Akhirnya Saya Tahu Rasanya Diplagiat!

Sebelum saya menjelaskan lebih lanjut tentang cerita artikel saya yang diplagiat, saya perlu beritahu anda satu hal: Diplagiat itu pengalaman yang nggak enak!

Ceritanya malam ini, saya suntuk setengah mati mengerjakan tugas semester ini yang tidak selesai-selesai. Selagi melakukan break, saya teringat kasus seorang senior saya yang artikelnya sempat diplagiat. Entah kenapa, saya juga tertarik untuk melihat apakah ada upaya plagiarisme terhadap artikel yang sempat saya publikasikan di salah satu media nasional, beberapa tempo lalu.

Saya coba untuk mengecek dugaan plagiarisme itu dengan meng-copy satu frase dari artikel saya ke Google. Ketika saya lihat hasilnya, terutama di entri hasil pertama dan kedua, saya masih merasa tidak ada masalah karena hanya ada link media tempat saya mempublikasikan artikel dan link blog saya. Namun ketika saya melihat entri hasil ketiga, saya agak terkejut. Frase kalimat yang saya tulis dalam artikel saya tentang hubungan Turki dan Suriah ternyata juga terdapat dalam sebuah tulisan lain yang tidak saya tulis. Usut punya usut, frase kalimat saya ternyata juga termuat dalam skripsi seorang mahasiswa jurusan HI sebuah Universitas di Jawa Barat yang dapat diakses secara terbuka dalam repositori akses terbuka milik universitas tersebut.

Saya coba melihat secara lebih detil isi dari skripsi itu untuk memastikan apakah dia melakukan sitasi yang sepantasnya terhadap artikel yang saya tulis. Setelah saya unduh dokumen skripsi tersebut, ternyata dokumen itu berisi BAB I atau Pendahuluan Skripsi. Skripsi ini ternyata bertema tentang kerjasama energi antara Turki – Rusia. Saya coba untuk melakukan skimming sekilas dan mencari beberapa kata kunci untuk memastikan sitasi terhadap artikel saya, namun yang saya temukan adalah sebuah bentuk plagiarisme yang terang-terangan, tanpa malu, dan tanpa melakukan sitasi – sama sekali.

Untuk bukti dari perilaku plagiarisme tersebut, pembaca sekalian bisa melihat screenshot di bawah ini:

Plagiat1

Tulisan asli saya yang sudah diedit oleh editor Republika

Plagiat1

Plagiat2

Tulisan skripsi yang memplagiat artikel saya

Coba teman-teman pembaca perhatikan dan bandingkan kedua screenshot tersebut. Ada beberapa kalimat yang benar-benar persis, namun ada juga yang di-paraphrase atau diubahsuai sedikit-sedikit oleh si penulis skripsi.

Ketika saya melihat ini, perasaan saya campur aduk, jujur saja. Di satu sisi merasa tersipu karena artikel saya digunakan untuk membangun kasus dalam sebuah penelitian (dikutip di Bab Pendahuluan!), di sisi lain, saya merasa gondok, sedih, prihatin, dan gemas! Kalau saja dia melakukan sitasi yang tepat dan sesuai aturan, saya tidak masalah.

Tapi di kasus ini, entah karena sebab apa, si penulis skripsi langsung saja melakukan perilaku yang paling memalukan dan tidak etis dalam dunia akademis: mengambil pernyataan dan opini dari pihak lain tanpa melakukan kutipan sepantasnya! Seolah-olah kalimat yang ia tulis itu adalah kalimat miliknya sendiri!

Kalau mau merujuk ke Permendiknas No. 17 Tahun 2010 tentang Prilaku Plagiarisme Akademik, plagiat didefinisikan sebagai perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai. Kalau mengutip definisi ini, maka perbuatan di atas sudah sesuai untuk dikatakan sebagai sebuah plagiarisme secara sengaja!

Saya akhirnya merasakan juga rasanya diplagiat, dan saya tekankan sekali lagi: Diplagiat itu rasanya tidak enak!

Saya juga jadi terpikir, apakah si penulis skripsi ini tidak menandatangani Lembar Pernyataan Bebas Plagiat setelah menyelesaikan skripsinya? Bagaimana peran dosen pembimbingnya dalam proses penulisan skripsi? Kalau di skirpsi saja penulis sudah tidak bisa bertanggungjawab, bagaimana si penulis skripsi ini bisa bertanggungjawab dan amanah dalam kerja dan karir-karir selanjutnya?

Saya pikir kasus plagiarisme (termasuk kasus yang saya alami ini) perlu dievaluasi serius bagi para mahasiswa dan akademisi di Indonesia untuk secara hati-hati melakukan pekerjaan-pekerjaan ilmiahnya. Tidak hanya sekedar dalam peraturan, nampaknya pemerintah perlu secara serius melakukan gerakan untuk mencabut akar budaya plagiarisme yang sudah marak di Indonesia. Saya sebenarnya bisa saja menuntut penulis skripsi ke institusi tempat dia bernaung (yang menurut Permendiknas 17/2010 dapat berujung pada paling ringan penundaan nilai dan paling berat penarikan ijazah), namun saya sadar itu tidak akan menyelesaikan masalah, sebaliknya justru malah akan memperpanjangnya.

Saya berharap semoga tulisan saya ini jadi peringatan untuk saya dan mereka-mereka yang terlibat dalam pekerjaan ilmiah, untuk terus berperilaku secara profesional, berintegritas, dan bertanggungjawab.

Kepada pelaku atau penulis skripsi ini, saya tahu Anda sadar akan perbuatan ini, namun mungkin Anda tidak pernah menduga saya akan menangkap Anda melakukan perilaku ini.  Saya sudah mendapatkan kontak personal anda dan saya akan hubungi anda secara personal untuk mengklarifikasikan perbuatan Anda lebih lanjut. Tidak usah khawatir, anda tidak akan saya apa-apakan. Tunggu saja pesan saya.


Kelanjutan cerita!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s