Menulis tentang Kudeta

[Sambil membaca tulisan saya ini, saya sarankan dengarkan lagu-lagu Yavuz Bingöl]

Juli lalu, saat berlangsung “kudeta” di negara yang saya cintai ini, saya mencoba untuk menulis sebuah analisis di sebuah media sosial, namun privasinya saya atur terbatas, karena saya tidak ingin analisis saya banyak dibaca orang-orang dan menimbulkan polemik yang tak sehat (Anda bisa merujuk ke tulisan saya tentang Facebook, 2 hari lalu)

Di analisis itu saya menulis bahwa pihak yang dituduh mendalangi kudeta sebenarnya tidak benar-benar ada dibalik kudeta. Kondisinya tidak sesederhana itu dan saya tidak percaya bahwa pihak tersebut memiliki niat yang amat jahat dan kapabilitas yang mumpuni untuk menjalankan kudeta, terlepas dari jejaring mereka yang memang kuat dan ada dimana-mana. Saya berteori bahwa mereka-mereka yang ada dibalik kudeta adalah  jenderal dan perwira .. dan bahwa pihak yang berkuasa menggunakan faksionalisasi antar jenderal dan perwira2 untuk melakukan sekuritisasi terhadap pemerintahannya (walaupun yang seolah diperlihatkan untuk dijaga adalah institut negara dan tentara yang memang amat sakral dalam politik di negara ini) dengan menubrukkan pihak-pihak yang berseteru di dalam Angkatan Bersenjata. Kurang lebih seperti itu.

Tapi saya tak mau banyak bercerita tentang analisis saya disini.

Saya ingin bercerita hal yang lain sebenarnya. Di analisis saya itu, ada dua orang dosen saya yang berkomentar menanggapi status saya, meminta saya untuk menuliskan esai atau sebuah tulisan terkait soal kudeta. Awalnya saya cukup bersemangat dan mencoba untuk menuliskan butir pemikiran saya terkait kudeta. Tapi sayang, saya tak mampu menyelesaikan tulisan saya.

Ada beberapa sebab. Sebab pertama, jujur saja sebagai pihak yang menerima beasiswa dari pemerintah negara yang dikudeta, saya mengalami konflik kepentingan. Saya ingin menulis sebuah artikel yang ilmiah dan kritis, yang tentunya tak sejalan dengan sikap resmi yang diambil pemerintah, namun itu bukan hal yang mudah tentu saja. Satu hal lagi, dalam penulisan ilmiah, konflik kepentingan merupakan sesuatu yang perlu dihindari, karena itu akan cenderung merusak objektivitas dari keilmiahan penelitian atau tulisan tersebut.

Sebab kedua, saya merasa bingung dan kelu ketika melihat betapa rumitnya dan dinamiknya perkembangan kudeta dan politik secara umum di negara ini. Setiap hari selalu ada dinamika dan berita baru yang membuat saya kaget dan memikir lagi, menghapus lagi paragraf-paragraf yang saya tuliskan, lalu mempertimbangkan lagi apakah benar argumen yang saya tulis. Karena kerumitan ini jugalah, saya juga tak tahu teori apa yang saya bisa gunakan untuk menganalisa kasus yang dimensinya amat luas dan perkembangannya amat cepat ini. Saya juga bingung mencari dasar data apa yang bisa saya gunakan untuk membuktikan asumsi dan teori saya. Selain itu, semakin banyak bukti terkait keterlibatan kelompok tersebut dalam kudeta (yang bahkan ditulis oleh koran-koran oposisi yang terkenal kritis terhadap pemerintah), semakin saya terjebak dalam limbo, dan pada akhirnya saya tak dapat menulis.

Kegundahan dan kebingungan saya juga dihadapi oleh seorang dosen HI yang cukup beken, Zeynep Çapan. Bu Zeynep menulis bahwa saat kudeta baru saja terjadi, di kelas Teori yang ia kelola, banyak mahasiswa yang memilih untuk membahas kudeta ketimbang teori. Alasannya sederhana, membahas kudeta itu lebih relevan, penting, dan bergunaketimbang membahas teori yang selalu saja berada di luar ambang realita. Bu Zeynep kemudian mengulang kembali pernyataan dari Ahmet Hamdi Tanpınar, seorang novelis klasik negara ini yang menyatakan, “Bangsa ini tak pernah memberikan kesempatan anak-anaknya untuk berpikir hal-hal lain, kecuali tentang diri mereka sendiri”. Menurut Bu Zeynep, kebanyakan orang di negara ini, semisal mahasiswa-mahasiswa dalam contohnya, berpikir bahwa “krisis” dan “ketidakpastian” itu adalah sebuah konstan, variabel tetap yang tak pernah berubah. Oleh karena itu, menurut orang-orang ini, sangat relevan untuk membicarakan “krisis” dan “ketidakpastian” dibanding susah-susah membahas teori dan filsafat ilmu yang belum tentu bisa menjawab “krisis” dan “ketidakpastian” yang dihadapi. Tak ada waktu yang dimiliki oleh bangsa ini untuk berteori dan berfilsafat jika memang “krisis” dan “ketidakpastian” itu yang terus dihadapi, begitu kurang lebih.

Namun Bu Zeynep mencoba untuk mengajak berpikir lagi lebih jauh, jangan-jangan “krisis” dan “ketidakpastian” yang ada di negara ini merupakan sesuatu yang “dibiasakan” oleh mereka yang berkuasa dan kemudian “pembiasaan” ini diterima begitu saja oleh masyarakat, supaya bangsa ini tak berani berpikir hal lain, tak berani berpikir bahwa teori itu sebenarnya bisa menjawab “krisis” dan “ketidakpastian”.

Asalkan teori itu digunakan sebagai sebuah instrumen pembebasan yang berani memotong jaring-jaring penindasan yang disulam oleh penguasa, maka teori dapat menjawab “krisis” dan “ketidakpastian” yang dihadapi oleh bangsa tersebut selama ini, begitu terang bu Zeynep.

Setelah membaca artikel bu Zeynep,  saya merasa harus lebih banyak baca lagi soal teori (kata dosen pembimbing saya masa sarjana lalu, “Mulailah dari teori, supaya jalanmu bisa lebih pasti”), dan banyak baca sumber-sumber mengenai kudeta, terutama dari sumber-sumber “selain-resmi”, hingga saya bisa mengurai dengan baik kejadian kudeta tersebut. Soal menulisnya, saya tak tau entah kapan saya bisa menulis. Mungkin nanti.

Sementara ini saya harus selesaikan proposal tesis saya, yang sedang ditunggu dosen pembimbing saya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s