Betapa Bahagianya Seorang Yang Menyebut Dirinya “Aku Orang Turki”: Sebuah Catatan

Judulnya panjang sekali ya? Tapi sebenarnya jika kita mau terjemahkan ke bahasa Turki,  kalimatnya menjadi sangat singkat: “Ne Mutlu Türküm Diyene”.

4ff4b59855427da2de273f8e523e5dae

Kalau anda pernah ke Turki dan melihat patung atau foto-foto Atatürk yang terpampang rapi dan terawat di berbagai tempat, mungkin ada kalimat tersebut terpampang di sisi samping atau di bawah foto atau patung beliau.  “Ne Mutlu Türküm Diyene”(selanjutnya disingkat NMTD) merupakan ucapan Atatürk saat dirinya sedang berorasi di hadapan rakyat Turki pada 29 Oktober 1933, bertepatan dengan 10 tahun perayaan berdirinya Republik Turki. Saat itu, beliau mengingatkan rakyatnya akan perjuangan bangsa Turki yang panjang dan tak henti selama 10 tahun kemerdekaan Turki dari ancaman disintegrasi yang diprovokasi oleh invasi Yunani, Inggris, dan kekuatan Aliansi pada Perang Dunia Pertama. Turki yang mulanya dianggap bukan apa-apa dan tak bermakna apa-apa dihadapan kekuatan dunia saat itu kemudian membuktikan bahwa dirinya masih punya kedaulatan dan harga diri, yang ditunjukkan melalui kemenangan Turki saat Kurtuluş Savaşı (Perang Kemerdekaan) melawan kekuatan Aliansi yang bersenjata lebih canggih dan memiliki jumlah tentara yang lebih banyak dibanding Turki.

Setelah kemenangan dalam Kurtuluş Savaşı yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Paşa (yang kemudian digelari dengan Atatürk – Bapak Bangsa Turki), Turki kembali mendapatkan tempat dalam dunia internasional sebagai sebuah bangsa. Dalam prosesnya untuk membangun kembali bangsanya, Turki melalui berbagai macam proses yang sulit, tak mudah dan dipenuhi masalah, yang hingga sekarang masih meninggalkan beragam pertanyaan  dan perdebatan antar masyarakat Turki dan antar masyarakat Turki dengan masyarakat internasional. Namun, Turki perlahan berproses menjadi sebuah bangsa yang layak dihormati melalui revolusi sosial, politik, industri dan ekonomi yang dijalankan di bawah payung ideologi Kemalisme. Turki kemudian menjadi dihormati oleh banyak pemimpin dunia internasional pada saat itu, bahkan Proklamator Indonesia Soekarno amat  terinspirasi oleh pemikiran Atatürk dan kemajuan yang diraih oleh Turki dalam waktu singkat. Dengan segala proses yang susah payah dan hasil yang luar biasa, pada 10 tahun kemerdekaan Turki, Atatürk dengan bangganya mengucapkan di hadapan masyarakat Turki: “Ne Mutlu Türküm Diyene”.

Ne Mutlu Türküm Diyene (NMTD) kemudian menjadi semacam slogan kebangaan yang selalu diteriakkan oleh masyarakat Turki, dari dahulu hingga sekarang. Slogan ini memberi semacam semangat penggerak bagi bangsa Turki untuk bangga dengan identitasnya sebagai seorang Turki. Bangsa Turki bukan lagi pesakitan di tanah Eropa, karena ia telah bangkit menjadi bangsa baru setelah Revolusi Kemalis yang berjalan pada awal abad ke-20. Ia bukan bangsa yang menyedihkan dan malang, karena ia sudah tumbuh jadi bangsa yang telah tumbuh dengan kebahagiaan melalui Asr-ı Saadet pada masa Kesultanan Usmani dan akan terus tumbuh seperti itu hingga keabadian. Ia juga merupakan sebuah bangsa mandiri yang mampu bangkit di atas kakinya sendiri, sebuah bangsa yang modern dan laiklik, sebuah bangsa yang menghormati hak segala warganegaranya, dan sebuah bangsa yang tak layak untuk direndahkan di dunia internasional setelah segala pencapaian dan usahanya. Ucapan slogan NMTD menggema pula setiap pagi (hingga tahun 2013 saat peraturan membaca sumpah pelajar dihapuskan) lalu, di halaman-halaman sekolah seluruh Turki. Siswa-siswi dari ujung Edirne hingga dataran tinggi di Sarıkamış yang berada di Timur Turki dengan bangganya mengucapkan “Ne Mutlu Türküm Diyene!” sebagai bagian dari sumpah pelajar (Öğrenci Andı) dan sebagai sebuah ekspresi kecintaan, kebanggaan, dan kebahagiaan terhadap bangsanya.

Namun slogan NMTD tak lepas dari perdebatan. Perdebatan yang pelik, sangat pelik. Sangat pelik karena ada satu frase kata yang sensitif dalam kalimat penuh NMTD. Satu kata ini selalu diperdebatkan dalam berbagai kesempatan dan bagi banyak kalangan, merubahnya merupakan suatu tanda ketidakcintaan terhadap satu bangsa. Ada banyak ketidaksepakatan dan perdebatan tentang bagaimana kata tersebut harus dimaknai.

Kata itu adalah kata “Türk(üm)”.

Salah satu perdebatan tersebut kemarin terjadi di kelas saya. Kelas saya membahas tentang agama dan nasionalisme dalam politik internasional. Saat itu, dosen saya sedang membahas bagaimana identitas terbentuk dengan menjelaskan berbagai macam definisi identitas, proses seseorang meraih identitas, bagaimana klaim identitas tersebut dapat mempengaruhi pandangan seseorang terhadap dunia dan sekitarnya dan bagaimana identitas dapat berubah dalam konteks yang beragam-ragam. Dosen saya banyak membahas masalah tentang identitas melalui pendekatan konstruktifis, karena menurut beliau memang perspektif inilah yang memberikan pandangan paling komprehensif tentang formasi identitas (yang akhir-akhir ini saya sadari ternyata memang formasi identitas tidak semudah yang dijelaskan oleh konstruktifis). Beliau banyak mengangkat contoh tentang Turki dan juga contoh tentang migran-migran Turki di tanah rantau mereka (misal di Jerman atau Swiss). Namun, arah perbincangan kelas kemudian menjadi agak seru ketika dosen saya mulai membahas makna kata Türk dan kaitannya dengan formasi identitas. Sebelum dosen saya sempat lebih jauh menjelaskan, seorang teman sekelas saya menanyakan satu hal:

Hocam, bagaimana pendapat Anda tentang kata Türk dalam Ne Mutlu Türküm Diyene? Apakah identitas Türk ini merupakan identitas yang dapat menyatukan keberagaman dalam Turki (bütünleştirici), atau justru memisahkannya dalam berbagai macam bentukan etnis yang berbeda (ayrıştırıcı) yang berpotensi menimbulkan konflik identitas? Karena saya sebagai seorang Türk, saya entah mengapa memandang istilah Türk sebagai sebuah istilah yang cenderung menunjukkan konotasi rasial, jadi bukankah kalimat Ne Mutlu Türküm Diyene adalah suatu pernyataan yang bersifat meninggikan identitas rasial tertentu?”

Kelas mulai sedikit ramai. Beberapa teman-teman sekelas saya yang lain angkat suara, namun situasi tetap terkendali. Ada yang bilang, Türk adalah sebuah tanda kecintaan seseorang bagi tanah lahirnya, Turki. Ada yang bilang, menjadi Türk bukan masalah menjadi ras tertentu, namun menjadi seorang warganegara yang bertanggungjawab terhadap tanah airnya. Ada yang juga menganalogikan istilah Türk dengan istilah American, yang sudah terlepas dengan konotasi rasial tertentu dan merupakan sebuah simbol kebebasan dan kebanggaan akan keberagaman yang sudah dimiliki oleh bangsa Turki secara natural, seperti layaknya Amerika.  Aku tak mendengar ada pendapat yang berbeda dari pendapat-pendapat ini, selain mungkin di pertanyaan teman sekelasku tadi. Akhirnya dosenku angkat bicara,

“Dalam pandangan saya, kata Türk dalam konteks keseluruhan kalimat Ne Mutlu Türküm Diyene adalah sebuah identitas -yang jika dipandang melalui perspektif Anayasa (Undang-Undang) dan norma hukum yang berlaku di Turki- penyatu (bütünleştirici). Anayasa sudah jelas menyatakan bahwa semua warganegara terlepas bahasa, ras, dan agama yang ia anut adalah seimbang dan setara didepan hukum. Oleh karena itu, Türk secara normatif dan seharusnya merupakan sebuah identitas yang jauh dari konotasi rasial, ia perlu melampaui konotasi tersebut dan semua orang yang lahir dan menjadi warga negara Turki akan merasakan kepemilikan atas sebuah identitas Türk. Namun, seiring dengan konjonktur dan perubahan sejarah, sayang sekali kita melihat istilah Türk ini dipergunakan dengan tidak benar oleh beberapa oknum, mereka-mereka yang menggunakan Türk sebagai konotasi rasial. Sayang sekali, konotasi ini kemudian menjadi amat populer dan memicu perdebatan yang tak mudah serta konflik yang tak selesai hingga sekarang. Sebenarnya identitas Türk ini bisa menjadi setara pemahamannya dengan identitas American, namun sayangnya ini tak bisa terwujud..”

Isu identitas Türk ini bukan pertanda mudah, sebuah pertanyaan yang masih belum ditemukan jawabannya oleh masyarakat Turki hingga sekarang. Aku sendiri melihat isu identitas Türk ini sebagai sesuatu yang sayangnya memang sudah memiliki tendensi rasial sejak awal (aku tidak setuju dengan dosenku yang sepertinya terlalu normatif dan hati-hati dalam isu ini – tapi aku tidak menyampaikan uneg-unegku saat itu), apalagi ketika kita melihat proses formasi negara-bangsa yang mulai terjadi pada Periode İkinci Meşruriyet (Periode Konstitusional Kedua), dimana pada saat itu ide-ide nasionalisme yang berdasar etnisitas muncul dengan amat pesat di Turki dan kebangkitan gerakan nasionalisme ini sangat dipengaruhi oleh literatur-literatur dari Perancis (terutama pengaruh Renan) dan penyatuan Jerman oleh Bismarck (yang kemudian hendak diikuti oleh Trio Pasha yang menggulingkan Abdulhamid II). Gerakan nasionalisme yang digerakkan pada periode İkinci Meşrutiyet ini, walaupun pada awalnya mencoba untuk meminimalisasi tendensi perbedaan rasial dan agama melalui terbitnya Kanun-ı Asasi (Konstitusi), membangun konsepsi Türk sebagai sebuah konsepsi rasial yang tidak melingkup etnis-etnis minoritas yang signifikan, seperti Kurdi, Armenia, Arab, dan Laz. Sempat ada upaya untuk membangun konsep Osmanlılık atau konsep Keusmaniyyahan sebagai sebuah alternatif yang menekankan pada aspek kesetaraan semua etnis dan agama di bawah Kanun-ı Asasi. Konsep Osmanlılık ini merupakan antitesis dari konsep Türk yang dibangun oleh kalangan nasionalis dari Ittihat-i Terraki dan grup intelek-politisi yang terkumpul dalam Türk Ocağı. Konsepsi Türk ini kemudian menyingkirkan konsepsi Osmanlılık sebagai sebuah bentuk identitas baru bagi Turki (Usmani) pada masa itu, dan semua orang – apapun etnisnya – terpaksa menerima konsep Türk ini sebagai konsep identitas dan kewarganegaraan baru bagi mereka yang tinggal di Turki (Usmani).

Seiring berlalunya waktu, memang ada beberapa golongan etnik yang menerima identitas Türk sebagai identitas baru dan kewarganegaraan mereka, bahkan ada beberapa minoritas Armenia yang melakukan Turkifikasi dirinya secara sukarela (meskipun banyak juga yang terpaksa, dan hingga sekarang menjadi kripto-Armenia). Identitas Türk ini menjadi sebuah istilah yang mengganggu bagi mereka yang ada di Timur dan Tenggara Turki, yang memang memiliki komposisi penduduk yang lebih beragam dan kebanyakan penduduk disana terdiri dari orang Kurdi, Suryani dan Arab yang tidak terpenuhi aspirasinya untuk mendapatkan identitas khas tersendiri.

Seberapa persuasif pemerintah pusat Turki mempromosikan konsep identitas Türk, orang Kurdi serta minoritas lainnya tak mudah menerima begitu saja. Upaya persuasi ini sampai pada tahap menulis kembali sejarah orang Kurdi dengan mengatakan bahwa orang Kurdi datang bersama orang Turki dari Asia Tengah serta memiliki bahasa yang sebenarnya sama dan tak jauh berbeda. Namun tentu saja, orang-orang Kurdi tak bisa menerima klaim itu karena budaya mereka lebih dekat dengan budaya Indo-Eropa dan Persia.  Ketika segala upaya persuasi sudah gagal pemerintahan pusat hendak memaksa etnis-etnis ini untuk mengadopsi identitas Türk, yang terjadi adalah isyan (pemberontakan) yang awalnya bernuansa agamis (seperti yang dipimpin oleh Syaikh Said) dan berujung pada pemberontakan yang sifatnya perjuangan etnis pada tahun 1930-an, hingga kemudian gerakan upaya kemerdekaan etnis Kurdi ini mencapai puncaknya pada saat Abdullah Öcalan beserta kompatriotnya bersekongkol untuk membentuk kelompok teror vijilan PKK demi menekan pemerintah opresif pada saat itu yang masih menerapkan konsepsi Türk secara otoritatif. Adanya penguatan politik kanan yang penuh dengan retorika rasis dan keagungan bangsa Turki pada saat itu juga membuat politik kiri menjadi radikal, dan perjuangan-perjuangan minoritas yang kebanyakan berada di sayap kiri akhirnya memilih untuk melawan konsepsi Türk dengan cara mendekonstruksi konsep Türk resmi dan mencoba untuk mencerminkannya pada sebuah wacana baru yang berjudul “Türkiyeli”. Bukan Türk lagi, namun Türkiyeli. Maknanya bukan sekedar orang Turki (Turki dalam artian ras), namun sebuah konsep yang mirip seperti Americans atau bangsa Indonesia. Türkiyeli itu adalah kata benda penunjuk orang, Türkiye yang ditambahkan kata -li akan menunjukkan arti “orang asal Turki” atau “orang bertanah air Turki”. Türkiyeli merupakan sebuah proyek political correctness yang menarik perdebatan cukup besar hingga sekarang. Namun, banyak orang Turki dari beragam lintas ideologi (dan mungkin ras), merasa tidak cocok dengan kata Türkiyeli karena kata ini bukanlah kata yang benar secara bahasa dan lagi-lagi, dalam konstitusi justru kata Türk tidak mengandung pemaknaan rasial dan istilah Türk merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menghilangkan sekat-sekat antar agama, bangsa dan bahasa. Kata Türkiyeli kemudian dianggap saçma atau ngasal, sehingga tak banyak yang memakai, dan ketika dipakaipun, asal dan pandangan politik sang pengucap akan mudah teridentifikasi sehingga yang terjadi adalah penghakiman..

Sikap ini tercermin jelas pada penyikapan seorang anggota parlemen Turki yang berasal dari partai HDP yang merupakan partai representasi kelompok Kurdistan dan sayap Kiri, Leyla Zana. Saat hendak mengucapkan sumpah parlemen pada tahun 2015 kemarin, Leyla Zana tidak menyebutkan kata “Büyük Türk Milleti“, namun “Büyük Türkiye Milleti” sebagai sebuah upaya untuk melawan representasi resmi tentang identitas ke-Turki-an yang masih dianggap sebagai identitas yang amat kuat tendensi rasialnya. Meskipun teman-teman separtainya di HDP tetap menyebut Türk, Leyla Zana tetap menyebut Türkiye sebagai bentuk ekspresi – sebagai sebuah jawaban akan pertanyaan yang sampai sekarang masih diperdebatkan.  Hanya bangsa Turki yang memang sudah eksis secara plural inilah yang bisa mencari jawaban dan kesepakatannya… Entah kapan…

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s