Sudahlah, Jangan Bicarakan Dia!

Ya, saya tahu, dia sedang menjadi fenomena penting dalam politik di Indonesia.

Apa sih yang tidak unik dari orang ini?  Seorang Cina, luar Jawa, dan non-Muslim yang sedang merangkak naik pengaruhnya dalam percaturan politik nasional karena ia ingin kembali melanjutkan kiprahnya sebagai pemimpin ibukota.

Tapi saya sudah kadung muak mendengar namanya. Sudah sejak beberapa bulan lalu, saya selalu pusing mendengar nama orang ini terulang terus di media, di linimasa media sosial saya, dimana-mana saya pergi dan bertemu orang Indonesia. Yang terdengar nama dia saja, seolah-olah dia jadi bagian penting dari kehidupan setiap orang Indonesia sekarang.

Saya muak mendengar namanya bukan karena saya benci secara personal dengan dia. Saya tidak punya masalah dengan seorang Cina dan non-Muslim mencalonkan diri sebagai seorang gubernur, itu hak dia sebagai warganegara. Saya hanya muak dengan kontroversi-kontroversi yang ia ciptakan. Bukan, ini bukan urusan 5:51 atau 411 atau 212 atau apapun itu. Menurut saya, perdebatan itu sudah selesai (atau setidaknya di dalam dunia tafsir, memang banyak penafsiran terhadap ayat itu). Orang-orang yang punya kepentingan politik yang ingin melanjutkannya.

Saya hanya muak pada bagaimana kontroversi yang ia ciptakan itu telah membuat media keranjingan dan orang-orang menjadi berbusa tak jelas di segala media.

Dengan pengecualian beberapa perdebatan dan kajian yang ilmiah dan progresif, diskusi-diskusi tentang dia hanya berputar pada isu yang sama, selalu sama dan membosankan. Tak ada yang lain.

Saya juga heran mengapa orang-orang yang bahkan membenci dia suka sekali membicarakan dia. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka itu. Sebenarnya, saya heran, apakah mereka melihat dia ini sebagai cemoohan atau pujaan? Sampai-sampai, meskipun dengan slogan yang serba religius nan nasionalis, mereka ini selalu menyebut-nyebut nama dia tanpa henti. Saya tak tahu, bisa jadi nama dia ini bahkan mungkin lebih banyak mereka sebut dan ingat ketimbang nama Tuhan mereka sendiri. (Atau mungkin imbang, karena biasanya berdampingan).

Tak adakah isu-isu yang lebih relevan dan lebih penting dari sekedar dia?

Bukankah masih ada isu tentang banyaknya orang yang bingung dan tersesat dalam jalan mencari rezeki? Mereka-mereka, para sarjana muda, para lulusan SMK, para gelandang dan miskin kota..

Bukankah masih ada isu tentang mereka yang berjuang mati-matian digebuk aparat, karena tanah mereka tempat mencari penghidupan sedang direbut oleh kuasa korporasi?

Bukankah masih ada isu tentang mereka yang susah mendapatkan obat, susah membeli buku tulis, susah mencari bahan makanan karena tak adanya akses ke hal-hal tersebut?

Bukankah masih ada isu tentang mereka yang sedang direpresi karena asal usul ras dan agamanya? (bukan – ini bukan tentang dia. menurutku, dia salah satu orang yang beruntung)

Sudahlah. Masih ada banyak hal yang lebih penting, ketimbang sekadar dia. Biar mereka yang senang dan benci dengan dia yang sibuk.

Kita lanjutkan jalan tanpa melihat dan membicarakannya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s