasanya luar biasa. Entah berapa bahasa yang beliau kuasai, saya nggak tahu, tapi kelihatannya ada 4-5 bahasa yang beliau kuasai secara fasih. Pembahasan beliau soal Asia Tengah dan Kaukasus banyak didominasi dengan soal pentingnya bahasa dalam memahami sebuah kawasan, apalagi dalam bentang geografi Asia Tengah dan Kaukasus yang amat luas dan memiliki keragaman etnis yang sangat kaya.

Tapi dalam postingan ini saya nggak akan cerita banyak soal matakuliah ini, hehe. Saya aja yang mendengarkan materi beliau kemarin pusing mengambil intisari dari materinya, karena saking banyak materi yang beliau sampaikan bahkan dalam kelas pertama.

Nah, karena saat itu saya sedang ada di kelas pertama, dosen meminta semua peserta kelas untuk mengenalkan dirinya satu persatu. Mulailah dengan teman saya, satu, dua, tiga… sampai akhirnya sampailah ke saya yang kebetulan duduk di tengah (dengan formasi kelas meja bundar). Saya akhirnya memperkenalkan diri saya,

“Nama saya Hadza…”

“Apa? Azar?”

“Hadza hocam…”

“Aza?”

“Panjangnya Hadza Min Fadhli Robby, biasa disingkat Hadza..”

“Oh, gitu… Ini bahasa apa ya? Bahasa Arab bukan?”

“Iya hocam, diambil dari al-Qur’an”

“Oh iya, iya saya tahu itu.. Hadza Min Fadhli Robby, ini nama siapa yang kasih?”

“Bapak saya hocam..

“Lho terus kok kamu bisa dipanggil Hadza sih? Temen-temen disini tahu nggak artinya Hadza dalam bahasa Turki apa? Aslinya Hadza artinya kan “bu” (atau “ini) dalam bahasa Turki..”

*disini saya mencoba menjelaskan arti nama saya dan cerita saya mengapa saya bisa dipanggil Hadza dengan bahasa Turki yang amburadul.. nanti dibawah saya jelaskan dengan rinci*

“Oh, haha, kita sebenarnya nggak paham dengan apa yang kamu jelasin, tapi ya udah kita ketawa aja bareng2, hahahaa..”

“Hahaha… *tertawa dengan gondok dan agak sebel*”

“Ya udah, selanjutnya saya nggak mau panggil kamu dengan nama Hadza.. Kamu sendiri mau dipanggil apa?”

“Fadhli boleh kalau hocam mau..”

“Kalau saya maunya kamu dipanggil Hadza Min Fadhli aja ya, nggak papa deh panjang, asal maknanya kena..”

Dan akhirnya, sampai sekarang ketika di matakuliah ini, dosen ini memanggil saya dengan panggilan Hadza Min Fadhli.

Setelah kelas ini saya kemudian refleksi dan mengingat-ingat masa lalu lagi tentang nama panggilan saya. Dulu sewaktu SD, saya dikenal sebagai Fadhli. Sampai sekarangpun, ketika alumni teman SD bertemu saya di dunia maya atau mengirim pesan lewat Facebook, pasti mereka memanggil saya dengan nama Fadhli – bukan Hadza. Nah, dilema tentang nama Fadhli ini seingat saya awalnya muncul waktu saya pindah SD saat kelas VI di Semarang. Di kelas saya, kebetulan ada dua orang yang namanya persis, sama-sama Fadhli! Nah, untung ukuran kami secara fisik jauh berbeda, yang satu tinggi sekali (untuk ukuran anak SD), yang satunya cebol (sampai sekarang nasibnya nggak berubah-ubah, hiks). Akhirnya walikelas saya saat itu memutuskan untuk memanggil Fadli (yang nama aslinya memang tanpa H) yang tinggi dengan sebutan Fadli Besar dan Fadhli yang pendek dan gendut dengan sebutan Fadhli kecil. Ya, pada saat itu akhirnya saya masih tetap menjaga identitas saya sebagai seorang Fadhli.

Masalah kemudian muncul lagi saat saya masuk pesantren di Banten.  Pada saat awal kumpul dengan teman-teman seasrama, wali asrama melakukan sesi perkenalan untuk semua santri di asramanya. Tak saya sangka, ada seorang Fadli (lagi-lagi ini Fadli tanpa H), yang datang dari Jakarta. Nah, celakanya buat saya, giliran saya berkenalan adalah setelah si Fadli ini (karena sesuai absen nama saya kan awalnya H) dan akhirnya ketika giliran saya datang, wali asrama saya langsung bilang, “Nah, gimana nih? Gimana kita bisa bedain antar dua Fadhli ini?”. Saya tetap ingin dipanggil Fadhli, cuma ada teman-teman lain yang punya ide berbeda, mirip2 dengan sebutan waktu SD. Tapi, karena banyak yang nggak bersuara, bingung mau mengucap apa saat awal perkenalan (maklum situasinya masih agak canggung), dan waktu sudah agak malam, akhirnya wali asrama saya memutuskan, “Ya sudah kamu Fadli dipanggil Fadli, dan kamu Fadhli, karena nama depanmu Hadza saya panggil Hadza aja ya!”.. Dan jadilah, sejak saya belajar di pesantren, saya mulai dipanggil Hadza.

Sebenarnya  saat menjalani masa sebagai santri di pesantren, guru bahasa Arab saya di pesantren juga merasa tak nyaman memanggil saya dengan nama Hadza, ya karena mereka tahu arti nama saya yang lengkap jadi mubazir ketika saya hanya dipanggil Hadza. Namun, karena memang jamaah dan banyak penduduk pesantren sudah kenal saya dengan nama Hadza.. ya apa boleh buat. Lanjut ke SMA Negeri tidak membuat saya mengganti panggilan saya menjadi Fadhli, karena ternyata teman seangkatan saya di pesantren (walaupun seorang perempuan) sekelas dengan saya dan demi menghindari ketidakenakan juga keanehan, saya kembali lagi menggunakan nama Hadza, yang kemudian malah terus berlanjut sampai kuliah… karena apa boleh buat, saya sudah terlalu nyaman dengan nama ini..

Tapi, percakapan saya dengan hoca tadi.. dan ditambah dengan percakapan dengan beberapa teman-teman saya dari negeri-negeri berbahasa Arab disini (mereka tidak nyaman memanggil saya dengan nama Hadza, karena benar-benar aneh buat mereka yang sudah terbiasa mengucapkan Hadza dalam keseharian mereka) membuat saya harus berpikir kalau saya perlu memperkenalkan diri saya kembali sebagai seorang Fadhli.. Fazıl atau sebuah karunia. Saya bukan sekedar seorang “ini”, tapi saya adalah sebuah karunia dari Tuhan yang dinanti-nanti oleh orangtua saya.

Akhirnya saya memutuskan, di lingkungan kerja saya nanti (entah dimanapun itu, semoga di sebuah universitas negeri), mulai hari pertama saya akan memperkenalkan diri saya sebagai “Fadhli”, tapi saya juga masih akan memberikan opsi kalau mereka (mahasiswa dan teman sejawat saya nanti) bisa memanggil saya sebagai “Hadza” – karena dengan panggilan itu saya menghabiskan masa muda saya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s