Pertanyaan-Pertanyaan tentang Imaji Politik Luar Negeri Indonesia di Timur Tengah

Saya baru saja keluar dari kelas politik luar negeri Turki. Hari ini kelas membahas soal masalah politik luar negeri Turki dan Suriah, dan tentunya karena masalah ini merupakan masalah yang menjadi perhatian bagi semua orang Turki (mulai dari penyapu jalanan sampai profesor-profesor), hampir semua teman-teman saya yang merupakan warga negara Turki sangat aktif sekali berpartisipasi. Saking cepatnya alur diskusi berjalan, saya  dan 2 orang teman saya yang merupakan mahasiswa asing tidak dapat berkontribusi dengan baik dalam diskusi dan cuma bisa melongo sepanjang kelas. Namun, sebelum kelas berakhir, hoca saya sempat berkata dengan nada sedikit bercanda: “Hadza, bagaimana kebijakan Indonesia di Suriah?.

Saya terdiam sesaat, dan karena waktu sudah mau habis saya cuma bisa beri jawaban singkat, “Ya kita sih sebenarnya mau terlibat aktif juga, cuma karena kita jauh dari Suriah ya mau ngapain lagi?” dan jawaban saya diikuti tawa sekelas lalu kelas berakhir begitu saja. *nasib badut kelas*

Baca lebih lanjut

Dua Ide Gila

Akhir2 ini terpikir dua ide gila yang akan saya lakukan selepas kuliah.

Pertama, membuat buku pengantar memahami Politik Turki.

Kedua, membuat warung makanan fusion Indonesia-Turki yang temanya menjelajahi budaya-budaya unik dan mengetahui kesamaan budaya di Indonesia dan Turki.

Lebih lanjutnya nanti. Konsep besarnya sudah ada di kepala, tinggal bagaimana cara mewujudkan dan modalnya darimana. 🙂

Cerita Malam Ini

Malam ini, sekitar jam 7 EEST, setelah saya nongkrong dengan teman-teman kelas persiapan bahasa Turki (TÖMER) di Adalar, saya berangkat ke Hal Camii untuk solat Maghrib. Cuaca saat itu sangat dingin, mungkin berkisar 10 celcius dengan angin yang cukup kencang, dan saya hanya memakai jaket hoody yang saya pakai di Jogja.

Baca lebih lanjut