Filistin, Seni Nasıl Unutabilirim Ki?

Filistin, Seni Nasıl Unutabilirim Ki? (Palestina, Bagaimana Aku Bisa Melupakanmu?)

Yazar: Tevfik Ismail, Endonezya ünlü şairlerinden biridir. Manifesto Kebudayaan (Kültürel Manifestosu) kurucu üyesi. Endonezya Dilinde şiiri okumak için lütfen buraya gidin: https://apandin.wordpress.com/2012/11/22/palestina-bagaimana-bisa-aku-melupakanmu/

Hadza Min Fadhli R. tarafından Endonezya dilinden çevirilmiştir.

Baca lebih lanjut

Çay var mı?

Di Turki, teh itu memainkan peran penting dalam kehidupan orang-orang Turki. Dari pagi sampai sore, di kantor pemerintah sampai di penampungan tempat sampah, dari sarapan sampai selepas makan malam, pasti ada teh disamping orang Turki, apapun latar belakangnya. Teh itu bisa dibilang semacam can parçası atau bagian dari jiwa orang Turki. Kalau sehari aja nggak bisa dan nggak dapet teh, bisa dibilang ada sesuatu yang hilang dari hidup orang Turki di hari itu. Teh itu segalanya bagi orang Turki. Ia bisa jadi teman saat obrolan-obrolan yang panjang, ia bisa jadi pembuka inspirasi, ia bisa jadi penenang otak yang lagi pusing, dan macam-macam..

Nah, kebetulan saya menemukan satu video yang  bisa menjelaskan betapa pentingnya teh bagi kehidupan orang Turki:

Saya jelaskan sedikit ceritanya, karena videonya berbahasa Turki. Video ini semacam eksperimen sosial yang diadakan oleh Çaykur, salah satu produsen teh terbesar di Turki dan satu-satunya BUMN yang memang khusus dibuat untuk produksi teh (!). Jadi dalam video ini, para pengunjung restoran yang juga jadi target eksperimen sosial memesan paket sarapan yang super lengkap dan luar biasa. Biasanya di restoran dan kafe-kafe Turki yang menyediakan paket menu sarapan, pasti akan ada dampingan minuman berupa teh gratis yang free-flow, bisa diminum sampai mabuk (tapi orang Turki nggak akan pernah bosen minum, sampai udah bosen di restorannya mungkin). Nah, di eksperimen sosial ini, ketika para pengunjung restoran ingin meminta teh dari pelayan, si pelayannya  bilang, “Kita nggak punya teh..” dan menawarkan minuman lain selain teh hitam yang jadi minuman kebiasaan orang Turki. Nah, dengan situasi seperti ini, respon para pengunjung restoran beragam-ragam, dan lengkapnya lihat saja di video! 😀

Aşevi

Ketika aku membaca kata “food bank”, sekilas aku teringat dengan sebuah budaya dan tradisi masyarakat Turki yang luar biasa. Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Usmani dan masih berlanjut hingga sekarang, tentu saja lebih awal dari konsep food bank dan mungkin salah satu praktik paling awal tentang mekanisme distribusi bansos. Namanya: Aşevi.

Baca lebih lanjut