Pertanyaan-Pertanyaan tentang Imaji Politik Luar Negeri Indonesia di Timur Tengah

Saya baru saja keluar dari kelas politik luar negeri Turki. Hari ini kelas membahas soal masalah politik luar negeri Turki dan Suriah, dan tentunya karena masalah ini merupakan masalah yang menjadi perhatian bagi semua orang Turki (mulai dari penyapu jalanan sampai profesor-profesor), hampir semua teman-teman saya yang merupakan warga negara Turki sangat aktif sekali berpartisipasi. Saking cepatnya alur diskusi berjalan, saya  dan 2 orang teman saya yang merupakan mahasiswa asing tidak dapat berkontribusi dengan baik dalam diskusi dan cuma bisa melongo sepanjang kelas. Namun, sebelum kelas berakhir, hoca saya sempat berkata dengan nada sedikit bercanda: “Hadza, bagaimana kebijakan Indonesia di Suriah?.

Saya terdiam sesaat, dan karena waktu sudah mau habis saya cuma bisa beri jawaban singkat, “Ya kita sih sebenarnya mau terlibat aktif juga, cuma karena kita jauh dari Suriah ya mau ngapain lagi?” dan jawaban saya diikuti tawa sekelas lalu kelas berakhir begitu saja. *nasib badut kelas*

Saya kemudian terpikir beberapa hal setelah kelas. Setelah melihat teman-teman Turki sangat antusias membicarakan Suriah karena tentu masalah ini sangat menentukan masa depan negara mereka, bagaimana dengan Indonesia? Okelah, di satu sisi kita ramai sekali membicarakan soal Suriah, tapi kita seolah begitu mudah terpengaruh dengan wacana-wacana sektarian yang beredar di media-media murahan yang mau membakar emosi massa dengan dalil-dalil agama dan lainnya. Di sisi yang lain, pemerintah kita mau mencoba untuk melakukan beberapa inisiatif yang sifatnya normatif seperti dengan mengundang ulama-ulama Syam ke Indonesia untuk menetralisasi penyebaran wacana sektarian di Indonesia. Pemerintah kita juga, dengan adanya pos diplomatik di Damaskus dan juga Ankara, mencoba berperan aktif untuk membangun hubungan baik dengan Suriah dan Turki – dua pihak yang saling bertikai – (mungkin saja) dengan harapan bahwa kedepannya mungkin Indonesia bisa memainkan peran mediasi yang baik antar kedua aktor yang sedang bertikai.

Nah melihat hal-hal ini, saya berpendapat bahwa Indonesia, khususnya pada era-era akhir Yudhoyono dan awal Jokowi, sedang mencoba untuk membangun imaji politik luar negeri Indonesia yang lebih ambisius di kawasan-kawasan yang jauh, seperti di Timur Tengah. Sebagai negara Muslim demokratis terbesar di dunia, Indonesia merasa punya tanggungjawab besar untuk turut menetralisir konflik di Timur Tengah. Namun, saya berpikir bahwa sejak awal peran Indonesia di kawasan Timur Tengah  sangat terbatas. Ruang bagi pemerintah Indonesia untuk dapat melakukan manuver dan gerakan yang benar-benar substantif dan solutif sangat kecil karena modal Indonesia setidaknya hanya ada tiga: image orang Indonesia yang ramah, hubungan yang baik dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah, dan status Indonesia sebagai negara Muslim demokratis terbesar di dunia. Upaya untuk memainkan peran yang lebih besar ini terlihat jelas dalam beberapa kasus, terutama sekali saat kemarin Indonesia menjadi tuan rumah bagi konferensi OKI untuk Palestina di Jakarta. Langkah-langkah yang diambil itu bagus, patut diapresiasi, namun banyak hal yang perlu dipertanyakan.

Ketika Indonesia hendak memainkan peran yang lebih aktif untuk memecahkan isu konflik di Timur Tengah, maka ada banyak pertanyaan (dan anak pertanyaan) yang perlu dijawab. Satu, seberapa pantas Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik Timur Tengah dengan melihat hubungan aktor dan konstelasi politik kawasan Timur Tengah? Oke, mungkin pemerintah sudah punya modal tiga tadi, namun apakah modal itu cukup untuk kita melakukan manuver untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah? Apakah pemerintah sudah yakin bahwa kita memang punya kapasitas yang cukup untuk benar-benar memahami konstelasi politik serta aktor-aktor didalamnya? Apakah kita sudah cukup memahami Israel dalam konflik Israel-Palestina, misalnya, atau apakah kita sudah cukup mengakomodasi dan membangun komunikasi dengan pihak oposisi di Mesir dan Suriah, misalnya? Dan lebih lanjut lagi, apakah pemerintah sudah punya kepercayaan dan simpati dari aktor-aktor yang bertikai di Timur Tengah? Dan jika iya, apakah pemerintah bisa keluar dari zona nyaman dar, bergantung dengan kepentingan status-quo di wilayah konflik untuk mendekati pihak yang dianggap oposisi? Ketika memang Indonesia masih sangat menggantung diri status-quo, akan sangat susah bagi Indonesia untuk bergerak lebih jauh kedepan. Oke, mungkin untuk jangka pendek, itu perhitungan yang baik dengan melihat prinsip maslahat bahwa menjaga hubungan itu lebih diutamakan daripada mengganggunya. Namun, ketergantungan yang terlalu ini akan membawa bahaya dan ketidakpastian di masa depan karena dinamika mungkin saja akan berjalan cepat dan kondisi bisa berubah dengan seketika rupa.

Kedua, di Timur Tengah aspek respectmaterial power dan heritage itu merupakan modal yang wajib dimiliki bagi seorang aktor untuk dapat menempati posisi yang strategis dalam kawasan Timur Tengah. Ambil contoh Mesir sebagai negeri yang memiliki Al-Azhar dan negara yang pernah terkenal dengan wacana Pan-Arabisme, contoh Saudi yang punya kapasitas energi dan sentra keumatan berupa Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah dan contoh Turki yang punya kapasitas ekonomi yang relatif baik dan sempat menjadi negara yang stabil di awal tahun 2000-an. Nah, sekarang kita perlu bertanya, apakah Indonesia sudah memiliki tiga aspek itu dalam upayanya membangun wacana dan imaji politik luar negeri Indonesia di Timur Tengah? Apakah Indonesia sudah punya institusi pendidikan Islam yang sebagus al-Azhar untuk dapat menyebarkan wacana Islam Nusantara atau Islam moderat atau apapun itu yang kemudian dapat menarik atensi dari intelektual Muslim di Timur Tengah? Bisakah Indonesia menjadi pusat dari intelektualisme Islam di abad ke-21?  Selanjutnya, apakah Indonesia bisa meraih rasa hormat dari negara-negara Timur Tengah ketika memang material power yang Indonesia punya masih terbatas, padahal di Timur Tengah yang amat Machiavellianmaterial power dalam konteks hubungan antar negara di kawasan Timur Tengah menjadi sangat penting? Apakah Indonesia bisa menyokong kekuatannya sebagai negara Muslim demokratis terbesar di dunia dengan kekuatan ekonomi dan militer juga, sehingga dapat dihormati oleh negara-negara Timur Tengah? Dan terakhir, apakah Indonesia bisa lepas dari soal migran dan perlindungan warganegara di Timur Tengah? Ketika kita masih menghadapi problematika dalam perlindungan warganegara di Timur Tengah yang merupakan (salah satu) dari esensi misi diplomatik di luar negeri, mungkin ambisi dan imaji kita masih jauh panggang dari api.

Ada banyak lagi pertanyaan, dan lagi-lagi yang benar-benar bisa menjawab soal ini hanyalah mereka-mereka yang bekerja di Pejambon. Saya tidak tahu apa yang terjadi di balik tabir Pejambon, hanya para pemainnya (diplomatnya) yang tahu persis. Saya sebagai orang biasa cuma bisa melihat bayangan dan refleksi dari permainan yang ada di balik tabir..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s