Iya atau Tidak?

Iya atau tidak,

Sebenarnya sama saja.

Iya atau tidak,

Sebuah tanda kebingungan,

Tanda sebuah dialetika yang tak pernah habis,

Tanda bahwa perjalanan ini tak akan pernah berhenti.

Iya atau tidak,

Mereka yang memperdebatkannya,

Tak bisa benar-benar paham,

Apa yang bisa mereka perjuangkan sesungguhnya,

Apakah memang untuk diri mereka atau untuk para pemuka?

Iya atau tidak,

Dunia tidak pernah habis dengan pertanyaan tentang mereka

Seperti kata Mani di Babilonia,

Iya dan tidak, keduanya akan selalu berhadapan,

Sepanjang arus zaman.

Iya atau tidak,

Sebenarnya tidak penting keduanya,

Baiknya ikutilah Maulana Rumi, baginda para sufi,

‘Antara iya dan tidak, ada sebuah tempat.

Marilah bertemu di tempat itu.’

 

 

 

 

Lebih dari Sekedar Sebuah Ucapan

Sebenarnya saya capek membicarakan hal ini, soalnya perdebatan ini selalu berulang-ulang, tanpa ada hentinya. Perdebatan ini jadi tidak sehat, karena orang selalu mengulang-ulang hal yang sama: boleh atau tidak boleh. Itu saja yang diulang, dalil yang sama diulang, dan sampai entah kapan, saya yakin sekali perdebatannya akan kembali lagi ke hal-hal itu saja.

Saya tidak mengharapkan bahwa dengan tulisan ini saya akan menyelesaikan polemik dan perdebatan soal hal ini. Ini hanya curhat ringan saya saja.

Baca lebih lanjut

Dear Wife

20160903_100006

Thanks for always reminding me to be more ardent each day,

to be more caring for myself and each other,

to be more careful in taking every decision,

to be wiser in considering every step,

to be more mature in facing the hard life,

to be a better lover, for you and everyone.

Thank you so much for everything,

for all your cries,

your laughs,

your reminder about little things,

your advice about large problems,

your spirited  soul,

and thank you,

for always being yourself,

for loving me for who I am,

May God always bless you,

for ever and ever.

Love,

Your Husband.