Tanpa Demo

Entah berapa bulan sudah lewat sejak Masa Darurat diberlakukan (dan diperpanjang lagi).

Saya merasa aneh, karena kota pelajar yang biasanya sangat hidup dan bergeliat dengan demonstrasi ini jadi sepi. Sangat sepi.

Biasanya, beberapa anak-anak muda dengan semangat dan bebasnya menyebarkan pamflet dan selebaran-selebaran di tepi jalan, tepi kantin, tepi kampus, tentu sambil kejar-kejaran dengan satpam dan polisi. Mengundang sesama mereka para pemuda atau khalayak yang bersimpati pada perjuangan mereka melawan “tiran”.

Biasanya saya mendengar teriakan-teriakan bernada monoton di jalan-jalanan utama, atau di dekat kantin kampus, atau di gerbang kampus. Mereka yang berteriak-teriak dengan lantangnya, katanya ingin melawan orang-orang berpikiran terbelakang dan otoriter. Meskipun ada puluhan orang yang mengaku nasionalis, dengan kumis-kumis panjang nan lantangnya, mencoba untuk menghentikan aksi-aksi anak muda yang terlihat “acak-acakan” ini, mereka tak pernah takut dan berhenti.

Akhir-akhir ini suara-suara itu bungkam.

Sebenarnya sudah beberapa bulan lalu, terutama sejak di kampus saya hampir terjadi tawuran besar, aktivis-aktivis ini diciduk satu persatu, untuk menjaga ketenangan kampus tentunya.

Apalagi setelah 15 Juli kemarin, suara-suara itu makin meredup, bahkan disetel ke mode diam. Katanya, atas nama demokrasi, kebebasan berekspresi perlu dibatasi. Kurang lebih begitu.

Pernah saat saya sedang berada di tram dalam perjalanan menuju rumah, saya melihat polisi bergerak langsung menangkap mereka-mereka yang terlihat seperti hendak melakukan demonstrasi. Tak jarang juga saya lihat, mobil kendaraan tempur dan bus-bus kosong ala polisi yang biasanya digunakan untuk menciduk itu bergerak ke tempat-tempat strategis di kota. Dan saat saya melihat, kendaraan-kendaraan itu hanya diam. Entah menunggu apa. Mungkin intel mereka salah, atau benar, saya tak tahu. Mungkin mereka waspada saja.

Entahlah.

Saya merasa bahwa masyarakat jadi lebih tenang, ya. Tak ada demo, tak ada tawuran, tak ada korban, tak ada yang hancur, dan tak ada teror. Itu logika sederhananya.

Tapi ada yang hilang dibalik ketenangan ini.

Yang hilang adalah sebuah semangat. Orang-orang hidup tapi tak ada jiwa dibaliknya. Orang-orang merasa takut, kalut dan khawatir. Menebak-nebak akan ada apa yang terjadi berikutnya. Dibalik ketenangan ini, sebenarnya ada sebuah paranoia yang belum selesai.

Yang juga hilang adalah gejolak kemarahan yang ditahan dan ditutup sedemikian rupa, dan saya takutkan ini akan jadi sebuah gelombang besar yang akan membawa negara ini entah ke pintu apa.

Bisa jadi sebuah revolusi sebesar atau lebih besar dari 2013 lalu akan menyambang, tapi entah kapan. Mungkin sampai perpanjangan Masa Darurat ini diperpanjang lagi? Atau sampai nurani para warga terbuka?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s